e-Enterprise Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
KETIKA pusat grosir tekstil Pasar
Tanah Abang, Jakarta Pusat,
terbakar 19 Februari 2003 lalu,
masyarakat terhentak. Kaget, marah dan entah apa lagi perasaan yang muncul.
Sebaliknya, itu menyiratkan betapa Tanah Abang lebih menyiratkan milik masyarakat yang sangat strategis dan penting, terutama dari sisi perdagangan.
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Pasar seluas 2,4 hektar, yang disebut-sebut sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, ini memiliki 7.638 unit kios dengan jumlah pedagang 4.535 orang. Diperkirakan pasar ini menjadi tempat perputaran uang mencapai Rp 15 trilyun per tahun. Tak kurang dari 80 persen pelanggannya merupakan pembeli dari daerah, hampir dari seluruh Indonesia. Belakangan, bahkan banyak juga yang datang dari Afrika.

Pasar Tanah Abang ini telah beberapa kali dilalap si jago merah. Itu terjadi pada tahun 1740, 1978, 1985 dan terakhir terjadi Februari 2003 lalu. Namun, ia tetap kokoh menjadi kawasan perdagangan yang tak mudah tergantikan. Terbakarnya pasar tanah Abang ini, juga berdampak pada para pemasok yang selama ini mengandalkan perdagangannya di wilayah itu.

Tetapi, Pasar Tanah Abang terlalu penting dan strategis untuk ditelantarkan. Karenanya, perlu ada sesuatu yang perlu dikembangkan, sehingga Pasar Tanah Abang yang secara fisik menjadi representasi perputaran nilai binis milyaran rupiah, tak hanya tergantung pada lingkungan fisik. Namun, adakah alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan? Bagaimana dengan eCommerce?

Meski tak secara sengaja, bersamaan dengan terbakarnya Pasar Tanah Abang itu, tim eBizzAsia (Tharsikin Insa, Nh. Putri, Dahlan Rebo Paing) berkesempatan mewawancarai Pakar Teknologi Informasi (TI), yang juga dosen dan partner Ernst & Young, Indonesia, Jos Luhukay, yang menyinggung alternatif apa yang mungkin dapat dikembangkan untuk meningkatkan bisnis Pasar Tanah Abang itu. Berikut petikannya.

Apa pandangan Anda mengenai e-Commerce di Indonesia?
Kalau bicara e-Commerce, implementasinya kan bisa bermacam-macam. Sekarang ini masih banyak perusahaan yang berdagang seperti biasa, tetapi mereka telah mulai menggunakan call center atau contact center, SMS (short message service) dan Internet. Jadi, dengan kata lain, cara mereka melakukan perdagangannya masih biasa, tetapi ditunjang oleh sarana TI. Itu sebenarnya sudah masuk ke dalam e-Commerce atau tidak. Saya cenderung mengatakannya, Ya.

Banyak juga rekan-rekan yang mulai aktif berdagang lewat saluran elektronik. Itu juga pasti, Ya. Pertumbuhan bisnis di Indonesia ‘kan lebih banyak ditunjang oleh konsumen. Jadi bukan korporasi, tetapi konsumen.

Customer recovery ini penting sekali, karena akibatnya menyebabkan transaksi perorangan yang cukup tinggi. Kalau kita lihat bahwa banyak sekali ketergantungan-ketergantungan kita pada pola-pola pasar biasa. Misalnya, pasar Tanah Abang menunjukkan ketergantungan kita pada pasar fisik. Seharusnya kita dan sebagainya itu mulai mempertanyakan apakah bisa kita menggunakan pola perdagangan e-Commerce, untuk membantu menunjang perluasan dari pasar fisik. Jawabannya seharusnya, Ya.

Apakah e-Commerce itu berarti menggunakan Internet?
Masalahnya adalah para pembeli di Indonesia, yang terhubung ke Internet yang bisa menggunakan “e-transaction” tidak banyak. Kebanyakan mereka mungkin belanjanya pun tidak di pasar Tanah Abang. Jadi ada mismatch. Akibatnya, orang mulai melihat bahwa jangan-jangan itu bisanya hanya dengan menggunakan m-Commerce (mobile commerce). Bedanya antara e-Commerce dengan m-Commerce itu apa? Kalau e-Commerce itu kita menyebutnya dengan elektronik. Tapi, banyak juga orang yang menginterpretasikannya menggunakan Internet.

Sedang m-Commerce itu mobile, pakai handphone. Pahadal, sebetulnya eCommerce itu mencakup Internet dan handphone. Hanya saja, hal itu biasanya dikonotasikan menggunakan I (Internet). Kalau hal ini bisa dilakukan, maka pasar itu bisa meluas sendiri dengan cepat. Karena, artinya, dalam hal ini, dukungan elektronik, SMS dan sebagainya untuk melakukan transaksi, akan bisa sangat membantu.

Perlu ada yang meng-encourage?
Tidak. Tidak perlu encourage. Hal itu akan terjadi sendiri. Jadi, sekarang ini, tinggal para pengusaha selular diharapkan bisa meningkatkan layanannya, memperluas jaringannya. Hal itu dengan sendirinya akan terjadi.

Jadi pesanan kain cita, misalnya, sudah bisa menggunakan SMS semua. Mereka cukup dengan menunjuk kain pesanannya dengan identifikasi nomor berapa. Setengahnya adalah di dalam pasar konvensional seperti di Tanah Abang, dimana selama ini orang harus bisa meraba dan merasakan terlebih dahulu, untuk bisa mengatakan, “Aku pilih yang ini”.

Sedang kalau menggunakan SMS, dia cukup menyebutkan kebutuhannya, misalnya “Aku butuh kain cita kembang-kembang yang warnanya ini, yang dibuat oleh pabrik ini, seperti yang kemarin. Namun, hal itu susah untuk mereferensikannya kembali komoditas yang mau ia beli atau jual.

Upaya apa yang bisa dilakukan?
Padahal kalau hal itu ditunjang oleh sedikit fasilitas yang agak formal saja, misalnya para penjual membuat sebuah asosiasi. Asosiasi inilah yang kemudian menerbitkan semacam selebaran yang isinya mengenai spesifikasi kain, misalnya, yang sudah ada nomornya. Sehingga, pemesanan cukup dilakukan dengan menyebutkan kain cita nomor segini, misalnya. Yang sudah ada nomornya itu. Jadi saya tinggal menyebutkan, “Pak saya pesan kain cita nomor CMK 012, misalnya. Panjangnya 50 meter atau 100 meter. Dia sudah tahu, karena hal itu sudah ada referensinya.

Bukankah hal itu di Indonesia masih jauh?
Tidak. Itu dapat dengan mudah dilakukan. Itu bisa karena para pedaganglah yang membuatnya. Cukup dengan memberi nomornya saja. Jadi, kalau mereka mau melihat contoh, itu dapat dilakukan di satu tempat tertentu yang tidak menjual. Untuk melakukan otomatisasi perdagangan, maka diperlukan sentra-sentra seperti itu. Di tempat itu tidak dilakukan transaksi, tetapi sebagai tempat referensi saja.

Nah, kemudian katalog-katalog ini dititipkan di koran, misalnya. Atau di pameran, sehingga semua orang dapat dengan mudah memperolehnya. Sehingga, para pembeli bisa membuat pesanan dengan me-refer mau beli kain cita nomor ini-ini. Atau ia bertanya, “Nomor sekian saya suka, tapi ada nggak yang warnanya pink!

Jadi, akan tertolong banyak. Akibatnya eCommerce di Indonesia itu selayaknya melangkah satu langkah lagi dengan membentuk kesepakatan bersama antara para penjual dan pemasok. Tidak usah menunggu pemerintah, tidak usah menunggu KADIN. Sedang pembelinya tinggal merefer (mengacu) terhadap katalog yang mereka keluarkan.

Nah, mereka bisa menerbitkannya kan dengan tempat-tempat tertentu sebagai referensinya. Sehingga mereka tidak perlu membangun pasar fisik sebesar dan seramai pasar Tanah Abang.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari terbakarnya pasar Tanah Abang?
Memang tidak mudah menggantikan pasar Tanah Abang, karena ia punya citra tersendiri sebagai pasar ritel terbesar dan sudah lama keberadaannya. Tetapi, kebakaran yang terjadi di pasar Tanah Abang ini mengajarkan kepada kita satu hal baru, bahwa kita bisa mengambil hikmahnya dengan mencoba mengembangkannya tidak hanya di jalur fisik.

Intinya tidak muluk-muluk, cukup di antara para pemasok dan penjual, mereka membuat kesepakatan tidak usah menggunakan asosiasi macam-macam. Cukup 5-10 orang ngumpul berjanji, akhirnya kita menggunakan tabel produk (katalog) tertentu, yang telah memiliki spesifikasi atas produk-produk yang akan mereka dagangkan.

Bagaimana para produsen lainnya?
Secara otomatis produsen-produsen lainnya akan ikut. Karsa-karsa semacam ini sudah waktunya tumbuh. Kalau hal itu tumbuh, orang akan dengan mudah menuju ke arah sana. Sedang pembayaran atau transaksinya kan bisa dibayarkan lewat bank. Itu ‘kan sudah bisa.

Salah satu sudut Pasar Tanah Abang pasca kebakaran: Memang tidak mudah menggantikan peran pasar ritel terbesar ini.

Tentu harus ada yang memulainya?
Hal itu juga bisa dimulai dengan pembuatan katalog produk yang bersifat standar oleh para produsen. Katalog itu yang kemudian bisa digunakan oleh para mitra dagang dan, bahkan, para pembeli ritel pun bisa menggunakannya. Ketika ada pesanan para pedagang atau pembeli bisa merefer ke katalog tertentu, misalnya yang diterbitkan bulan April. Dan itu kan bisa dilakukan lewat telepon, lewat SMS dan sebagainya. Jadi, tidak perlu harus datang sendiri.

Jadi itu, sebenarnya merupakan ekstensi dari pasar konvensional?
Ya. Jadi pasar konvensional itu cukup dengan melakukan satu langkah lagi, maka pembentukan pasar itu sudah akan terbentuk dengan mudah. Itu susah digantikan dengan elektronik. Karena, bagaimana kita memberikan jalan masuk bagi orang yang jarang atau belum masuk ke Internet. Kalaupun masuk, dia cuma melihat contoh-contoh warna kain, yang berbeda-beda warnanya.

Kalau itu ada contoh katalog-katalognya, bisa menjadi lebih mudah. Katalognya bisa ditempatkan di tempat-tempat tertentu, misalnya ITPC (Indonesian Trade Promotion center) atau sentra-sentra tertentu lainnya.

Bisa juga diterbitkan. Bayangkan kalau satu halaman koran, bolak balik, itu sudah berapa banyak isi katalog yang termuat di sana. Harganya bisa bermacam-macam, bisa jual lebih mahal, atau lebih murah. Tapi yang seharusnya diterbitkan adalah harga yang recommended. Orang boleh menjual lebih rendah, tergantung masing-masing.

Mestinya dari para produsen, ya?
Yah, bisa jadi. Nampaknya usulannya bisa datang dari para produsen, yang meng-encourage para pedagang yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kalau perusahaan kan lebih terkoordinir. Dia bisa menerbitkan. Kalau di pekalongan ribut-ribut pasarnya mati, sebenarnya pola ini mungkin bisa menjadi solusi bagi mereka.

Mestinya mereka diajari bagaimana menolong diri mereka sendiri. Inisiatif ini bisa dilakukan tidak usah menunggu sampai pasarnya terbentuk. Kalau menunggu pasarnya terbentuk, itu akan lama sekali. Belum lagi membangun gedungnya. Jadi, pasar yang ingin dikembangkan akan memiliki kanal ganda, antara pasar fisik atau melalui katalog-katalog itu. Harusnya sudah bisa dikembangkan.

Contohnya, dengan terjadinya kebakaran di Tanah Abang kita tidak punya alternatif lain. Mestinya, apapun keadaannya ada yang mau mengambil inisiatif. Siapa yang diuntungkan, ya sebenarnya para produsen.

Itu eCommerce yang sebenarnya?
Itulah yang sesungguhnya e-Commerce. Kalau kita mau eCommerce itu harus lewat Internet, juga membangun rantai pasoknya. Itu sih oke-oke aja, tapi ya terbatas. Tidak semua orang punya akses Internet. Kalau bicara eCommerce, ya artinya B2B aja. Lantas bagaimana B2C?

Bagaimana potensinya?
Sebenarnya, sekarang ini pengguna teknologi seluler lewat mobile phone kan sudah jauh melebihi fixed phone. Pengguna handphone sudah mencapai 10 juta, sedang Internet 2 juta aja belum. Jadi perkembangannya akan jauh lebih cepat, bisa lewat SMS.

Siapa yang menggerakkan? Sebaiknya ya para produsen. Biarkan pasar ini terjadi. Jangan ada regulator, malah lebih sulit. Pemerintah hanya perlu memfasilitasi saja. Kalau inisiatifnya datang dari swasta, kita punya mitra 5-10 orang sudah bisa jalan. Kalau menunggu pemerintah, nanti terlalu lambat. Karena masih studi lagi, mau berapa lama waktunya. Cukup dimulai dengan enam orang pedagang saja hal itu sudah bisa berjalan.

Bukankah mereka juga membutuhkan infrastruktur?
Memang betul infrastruktur memudahkan terjadinya transaksi, tetapi bukan prasyarat, fasilitasi. Teknologi lebih bersifat mendukung. Tetapi, tanpa teknologi pun hal itu terjadi. Memang betul dengan adanya teknologi mereka akan dipermudah, diperlancar. Itu betul. Tapi masyarakat akan mencari sendiri. Setiap air akan mengalir mencari tempatnya sendiri. Tidak perlu dibuatkan selokan airnya dahulu, air tetap akan mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Mengenai konsep I before e?
Saya melihat ada benarnya, tetapi tidak selalu benar. •

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved