Columns Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
Mengamankan sistem informasi
menjadi sesuatu yang sangat
penting, tetapi hal apa saja yang
sangat menentukan?
 
SIDE BAR

Tips Sosialisasi Pengamanan Sistem Informasi

 

oleh Agus Pracoyo

Beberapa pertanyaan dalam daftar “e-Business drivers checklist” adalah apakah supplier dan kustomer merasa nyaman (dalam hal keamanan, kerahasiaan) untuk melakukan e-Business dengan kita ? Apakah supplier bersedia berbagi informasi dengan kita dalam melakukan e-Business ? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan kesiapan kita dalam melakukan pengamanan dalam e-Business.

Setidaknya, ada tiga komponen yang perlu disiapkan dalam pengamanan informasi yaitu, teknologi, proses dan komponen manusia. Dari ketiga komponen tersebut, komponen terakhirlah yang sulit dikontrol dan memerlukan usaha ekstra untuk menyiapkannya.

Dalam suatu audit yang saya lakukan bersama-sama internal auditor di suatu Bank nasional terkemuka, terungkap hanya sekitar 20% user saja yang terbukti menggunakan password untuk mengakses PC-nya. Lebih dari 70% user tidak meng-update anti virusnya, bahkan ada yang sampai 2 tahun tidak di-update. Banyak file yang dishare tidak diproteksi, sehingga tanpa disengaja saya dapat melihat (dan dapat mengubah kalau mau) daftar calon pegawai yang diterima dan tidak diterima.

Lain halnya kasus yang saya jumpai pada suatu perusahaan selular nasional. Administrator Intrusion Detection System (IDS)-nya tidak tau menahu soal cara mengonfigurasi sistem IDS, apalagi cara menginterpretasikan laporan IDS.

Dua perusahaan yang saya kemukakan di atas bukanlah perusahaan yang menutup mata pada masalah sekuriti, bahkan mereka boleh dikatakan termasuk yang terdepan dalam penerapan teknologi pengamanan sistem informasi.

Kedua contoh ini menunjukkan ketidakseriusan perusahaan dalam menangani sistem keamanan informasi. Mereka semata-mata hanya menekankankan pada teknologi, tetapi mengabaikan faktor sumber daya manusianya.

Ada beberapa faktor yang membuat sumber daya manusia menjadi kendala dalam sistem keamanan informasi, yaitu :

Tidak adanya kebijakan keamanan (security policy).
Tidak adanya security policy menyebabkan karyawan tidak mempunyai kejelasan dan panduan dalam melakukan pengamanan sistem informasi. Akibatnya, setiap individu mempunyai caranya masing-masing, yang menyebabkan ketidakkonsistenan dan memperbesar risiko keamanan.

Tidak disosialisasikannya kebijakan keamanan.
Beberapa perusahaan hanya menjadikan kebijakan keamanan sebagai pajangan di perpustakaan. Beberapa perusahaan lainnya melakukan program sosialisasi hanya dengan menyebarkan surat edaran dan mengharapkan setiap karyawan membacanya. Kebijakan keamanan tanpa program sosialisasi yang efektif menjadi usaha yang sia-sia belaka.

Bahasa yang digunakan susah dimengerti.
Banyak prosedur yang dibuat oleh orang TI tanpa disadari mengasumsikan pembacanya dari kalangan TI. Berikut ini contoh prosedur untuk mengubah password : “ Untuk mengubah password, masuk ke control panel , kemudian click user dan password …”. Pembuat prosedur ini mengasumsikan bahwa setiap orang mengerti bagaimana caranya masuk ke control panel, yang pada kenyataannya sebagian besar karyawan non TI tidak mengerti. Jika prosedur ini ditambahkan satu atau dua baris dan disertai gambar yang menerangkan bagaimanan caranya masuk ke control panel, maka prosedur ini akan lebih mudah dimengerti.

Prosedur yang dibuat tidak memperhitungkan karakter manusia.
Banyak administrator sistem keamanan salah kaprah dengan beranggapan bahwa semakin sulit suatu sistem diakses, semakin aman, Hal ini banyak terlihat dalam penerapan sistem password.

Menurut Jacob Nielsen, ada 5 kebohongan terbesar dalam kemanan komputer khususnya yang berhubungan dengan masalah password, yaitu :
• Password acak (random password) lebih aman.
• Password yang di generate oleh sistem lebih aman, ketimbang password yang dipilih oleh user.
• Password yang panjang lebih aman ketimbang yang pendek.
• Semakin sering mengubah password akan meningkatkan keamanan.
• Pemilihan password yang berbeda untuk sistem yang berbeda akan meningkatkan keamanan.

Kelima hal ini akan benar, jika tanpa mempertimbangkan faktor manusia. Pada kenyataannya jika hal ini diterapkan, yang terjadi adalah user akan menulis password dan menempelkannya di layar monitor atau dibalik laptopnya!

Saya justru menganjurkan menggunakan password yang mudah diingat, seperti nama anak, judul lagu favorit, alamat rumah dengan memodifikasi karakter, misalnya dengan mengubah huruf a dengan @, I dengan angka 1 atau tanda ! dan sebagainya.

Sebagai contoh :
G1l@ng = Gilang
KPIBI14PK = Kompleks Palem Indah Blok I no 14 Pondok Kelapa
2old2rock’n’roll = Too old to rock ‘N’ Roll
(judul lagu group musik Jetro Tull)
Eye-Bee-Em = IBM

Kurangnya pengetahuan keamanan informasi.
Pelatihan tentang kemanan informasi bagi administrator sistem dan network tak dapat disangkal lagi dapat meningkatkan efektifitas penerapan sistem keamanan suatu perusahaan. Sayangnya, banyak perusahaan di Indonesia yang saya jumpai kurang menganggarkan biaya untuk pelatihan keamanan informasi. Bahkan, ada suatu perusahaan yang menugaskan karyawan fresh graduate untuk mengangani tugas-tugas keamanan informasi.

Padahal, tugas pengamanan informasi seharusnya diberikan kepada karyawan yang mempunyai pengalaman, baik di sistem operasi, jaringan, dan aplikasi maupun yang memiliki pengetahuan tentang proses bisnis suatu perusahaan.•

Agus Pracoyo •channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved