SEJAK
Indosat Multimedia Mobile (IM-3) diluncurkan secara komersial
pada akhir 2001, istilah GPRS (general packet radio service)
menjadi akrab di telinga pengguna telepon seluler (ponsel).
Meskipun kalah start, karena tidak ingin dicap ketinggalan,
operator seluler lain seperti Satelindo, Telkomsel dan Excelcomindo,
juga mengikuti jejak IM-3. Seperti latah, pengguna ponsel
segera mengganti pesawat ponselnya dengan yang baru, yang
dapat mengakses teknologi GPRS. Meskipun untuk menikmati bisa
layanan itu mereka harus merogoh koceknya agak dalam.
Demam GPRS ini tidak disia-siakan oleh para produsen pesawat
ponsel. Mereka nampak gesit mengisi sentra-sentra penjualan
ponsel di Ibu Kota dengan pesawat ponsel yang sudah dilengkapi
fitur GPRS. Bahkan, jauh sebelum IM-3 beroperasi secara komersial
sebagai satu-satunya operator seluler yang sudah mengaplikasikan
GPRS, pesawat-pesawat ponsel tak bergaransi (black market)
yang sudah dilengkapi fitur GPRS sudah banyak di pasaran (baca:
“Kue yang Menggiurkan”).
Apakah sudah cukup banyak pengguna ponsel di Indonesia yang
memanfaatkan teknologi GPRS untuk melakukan browsing Internet
melalui pesawat ponselnya? “Saya mendapatkan data pada
tahun 2000 tercatat ada 200.000 ponsel yang dapat mengakses
internet terjual. Tetapi pengguna Internet bergerak baru tercatat
10.000 pelanggan saja. Lalu yang 190.000 sisanya itu ke mana?”,
ujar Direktur Corporate Strategy and Governance Excelcom,
Rudiantara. Di Turki, yang begitu termasyhur akan warganya
yang menggunakan internet bergerak, kata Rudiantara, ternyata
aktivitas internet via GPRS tidak memberikan pemasukan yang
berarti bagi operator seluler, atau tidak lebih dari lima
persen.
Lantas apa perlunya operator seluler membuka layanan ini?
“Voice tetap akan menjadi andalan pemasukan terbesar
kami, tetapi GPRS tetap kami tawarkan untuk memaksimalkan
pemanfaatan ponsel. Apalagi, ponsel dengan fitur GPRS sudah
ada di mana-mana,” ujar Marketing Communication Manager
IM3 Turina Farouk. Alasan Telkomsel dan Excelcomindo setali
tiga uang. Menurut General Manager Marketing Telkomsel Erik
Meijer, meskipun pada tahap awal operasi pasti merugi, karena
GPRS merupakan permintaan pelanggan, pihaknya memenuhinya
juga. “Kami berharap, jumlah pelanggan akan meningkat,”
kata Erik. Excelcomindo sedikit berbeda. “Layanan GPRS
merupakan komitmen kami kepada pelanggan,” kata Rudiantara.
Rendahnya pemasukan dari layanan GPRS terbukti masih kecilnya
jumlah pemakai layanan ini. Dari 500.000 pelanggan IM-3 di
akhir tahun 2002 lalu, yang mengakses GPRS hanya sekitar 10.000
pelanggan. Lalu, kemana yang 490.000 lagi? Padahal, investasi
awal yang dibenamkan IM-3 tidaklah kecil: 170 juta dolar AS.
Satu-satunya keuntungan IM-3 adalah sebagai pelopor GPRS.
Itulah sebabnya bisa dimengerti, meskipun penggunanya masih
sedikit, IM3 tetap akan mengandalkan GPRS sebagai faktor pemikat.
Bahkan, anak perusahaan Indosat ini telah menghabiskan diri
sebagai pionir dalam teknologi multimedia selular buat kalangan
eksekutif dan mereka yang berjiwa muda.
Untuk kalangan eksekutif yang mobile misalnya, IM3 menawarkan
jasa M3-GPRS. Dengan fasilitas ini, pelanggan dapat menikmati
akses internet berkecepatan tinggi, baik lewat internet, laptop
maupun PDA (personal digital assistant). Bagi pelanggan yang
bisa bepergian ke luar negeri, tidak perlu khawatir tidak
connecting people. Sebab, IM3 juga telah mengimplementasikan
roaming internasional, baik dengan teknologi GSM maupun CDMA.
Khusus untuk warga di Wilayah II, seperti Jakarta, Banten,
Jawa Barat, serta wilayah III, meliputi Jawa Tengah dan Jawa
Timur, bahkan ada fasilitas bebas roaming. Dengan cara-cara
ini, IM3 menargetkan 900.000 pelanggan di tahun 2003.
 |
| Erik Meijer, General Manager
Marketing Telkomsel |
Sebagai layanan yang relatif baru, pada tahap awal peluncurannya,
GPRS mendapat sambutan luar biasa. Maklum, dengan menggunakan
GRPS, pelanggan GSM seluler bisa terhubungkan dengan dunia
mobile Internet selama mungkin, dan pelanggannya hanya mengeluarkan
biaya yang sesuai dengan volume data yang dikirim melalui
jaringan. Itu terjadi karena sistem GPRS memungkinkan proses
download ke perangkat ponsel dengan kecepatan sampai 115 Kbps,
jauh melebihi laju transmisi GSM saat ini (9,6 Kbps). GPRS
memungkinkan download gambar dan grafik dengan kecepatan sangat
tinggi. Pelanggan akan memasuki dimensi baru di layanan dan
fungsi yang ditawarkan melalui ponsel.
Meskipun kini sudah tersedia luas, pesimisme terhadap layanan
GPRS masih besar. Siapa pemilik ponsel yang setiap kali memerlukan
sarana pengiriman data kecepatan tinggi itu? Data terakhir
menunjukkan, pengguna mobile data sekarang ini hanya sekitar
satu persen dari seluruh pengguna mobile phone, dan hanya
sekitar 17 persen dari pengguna Internet yang memiliki akses
pribadi. “Amat sulit bagi kita untuk mengharapkan kesuksesan
layanan mobile data ini (GPRS), jika daya tarik yang diberikan
kepada pengguna mobile phone tidak terlalu menguntungkan mereka,”
kata pengamat telekomunikasi seluler Indra Gunawan. Salah
satu kendalanya adalah harga yang masih tergolong mahal.
Orang pun menoleh pada kisah kegagalan WAP (wireless application
protocol). Layanan baru itu membuat dunia seluler demam WAP.
Tapi demam itu ternyata tidak berlangsung lama. Di pasar,
WAP tidak begitu berhasil di pasar, malah diplesetkan jadi
wait and pay, nunggu lama, bayarnya mahal. Banyak faktor yang
menyebabkan kegagalan itu. Mulai dari content WAP yang tidak
terlalu menarik, kecepatan akses yang lambat menyebabkan mahalnya
akses dengan WAP, hingga terbatasnya fasilitas gateway WAP
yang tersedia. Seperti misalnya, tidak semua gateway menyediakan
sarana untuk bisa mengakses situs-situs lain yang berbasiskan
WML (Wireless Mark-Up Language) kecuali yang sudah disediakan.
Akankah sistem GPRS di Indonesia akan bernasib seperti WAP?
Masih belum bisa dipastikan. Namun, tidak ada salahnya jika
para operator seluler selalu waspada. Kasus di Hongkong bisa
menjadi pelajaran menarik. Hutchison Telecommunications, salah
satu operator terbesar di Hongkong melakukan uji coba GPRS,
ternyata sangat kecewa dengan kinerja GPRS ini. Pasalnya,
kecepatan data yang digembar-gemborkan sampai 100 Kbps, ternyata
hanya sampai 20 Kbps saja. Tidak mustahil itu terjadi di Indonesia.
Bukan cuma kecepatan, menurut General Manager Value Added
Service Excelcomindo Agung Bowo Laksono, keberhasilan GPRS
sebagai carrier MMS (multimedia messaging service/pesan multimedia)
juga amat ditentukan oleh ketersediaan content yang menarik
bagi pengguna. “Pemanfaatan MMS masih membutuhkan banyak
prasyarat,” kata Laksono. Tidak hanya content, teknologi
itu pun tidak akan bisa dimanfaatkan bila infrastruktur jaringannya
juga tidak memadai. “Kita juga jangan lupa dengan kemampuan
handset itu sendiri, karena bagaimana spesifikasi handset
juga sangat menentukan untuk bisa menggunakan MMS dan memanfaatkan
jaringan GPRS secara maksimal,” kata Andreas Fasbender
PhD., Direktur Sony-Ericsson Cyberlab Singapura, belum lama
ini.
Tapi, layanan mobile data sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi
di Indonesia. Secara umum, SMS mendominasi basis teknologi
yang dipergunakan oleh berbagai layanan mobile data tersebut.
Hanya sebagian kecil yang menggunakan teknologi lain, seperti
IVR (interactive voice response) dan Internet (web). Kehadiran
GPRS yang layanannya berbasis paket, konektivitas yang always
on, dan kecepatan transfer data yang lebih tinggi, makin menyemarakkan
dunia bisnis Indonesia. Ada pula J2ME (java 2 micro edition)
yang memungkinkan pengembangan berbagai aplikasie-mail, PIM
(personal information manager), games, dan layanan lain pada
berbagai devices dengan memori dan CPU kecil, tanpa memandang
sistem operasi dan platform.
Perkembangan teknologi jaringan GPRS ini, dikonvergensikan
dengan beragam devices dan perangkat lunak, telah membuka
solusi atau aplikasi baru bagi kepentingan korporasi atau
institusi. Menurut pengamat telematika Suluh T Rahardjo, salah
satu layanan yang akan dibutuhkan oleh banyak banyak perusahaan,
khususnya yang memiliki tenaga kerja dengan mobilitas tinggi
atau armada kendaraan dengan jelajah luas, akan memerlukan
jasa location based services (LBS). Dengan LBS, perusahaan
distribusi bisa melengkapi para tenaga penjualnya dengan ponsel
atau PDA yang bisa memberikan petunjuk tentang pengecer atau
toko mana saja yang perlu dikunjungi ketika mereka sedang
berada di lokasi tertentu. “Seringkali, hanya gara-gara
terlewat, perusahaan distribusi tersebut bisa kehilangan peluang
mendapatkan order atau keuntungan,” kata Rahardjo.
Enaknya lagi, para tenaga penjual sekaligus juga dapat mengirimkan
order dari setiap pengecer atau toko yang dikunjunginya secara
langsung, tanpa harus mencatat dulu di sebuah kertas dan kembali
ke kantor hanya untuk memasukkan order tersebut secara manual.
Dengan begini, barang-barang pesanan bisa segera diproses
dan dikirimkan pada hari yang sama. Selanjutnya, armada pengiriman
barang-barang pesanan itu dapat dimonitor oleh kantor pusat
melalui aplikasi vehicle tracking system (VTS).
Untuk akurasi yang tinggi, kata Rahardjo, sebuah modul GPS
(global positioning system) bisa ditaruh di tiap kendaraan
pengangkut, sehingga posisinya bisa diamati setiap periode
yang dikehendaki. Jika kantor pusat ingin mengamati posisi
kendaraan tersebut setiap menit, layanan GPRS amat mendukung
aplikasi ini. Tapi, jika hanya butuh posisi tersebut setiap
jam, fasilitas SMS pun sudah memadai. Mobil-mobil tangki pengangkut
BBM bisa dibekali dengan suatu modul yang bisa mendeteksi
dan merekam kejadian apa saja yang terjadi berkaitan dengan
keadaan di tangki maupun kerannya. Misalnya jika keran tersebut
dibuka di tempat yang tidak seharusnya (bukan di SPBU yang
sah). Aplikasi LBS pun bisa mendeteksi perkiraan posisi di
mana kejadian pelanggaran itu terjadi.
Untuk aplikasi perusahaan, misalnya, melalui layanan advertising,
jelas Eric, perusahaan dapat memberitahukan lokasi gerai,
ATM (anjungan tunai mandiri), pompa bensin, atau bengkel yang
terdekat dari pengguna. Salah satu prototipe yang dikembangkan
adalah mobile vehicle tracking (MVT) untuk melacak dan merekam
rute perjalanan kendaraan. “Dengan teknologi ini perusahaan
dapat melacak rute dan lokasi kendaraan operasionalnya dengan
akurat,” kata Eric. Sejumlah perusahaan dari sektor
perbankan, asuransi, properti, distribusi, transportasi dan
salah satu BUMN pertambangan, menyatakan berminat memakai
LBS ini.
 |
| Agung Bowo Laksono, General
Manager Value Added Service Excelcomindo |
LBS adalah teknologi penjejak lokasi yang bekerja dengan
memanfaatkan transmisi dari BTS terdekat untuk menentukan
keberadaan pengguna. Tingkat akurasinya tergantung dari arsitektur
BTS dan kekuatan transmisinya. Dibandingkan GPS, akurasi LBS
memang masih di bawah. Namun, di daerah padat saat jangkauan
BTS saling tumpang tindih akurasinya bisa mencapai radius
50 meter. Di daerah normal, akurasinya berkisar antara 200
-300 meter. Untuk menentukan lokasi pengguna, server memberikan
perintah pada BTS untuk mengirimkan sinyal ke ponsel. Pengiriman
sinyal dapat diatur dalam selang waktu tertentu, umumnya 10
menit hingga 15 menit sekali.
Tidak cuma itu. Menurut Suluh T Rahardjo, fasilitas telemetri
juga amat dibutuhkan oleh institusi-institusi tertentu. Jaringan
GSM atau GPRS bisa membantu khususnya untuk wilayah yang terpencar.
Suatu modul khusus bisa dipasang pada stasiun-stasiun pengamat
cuaca, curah hujan, atau pengukur ketinggian air sungai. Setiap
saat modul tersebut akan mengirimkan data pengukuran ke kantor
pusat untuk keperluan analisa dan pengambilan keputusan.
Sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Eropa bahkan sudah
memasang modul GPRS di sedan tipe terbaru mereka yang dapat
mengirimkan data-data kondisi mesin ke pusat pelayanan mereka.
Dengan dukungan LBS, posisi kendaraan itu juga bisa dimonitor
secara otomatis. Jika terjadi kelainan, misalnya temperatur
terlalu tinggi atau gangguan pada sistem pengereman, peringatan
akan dikirimkan ke pusat pelayanan, plus posisi kendaraan
tersebut, dan bantuan dapat diberikan sesegera mungkin. Perusahaan
asuransi kendaraan pasti memerlukan layanan ini.
Dengan cara yang sama, bank juga bisa menginstal suatu aplikasi
di mesin ATM-nya yang bisa mengirimkan pesan via modul GSM/GPRS
ke petugas teknik mereka jika terjadi kelainan pada salah
satu ATM. Customer Relationship Management (CRM) menjadi salah
satu faktor penting dalam kompetisi bisnis saat ini. Memberikan
pelayanan terbaik kepada para pelanggan, bahkan sebelum pelanggan
itu meminta, menjadi sesuatu yang diidam-idamkan setiap perusahaan.
Dalam seminar Wireless Java Technology, 20 Agustus 2002 yang
diadakan oleh Siemens, didemonstrasikan aplikasi simulasi
investasi unit link yang bisa dijalankan di ponsel yang mendukung
J2ME. Para investor Zurich Insurance kelak bisa men-download
modul J2ME (midlet) ini, dan bisa memperkirakan keuntungan
yang diperoleh dari investasi unit link mereka. Tanpa harus
meminta dan menunggu, para investor bisa mendapatkan pelayanan
seketika dan up-to-date.
Dalam sebuah kompetisi pembuatan aplikasi di Indonesia belum
lama ini, Epicentrum Technologies mengajukan sebuah aplikasi
CRM untuk dunia perbankan. Salah satu fasilitasnya memungkinkan
para investor membuat sebuah skenario tentang investasi mereka.
Misalnya, “jika nilai tukar 1 dollar AS mencapai Rp
10.000, maka tukarkan 50 persen tabungan saya menjadi rupiah,
dan simpan dalam bentuk deposito”. Jika kondisi tersebut
tercapai, sebuah peringatan akan dikirimkan via SMS (dan juga
e-mail sebagai tembusan) ke investor tadi. Jika ia mengonfirmasi
respons sesuai apa yang telah diprogram, maka secara otomatis
skenario tadi akan dieksekusi. Nyaman sekali, rasanya.
Aplikasi-aplikasi lain tentu masih terbuka dikembangkan dari
ketersediaan jaringan GPRS, tanpa harus terburu-buru masuk
ke teknologi generasi ketiga (3G), bahkan 4G. Sudah barang
tentu, masing-masing industri akan memiliki kekhasannya sendiri.
Tapi, tujuan mereka tetap sama: memenangkan kompetisi. Baik
dengan cara meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya maupun
meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Tanpa perlu
didorong-dorong dan direkayasa, rupanya era mobile business
kini tengah memasuki dunia bisnis di Indonesia.•ki
|