Mobile Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Kalangan pesimistis meramalkan, kehadiran GPRS akan bernasib seperti WAP: mati dan layu sebelum berkembang. Kalangan optimistis justru yakin, konvergensi GPRS dengan devices dan software telah membuka solusi baru bagi perusahaan.
 
RELATED ARTICLES

Kue Yang Menggiurkan

 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

SEJAK Indosat Multimedia Mobile (IM-3) diluncurkan secara komersial pada akhir 2001, istilah GPRS (general packet radio service) menjadi akrab di telinga pengguna telepon seluler (ponsel). Meskipun kalah start, karena tidak ingin dicap ketinggalan, operator seluler lain seperti Satelindo, Telkomsel dan Excelcomindo, juga mengikuti jejak IM-3. Seperti latah, pengguna ponsel segera mengganti pesawat ponselnya dengan yang baru, yang dapat mengakses teknologi GPRS. Meskipun untuk menikmati bisa layanan itu mereka harus merogoh koceknya agak dalam.

Demam GPRS ini tidak disia-siakan oleh para produsen pesawat ponsel. Mereka nampak gesit mengisi sentra-sentra penjualan ponsel di Ibu Kota dengan pesawat ponsel yang sudah dilengkapi fitur GPRS. Bahkan, jauh sebelum IM-3 beroperasi secara komersial sebagai satu-satunya operator seluler yang sudah mengaplikasikan GPRS, pesawat-pesawat ponsel tak bergaransi (black market) yang sudah dilengkapi fitur GPRS sudah banyak di pasaran (baca: “Kue yang Menggiurkan”).

Apakah sudah cukup banyak pengguna ponsel di Indonesia yang memanfaatkan teknologi GPRS untuk melakukan browsing Internet melalui pesawat ponselnya? “Saya mendapatkan data pada tahun 2000 tercatat ada 200.000 ponsel yang dapat mengakses internet terjual. Tetapi pengguna Internet bergerak baru tercatat 10.000 pelanggan saja. Lalu yang 190.000 sisanya itu ke mana?”, ujar Direktur Corporate Strategy and Governance Excelcom, Rudiantara. Di Turki, yang begitu termasyhur akan warganya yang menggunakan internet bergerak, kata Rudiantara, ternyata aktivitas internet via GPRS tidak memberikan pemasukan yang berarti bagi operator seluler, atau tidak lebih dari lima persen.

Lantas apa perlunya operator seluler membuka layanan ini? “Voice tetap akan menjadi andalan pemasukan terbesar kami, tetapi GPRS tetap kami tawarkan untuk memaksimalkan pemanfaatan ponsel. Apalagi, ponsel dengan fitur GPRS sudah ada di mana-mana,” ujar Marketing Communication Manager IM3 Turina Farouk. Alasan Telkomsel dan Excelcomindo setali tiga uang. Menurut General Manager Marketing Telkomsel Erik Meijer, meskipun pada tahap awal operasi pasti merugi, karena GPRS merupakan permintaan pelanggan, pihaknya memenuhinya juga. “Kami berharap, jumlah pelanggan akan meningkat,” kata Erik. Excelcomindo sedikit berbeda. “Layanan GPRS merupakan komitmen kami kepada pelanggan,” kata Rudiantara.

Rendahnya pemasukan dari layanan GPRS terbukti masih kecilnya jumlah pemakai layanan ini. Dari 500.000 pelanggan IM-3 di akhir tahun 2002 lalu, yang mengakses GPRS hanya sekitar 10.000 pelanggan. Lalu, kemana yang 490.000 lagi? Padahal, investasi awal yang dibenamkan IM-3 tidaklah kecil: 170 juta dolar AS. Satu-satunya keuntungan IM-3 adalah sebagai pelopor GPRS. Itulah sebabnya bisa dimengerti, meskipun penggunanya masih sedikit, IM3 tetap akan mengandalkan GPRS sebagai faktor pemikat. Bahkan, anak perusahaan Indosat ini telah menghabiskan diri sebagai pionir dalam teknologi multimedia selular buat kalangan eksekutif dan mereka yang berjiwa muda.

Untuk kalangan eksekutif yang mobile misalnya, IM3 menawarkan jasa M3-GPRS. Dengan fasilitas ini, pelanggan dapat menikmati akses internet berkecepatan tinggi, baik lewat internet, laptop maupun PDA (personal digital assistant). Bagi pelanggan yang bisa bepergian ke luar negeri, tidak perlu khawatir tidak connecting people. Sebab, IM3 juga telah mengimplementasikan roaming internasional, baik dengan teknologi GSM maupun CDMA. Khusus untuk warga di Wilayah II, seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta wilayah III, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan ada fasilitas bebas roaming. Dengan cara-cara ini, IM3 menargetkan 900.000 pelanggan di tahun 2003.

Erik Meijer, General Manager Marketing Telkomsel

Sebagai layanan yang relatif baru, pada tahap awal peluncurannya, GPRS mendapat sambutan luar biasa. Maklum, dengan menggunakan GRPS, pelanggan GSM seluler bisa terhubungkan dengan dunia mobile Internet selama mungkin, dan pelanggannya hanya mengeluarkan biaya yang sesuai dengan volume data yang dikirim melalui jaringan. Itu terjadi karena sistem GPRS memungkinkan proses download ke perangkat ponsel dengan kecepatan sampai 115 Kbps, jauh melebihi laju transmisi GSM saat ini (9,6 Kbps). GPRS memungkinkan download gambar dan grafik dengan kecepatan sangat tinggi. Pelanggan akan memasuki dimensi baru di layanan dan fungsi yang ditawarkan melalui ponsel.

Meskipun kini sudah tersedia luas, pesimisme terhadap layanan GPRS masih besar. Siapa pemilik ponsel yang setiap kali memerlukan sarana pengiriman data kecepatan tinggi itu? Data terakhir menunjukkan, pengguna mobile data sekarang ini hanya sekitar satu persen dari seluruh pengguna mobile phone, dan hanya sekitar 17 persen dari pengguna Internet yang memiliki akses pribadi. “Amat sulit bagi kita untuk mengharapkan kesuksesan layanan mobile data ini (GPRS), jika daya tarik yang diberikan kepada pengguna mobile phone tidak terlalu menguntungkan mereka,” kata pengamat telekomunikasi seluler Indra Gunawan. Salah satu kendalanya adalah harga yang masih tergolong mahal.

Orang pun menoleh pada kisah kegagalan WAP (wireless application protocol). Layanan baru itu membuat dunia seluler demam WAP. Tapi demam itu ternyata tidak berlangsung lama. Di pasar, WAP tidak begitu berhasil di pasar, malah diplesetkan jadi wait and pay, nunggu lama, bayarnya mahal. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan itu. Mulai dari content WAP yang tidak terlalu menarik, kecepatan akses yang lambat menyebabkan mahalnya akses dengan WAP, hingga terbatasnya fasilitas gateway WAP yang tersedia. Seperti misalnya, tidak semua gateway menyediakan sarana untuk bisa mengakses situs-situs lain yang berbasiskan WML (Wireless Mark-Up Language) kecuali yang sudah disediakan.

Akankah sistem GPRS di Indonesia akan bernasib seperti WAP? Masih belum bisa dipastikan. Namun, tidak ada salahnya jika para operator seluler selalu waspada. Kasus di Hongkong bisa menjadi pelajaran menarik. Hutchison Telecommunications, salah satu operator terbesar di Hongkong melakukan uji coba GPRS, ternyata sangat kecewa dengan kinerja GPRS ini. Pasalnya, kecepatan data yang digembar-gemborkan sampai 100 Kbps, ternyata hanya sampai 20 Kbps saja. Tidak mustahil itu terjadi di Indonesia.

Bukan cuma kecepatan, menurut General Manager Value Added Service Excelcomindo Agung Bowo Laksono, keberhasilan GPRS sebagai carrier MMS (multimedia messaging service/pesan multimedia) juga amat ditentukan oleh ketersediaan content yang menarik bagi pengguna. “Pemanfaatan MMS masih membutuhkan banyak prasyarat,” kata Laksono. Tidak hanya content, teknologi itu pun tidak akan bisa dimanfaatkan bila infrastruktur jaringannya juga tidak memadai. “Kita juga jangan lupa dengan kemampuan handset itu sendiri, karena bagaimana spesifikasi handset juga sangat menentukan untuk bisa menggunakan MMS dan memanfaatkan jaringan GPRS secara maksimal,” kata Andreas Fasbender PhD., Direktur Sony-Ericsson Cyberlab Singapura, belum lama ini.

Tapi, layanan mobile data sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi di Indonesia. Secara umum, SMS mendominasi basis teknologi yang dipergunakan oleh berbagai layanan mobile data tersebut. Hanya sebagian kecil yang menggunakan teknologi lain, seperti IVR (interactive voice response) dan Internet (web). Kehadiran GPRS yang layanannya berbasis paket, konektivitas yang always on, dan kecepatan transfer data yang lebih tinggi, makin menyemarakkan dunia bisnis Indonesia. Ada pula J2ME (java 2 micro edition) yang memungkinkan pengembangan berbagai aplikasie-mail, PIM (personal information manager), games, dan layanan lain pada berbagai devices dengan memori dan CPU kecil, tanpa memandang sistem operasi dan platform.

Perkembangan teknologi jaringan GPRS ini, dikonvergensikan dengan beragam devices dan perangkat lunak, telah membuka solusi atau aplikasi baru bagi kepentingan korporasi atau institusi. Menurut pengamat telematika Suluh T Rahardjo, salah satu layanan yang akan dibutuhkan oleh banyak banyak perusahaan, khususnya yang memiliki tenaga kerja dengan mobilitas tinggi atau armada kendaraan dengan jelajah luas, akan memerlukan jasa location based services (LBS). Dengan LBS, perusahaan distribusi bisa melengkapi para tenaga penjualnya dengan ponsel atau PDA yang bisa memberikan petunjuk tentang pengecer atau toko mana saja yang perlu dikunjungi ketika mereka sedang berada di lokasi tertentu. “Seringkali, hanya gara-gara terlewat, perusahaan distribusi tersebut bisa kehilangan peluang mendapatkan order atau keuntungan,” kata Rahardjo.

