Question & Answer Volume I Nomor 05 - Maret 2003


DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A. dilahirkan di Jakarta pada 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 1992. Setelah memperoleh gelar insinyur di bidang teknik komputer, Eko berhasil mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk melanjutkan studi pasca sarjananya di Amerika. Pada 1993, Eko diterima di Harvard University dan berhasil mendapatkan gelar Master of Applied Computer Science pada 1995. Pada saat yang sama, Eko belajar pula di Boston University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sekembalinya ke tanah air, Eko bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan multinasional sambil mengambil program jarak jauh Master of Business Administration di Leicester University, Inggris. Kemudian Eko mengambil program riset doctoral dari University of the City of Manila dan berhasil mendapatkan gelar Doctor of Business Administration pada pertengahan 1999. Saat ini, selain bekerja sebagai konsultan independen yang telah membantu sejumlah perusahaan swasta di berbagai jenis industri dan institusi pemerintahan dalam merencanakan dan mengembangkan teknologi informasinya Eko juga aktif mengajar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia, seperti Program Pasca-Sarjana Universitas Bina Nusantara-Curtin University, Program Sarjana ITS Surabaya Program Magister Komputer Teknologi Informasi Universitas Indonesia, dan Institut Kesenian Jakarta. Di samping mengajar Eko berperan secara aktif sebagai konsultan dan peneliti khusus Kelompok Kerja Ketahanan Nasional dan Wakil Ketua Kelompok Kerja Sistem Manajemen Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tak kurang dari 12 buku telah ditulisnya, yang mencakup Teknologi Informasi, eBusiness, Supply Chain Management (SCM), Linux, Penuntun Mencari Informasi di Internet, dan lain sebagainya.•
 


Pak Eko, saya ada beberapa pertanyaan. Harapan saya, Pak Eko tidak keberatan menjawabnya. a). Apakah dalam penerapan e-Business untuk suatu perusahaan harus mengikuti suatu urutan tertentu atau dapat memilih aplikasi apa yang dianggap penting sekarang ini untuk diselesaikan? b). Bagaimana kita menentukan apa dan seberapa jauh suatu aplikasi itu dapat di-outsource atau dikerjakan sendiri. Apa saja pertimbangannya?

Fia Ismawan

Product Development Manager, Bandung

Hal pertama dan utama yang harus dilakukan dalam rangkaian penerapan e-Business adalah mengkaji kebutuhan perusahaan atau yang kerap dikenal sebagai “requirement analysis” agar aplikasi atau teknologi yang ingin dibeli dan diterapkan tidak kehilangan konteksnya (sejalan dengan strategi bisnis perusahaan). Setelah secara jelas kebutuhan perusahaan didefinisikan, barulah dicari solusi teknologi apa saja yang sesuai dengan kebutuhan tersebut dan bagaimana cara atau metodologi implementasinya.

Jika ternyata perusahaan memiliki kebutuhan yang cukup banyak, sementara sumber daya keuangan yang ada terbatas, barulah ditentukan skala prioritas. Biasanya perusahaan akan memutuskan untuk mengembangkan terlebih dahulu aplikasi yang akan memberi manfaat atau dampak terbesar serta signifikan terhadap bisnis yang digelutinya.

Keputusan akan pengembangan dan/atau penerapan sebuah aplikasi harus di-outsource atau tidak, biasanya, didasarkan pada pertimbangan berikut:
• Kompetensi – perusahaan tidak memiliki sumber daya dengan kompetensi dan keahlian di bidang pengembangan dan/atau penerapan perangkat lunak, karena teknologi informasi bukan merupakan bisnis inti dari perusahaan tersebut. Karenanya, manajemen merasa perlu untuk bekerja sama dengan pihak ketiga;
• Biaya – hasil kajian memperlihatkan bahwa biaya yang perlu dialokasikan oleh perusahaan jika harus mengerjakan sendiri seluruh rangkaian proses pengembangan dan pemeliharaan perangkat lunak beserta infrastruktur pendukungnya ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan jika pihak lain yang mengerjakannya;
• Waktu – mendesaknya kebutuhan aplikasi untuk segera diselesaikan sehingga mustahil akan selesai jika perusahaan mengerjakan sendiri di tengah-tengah aktivitas bisnisnya sehari-hari;
• Kualitas – adanya tuntutan pemenuhan standar mutu tertentu terhadap aplikasi yang dikembangkan sehingga secara tidak langsung perusahaan harus memiliki mitra pengembang yang memiliki dan menerapkan metodologi penjamin mutu perangkat lunak; dan
• Ruang Lingkup – banyaknya modul-modul aplikasi yang harus dikembangkan sehingga tidak mungkin perusahaan dapat mengelolanya secara efektif dan efisien tanpa adanya bantuan dari pihak luar.

Outsource sendiri jenisnya bermacam-macam, mulai dari yang bersifat parsial (partial outsource) – dimana perusahaan memutuskan untuk mengalihdayakan sebagian proses bisnisnya kepada pihak ketiga - sampai dengan yang bersifat keseluruhan (full outsource) – dimana perusahaan memutuskan untuk mengalihdayakan seluruh proses terkait dengan perencanaan, pengembangan, dan pemeliharaan aplikasinya kepada pihak ketiga.•

Apa Kaitan ERP dengan CPM?

Belum lama ini saya mendengar ada istilah CPM (Corporate Performance Management) yang akan banyak diterapkan terutama ketika perusahaan telah menyelesaikan penerapan ERP (Enterprise Resource Planning). Apa sebenarnya yang dimaksud dengan CPM?

Ari Riswantono

Operation Manager, Jakarta

Istilah Corporate Performance Management (CPM) untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Gartner, sebuah lembaga riset ternama yang berlokasi di Stanford, Connecticut, Amerika Serikat. CPM didefinisikan sebagai “sebuah metodologi, metrik, proses, dan sistem yang digunakan untuk memonitor dan mengelola kinerja bisnis dari sebuah perusahaan”. Berbeda dengan konsep pengukuran kinerja yang telah dikenal terdahulu, CPM merupakan sebuah pendekatan holistik yang menggabungkan beragam teori manajemen, seperti yang dicerminkan dalam definisinya:

• Menggabungkan berbagai metodologi bisnis semacam BSC (Balanced Scorecard), EVA (Economic Value Added), dan ABM (Activity-Based Management);
• Mempergunakan metrik terkait dengan metodologi sebagai alat ukur kinerja;
• Berbasis proses yang merupakan kumpulan prosedur dan aktivitas dalam sebuah perusahaan yang harus diimplementasikan dan dimonitor; serta
• Melibatkan sistem, yang dalam hal ini, merupakan pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu yang mengintegrasikan keseluruhan metodologi, metrik, dan proses tersebut ke dalam sebuah sistem manajemen korporat terpadu.

CPM digunakan untuk menjembatani antara perencanaan strategis yang telah disusun oleh perusahaan dengan eksekusi atau implementasi dari perencanaan tersebut. Hal itu sangat diperlukan karena melihat kenyataan sulitnya mengukur tingkat realisasi dari sebuah perencanaan pada saat implementasinya. Secara prinsip, ada aspek utama yang menjadi alat bantu dalam menjembatani jurang tersebut, yaitu masing-masing: ukuran, proses, manusia, dan teknologi. Dari penjelasan singkat ini terlihat peranan aplikasi Enterprise Resource Planning (ERP) di dalam kerangka CPM, yaitu pertama sebagai sebuah sistem korporat terpadu (terintegrasi) yang memadukan aspek metodologi, metrik, dan proses, serta sebagai salah satu komponen atau pilar yang menjembatani antara aktivitas perencanaan strategi dan aktivitas pengawasan eksekusi dari strategi tersebut.•

Tips Membangun CRM

Saya tertarik dengan kolom Q/A yang Pak Eko Indrajit asuh ini. Saya ingin bertanya, sebagai berikut: pertama, dalam mengaplikasikan CRM (Customer Relationship Management), apa yang harus menjadi perhatian? Kedua, apakah ada aplikasi yang sebelumnya harus diterapkan baru kemudian CRM? Ketiga, dapat kami menerapkan CRM lebih dahulu, padahal aplikasi lainnya belum. Bagaimana menurut Pak Eko?

Wawan Gunatrio

Marketing Manager, Pekanbaru

Konsep Customer Relationship Management (CRM) dikembangkan dengan landasan pemikiran bahwa perusahaan itu dapat “hidup” karena adanya pelanggan (customer) yang membeli produk dan/atau jasanya, sehingga aktivitas menjalin hubungan dengan pelanggan adalah hal krusial yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh. Target dari dijalinnya hubungan yang “intim” dengan pelanggan ini tidak hanya berhenti pada tercapainya sebuah “kepuasan” semata (customer satisfaction).

Namun, lebih jauh lagi, agar pelanggan yang dimaksud dapat loyal terhadap perusahaan (customer loyalty) – dalam arti kata yang bersangkutan kerap dan akan selalu membeli produk dan/atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan (konsep “customer for life”). Dalam kerangka ini jelas terlihat, bahwa inti penerapan CRM adalah terciptanya suatu relasi yang membuat pelanggan merasa diperlakukan secara istimewa oleh perusahaan.

Agar implementasi CRM dapat berhasil, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan pengkajian terhadap jenis/tipe dan karakteristik dari pelanggan perusahaan. Dari hasil pengkajian tersebut, akan diperoleh gambaran utuh mengenai peta portofolio dari kelas-kelas pelanggan (klasifikasi pelanggan) yang ada. Barulah berdasarkan karakteristik dan perilaku pelanggan pada masing-masing kelas tersebut dianalisa kebutuhan akan relasi apa saja yang diharapkan pelanggan dapat dijalin bersama dengan perusahaan. Melalui hasil analisa ini akan terlihat dimana saja teknologi informasi dapat membantu terjadinya hubungan relasi antar perusahaan dan pelanggannya secara efektif, efisien, dan berkualitas. Dalam kerangka inilah baru dapat dijawab apakah ada aplikasi lain yang dibutuhkan terlebih dahulu atau tidak sebelum konsep CRM diterapkan.

Contohnya adalah jika perusahaan ingin memberikan perlakukan khusus terhadap pelanggan yang paling banyak memberikan kontribusi pendapatan bagi perusahaan, tentu saja sebelum sistem CRM diaplikasikan dibutuhkan dahulu sebuah aplikasi yang merekam transaksi pembelian dan keuangan dari seluruh pelanggan perusahaan. Di sisi lain adalah jika perusahaan ingin memberikan hadiah, misalnya bagi pelanggan yang sedang berulang tahun atau pelanggan yang kerap memberikan masukan bagi perusahaan, tentu saja sistem CRM yang dimaksud dapat segera diimplementasikan tanpa harus menunggu aplikasi lainnya.•

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved