|
| Asia
Highlights |
Volume I Nomor
06 - April 2003 |
|
FILIPINA
Filipina
Pertimbangkan Linux
Linux,
sebagai sistem operasi alternatif di luar sistem-sistem operasi
komersial yang dikenal luas, seperti Windows dan Mac, kini semakin
banyak dipertimbangkan sebagai solusi hemat dan handal untuk
memenuhi kebutuhan implementasi TI korporat maupun pemerintahan.
Di kalangan negara-negara Asia Tenggara, Filipina adalah salah
satu negara yang pemerintahnya dikabarkan cukup gencar memromosikan
penggunaan sistem operasi open source Linux, terutama di kalangan
lembaga-lembaga milik pemerintah, unit-unit pemerintahan daerah,
institusi akademis dan usaha kecil menengah (UKM).
Baru-baru ini, lembaga riset dan pengembangan pemerintah Filipina,
Advanced Science and Technology Institute (ASTI) telah mengumumkan
peluncuran distro Linux versi 2 terbaru yang dinamakan Bayanihan
Linux. Pertama kali diluncurkan Juli tahun lalu, Bayanihan Linux
dikembangkan ASTI sebagai sebuah solusi piranti lunak alternatif
murah bagi sistem-sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran,
khususnya Microsoft Windows.
“Kami akan all-out untuk Linux. Kami tengah melakukan
pendekatan ke sekolah-sekolah, pemerintahan daerah, serta pihak-pihak
yang terbuka terhadap sebuah solusi alternatif,” ujar
direktur ASTI, Delfin Jay Sabido IX.
Sabido menambahkan bahwa beberapa pejabat departemen pemerintah
juga telah memperlihatkan minat besar untuk menginstall Bayanihan
Linux. Bahkan dua kedutaan asing dari negara-negara Eropa dan
Amerika Utara telah menunjukkan minat terhadap distro Linux
keluaran ASTI ini.
Dalam sebuah survei terhadap 60 lembaga tahun lalu, sekitar
31 lembaga diketahui telah menggunakan Linux untuk aplikasi-aplikasi
tertentu. National Computer Center (NCC), badan implementasi
teknologi informasi pemerintah Filipina, juga melakukan survei
akhir tahun lalu, namun hasilnya belum ditabulasikan.
Namun demikian, diperkirakan akan lebih banyak lagi institusi-institusi
pemerintah dan akademis yang mulai memasang Linux di masing-masing
jejaring komputer miliknya. NCC tahun lalu telah memulai sebuah
proyek komputerisasi untuk pemerintahan daerah, dimana badan
ini menawarkan solusi piranti lunak gratis berbasiskan Linux
dan piranti lunak open source lainnya.
Sabido mengatakan bahwa ASTI akan mengintensifkan promosi Linuxnya
sebagai suatu solusi alternatif hemat biaya dibandingkan piranti-piranti
lunak komersial lainnya yang berharga lebih tinggi. Meski lebih
hemat biaya, bukan berarti promosi penggunaan Linux tidak menemui
hambatan. Sabido mengeluhkan bahwa salah satu masalah yang umum
mereka hadapi ketika memromosikan Linux adalah keengganan para
user berpindah dari sistem operasi Microsoft Windows yang lebih
populer.
“Masalahnya adalah masih banyak orang yang tidak mengetahui
bahwa ada sebuah solusi alternatif, khususnya ketika kami pergi
ke daerah-daerah,” ujar Sabido. “Kalaupun mereka
lebih memilih piranti lunak komersial, itu dikarenakan mereka
memang memiliki uang atau mereka mengizinkan staf-staf teknisnya
untuk menggunakan piranti lunak bajakan.”
Sabido percaya bahwa dana yang telah digunakan untuk membeli
software komersial sesungguhnya bisa digunakan untuk tujuan
lain. Menurutnya, Linux tidak hanya sebuah solusi alternatif
hemat biaya, namun juga memberikan sebagian besar fungsionalitas
dan aplikasi yang ditawarkan piranti lunak komersial.
Di luar Macintosh OS X.2, Bayanihan Linux v2 adalah satu-satunya
sistem operasi yang mengintegrasikan dukungan Bluetooth. Sebelumnya,
ASTI merencanakan menyertakan distro Linux ini dengan sebuah
produk komersial, semacam software middleware, yang mendukung
protokol Bluetooth secara terpisah. Namun, akhirnya, diputuskan
dukungan terhadap Bluetooth ini diintegrasikan dengan distro
Bayanihan Linux secara gratis guna memungkinkan lebih banyak
orang memiliki akses dan mendorong pengembangan aplikasi Bluetooth.•
THAILAND
Maskapai
Penerbangan Thailand Memperkenalkan e-Ticket
Para
pengguna jasa angkutan udara Thailand kini dapat membeli tiket
dan memesan tempat untuk penerbangan Thai Airways International
(THAI) secara online sejak maskapai penerbangan tersebut menerapkan
layanan Royal e-Service.
Apa yang ditawarkan Royal e-Service ini, menurut vice president
of marketing planning THAI, Canchai Singtoroj, memenuhi sasaran
THAI menawarkan “one stop service” kepada calon
penumpang THAI.
Sistem terotomasi ini memungkinkan penumpang memilih penerbangan
yang diiinginkan, kelas layanan, tanggal keberangkatan/kedatangan
dan melakukan check-in sendiri, termasuk menerbitkan boarding-pass.
Layanan ini meliputi Royal e-Booking, Royal e-Ticket, dan Royal
e-Check in.
