Broadcasting & Multimedia Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
Siaran televisi digital tampaknya masih jauh
kehadirannya di layar kaca di Indonesia. Berbeda dengan negara jiran, Singapora, yang sebagian warganya sudah mulai menikmati-nya.
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Menurut M. Sukarna, General Manager Teknik Lativi, kemungkinan televisi digital bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia paling cepat lima tahun mendatang. “Itu juga terbatas di kota Jakarta dan sebagian kota-kota besar lainnya,” katannya. Untuk keseluruhan Indonesia bisa menikmati siaran yang sama, ia memperkirakan paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 20 tahun lagi.

Alokasi Frekuensi Rumit
Untuk bisa menikmati siaran televisi digital ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Masih banyak masalah yang harus dibereskan sebelum siaran televisi digital itu bisa dinikmati masyarakat. Yang paling dekat saja, menurut Sukarna, pemerintah harus menerapkan standar sistem digital yang akan diimplementasikan secara nasional. Bila itu sudah dilakukan, maka stasiun televisi nasional akan segera mengikutinya.

Tapi boro-boro ke sana, pemerintahan sekarang ini masih belum memikirkan hal itu. Persoalan yang paling tampak saja, yaitu masalah alokasi frekuensi, belum terselesaikan secara menyeluruh. Hal ini pun masih dibumbui pelaksanaan otonomi daerah yang justru memperumit alokasi frekuensi masing-masing televisi.

Sementara Rachmat Akbari, Senior Manager Technical Operations & Engineering SCTV, melihat permasalahan siaran televisi digital dari kacamata ekonomi. Menurutnya, untuk bisa menikmati siaran digital masyarakat harus mengubah pesawat televisinya dari analog ke digital. Cara termurah adalah dengan membeli set-top-box yang bisa mengonversi dari sinyal digital ke analog, sehingga dapat dilihat pemirsa di rumah. Harganya saat ini tak kurang dari US$400 di Amerika Serikat. “Saya melihat itu yang menjadi kendala utama,” ucapnya.

Sekalipun harga itu diprediksikan turun dalam berapa tahun mendatang, tapi bila perekonomian nasional tidak tumbuh cukup tinggi, maka agak sulit untuk bisa merealisasikannya lebih cepat. Di matanya, harus tercapai keseimbangan antara penurunan harga dan peningkatan pendapatan rata-rata masyarakat, sehingga bisa mendorong pertumbuhan siaran televisi digital.

Mengejar Digitalisasi Internal

M. Sukarna, General Manager Teknik Lativi

Kondisi ini tidak berarti stasiun televisi nasional duduk diam dan berpangku tangan. Karena, dalam kenyataannya, hampir semua stasiun televisi sudah melakukan digitalisasi secara internal. Nuansa digital justru terasa kental sekali di stasiun televisi pendatang baru, seperti Lativi, TV7 dan Metro TV. Sementara para pemain lama, seperti RCTI dan SCTV justru berada dalam masa transisi menuju digitalisasi secara menyeluruh.

“Kami lahir justru pada saat digital sudah sedemikian maraknya, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengaplikasikan sistem digital secara menyeluruh,” kata Chrys Kelana, Managing Director Lativi. Tapi Chrys mengingatkan bahwa digitalisasi masih terbatas untuk internal stasiun, sementara moda siaran video dari terestrial atau menara pemancar ke pesawat televisi di rumah-rumah tetap dilakukan secara analog.

Menurut Sukarna, untuk pemancaran audio tetap dilakukan dalam format digital. “Saat ini kami menggunakan NICAM untuk audionya,” jelasnya. Ini bisa dilakukan karena di setiap menara pemancar televisi terdapat carrier untuk audio atau audio dan video atau video yang terpisah. Tidak heran bila di rumah, pemirsa bisa menikmati tata audio digital dari masing-masing pesawat penerimanya.

Bisa dikatakan bahwa hampir semua televisi swasta nasional sudah menerapkan sistem digital untuk audionya. RCTI, yang merupakan stasiun swasta tersenior sudah menggunakan stereo NICAM untuk audionya. Sistem stereo yang sama juga digunakan oleh stasiun swasta lainnya, baik yang lama maupun yang belakangan hadir. Sekalipun, Rachmat mengakui bahwa digitalisasi audio di terestrial SCTV baru menjangkau kota-kota besar. Baru tahun ini direncanakan untuk kota-kota menengah dan kecil. “Ini merupakan up grade process,” paparnya.

Konvergensi dan Efisiensi

Di mata Rachmat, digitalisasi dalam broadcast sebenarnya bermula dari adanya konvergensi antara TI dengan teknologi broadcast. Dengan konvergensi, komputer menggeser hampir sebagian peran dan fungsi peralatan broadcast yang dikenal selama ini dan telah digunakan sebelumnya.

“Dulu media broadcast berupa tape dan VTR, sekarang medianya berbasiskan komputer,” katanya. Aplikasi untuk broadcast kini berbasiskan komputer, dan ini bisa dikatakan jika sebagian besar peralatan yang digunakan kini berupa aplikasi program yang ada dalam komputer. Jadi tidak lagi hardware tapi sudah digeser ke software.

Merge IT dan broadcast atau yang dikenal dengan istilah digitalisasi, menurut kaca matanya, lebih terkait dengan efisiensi proses dan produksi. “Dibandingkan persoalan kualitas antara digital dan analog,” paparnya. Efisiensi yang paling kasat mata adalah kalau dulu pekerjaan editing dilakukan oleh banyak orang dengan spesifikasi terhadap peralatan yang ditanganinya, maka kini pekerjaan serupa dilakukan hanya oleh satu atau dua orang. Ini berarti proses yang terjadi lebih efisien daripada sebelumnya.

Efisiensi kedua terjadi pada investasi peralatan. Sepuluh tahun lalu, untuk membeli peralatan editing diperlukan biaya sebesar Rp. 2,5 milyar. Sekarang dengan sekitar Rp. 250 juta sudah diperoleh peralatan serupa dengan kualitas yang setara.

Selain itu, dengan sistem digital, dimungkinkan tidak terjadinya penurunan kualitas output. Hal ini biasa terjadi dalam sistem analog yang medianya berupa pita. Akibatnya, persoalan data storage tidak lagi menjadi isu besar. Bandingkan dengan penyimpanan data analog yang memerlukan ruangan tersendiri, yang dilengkapi pengaturan suhu dan kelembaban udara.

Selama hard disk tidak mengalami kerusakan, dan tentu memiliki back up, maka penyimpanan data digital tidak menjadi masalah. Juga, mudah diambil kembali (retrieve) dalam waktu singkat.

Hanya saja, jangan dikira bila dalam penyiaran videonya semua dilakukan secara analog. Karena, sebenarnya di masing-masing station siaran video dilakukan baik secara analog maupun digital. Pilihan analog dilakukan bila program ditransmisikan melalui jaringan gelombang mikro.

“Sebenarnya, saat ini sudah tersedia. Sementara, pilihan akan digital dilakukan bila transmisi dilakukan melalui satelit dan kabel serat optik. Namun, untuk rumah tangga yang memiliki fasilitas televisi satelit, sebenarnya mereka telah bisa menikmati siaran dalam moda digital, baik audio maupun video.

Lebih Efisien dan Ekonomis
Pola siaran digital sebenarnya sudah dilakukan oleh stasiun televisi sejak lama, terutama yang terkait dengan up-link dan down-link ke dan dari satelit. Dengan teknologi analog, menurut Chrys, diperlukan penyewaan satu kanal transponder secara penuh. Ini berarti diperlukan dana sekitar US$2 juta untuk penggunaan satu stasiun televisi setiap tahunnya. Dengan sistem digital, setiap stasiun hanya membutuhkan seperempat dari kanal transponder yang lebarnya 36 Mega Hertz (MHz), atau hanya 9 MHz. Jadi biaya yang dibutuhkan pun melorot hanya seperempatnya. Tidak heran, bila seluruh stasiun televisi menyewa transponder dengan sistem digital.

Efisiensi yang mencapai 75% ini hanya bisa terjadi dengan sistem digital. Dalam sistem digital, informasi disampaikan dengan menggunakan angka biner atau binary, yaitu 0 dan 1. Data audio dan video yang terdiri dari pasangan-pasangan bilangan biner tersebut, seperti 00, 01, 10 dan 11 dikompresikan dengan menggunakan standar kompresi tertentu, misalnya standar MPEG-2 (Motion Picture Expert Group 2) untuk video, sedangkan MPEG-3 untuk audio. Proses ini dikenal dengan istilah source coding. Data yang telah dikompresikan selanjutnya menjalani proses channel coded agar bisa dipancarkan.

Chrys Kelana, Managing Director Lativi

Kompresi video dan audio dalam siaran televisi digital ini memungkin lebih dari satu program televisi menempati ruang kanal yang biasanya hanya muat untuk satu program analog. Bahkan menurut Rachmat, spektrum frekuensi analog memungkinkan untuk ditempati hingga sepuluh program digital yang beragam. Ia merujuk pada operator televisi kabel yang memuat hingga puluhan saluran televisi, dan itupun masih ditambah saluran internet berkecepatan tinggi.

Dibandingkan siaran analog, digital memiliki kelebihan berupa kualitas gambar yang lebih baik. Artinya, imun terhadap gangguan seperti ghosting dan noise karena penggunaan angka biner (binary). Namun hal ini dibantah oleh Rachmat yang melihat bahwa dengan peralatan analog yang baik, maka kualitas output-nya tidak kalah dibanding digital.


Keunggulan lainnya adalah “bila terjadi gangguan, maka siaran digital langsung menampilkan sekuen gambar yang terakhir, bukan gerimis seperti yang terjadi pada siaran analog,” papar Sukarna. Di samping daya yang digunakan tidak sebesar analog.

Untuk transmisi ke satelit misalnya, power RF Output digital jauh lebih kecil dari analog. Perbandingannya mencapai 1:5 antara digital dan analog, dengan posisi antena up-link yang sama. Untuk itu harus digunakan tambahan peralatan Digital Up Link. Hanya saja, peralatan tambahan tersebut tidak harus dimiliki karena dapat disewa dari operator telekomunikasi.

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved