Masih
ingat masa-masa jayanya over head projector, yang lebih beken
disebut OHP? Pada masa itu, ketika orang menyebut presentasi,
terlintas di benak kita suatu perangkat bertubuh tambun, yang
di bagian atasnya terbuat dari kaca tebal tembus pandang dan
di bawah kaca tersebut terdapat lampu yang menyorot terang
menyinari slide atau transparansi berisi materi presentasi.
Di atasnya, menggantung kokoh sebuah lensa prisma, yang siap
memantulkan dan memperbesar bayangan dari slide presentasi
ke tembok ataupun layar.
Rumit? Ah, itu sih belum seberapa jika dibandingkan dengan
persiapan materi presentasi itu sendiri. Bayangkan saja, sebelum
presentasi, Anda harus mempersiapkan berlembar-lembar transparan,
dan Anda harus menuliskan sendiri materi presentasi di atas
lembaran transparansi tersebut. Beruntung jika Anda atau sekretaris
Anda memiliki tulisan tangan yang bagus. Anda tentunya tidak
ingin presentasi Anda ditampilkan dengan tulisan cakar ayam,
bukan?
Kalau Anda menginginkan tampilan presentasi yang rapi dan
atraktif, dan dengan sedikit tambahan biaya, Anda bisa mengetikkan
bahan presentasi dengan word processor, mencetak, dan memfotokopikannya
ke atas kertas transparan untuk tampilan yang lebih atraktif.
Toh, ujung-ujungnya perangkat presentasilah menentukan tampilan
presentasi Anda. Sudah barang tentu Anda tidak ingin presentasi
yang sudah Anda siapkan matang-matang menjadi buyar hanya
gara-gara perangkat presentasi tidak bekerja sesuai harapan
Anda.
Perangkat Presentasi
Ada berbagai jenis perangkat presentasi yang kini beredar
di pasaran. Mulai dari OHP, sampai saudara kandung OHP berteknologi
lebih canggih, misalnya visualizer, atau proyektor video,
mulai dari yang berteknologi tabung (CRT - Cathode Ray Tube)
maupun solid state (LCD, DLP, D-ILA, dan LCOS).
Meski kini jarang terlihat, toh OHP masih bisa dibilang memiliki
keunggulan, seperti materi presentasi bisa Anda ubah saat
itu juga. Atau, bilamana ada masukkan dari audiens, Anda bisa
langsung mencantumkannya ke bahan presentasi Anda. Hanya sayangnya,
OHP masih memerlukan medium berupa kertas transparan, yang
belum tentu bisa menyajikan tampilan visual yang bisa memukau
audiens Anda.
Ada kalanya Anda ingin menampilkan bahan-bahan presentasi
dengan mengutip dari sebuah text book, atau dari dokumen-dokumen
lama milik Anda, yang tidak sempat Anda pindahkan ke transparan.
Atau, Anda seorang dosen elektronika dan ingin menampilkan
suatu obyek tiga dimensi, misalnya sebuah printed circuit
board (PCB) ke hadapan mahasiswa Anda, namun Anda tidak sempat
memotretnya.
Jelas, OHP tidak mungkin melakukan itu semua. Kemudian, muncul
perangkat presentasi yang disebut visualizer, atau lebih lengkapnya
video visualizer document camera. Perangkat presentasi, yang
sebenarnya lebih mirip dengan perangkat imaging capture ini
tidak hanya mampu menampilkan transparansi, tetapi juga dokumen-dokumen
kertas, obyek-obyek 3D, atau film negatif maupun positif sekalipun.
Untuk output-nya, visualizer mampu menampilkan bahan presentasi
ke monitor video atau proyektor. Bahkan, untuk beberapa tipe
visualizer dari pabrikan tertentu, fungsi-fungsi dari visualizer
dan proyektor digabung dalam satu perangkat. Sayangnya, visualizer
merupakan perangkat statis, tidak portable, sehingga tidak
mudah dibawa ke mana-mana.
Jika Anda seorang mobile warrior atau mobile presenter, dan
menempatkan tampilan visual yang memukau lebih penting, multimedia
projector mungkin menjadi pilihan utama Anda. Dulu, mungkin
Anda sudah akrab dengan proyektor CRT, sebuah perangkat proyektor
bertubuh tambun berteknologi tabung, lengkap dengan tiga lensa
di depannya. Sudah barang tentu perangkat semacam itu tidak
mudah untuk dibawa-bawa, karena beratnya saja bisa mencapai
75 kilogram! Biasanya, penempatan proyektor CRT bersifat permanen,
misalnya di ruang-ruang kelas, auditorium maupun di ruang
bioskop pribadi.
Namun, perkembangan teknologi, terutama teknologi digital
yang terus meningkat, proyektor pun mengalami sentuhan digital.
Kini, hampir sebagian besar pasar proyektor dikuasai oleh
proyektor digital. Mulai dari yang berteknologi LCD (Liquid
Crystal Display), DLP (Digital Light Processing), sampai teknologi
terbaru yang kini tengah beranjak populer, LCOS (Liquid Crystal
on Single Crystal Silicon). Tidak heran, karena proyektor
digital ini memang bobotnya relatif ringan, dan harganya pun
relatif jauh di bawah proyektor CRT, yakni antara 15.000 sampai
30.000 dolar.
Karakteristik proyektor
Masing-masing teknologi proyektor memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Namun, secara umum, kualitas gambar yang diproyeksikan, apapun
teknologinya, sangat tergantung pada karakteristik resolusi,
kecerahan, warna dan contrast ratio-nya (lihat artikel “Tips
Memilih Proyektor untuk Presentasi Bisnis”)
Resolusi. Resolusi adalah jumlah pixel yang dapat
dihasilkan, yang diekspresikan sebagai resolusi pixel horizontal
dan vertikal. Resolusi “sesungguhnya” dari sebuah
proyektor adalah jumlah pixel maksimum yang dapat diproyeksikannya.
Semakin tinggi tingkat resolusinya, semakin tinggi detil gambar
yang dapat ditampilkannya (lihat Tabel 1). Berbicara mengenai
tren resolusi proyektor, sebagian besar kini mulai beralih
ke resolusi XGA (1024x768).
Kecerahan. Tingkat kecerahan (brightness) adalah
ukuran luminansi (atau cahaya yang diterima) yang biasanya
diukur dalam satuan ANSI (American National Standard Institute)
lumens. Semua proyektor menggunakan sebuah lampu untuk menciptakan
cahaya proyeksi. Keefisienan desain proyektor sangat menentukan
seberapa besar brightness loss secara internal.
Sebuah proyektor berlumens tinggi umumnya berharga lebih tinggi
dibandingkan yang berlumens rendah. Ukuran lumens ini juga
sangat tergantung pada kebutuhan, misalnya. tingkat kecerahan
cahaya di dalam suatu ruang
Warna. Warna adalah ukuran dari corak dan saturasi
cahaya. Sebuah proyektor yang baik harus mampu mereproduksi
secara akurat warna-warna yang dikirim dari sumber. Sebuah
proyektor mencampurkan warna-warna merah, hijau dan biru (atau
cyan, magenta, kuning, dan hitam dalam kasus skema warna CMYK)
untuk mereproduksi warna-warna lainnya.
Contrast Ratio. Contrast ratio adalah ukuran perbandingan
antara warna hitam dan putih. Tingkat contrast ratio yang
tinggi merupakan indikasi mengenai seberapa baik suatu gambar
bisa tampil baik di layar proyeksi, khususnya dalam hal kehalusan
detil warna. Biasanya diukur dengan dua metoda, Full On/Off
dan ANSI. Jadi, bila Anda hendak membandingkan contrast ratio
dua buah proyektor, pastikan keduanya menggunakan metoda yang
sama. Umumnya, metoda Full On/Off memberikan nilai contrast
ratio yang lebih tinggi dibandingkan ANSI.
Sesuai kebutuhan
Di pasaran kini banyak dijumpai berbagai jenis proyektor digital
dengan berbagai jenis teknologi dan karakteristik yang sangat
bervariasi. Namun, untuk presentasi, orang kini cenderung
memilih proyektor digital, karena selain kualitasnya mampu
menampilkan gambar yang baik, bobotnya pun ringan, sehingga
mudah dibawa.
Tidak seperti proyektor CRT yang membutuhkan teknisi trampil
untuk men-setting-nya, proyektor digital relatif sangat mudah
dioperasikan. Harganya (meski dirasakan masih tinggi untuk
ukuran kantong), tetapi masih jauh di bawah proyektor CRT.
Bila Anda tetap memutuskan untuk menggunakan OHP, itu sah-sah
saja, karena ujung-ujungnya toh tingkat kebutuhan dan kemampuan
fulus Anda juga yang akan berbicara.• Arief |