Royal e-Booking adalah layanan reservasi penerbangan melalui
Internet yang dapat diakses di www.thaiairways.com. Para calon
penumpang dapat meng-klik link untuk memesan tempat duduk di
kelas apapun, untuk memperoleh informasi perjalanan dan mencek
harga tiket. Reservasi dapat dilakukan paling cepat 72 jam sebelum
keberangkatan dan paling lama 11 bulan sebelumnya.
Sementara dengan Royal e-Ticket, para calon penumpang dapat
membayar tiketnya dengan kartu kredit dan pada hari keberangkatan,
para calon penumpang dapat melakukan check-in di counter check-in
atau di sebuah kios khusus dengan menggunakan kartu kredit dan
kartu identitasnya.
Fitur e-service lainnya, Royal e-Check, sudah tersedia sejak
Februari 2002 khusus bagi para penumpang jalur domestik yang
telah melakukan reservasi untuk tiket domestik. Sejauh ini,
sudah 26 kios swalayan otomatis terpasang di bandara-bandara
di seluruh Thailand, termasuk Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai,
Phuket, Hat Yai, Khon Kaen dan Phitsanulok. Di kios-kios swalayan
tersebut, para penumpang yang sudah memegang e-ticket maupun
tiket biasa dapat memperoleh boarding pass secara cepat dengan
menggesekkan kartu kredit atau kartu keanggotaan khusus melalui
slot card reader untuk identifikasi diri. Di situ, para calon
penumpang dapat memilih tempat duduk dan menambah poin mileage
dengan memasukkan nomor keanggotaan khususnya.
Menurut manajer departemen otomasi pemasaran THAI, Chalongchai
Hiranyalekha, keuntungan dari Royal e-Ticket adalah paperless
travel, kecepatan dan fleksibilitas ketika mengganti penerbangan
atau mencari refund dan perlindungan atas kehilangan tiket.
Tahun depan, THAI merencanakan untuk mengimplementasi layanan
e-ticket antar maskapai penerbangan bekerjasama dengan jaringan
kolaborasi maskapai penerbangan Star Alliance, yang terdiri
dari 15 maskapai penerbangan, di antaranya dari Asia adalah
Singapore Airlines, Asiana Airlines, ANA dan Thai sendiri. Kini,
Thai mulai menyiapkan piranti lunak e-ticketing yang memungkinkan
interoperabilitas antar sistem ticketing maskapai penerbangan
yang berbeda.•
SINGAPURA
Singapura Menjadi Hub Regional untuk Roaming GPRS
Singapura
akan menjadi negara pertama di Asia, dan negara kedua di dunia
setelah Belanda sebagai penyedia Peering Point untuk GRX (GPRS
Roaming Exchange), demikian pengumuman otoritas pengembangan
infokom Singapura, IDA (Infocomm Development Authority).
Pembangunan GRX Peering Point di Singapura memang sangat dimungkinkan,
mengingat negara mungil ini memiliki infrastruktur dan pasar
telekomunikasi yang sudah mapan, seperti tersedianya konektivitas
internasional langsung ke lebih dari 100 negara, kabel bawah
laut dengan kapasitas tinggi sampai 21 Tbps (tera bits per second),
bandwidth yang tinggi dan konektivitas Internet langsung ke
30 pasar regional utama. Fitur-fitur seperti ini memungkinkan
para pengguna memperoleh akses lebih cepat ke layanan bergerak
yang masuk dan keluar, seperti m-commerce, messaging, jasa-jasa
berbasis lokasi (location based) dan layanan korporat.
“Peran IDA adalah memfasilitasi para penyedia GRX terkemuka
untuk datang bersama mendirikan Peering Point GRX pertama Asia
di Singapura,” jelas Ling Keok Tong, deputy director for
Infocomm Infrastructure Development IDA .
Dengan menggunakan sebuah model berbasis-hub (hub-based model),
para rekanan yang tergabung dalam masing-masing hub dapat berinterkoneksi
dengan menggunakan hub, atau Peering Point ini. Di dalam sebuah
GRX, para operator mobile GPRS menginterkoneksikan jejaringnya
dengan menghubungkan ke sebuah jejaring IP-based yang dedicated
dan juga aman (secured). Bagi para operator mobile, cukup dengan
memiliki sambungan ke operator GRX pilihannya, mereka dapat
melakukan roaming GPRS dengan jaringan milik rekanannya dengan
cepat dan mudah. Selain itu, time-to-market untuk layanan roaming
GPRS-nya pun semakin cepat.
Tidak seperti teleponi suara, karakteristik bandwidth dari data
bergerak melalui GSM membutuhkan pendekatan yang lebih rapi
daripada sekedar hanya menghubungkan kabel langsung ke service
provider lainnya.
Menurut sebuah laporan dari International Data Corporation (IDC)
mengenai pertumbuhan pelanggan mobile di Asia Pasifik (di luar
Jepang), diperkirakan bahwa jumlah pelanggan mobile akan tumbuh
dari 253.9 juta di tahun 2001 menjadi 558.4 juta pelanggan tahun
2006 mendatang atau CAGR sebesar 17 persen.
“Singapura akan menjadi titik pertukaran terpenting untuk
layanan dan lalu lintas roaming GPRS di Asia Pasifik. Dan, para
pengembang nirkabel Singapura akan memiliki banyak peluang untuk
mengembangkan lebih banyak aplikasi dan layanan untuk mendukung
pertumbuhan dalam layanan data roaming,” lanjut Ling.
Peering Point GRX ini diharapkan akan mulai operasional bulan
Juni 2003 mendatang.•
Go to next page |
|
 |
|