|


Pak
Eko Indrajit, saya senang dengan rubrik yang Bapak asuh. Ada
beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan. Apakah yang dimaksud
dengan open source itu pasti Linux? Benarkah open source akan
menjadi tren? Apakah cukup handal digunakan? ?
Bimo Prajna,
Business Operation Manager, Bandung
Open
source adalah suatu “konsep” yang berangkat dari
fenomena turut diberikannya “source code” (rangkaian
program) dari sebuah perangkat lunak kepada mereka yang membutuhkannya
secara bebas. Jadi jika seseorang menginginkan sebuah perangkat
lunak yang dibangun berdasarkan prinsip ini, maka dengan mudah
yang bersangkutan dapat memperolehnya secara gratis (misalnya
melalui internet atau kanal distribusi yang lain), lengkap
dengan urutan-urutan programnya yang dapat dengan leluasa
diubah atau diganti.
Berdasarkan definisi ini terlihat secara jelas bahwa Linux
merupakan salah satu perangkat lunak (bertipe “sistem
operasi”) yang dibangun dengan semangat “open
source”. Sementara, saat ini, dapat diperoleh sejumlah
besar perangkat lunak dari beragam tipe yang dibangun dan
ditawarkan secara “open source”. Katakanlah perangkat
lunak semacam Star Office untuk tipe aplikasi standar perkantoran
(memiliki fasilitas word processing, spreadsheet, database,
presentation, dll.), perangkat lunak Python untuk tipe bahasa
pemrograman, PHP untuk tipe pengembangan website, OpenUSS
untuk tipe aplikasi e-learning, Postgress untuk tipe aplikasi
database, dan lain sebagainya.
Seorang profesor dari universitas terkemuka di Amerika pada
awal tahun 90-an pernah meramalkan, bahwa di masa depan nanti,
hampir semua perangkat lunak di dunia akan diberikan secara
gratis kepada siapa saja yang membutuhkan. Alasannya cukup
sederhana sebagai berikut:
• perangkat lunak dibangun berdasarkan sebuah algoritma
tertentu;
• algoritma pada hakekatnya berasal dari hasil ide atau
buah pemikiran seseorang;
• akan semakin banyak orang yang memiliki ide dan pemikiran
cemerlang sejalan dengan kebutuhan manusia yang bertambah
dan berubah-ubah;
• karena banyak orang yang dengan rela dan kesadarannya
kerap memberikan ide atau pemikirannya secara gratis kepada
banyak orang, maka dengan kata lain perangkat lunak akan diberikan
secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkannya.
Pada mulanya profesor ini menyangka bahwa tipe perangkat lunak
yang akan pertama-tama diberikan secara gratis dengan konsep
“open source” adalah aplikasi, ternyata yang lahir
terlebih dahulu adalah tipe sistem operasi – yaitu Linux.
Karena sistem operasi merupakan dasar atau fundamental dari
sebuah arsitektur perangkat lunak, maka perkembangan konsep
“open source” yang diramalkan profesor tersebut
percepatannya lebih tinggi dari yang dibayangkan.
Kehandalan dari sebuah perangkat lunak tidak berdasarkan pada
jenis apakah entiti tersebut dibangun secara “open source”
atau tidak, tetapi lebih ditentukan oleh apakah langkah-langkah
atau metodologi pengembangannya telah mengikuti standar kualitas
pengembangan perangkat lunak yang baku dan diakui secara internasional
atau tidak (kerap dinamakan sebagai aspek Software Quality
Assurance). Jika perangkat lunak terkait telah dibangun dengan
menggunakan metodologi standar tersebut, maka nischaya akan
memiliki kualitas dan standar yang prima.
Pada kenyataannya, tidak semua perangkat lunak yang ada di
pasaran – baik yang bersifat “open source”
maupun “close source” - dibangun dengan memperhatikan
aspek terkait. Oleh karena itu perusahaan harus selalu jeli
dalam proses penentuan dan pemilihan jenis perangkat lunak
yang ingin diterapkannya.
Salah satu contoh faktor kualitas perangkat lunak yang kerap
dipergunakan adalah berdasarkan teorinya McCabe, yang melihat
aspek kualitas dari 3 (tiga) perspektif utama: product operations,
product revision, dan product transition.
• Product Operations - sifat-sifat
operasional suatu software berkaitan dengan hal-hal yang harus
diperhatikan oleh para perancang dan pengembang yang secara
teknis melakukan penciptaan sebuah aplikasi. Hal-hal yang
diukur di sini adalah yang berhubungan dengan teknis analisa,
perancangan, dan konstruksi sebuah software.
• Product Revision - setelah sebuah
software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan
terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil
uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan
dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi
jika diperlukan. Seberapa jauh software tersebut dapat diperbaiki
merupakan faktor lain yang harus diperhatikan.
• Product Transition - setelah integritas
software secara teknis telah diukur dengan menggunakan faktor
product operational dan secara implementasi telah disesuaikan
dengan faktor product revision, faktor terakhir yang harus
diperhatikan adalah faktor transisi – yaitu bagaimana
software tersebut dapat dijalankan pada beberapa platform
atau kerangka sistem yang beragam.•
Apa Untungnya Menerapkan CRM
Pak
Eko Yth. Saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai SCM (Supply
Chain Management). Hal-hal apa yang mendorong suatu perusahaan
menerapkan SCM dan sebaliknya? Dapatkah ditunjukkan keuntungan
yang konkrit dari penerapan SCM dan biayanya?
Bambang Isnadianto,
Operations Manager, Medan
Hal makro yang mendorong suatu perusahaan dalam menerapkan
SCM adalah kompetisi antar perusahaan yang akhir-akhir ini
berlangsung tidak hanya sangat ketat, tetapi juga terjadi
secara global (lintas negara). Apalagi sebagai akibat dari
globalisasi dan ‘pemaksaan’ ekonomi pasar bebas
yang dilakukan oleh organisasi-organisasi seperti WTO (World
Trade Organization), AFTA (Asean Free Trade Area), APEC (Asia-Pacific
Economic Cooperation) dan sebagainya.
Hal-hal yang menghalangi kompetisi pasar bebas harus dihapuskan,
seperti bea masuk, proteksi dan subsidi pemerintah, baik yang
dilakukan secara terang-terangan maupun yang terselubung.
Berlomba-lomba mencari akal dan cara agar tetap dapat hidup
(survive) dan berkembang (growth) dan tetap mempertahankan
pangsa pasar mereka (market share).
Dalam kerangka ini, perusahaan bersaing dalam memenuhi kehendak
para konsumen (customers oriented), yang secara garis besar
terkait dengan 3 (tiga) aspek pokok : 1. Harga, 2. Mutu dan
3. Layanan (kecepatan, kemudahan dan sebagainya)
Dari segi harga misalnya, semua berlomba-lomba untuk mencari
cara secara terus-menerus untuk mendapatkan harga yang kompetitif.
Satu-satunya cara ialah mencari cara-cara memproduksi barang
yang lebih efisien. Untuk mengatasi hal ini dapat ditempuh
strategi “supply chain management” ataupun “‘supply
chain optimization”, yaitu memecah batasan-batasan antar
perusahaan yang secara tradisional memisah-misahkan pelaku
pengadaan barang atau jasa dan memecah-mecah daya kemampuannya
untuk meningkatkan efisiensi.
Dengan cara mengadakan analisis dari keseluruhan proses, dari
“initial supply” sampai kepada “ultimate
consumption” keuntungan-keuntungan dari supply chain
sebagai berikut, dapat diperoleh :
Mengurangi inventory barang dengan berbagai cara:
• Inventori merupakan bagian paling besar dari aset
perusahaan, yang berkisar antara 30%-40%.
• Sedang, biaya penyimpanan barang (inventory carrying
cost) berkisar antara 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.
• Oleh karena itu, usaha dan cara harus dikembangkan
untuk sedikit mungkin menimbun barang ini dalam gudang agar
biaya dapat ditekan menjadi sesedikit mungkin.
Menjamin kelancaran penyediaan barang:
• Kelancaran barang yang perlu dijamin adalah mulai
dari asal barang (pabrik pembuat), supplier, perusahaan sendiri,
wholesaler, retailer sampai kepada final customers.
• Jadi rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi
barang jadi dan diterima oleh pemakai/pelanggan merupakan
suatu mata rantai yang panjang (chain) yang perlu dikelola
dengan baik
Menjamin mutu:
• Mutu barang jadi (finished product) ditentukan tidak
hanya oleh proses produksi barang tersebut tetapi juga oleh
mutu bahan mentahnya dan mutu keamanan dalam pengirimannya
• Jaminan mutu ini juga merupakan serangkaian mata rantai
panjang (chain) yang harus dikelola dengan baik
Berdasarkan pengalaman, ada beberapa penyebab mengapa belum
semua perusahaan berani menjalankan konsep SCM, antara lain:
• Masih dianutnya paradigma lama oleh para pimpinan
perusahaan yang menganggap bahwa perusahaan “dapat melakukan
semuanya sendiri” tanpa harus bekerja sama atau menjalin
hubungan “internetworking” dengan perusahaan lain;
• Tidak ditemukannya formula analisa cost-benefit yang
dapat meyakinkan pihak internal perusahaan - terutama dalam
kaitannya dengan masalah pengembalian investasi atau ROI –
seandainya konsep SCM diterapkan;
• Adanya kenyataan bahwa konsep SCM dibangun dengan
semangat kerjasama antara perusahaan dengan para mitra bisnisnya
– dimana seluruh entiti eksternal tersebut berada di
dalam domain yang tidak dapat dikontrol perusahaan;
• Sulitnya merubah paradigma sejumlah besar SDM perusahaan
yang telah terbiasa bekerja berdasarkan dengan pola lama;
dan lain sebagainya.•
Go to next page
|