Menurut
M. Sukarna, General Manager Teknik Lativi, kemungkinan televisi
digital bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia paling cepat
lima tahun mendatang. “Itu juga terbatas di kota Jakarta
dan sebagian kota-kota besar lainnya,” katannya. Untuk
keseluruhan Indonesia bisa menikmati siaran yang sama, ia
memperkirakan paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 20 tahun
lagi.
Alokasi Frekuensi Rumit
Untuk bisa menikmati siaran televisi digital ternyata tidak
semudah membalik telapak tangan. Masih banyak masalah yang
harus dibereskan sebelum siaran televisi digital itu bisa
dinikmati masyarakat. Yang paling dekat saja, menurut Sukarna,
pemerintah harus menerapkan standar sistem digital yang akan
diimplementasikan secara nasional. Bila itu sudah dilakukan,
maka stasiun televisi nasional akan segera mengikutinya.
Tapi boro-boro ke sana, pemerintahan sekarang ini masih belum
memikirkan hal itu. Persoalan yang paling tampak saja, yaitu
masalah alokasi frekuensi, belum terselesaikan secara menyeluruh.
Hal ini pun masih dibumbui pelaksanaan otonomi daerah yang
justru memperumit alokasi frekuensi masing-masing televisi.
Sementara Rachmat Akbari, Senior Manager Technical Operations
& Engineering SCTV, melihat permasalahan siaran televisi
digital dari kacamata ekonomi. Menurutnya, untuk bisa menikmati
siaran digital masyarakat harus mengubah pesawat televisinya
dari analog ke digital. Cara termurah adalah dengan membeli
set-top-box yang bisa mengonversi dari sinyal digital ke analog,
sehingga dapat dilihat pemirsa di rumah. Harganya saat ini
tak kurang dari US$400 di Amerika Serikat. “Saya melihat
itu yang menjadi kendala utama,” ucapnya.
Sekalipun harga itu diprediksikan turun dalam berapa tahun
mendatang, tapi bila perekonomian nasional tidak tumbuh cukup
tinggi, maka agak sulit untuk bisa merealisasikannya lebih
cepat. Di matanya, harus tercapai keseimbangan antara penurunan
harga dan peningkatan pendapatan rata-rata masyarakat, sehingga
bisa mendorong pertumbuhan siaran televisi digital.
Mengejar Digitalisasi Internal
 |
| M. Sukarna, General Manager
Teknik Lativi |
Kondisi ini tidak berarti stasiun televisi nasional duduk
diam dan berpangku tangan. Karena, dalam kenyataannya, hampir
semua stasiun televisi sudah melakukan digitalisasi secara
internal. Nuansa digital justru terasa kental sekali di stasiun
televisi pendatang baru, seperti Lativi, TV7 dan Metro TV.
Sementara para pemain lama, seperti RCTI dan SCTV justru berada
dalam masa transisi menuju digitalisasi secara menyeluruh.
“Kami lahir justru pada saat digital sudah sedemikian
maraknya, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengaplikasikan
sistem digital secara menyeluruh,” kata Chrys Kelana,
Managing Director Lativi. Tapi Chrys mengingatkan bahwa digitalisasi
masih terbatas untuk internal stasiun, sementara moda siaran
video dari terestrial atau menara pemancar ke pesawat televisi
di rumah-rumah tetap dilakukan secara analog.
Menurut Sukarna, untuk pemancaran audio tetap dilakukan dalam
format digital. “Saat ini kami menggunakan NICAM untuk
audionya,” jelasnya. Ini bisa dilakukan karena di setiap
menara pemancar televisi terdapat carrier untuk audio atau
audio dan video atau video yang terpisah. Tidak heran bila
di rumah, pemirsa bisa menikmati tata audio digital dari masing-masing
pesawat penerimanya.
Bisa dikatakan bahwa hampir semua televisi swasta nasional
sudah menerapkan sistem digital untuk audionya. RCTI, yang
merupakan stasiun swasta tersenior sudah menggunakan stereo
NICAM untuk audionya. Sistem stereo yang sama juga digunakan
oleh stasiun swasta lainnya, baik yang lama maupun yang belakangan
hadir. Sekalipun, Rachmat mengakui bahwa digitalisasi audio
di terestrial SCTV baru menjangkau kota-kota besar. Baru tahun
ini direncanakan untuk kota-kota menengah dan kecil. “Ini
merupakan up grade process,” paparnya.
Konvergensi
dan Efisiensi
Di mata Rachmat, digitalisasi dalam broadcast sebenarnya
bermula dari adanya konvergensi antara TI dengan teknologi
broadcast. Dengan konvergensi, komputer menggeser hampir
sebagian peran dan fungsi peralatan broadcast yang dikenal
selama ini dan telah digunakan sebelumnya. “Dulu
media broadcast berupa tape dan VTR, sekarang medianya
berbasiskan komputer,” katanya. Aplikasi untuk broadcast
kini berbasiskan komputer, dan ini bisa dikatakan jika
sebagian besar peralatan yang digunakan kini berupa aplikasi
program yang ada dalam komputer. Jadi tidak lagi hardware
tapi sudah digeser ke software.
Merge IT dan broadcast atau yang dikenal dengan istilah
digitalisasi, menurut kaca matanya, lebih terkait dengan
efisiensi proses dan produksi. “Dibandingkan persoalan
kualitas antara digital dan analog,” paparnya. Efisiensi
yang paling kasat mata adalah kalau dulu pekerjaan editing
dilakukan oleh banyak orang dengan spesifikasi terhadap
peralatan yang ditanganinya, maka kini pekerjaan serupa
dilakukan hanya oleh satu atau dua orang. Ini berarti
proses yang terjadi lebih efisien daripada sebelumnya.
Efisiensi kedua terjadi pada investasi peralatan. Sepuluh
tahun lalu, untuk membeli peralatan editing diperlukan
biaya sebesar Rp. 2,5 milyar. Sekarang dengan sekitar
Rp. 250 juta sudah diperoleh peralatan serupa dengan kualitas
yang setara.
Selain itu, dengan sistem digital, dimungkinkan tidak
terjadinya penurunan kualitas output. Hal ini biasa terjadi
dalam sistem analog yang medianya berupa pita. Akibatnya,
persoalan data storage tidak lagi menjadi isu besar. Bandingkan
dengan penyimpanan data analog yang memerlukan ruangan
tersendiri, yang dilengkapi pengaturan suhu dan kelembaban
udara.
Selama hard disk tidak mengalami kerusakan, dan tentu
memiliki back up, maka penyimpanan data digital tidak
menjadi masalah. Juga, mudah diambil kembali (retrieve)
dalam waktu singkat. |
Hanya saja, jangan dikira bila dalam penyiaran videonya semua
dilakukan secara analog. Karena, sebenarnya di masing-masing
station siaran video dilakukan baik secara analog maupun digital.
Pilihan analog dilakukan bila program ditransmisikan melalui
jaringan gelombang mikro.
“Sebenarnya, saat ini sudah tersedia. Sementara, pilihan
akan digital dilakukan bila transmisi dilakukan melalui satelit
dan kabel serat optik. Namun, untuk rumah tangga yang memiliki
fasilitas televisi satelit, sebenarnya mereka telah bisa menikmati
siaran dalam moda digital, baik audio maupun video.
Lebih Efisien dan Ekonomis
Pola siaran digital sebenarnya sudah dilakukan oleh stasiun
televisi sejak lama, terutama yang terkait dengan up-link
dan down-link ke dan dari satelit. Dengan teknologi analog,
menurut Chrys, diperlukan penyewaan satu kanal transponder
secara penuh. Ini berarti diperlukan dana sekitar US$2 juta
untuk penggunaan satu stasiun televisi setiap tahunnya. Dengan
sistem digital, setiap stasiun hanya membutuhkan seperempat
dari kanal transponder yang lebarnya 36 Mega Hertz (MHz),
atau hanya 9 MHz. Jadi biaya yang dibutuhkan pun melorot hanya
seperempatnya. Tidak heran, bila seluruh stasiun televisi
menyewa transponder dengan sistem digital.
Efisiensi yang mencapai 75% ini hanya bisa terjadi dengan
sistem digital. Dalam sistem digital, informasi disampaikan
dengan menggunakan angka biner atau binary, yaitu 0 dan 1.
Data audio dan video yang terdiri dari pasangan-pasangan bilangan
biner tersebut, seperti 00, 01, 10 dan 11 dikompresikan dengan
menggunakan standar kompresi tertentu, misalnya standar MPEG-2
(Motion Picture Expert Group 2) untuk video, sedangkan MPEG-3
untuk audio. Proses ini dikenal dengan istilah source coding.
Data yang telah dikompresikan selanjutnya menjalani proses
channel coded agar bisa dipancarkan.
 |
| Chrys Kelana, Managing Director
Lativi |
Kompresi video dan audio dalam siaran televisi digital ini
memungkin lebih dari satu program televisi menempati ruang
kanal yang biasanya hanya muat untuk satu program analog.
Bahkan menurut Rachmat, spektrum frekuensi analog memungkinkan
untuk ditempati hingga sepuluh program digital yang beragam.
Ia merujuk pada operator televisi kabel yang memuat hingga
puluhan saluran televisi, dan itupun masih ditambah saluran
internet berkecepatan tinggi.
Dibandingkan siaran analog, digital memiliki kelebihan berupa
kualitas gambar yang lebih baik. Artinya, imun terhadap gangguan
seperti ghosting dan noise karena penggunaan angka biner (binary).
Namun hal ini dibantah oleh Rachmat yang melihat bahwa dengan
peralatan analog yang baik, maka kualitas output-nya tidak
kalah dibanding digital.
Keunggulan lainnya adalah “bila terjadi gangguan, maka
siaran digital langsung menampilkan sekuen gambar yang terakhir,
bukan gerimis seperti yang terjadi pada siaran analog,”
papar Sukarna. Di samping daya yang digunakan tidak sebesar
analog.
Untuk transmisi ke satelit misalnya, power RF Output digital
jauh lebih kecil dari analog. Perbandingannya mencapai 1:5
antara digital dan analog, dengan posisi antena up-link yang
sama. Untuk itu harus digunakan tambahan peralatan Digital
Up Link. Hanya saja, peralatan tambahan tersebut tidak harus
dimiliki karena dapat disewa dari operator telekomunikasi.
Go to next page
|