Question & Answer Volume I Nomor 06 - April 2003


DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A. dilahirkan di Jakarta pada 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 1992. Setelah memperoleh gelar insinyur di bidang teknik komputer, Eko berhasil mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk melanjutkan studi pasca sarjananya di Amerika. Pada 1993, Eko diterima di Harvard University dan berhasil mendapatkan gelar Master of Applied Computer Science pada 1995. Pada saat yang sama, Eko belajar pula di Boston University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sekembalinya ke tanah air, Eko bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan multinasional sambil mengambil program jarak jauh Master of Business Administration di Leicester University, Inggris. Kemudian Eko mengambil program riset doctoral dari University of the City of Manila dan berhasil mendapatkan gelar Doctor of Business Administration pada pertengahan 1999. Saat ini, selain bekerja sebagai konsultan independen yang telah membantu sejumlah perusahaan swasta di berbagai jenis industri dan institusi pemerintahan dalam merencanakan dan mengembangkan teknologi informasinya Eko juga aktif mengajar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia, seperti Program Pasca-Sarjana Universitas Bina Nusantara-Curtin University, Program Sarjana ITS Surabaya Program Magister Komputer Teknologi Informasi Universitas Indonesia, dan Institut Kesenian Jakarta. Di samping mengajar Eko berperan secara aktif sebagai konsultan dan peneliti khusus Kelompok Kerja Ketahanan Nasional dan Wakil Ketua Kelompok Kerja Sistem Manajemen Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tak kurang dari 12 buku telah ditulisnya, yang mencakup Teknologi Informasi, eBusiness, Supply Chain Management (SCM), Linux, Penuntun Mencari Informasi di Internet, dan lain sebagainya.•
 


Pak Eko Indrajit, saya senang dengan rubrik yang Bapak asuh. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan. Apakah yang dimaksud dengan open source itu pasti Linux? Benarkah open source akan menjadi tren? Apakah cukup handal digunakan? ?

Bimo Prajna,
Business Operation Manager, Bandung

Open source adalah suatu “konsep” yang berangkat dari fenomena turut diberikannya “source code” (rangkaian program) dari sebuah perangkat lunak kepada mereka yang membutuhkannya secara bebas. Jadi jika seseorang menginginkan sebuah perangkat lunak yang dibangun berdasarkan prinsip ini, maka dengan mudah yang bersangkutan dapat memperolehnya secara gratis (misalnya melalui internet atau kanal distribusi yang lain), lengkap dengan urutan-urutan programnya yang dapat dengan leluasa diubah atau diganti.

Berdasarkan definisi ini terlihat secara jelas bahwa Linux merupakan salah satu perangkat lunak (bertipe “sistem operasi”) yang dibangun dengan semangat “open source”. Sementara, saat ini, dapat diperoleh sejumlah besar perangkat lunak dari beragam tipe yang dibangun dan ditawarkan secara “open source”. Katakanlah perangkat lunak semacam Star Office untuk tipe aplikasi standar perkantoran (memiliki fasilitas word processing, spreadsheet, database, presentation, dll.), perangkat lunak Python untuk tipe bahasa pemrograman, PHP untuk tipe pengembangan website, OpenUSS untuk tipe aplikasi e-learning, Postgress untuk tipe aplikasi database, dan lain sebagainya.

Seorang profesor dari universitas terkemuka di Amerika pada awal tahun 90-an pernah meramalkan, bahwa di masa depan nanti, hampir semua perangkat lunak di dunia akan diberikan secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan. Alasannya cukup sederhana sebagai berikut:

• perangkat lunak dibangun berdasarkan sebuah algoritma tertentu;
• algoritma pada hakekatnya berasal dari hasil ide atau buah pemikiran seseorang;
• akan semakin banyak orang yang memiliki ide dan pemikiran cemerlang sejalan dengan kebutuhan manusia yang bertambah dan berubah-ubah;
• karena banyak orang yang dengan rela dan kesadarannya kerap memberikan ide atau pemikirannya secara gratis kepada banyak orang, maka dengan kata lain perangkat lunak akan diberikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Pada mulanya profesor ini menyangka bahwa tipe perangkat lunak yang akan pertama-tama diberikan secara gratis dengan konsep “open source” adalah aplikasi, ternyata yang lahir terlebih dahulu adalah tipe sistem operasi – yaitu Linux. Karena sistem operasi merupakan dasar atau fundamental dari sebuah arsitektur perangkat lunak, maka perkembangan konsep “open source” yang diramalkan profesor tersebut percepatannya lebih tinggi dari yang dibayangkan.

Kehandalan dari sebuah perangkat lunak tidak berdasarkan pada jenis apakah entiti tersebut dibangun secara “open source” atau tidak, tetapi lebih ditentukan oleh apakah langkah-langkah atau metodologi pengembangannya telah mengikuti standar kualitas pengembangan perangkat lunak yang baku dan diakui secara internasional atau tidak (kerap dinamakan sebagai aspek Software Quality Assurance). Jika perangkat lunak terkait telah dibangun dengan menggunakan metodologi standar tersebut, maka nischaya akan memiliki kualitas dan standar yang prima.

Pada kenyataannya, tidak semua perangkat lunak yang ada di pasaran – baik yang bersifat “open source” maupun “close source” - dibangun dengan memperhatikan aspek terkait. Oleh karena itu perusahaan harus selalu jeli dalam proses penentuan dan pemilihan jenis perangkat lunak yang ingin diterapkannya.

Salah satu contoh faktor kualitas perangkat lunak yang kerap dipergunakan adalah berdasarkan teorinya McCabe, yang melihat aspek kualitas dari 3 (tiga) perspektif utama: product operations, product revision, dan product transition.

• Product Operations - sifat-sifat operasional suatu software berkaitan dengan hal-hal yang harus diperhatikan oleh para perancang dan pengembang yang secara teknis melakukan penciptaan sebuah aplikasi. Hal-hal yang diukur di sini adalah yang berhubungan dengan teknis analisa, perancangan, dan konstruksi sebuah software.
• Product Revision - setelah sebuah software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi jika diperlukan. Seberapa jauh software tersebut dapat diperbaiki merupakan faktor lain yang harus diperhatikan.
• Product Transition - setelah integritas software secara teknis telah diukur dengan menggunakan faktor product operational dan secara implementasi telah disesuaikan dengan faktor product revision, faktor terakhir yang harus diperhatikan adalah faktor transisi – yaitu bagaimana software tersebut dapat dijalankan pada beberapa platform atau kerangka sistem yang beragam.•


Apa Untungnya Menerapkan CRM


Pak Eko Yth. Saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai SCM (Supply Chain Management). Hal-hal apa yang mendorong suatu perusahaan menerapkan SCM dan sebaliknya? Dapatkah ditunjukkan keuntungan yang konkrit dari penerapan SCM dan biayanya?

Bambang Isnadianto,

Operations Manager, Medan

Hal makro yang mendorong suatu perusahaan dalam menerapkan SCM adalah kompetisi antar perusahaan yang akhir-akhir ini berlangsung tidak hanya sangat ketat, tetapi juga terjadi secara global (lintas negara). Apalagi sebagai akibat dari globalisasi dan ‘pemaksaan’ ekonomi pasar bebas yang dilakukan oleh organisasi-organisasi seperti WTO (World Trade Organization), AFTA (Asean Free Trade Area), APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) dan sebagainya.

Hal-hal yang menghalangi kompetisi pasar bebas harus dihapuskan, seperti bea masuk, proteksi dan subsidi pemerintah, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang terselubung. Berlomba-lomba mencari akal dan cara agar tetap dapat hidup (survive) dan berkembang (growth) dan tetap mempertahankan pangsa pasar mereka (market share).

Dalam kerangka ini, perusahaan bersaing dalam memenuhi kehendak para konsumen (customers oriented), yang secara garis besar terkait dengan 3 (tiga) aspek pokok : 1. Harga, 2. Mutu dan 3. Layanan (kecepatan, kemudahan dan sebagainya)

Dari segi harga misalnya, semua berlomba-lomba untuk mencari cara secara terus-menerus untuk mendapatkan harga yang kompetitif. Satu-satunya cara ialah mencari cara-cara memproduksi barang yang lebih efisien. Untuk mengatasi hal ini dapat ditempuh strategi “supply chain management” ataupun “‘supply chain optimization”, yaitu memecah batasan-batasan antar perusahaan yang secara tradisional memisah-misahkan pelaku pengadaan barang atau jasa dan memecah-mecah daya kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi.

Dengan cara mengadakan analisis dari keseluruhan proses, dari “initial supply” sampai kepada “ultimate consumption” keuntungan-keuntungan dari supply chain sebagai berikut, dapat diperoleh :

Mengurangi inventory barang dengan berbagai cara:
• Inventori merupakan bagian paling besar dari aset perusahaan, yang berkisar antara 30%-40%.
• Sedang, biaya penyimpanan barang (inventory carrying cost) berkisar antara 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.
• Oleh karena itu, usaha dan cara harus dikembangkan untuk sedikit mungkin menimbun barang ini dalam gudang agar biaya dapat ditekan menjadi sesedikit mungkin.
Menjamin kelancaran penyediaan barang:
• Kelancaran barang yang perlu dijamin adalah mulai dari asal barang (pabrik pembuat), supplier, perusahaan sendiri, wholesaler, retailer sampai kepada final customers.
• Jadi rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dan diterima oleh pemakai/pelanggan merupakan suatu mata rantai yang panjang (chain) yang perlu dikelola dengan baik
Menjamin mutu:
• Mutu barang jadi (finished product) ditentukan tidak hanya oleh proses produksi barang tersebut tetapi juga oleh mutu bahan mentahnya dan mutu keamanan dalam pengirimannya
• Jaminan mutu ini juga merupakan serangkaian mata rantai panjang (chain) yang harus dikelola dengan baik

Berdasarkan pengalaman, ada beberapa penyebab mengapa belum semua perusahaan berani menjalankan konsep SCM, antara lain:
• Masih dianutnya paradigma lama oleh para pimpinan perusahaan yang menganggap bahwa perusahaan “dapat melakukan semuanya sendiri” tanpa harus bekerja sama atau menjalin hubungan “internetworking” dengan perusahaan lain;
• Tidak ditemukannya formula analisa cost-benefit yang dapat meyakinkan pihak internal perusahaan - terutama dalam kaitannya dengan masalah pengembalian investasi atau ROI – seandainya konsep SCM diterapkan;
• Adanya kenyataan bahwa konsep SCM dibangun dengan semangat kerjasama antara perusahaan dengan para mitra bisnisnya – dimana seluruh entiti eksternal tersebut berada di dalam domain yang tidak dapat dikontrol perusahaan;
• Sulitnya merubah paradigma sejumlah besar SDM perusahaan yang telah terbiasa bekerja berdasarkan dengan pola lama; dan lain sebagainya.•

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved