Columns Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Lima Langkah eTransformasi

 

oleh Dwi Suryanto

Kapal besar itu siap-siap berlayar. Pelayaran ini sangat istimewa karena akan menuju ke perairan yang belum terpetakan. Wajah gembira campur sedikit ‘nervous’ terpancar di wajah penumpang dan para anak buah kapal. Mesin mulai hidup dan kapal mulai bergerak. Angin bertiup kencang dan kapal mulai terguncang oleh mesin dan ombak. Namun, guncangan makin besar.

Banyak penumpang yang letih karena guncangan. Bahkan, ada yang mulai mabuk laut. Begitu mereka melihat ke arah luar, ternyata kapal masih di tempat semula. Jangkarnya masih tertambat di pelabuhan. Pantas, kapal tidak bisa berlayar.

Inilah yang banyak terjadi ketika perusahaan melakukan transformasi. Mereka lebih sibuk di dalam perusahaan daripada mengurusi masalah terpenting, yaitu pelanggan. Semua pegawai sibuk bertransformasi, tapi manfaat yang nyata tidak dirasakan oleh pelanggan.

e-Transformasi
e-Transformasi adalah proses dan upaya mengubah kondisi sekarang perusahaan menjadi kondisi yang diinginkan di masa datang dengan memanfaatkan teknologi informasi / komunikasi sebagai pendukung proses itu. Intinya adalah agar layanan yang diberikan makin memberikan value yang makin tinggi bagi pelanggan. Jika itu terjadi, diharapkan akan bisa melindungi perusahaan dari persaingan yang semakin ketat.

Langkah terbaik transformasi adalah mulai dari pelanggan. Dahulukanlah customer value chain daripada supplier value chain. Mengapa demikian? Karena pelangganlah yang membayar perusahaan.

Demikian pentingnya pelanggan sampai-sampai ada buku yang berjudul Complaint as a Gift, dimana buku itu menganggap keluhan adalah hadiah bagi perusahaan.

Bahkan, Bill Gates, pendiri Microsoft mengatakan agar karyawannya menyambut berita buruk sebagai berita baik. Maksudnya, dengan adanya berita buruk dari pelanggan yang cepat masuk ke karyawan terkait, maka akan bisa segera diambil langkah perbaikan yang perlu. Jika Anda menggunakan Internet Explorer, dan jika terjadi software error, maka di layar akan tampil pesan apakah kesalahan ini akan dilaporkan ke Microsoft atau tidak. Jika ya, kita tinggal tekan tombol OK, dan secara otomatis error itu akan sampai ke Microsoft.

e-Culture
Transformasi melibatkan orang-orang. Orang, pada dasarnya, tidak ingin berubah. Apalagi jika perubahan itu mengancam diri atau kedudukannya. Oleh karenanya, mempersiapkan karyawan untuk transformasi merupakan masalah yang penting. Jika resistensi karyawan terhadap transformasi tinggi, maka sebaiknya lakukan perubahan secara bertahap. Jika perlu mereka dilatih. Jadikan mereka mem ‘buy-in’ program transformasi, sehingga resistensi akan berkurang.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah membuat aplikasi berbasis web yang langsung terkait dengan karyawan, seperti SIM SDM, Absensi, Gaji, dsb. Setelah mereka terbiasa dengan aplikasi berbasis web, mengubah sikap mereka untuk beralih kepada aplikasi lain yang mendukung transformasi akan semakin mudah.

Ungkapan Bill Gates, “Ultimately, the most important speed issue companies is cultural,” cukup memberi pencerahan kepada kita tentang perlunya menyiiapkan budaya sebagai landasan transformasi.

Saya ingat bagaimana seorang Dirut BUMN yang mengharuskan pejabatnya menjawab tugas-tugas yang dibebankan melalui e-mail, tidak boleh pakai telpon. Ini adalah contoh bagaimana menyiapkan e-culture bagi karyawan.

Perubahan Radikal vs Gradual
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kita harus mentranformasi bisnis secara cepat atau bertahap. Ada dua kubu yang saling bertentangan. Sawhney dan Zabin, dalam bukunya Seven Steps to Nirvana (2001) menyarankan agar transformasi jangan tergesa-gesa. Lebih baik perjelas dulu tujuan dan proses yang akan dijalankan. Kesalahan yang dibuat pada masa transisi akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang.

Sementara itu, Burke & William Trahant dalam bukunya Business Climates Shifts (2000) mengatakan agar dilakukan perubahan secara radikal dan cepat. Karena dengan perubahan yang cepat akan dapat mengubah peta pasar dan persaingan di industri itu. Contoh klasik adalah Amazon.com yang mengubah peta persaingan industri buku menjadi radikal, yang mau tidak mau membuat para pemain lain harus ikut menyesuaikan diri.

Menurut pendapat saya, sebaiknya bertahap dan sistematis. Dengan bertahap kita sempat belajar dari orang lain, yang telah melakukan transformasi. Di samping itu, budaya kita masih belum mendukung. Mereka masih melihat komputer hanya sebagai pengganti mesin ketik, sementara internet masih dipandang hanya sebagai tempat mencari informasi.

Komunikasikan
Kita tahu bahwa dengan transformasi, perusahaan akan menjadi bentuk yang baru. Komunikasi menjadi kata kunci. Visi, tujuan, strategi dan proses transformasi harus dikabarkan kepada semua pihak (stakeholder) pada awal transformasi. Sering terjadi, pada waktu transformasi sedang dijalankan, ada pemegang saham yang masih mempertanyakan mengapa harus transformasi, dsb. Karena kita akan berlayar menuju tanah harapan, maka menggambarkan manfaat, tantangan, termasuk risiko, merupakan tanggung jawab manajemen puncak perusahaan.

Kita ingat bagaimana Jack Welch, mantan CEO General Electric harus terbang, yang jika diukur jaraknya, lebih dari 40 kali mengelilingi bumi dalam menjelaskan transformasi perusahaannya. Dalam pertemuan itu, Jack Welch menjelaskan transformasi yang dijalankan. Kepada para engineer, dipersilakan untuk mendebat rencananya itu. Dengan debat yang alot dan berlarut-larut akhirnya diperoleh pemahaman. Setelah dicapai pemahaman, mereka menganggap transformasi adalah kebutuhan mereka, bukan semata-mata kepentingan perusahaan. Inilah kunci sukses sebuah transformasi.

Pemimpin yang Transformasional
Mengarungi lautan perubahan menuntut pemimpin yang kuat, yang mampu menanggapi dan mengatasi tantangan yang menghadang transformasi. Keteguhan Colombus dalam upaya menemukan benua Amerika, patut ditiru oleh pemimpin transformasional. Boss dan Avolio dalam buku mereka Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership’ (1994) menawarkan 4 prasarat seorang pemimpin transformational yang efektif, yaitu:

Pertama, Karisma, yaitu adanya respek dan kekaguman bawahan kepada pemimpinnya. Kedua, Kepedulian, yaitu tingkat kepedulian pemimpin terhadap kebutuhan dan harapan bawahannya. Ketiga, Stimulasi intelektual, dimana pemimpin menyediakan tugas yang menarik dan mendorong karyawan menyelesaikan masalah mereka denga cara mereka sendiri. Keempat, Pemimpin yang menginspirasi, sehingga bawahan yakin terhadap visi dan nilai-nilai yang dimiliki oleh pemimpinnya.•

Dwi Suryanto • Direktur Pemasaran, PT Bhakti Wasantara-Net (W-net) www.wasantara.net.id

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved