IT & Communications Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
Perubahan-perubahan yang terjadi, terutama kerena semakin berkembangnya teknologi, lebih khusus lagi teknologi informasi dan komunikasi, semakin mendorong perubahan yang lebih besar, lebih luas dalam banyak aspek kegiatan manusia, bisnis dan industri.
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Suryatin Setiawan, Direktur Bisnis Jaringan Telekomunikasi, PT Telkom Tbk.

Perubahan itu tak hanya terjadi di lingkungan bisnis lainnya, melainkan di industri telekomunikasi itu sendiri juga terjadi perubahan yang boleh dikata sangat drastis. Perubahan bisnis telekomunikasi dunia, tak pelah juga telah mengubah bisnis telekomunikasi nasional.

Fokusnya, kini tak lagi hanya pada komunikasi suara, melainkan juga komunikasi data, gambar dan multimedia. Dalam satu kata, bisnis telekomunikasi kini telah berubah menjadi bisnis Infokom (Informasi dan Komunikasi) dengan sejumlah varian yang mengikutinya, seperti Internet, eBusiness, Seluler, Multimedia dan sebagainya.

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM), yang selama ini lebih fokus pada komunikasi suara (jaringan telepon), juga mengembangkan diri menjadi bisnis Infokom. Ke depan diperkirakan bisnis telekomunikasi konvensional (suara) akan menurun pertumbuhannya, sehingga TELKOM, sebagai entitas bisnis, harus pula mengembangkan berbagai produk atau layanan baru (second curve products) yang akan secara signifikan mendorong peningkatan pendapatan perusahaan itu di masa yang akan datang.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana Telkom merespon perubahan-perubahan itu, khususnya jika dikaitkan dengan penyediaan infrastruktur komunikasi data di Indonesia, wartawan eBizzAsia, Tharsikin Insa, berkesempatan mewawancarai Suryatin Setiawan, Direktur Jasa Jaringan, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. dan ditemani oleh Adeng Achmad, Kepala Divisi Multimedia, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Berikut petikannya.

Bagaimana pengembangan infrastruktur komunikasi data, khususnya yang digelar TELKOM?
Di Telkom sendiri sebenarnya sudah cukup lama. Sejak tahun 1997, Telkom telah mendirikan divisi multimedia. Dari saat itu sampai sekarang sudah cukup banyak yang kami bangun, baik untuk kepentingan bisnis korporasi maupun bisnis ritel. Untuk korporasi, network frame relay kami sudah sangat luas, sudah ratusan yang terdukung oleh frame relay.

Pelayanan lain yang baru-baru ini kami luncurkan untuk korporasi adalah IP-VPN (jaringan komunikasi data privat virtual yang berbasis protokol internet). Jangkauannya luas, dan penetrasinya sudah cukup baik untuk wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali. Wilayah timur memang penetrasinya masih kurang. Namun, untuk Jawa, Bali dan sekitarnya sudah cukup luas dan intensif.

Bagaimana komunikasi data global?
Kami sudah lama memiliki layanan global data. Untuk korporasi, kami sudah membuka layanan untuk korporasi yang operasi worldwide. Kami bekerja sama dengan Infonet. Infonet ini boleh dikatakan sekarang sebagai the biggest provider untuk global data communication.

Selain itu, ada lagi yang kami kembangkan, yakni I-Telex, yang ditujukan untuk menggantikan mesin-mesin telex yang lama, karena masih dianggap secure dan sifatnya point-to-point. Ini beberapa hal yang menyangkut korporasi.

Sedang untuk retail, kami rasa untuk Internet sudah bisa diakses di tidak kurang dari 187 kota di Indonesia, melalui layanan Telkomnet Instan. Jadi untuk komunikasi data ini, perkembangannya sudah cukup cepat, karena kami sendiri melihat bahwa trennya sudah terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia.

Apakah Telkom akan fokus di komunikasi data ini?
Secara umum Telkom sangat dominan dan strength di IT Network. Dan, saya rasa, ini memang menjadi tren perkembangan komunikasi data sejak beberapa tahun lalu dan masih akan terus berlanjut sampai ke depan. Itulah yang akan kami jadikan fokus dan tren dalam komunikasi data ini.

Bisa diklarifikasi antara komunikasi data fixed dan seluler?
Komunikasi data korporasi umumnya bersifat fixed. Kalau yang seluler itu masuknya ke pasar retail. Kalau SMS Banking itu kita anggap sebagai komunikasi data, mungkin itulah komunikasi data untuk retail. Tetapi, bila infrastruktur seluler digunakan untuk layanan korporasi, saya rasa mungkin belum ada.

Kalau dilihat, apa yang dikembangkan Telkom lebih pada penyediaan infrastruktur jaringan. Nah, kemudian, ini kita harapkan ada dorongan untuk sampai ke tingkat penyediaan konten sehingga masyarakat bisa mengambil manfaat lebih luas daripada sekedar jaringan. Apa saja upayanya? Kalau infrastruktur komunikasi data ini berkembang tidak ada lain pasti “pulsa”nya akan digenerate melalui kontent dan aplikasi.

Itu secara otomatis?
Ya, secara otomatis. Kalau tidak, ya tidak ada yang menggunakan.

Siapa yang mengembangkan kontennya, Telkom atau lainnya?
Konten ini kan suatu industri yang dari native-nya saja sangat liberal. Jadi, siapa saja yang punya kemampuan seharusnya bisa masuk. Itu yang banyak dinilai sebagai opportunity di jaman ini. Sekarang Telkom masih begitu, tapi saya rasa ini sama sekali tidak dimonopoli. Secara alamiah ini bisnis yang terbuka, siapa saja, besar atau kecil, bisa masuk.

Beberapa aplikasi, misalnya aplikasi perbankan atau ERP, kan pemainnya sudah ketahuan? Pemainnya rata-rata pemain besar, karena ini memang untuk enterprise quality, karena ada unsur security di situ. Juga ada unsur kelengkapan, kemampuan untuk diintegrasikan, dan hal-hal lain semacam itu.

Tapi kalau kita bicara komunikasi data yang lebih retail sifatnya, misalnya Internet atau konten bisnis di seluler, itu lebih banyak variannya. Saya rasa perusahaan konten dan aplikasi, baik yang small atau medium bisa mengambil kesempatan. Kalau bicara konten seluler sebenarnya sifatnya adalah jor-joran inovasi.

Telkom juga masuk di aplikasi?
Sebenarnya kami juga masuk ke aplikasi, tapi yang kami fokuskan adalah B2B (business to business). Khususnya yang sedang kami sangat fokuskan saat ini adalah e-Services. Untuk e-Services ini, start-nya dimulai dari segmen government dulu. Untuk segmen ini, kami sudah membentuk perusahaan baru, kalau tidak salah namanya Prima Infokom Indonesia (PII). Dengan perusahaan ini, nantinya kami akan konsentrasikan e-Services untuk layanan sektor pemerintahan.

Ada alasan khusus mengapa menangani sektor government?
Government itu kan leader. Kami melihat bahwa bilamana government itu menggunakan e-Services, dan penggunaannya di situ sangat kental, itu bisa menjadi semacam lokomotif. Bisa menjadi pendorong semua sektor, semua pemain ekonomi untuk bermain di e-Services. Kami lihat, di beberapa departemen pemerintahan memang sudah sangat fasih (di bidang IT) untuk penggunaan layanan-layanan e-Services ini. Kami akan masuk ke situ sekaligus karena ini kerjasamanya dengan Kementerian Kominfo.

Apa inisiatif Telkom, sebagai pemain terbesar untuk mendorong itu semua?
Ya. Kalau industrinya liberal kami buka saja, bahwa ada kesempatan bagi pemain, baik kecil maupun medium, untuk bisa ikut bermain. Seperti yang dilakukan Telkomsel, saya rasa sudah banyak. Saya rasa mereka sudah merangkul belasan partner untuk menyediakan konten-konten yang berkaitan dengan data, dalam konteks GPRS selular maupun cellular banking. Memang peluangnya di situ, dan kami pun mendorong kawan-kawan yang kecil maupun besar supaya ikut bermain. Kalau memang komitmennya cocok, produknya bagus, ya silahkan.

Apakah Anda optimis pemerintah akan melihat e-Services sebagai pilihan yang harus dilakukan sekarang?
Sebenarnya di beberapa departemen inisiatifnya sudah mulai muncul. Depkeu sudah pasti, dan Deperindag sudah sangat kental penggunaannya. Bahkan Depdagri sudah lama masuk ke daerah. Sekarang ada kementrian yang fungsinya sangat kental ke situ, yaitu Kominfo. Ini kan semua momentum. Inisiatif sudah tersebar di mana-mana.

Sekarang sudah ada semacam gate untuk menjadi katalisator tumbuhnya inisiatif-inisiatif itu, supaya lama-lama penggunaannya semakin merata. Melihat beberapa inisiatif ini, ditambah dorongan dari Kominfo, kami merasa ini timing-nya tepat dan kami pun masuk untuk mendorong penggunaan e-Services ini agar semakin merata dan maju. Bila ini dilakukan pemerintah secara merata dan intensif, kami rasa seluruh industri dan pemain akan ikut.

Di lingkungan ASEAN, bagaimana sebenarnya kondisi Indonesia?
Kembali lagi ke iklim makronya. Satu, pertumbuhan ekonomi makronya seperti apa? Karena semua ini terkait dengan korporasi. Pengguna utama itu kan pemerintah, kemudian korporasi. Dan korporasi pun punya pilihan, dia tidak usah menunggu pemerintah, juga tidak apa-apa.

Tetapi, bila pemerintah di suatu negara sudah menjadi panutan, otomatis korporasinya ikut karena interface-nya mungkin sudah “e” semua. Sekarang korporasi tumbuh karena ada pertumbuhan ekonomi. Kalau kita melihat geografi Indonesia, berbagai korporasi yang beroperasi di seluruh wilayah Indonesia, kebutuhan akan komunikasi datanya sangat tinggi. Jadi, untuk negara seperti Indonesia ini sebenarnya potensi untuk kebutuhan komunikasi data itu riil sekali. Negara kepulauan terbesar, ya Indonesia.

Kalau sebuah perusahaan punya operasi yang tersebar di seluruh Indonesia, berarti perusahaan itu harus didorong menjadi perusahaan modern. Pakai ERP misalnya. Nah, ERP ini kan running-nya hanya bisa kalau lewat komunikasi data.

Apakah ini yang mendorong Telkom membangun Divisi Enterprise?
Begini. Di divisi Enterprise market yang terbesar adalah government. Dalam konteks itu diharapkan pemerintah menjadi leader, dan korporasi mempunyai pilihan. Walau pemerintah belum menggunakan e-Services, sektor korporasi mungkin sudah membutuhkannya. Bagian terbesar dari pengguna komunikasi data memang korporasi. Karena itulah kemudian kami membangun apa yang dinamakan Enterprise Service Center (ESC).

ESC adalah suatu unit yang kami khususkan supaya layanan kami pada enterprise di Indonesia dapat fokus dan berperspektif nasional. Misalnya Astra. Ia ada di seluruh Indonesia. Mungkin di salah satu cabang dia tidak dominan, sedang di Jakarta besar. Tetapi, kami ingin melihat Astra sebagai pelanggan keseluruhan itu posisinya dimana. Kalau memang dia dominan, akan kami layani dengan account executive dan semua hal yang memang layak diperoleh sebagai pelanggan besar kami.

Artinya, secara jaringan, Telkom sudah siap untuk itu?
Ya, siap. Contohnya IP-VPN yang baru-baru ini digelar, yang akan menjadi transpor komunikasi data yang sangat efektif. Ini sudah mulai digunakan secara trial di Garuda dan BI (Bank Indonesia).

Apakah layanannya dapat juga digunakan UKM?
Adeng: Untuk UKM ini sebenarnya sudah ada model, yang dikembangkan BRI bersama Telkom, semacam pusat komunitas untuk digunakan para pengusaha menengah ke bawah. Yang dikembangkan di sini sebenarnya adalah jaringan Internet, dimana komunitas-komunitas ini dihubungkan dengan komunikasi data dan aplikasi. Jadi di sini ada sambungan Internet, ada aplikasi untuk mengetahui produk-produk komoditas pertanian, dan sebagainya.

Suryatin: Di UKM itu fokusnya lebih banyak pada Internet, dan lebih pada information retrieval, supaya dia tahu pasar, informasi harga, dan sebagainya. Kedua, information retrieval dalam arti dia bisa membuat web supaya (informasi mengenai) dirinya bisa diketahui dan diakses orang. Dan, yang lebih maju dari itu barulah transaksional.

Dari sisi regulasi, ada hal-hal yang mendesak tidak?
Dari sisi regulasi, dalam konteks penggunaan komunikasi data, kami tidak melihat ada hal-hal yang menghambat. Sebenarnya poinnya bukan di masalah regulasi, tetapi bagaimana kami mendorong enterprise atau korporasi di Indonesia. Terutama yang beroperasi di multi lokasi untuk mulai memikirkan modern management, mengelola perusahaanya secara moderen supaya bisa kompetitif.

Kalau berbicara kompetitif, itu berarti sudah membicarakan penerapan ERP. Apakah itu ERP secara besar-besaran atau kecil, semuanya mengenai transaksi informasi di dalam perusahaan itu, khususnya yang menyangkut transaksi uang, dikelola melalui jaringan ini. Itu saja yang perlu didorong.

Tetapi, sebenarnya jika Indonesia ini bergerak menuju desentralisasi, terus kemudian sentra-sentra pertumbuhan disebar ke seluruh Indonesia, ini sesungguhnya bisa mendorong iklim yang kondusif bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk beroperasi di multi area. Dan, itu pasti membutuhkan komunikasi data dengan segera.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved