|
 |
Volume I Nomor
07 - Mei 2003 |
|
THAILAND
IBM Tawarkan Strategi “on-demand” e-Gov
IBM
(Thailand) baru-baru memperkenalkan konsep ‘e-business
on demand’ kepada lembaga-lembaga pemerintahan di Thailand
sebagai bagian dari langkah mendorong penerapan e-Government
di negeri gajah putih tersebut.
Menurut country manager IBM Thailand untuk bidang keuangan,
komunikasi dan publik, Thamrong Phongthitithep, on-demand e-Government
adalah suatu tempat di mana proses bisnis terintegrasi secara
end-to-end antara departemen-departemen pemerintahan dan para
rekanan utama, pemasok dan warga. Dengan cara ini, lembaga yang
mengurusi sektor publik dapat melayani penduduk dengan cepat.
Agar inisiatif ini bisa berjalan dengan baik, Thamrong mengusulkan
sejumlah langkah kebijakan yang sebaiknya dilakukan pemerintah
Thailand.
Langkah-langkah tersebut meliputi pengadopsian open computing
sebagai pondasi filosofinya, menerima open standard dalam pengadaan
(procurement) untuk sektor publik sebagai suatu kebijakan, meneliti
fenomena open source, khususnya Linux. Juga mengevaluasi Linux
sebagai bagian dari strategi TI, R&D dan pengembangan perekonomian;
dan menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan teknologi
untuk memanfaatkan keunggulan-keunggulan open computing dan
open source software.
Jadesada Kraisingkorn, country manager software group IBM Thailand
menjelaskan bahwa karakteristik terpenting dari suatu lingkungan
pengoperasian yang bersifat on-demand adalah integrasi, open
standards, virtualisasi dan autonomic computing.
Dengan karakteristik semacam ini, lanjutnya, lingkungan on-demand
tersebut memungkinkan pengintegrasian data di antara lembaga-lembaga
pemerintahan, misalnya divisi paspor dengan biro administrasi
pendaftaran (Bureau of Registration Administration).
Jajaran produk piranti lunak IBM, selain perangkat keras dan
jasa, telah dipersiapkan untuk strategi on-demand ini. Jajaran
produk milik IBM meliputi Websphere, DB2, Lotus dan Tivoli.
Jadesada juga mengatakan bahwa Websphere adalah engine untuk
web services.
IBM sendiri telah menyelenggarakan workshop dengan lembaga-lembaga
pemerintahan mengenai framework dan formulasi solusi on-demand
ini.•
Internet
Nirkabel ala Hotel Bintang Lima
Bagi para pebisnis yang mobile, konektivitas adalah suatu hal
mutlak dibutuhkan. Bila Anda bertanya hotel apa yang akan mereka
pilih untuk bermalam, kemungkinan besar mereka menjawab hotel
yang menyediakan fasilitas komunikasi data maupun suara di kamarnya.
Jadi tidaklah heran, hotel-hotel berbintang di kawasan Asia
kini ramai-ramai menyediakan layanan konektivitas Internet,
mulai dari yang dial-up sampai broadband. Tren ini pun sudah
diikuti hotel-hotel di Jakarta, mulai dari hotel JW Marriot,
Borobudur sampai Sahid Jaya.
Bahkan, di Thailand, layanan internetnya tidak sekedar melalui
jalur konvensional (via kabel) saja. Internet broadband nirkabel
(wireless), yang disajikan melalui wireless hot spot pun kini
telah menjadi strategi pemasaran mutakhir untuk menarik pelanggan-pelanggan
dari kalangan bisnis untuk menginap di hotel-hotel berbintang
lima di negeri gajah putih ini.
Hotel-hotel yang sudah menawarkan layanan ini antara lain Sheraton
Grande Sukhumvit, Sheraton Phuket, Arnoma Hotel dan Le Royal
Meridien.
“Layanan Internet adalah salah satu fitur utama yang dibutuhkan
para pebisnis yang tengah bepergian, terutama ketika mereka
memutuskan untuk bermalam di suatu hotel,” jelas General
Manager Sheraton Grande, Richard Chapman. Menurutnya, kini Sheraton
Grande Sukhumvit menyediakan akses Internet kecepatan tinggi
24 jam penuh di seluruh hotel.
Di jantung jejaring Internet hotel ini terdapat switch-switch
Cisco Catalyst 3550 dan 2950. Switch Catalyst 3550 Intelligent
Ethernet ini memungkinkan penyediaan layanan pintar, meliputi
quality of services (QoS) yang canggih, rate limiting, Cisco
security access control lists, multicast management, dan IP
routing berkinerja tinggi, namun pemeliharaannya tetap semudah
switching LAN tradisional.
Untuk akses nirkabelnya, Sheraton menggunakan peralatan Cisco
Aironet 350 untuk titik-titik akses Internet nirkabel di lobbi,
ruang rapat, perpustakaan, kamar-kamar dan pinggiran kolam renang.
Hotel ini juga menyediakan layanan wired Internet, baik broadband
maupun dial-up di 445 kamarnya.
Untuk mengakses Internet broadband dikenakan biaya 15 baht (sekitar
3.100 rupiah) per menit, 400 baht (83.000 rupiah) untuk satu
jam dan 600 baht (124.000 rupiah) untuk akses 24 jam. Sementara
untuk akses nirkabel 24 jam dikenakan biaya 1.000 baht (206.000
rupiah).
Menurut Vinusda Vatcharanukulkiet, manajer administrasi Sheraton
Grande Sukhumvit, hotel ini telah menguji coba layanan Internet
ini sejak bulan Desember lalu, dengan tingkat penggunaan empat
kali lebih tinggi dari perkiraan semula.
Saat ini, sekitar 10 persen dari para tamu Sheraton meminta
layanan Internet dan hotel ini telah menerima pemasukan sekitar
1 juta baht dari penyediaan layanan ini. Sedangkan investasi
awalnya sekitar tiga juta baht atau sekitar 600 juta rupiah
untuk instalasi produk, tidak termasuk leased line yang disediakan
Asia Infonet.
Hotel bintang lima lainnya, Royal Meridien juga memilih solusi
Cisco bersama-sama layanan Internet nirkabel dari Loxley Information
Service (Loxinfo). Wireless hotspot tersebut dapat dijumpai
di lobby, business center, ruang rapat serta lounge-nya.
Dilain pihak, Arnoma Hotel telah mengimplementasikan sebuah
solusi nirkabel dari Milcom Systems untuk para eksekutif yang
bermalam di hotel tersebut.
“Kami ingin meningkatkan layanan kami untuk para pelancong
bisnis, dan salah satu prioritasnya adalah menawarkan akses
Internet berkecepatan tinggi dan aman,” ujar pihak Arnoma
Hotel.
Arnoma memiliki 95 kamar kelas bisnis. Ketika melakukan check-in,
para tamu yang telah mem-booking kamar ini akan menerima sebuah
PC card wireless LAN seukuran kartu kredit dan sebuah CD-ROM
berisi program instalasi. Akses nirkabel ini dapat digunakan
di ruang-ruang kelas bisnis, ruang konperensi, lobby, restoran
dan kolam renang hotel tersebut.
Akses nirkabel untuk umum ini tidak lama lagi juga akan diperkenalkan
diseluruh cabang mal perbelanjaan Central dan restoran cepat
saji McDonalds.•
HONGKONG
Smart ID Card Terbaru Plus e-Certs
Kantor
pos Hong Kong atau Hong Kong Post, yang juga berfungsi sebagai
salah satu lembaga certification authority (CA) akan memanfaatkan
smart ID card keluaran terbaru untuk mempromosikan penggunaan
e-Certs.
e-Certs adalah semacam sertifikat elektronis yang memungkinkan
penggunanya melakukan transaksi perbankan, membayar pajak, memasang
taruhan dan melakukan pembayaran melalui Internet secara secure.
Menurut P.C. Luk, Postmaster General Hong Kong Post, masyarakat
kota dagang itu akan memiliki opsi untuk bisa memiliki e-cert
yang disertakan pada smart ID card-nya terbaru, yang rencananya
akan dikeluarkan secara bertahap mulai bulan Juli mendatang.
Dengan gagasan baru ini, Hong Kong Post memperkirakan sekitar
tiga sampai empat juta penduduk Hong Kong akan menggunakan e-certs-nya
dalam beberapa tahun mendatang. Untuk mengantisipasi semakin
bertambahnya jumlah pengguna, badan tersebut baru-baru ini mengeluarkan
sekitar 10 juta dolar Hong Kong (sekitar 12 milyar rupiah) untuk
meng-upgrade public key infrastructure (PKI)-nya.
Selain itu, Hong Kong Post juga bekerjasama dengan HP Hong Kong
untuk mempromosikan penggunaan e-certs. Dalam kerjasama ini,
HP Hong Kong bertanggung jawab untuk mengintegrasikan smart
card reader ke dalam jajaran PC desktop-nya, seperti Presario
dan Pavilion.
Vendor ini juga akan menyediakan paket toolkits untuk para pengembang
aplikasi (application developers) dan Web site untuk merancang
dan menempatkan aplikasi untuk penggunaan e-certs.
Sebenarnya di Hong Kong sendiri e-cert bukanlah inisiatif yang
baru, karena e-certs sudah diperkenalkan sejak tiga tahun yang
lalu. Pada awal peluncurannya, Hong Kong Post berharap bisa
menggaet paling tidak 200.000 pelanggan pada tahun pertama.
Namun kenyataannya sampai 12 bulan berjalan, pelanggannya hanya
beberapa ribu saja, bahkan sampai tahun ketiga, jumlah pelanggan
baru mencapai kurang dari 110.000. Hong Kong Post berharap,
dengan disertakannya e-certs ke dalam smart ID card, yang sudah
barang tentu akan selalu dibawa penggunanya, akan timbul semacam
awareness mengenai keberadaan e-certs ini.•
Go to next page |
|
 |
|