Enaknya lagi, para tenaga penjual sekaligus juga dapat mengirimkan order dari setiap pengecer atau toko yang dikunjunginya secara langsung, tanpa harus mencatat dulu di sebuah kertas dan kembali ke kantor hanya untuk memasukkan order tersebut secara manual. Dengan begini, barang-barang pesanan bisa segera diproses dan dikirimkan pada hari yang sama. Selanjutnya, armada pengiriman barang-barang pesanan itu dapat dimonitor oleh kantor pusat melalui aplikasi vehicle tracking system (VTS).

Untuk akurasi yang tinggi, kata Rahardjo, sebuah modul GPS (global positioning system) bisa ditaruh di tiap kendaraan pengangkut, sehingga posisinya bisa diamati setiap periode yang dikehendaki. Jika kantor pusat ingin mengamati posisi kendaraan tersebut setiap menit, layanan GPRS amat mendukung aplikasi ini. Tapi, jika hanya butuh posisi tersebut setiap jam, fasilitas SMS pun sudah memadai. Mobil-mobil tangki pengangkut BBM bisa dibekali dengan suatu modul yang bisa mendeteksi dan merekam kejadian apa saja yang terjadi berkaitan dengan keadaan di tangki maupun kerannya. Misalnya jika keran tersebut dibuka di tempat yang tidak seharusnya (bukan di SPBU yang sah). Aplikasi LBS pun bisa mendeteksi perkiraan posisi di mana kejadian pelanggaran itu terjadi.

Untuk aplikasi perusahaan, misalnya, melalui layanan advertising, jelas Eric, perusahaan dapat memberitahukan lokasi gerai, ATM (anjungan tunai mandiri), pompa bensin, atau bengkel yang terdekat dari pengguna. Salah satu prototipe yang dikembangkan adalah mobile vehicle tracking (MVT) untuk melacak dan merekam rute perjalanan kendaraan. “Dengan teknologi ini perusahaan dapat melacak rute dan lokasi kendaraan operasionalnya dengan akurat,” kata Eric. Sejumlah perusahaan dari sektor perbankan, asuransi, properti, distribusi, transportasi dan salah satu BUMN pertambangan, menyatakan berminat memakai LBS ini.

Agung Bowo Laksono, General Manager Value Added Service Excelcomindo

LBS adalah teknologi penjejak lokasi yang bekerja dengan memanfaatkan transmisi dari BTS terdekat untuk menentukan keberadaan pengguna. Tingkat akurasinya tergantung dari arsitektur BTS dan kekuatan transmisinya. Dibandingkan GPS, akurasi LBS memang masih di bawah. Namun, di daerah padat saat jangkauan BTS saling tumpang tindih akurasinya bisa mencapai radius 50 meter. Di daerah normal, akurasinya berkisar antara 200 -300 meter. Untuk menentukan lokasi pengguna, server memberikan perintah pada BTS untuk mengirimkan sinyal ke ponsel. Pengiriman sinyal dapat diatur dalam selang waktu tertentu, umumnya 10 menit hingga 15 menit sekali.

Tidak cuma itu. Menurut Suluh T Rahardjo, fasilitas telemetri juga amat dibutuhkan oleh institusi-institusi tertentu. Jaringan GSM atau GPRS bisa membantu khususnya untuk wilayah yang terpencar. Suatu modul khusus bisa dipasang pada stasiun-stasiun pengamat cuaca, curah hujan, atau pengukur ketinggian air sungai. Setiap saat modul tersebut akan mengirimkan data pengukuran ke kantor pusat untuk keperluan analisa dan pengambilan keputusan.

Sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Eropa bahkan sudah memasang modul GPRS di sedan tipe terbaru mereka yang dapat mengirimkan data-data kondisi mesin ke pusat pelayanan mereka. Dengan dukungan LBS, posisi kendaraan itu juga bisa dimonitor secara otomatis. Jika terjadi kelainan, misalnya temperatur terlalu tinggi atau gangguan pada sistem pengereman, peringatan akan dikirimkan ke pusat pelayanan, plus posisi kendaraan tersebut, dan bantuan dapat diberikan sesegera mungkin. Perusahaan asuransi kendaraan pasti memerlukan layanan ini.

Dengan cara yang sama, bank juga bisa menginstal suatu aplikasi di mesin ATM-nya yang bisa mengirimkan pesan via modul GSM/GPRS ke petugas teknik mereka jika terjadi kelainan pada salah satu ATM. Customer Relationship Management (CRM) menjadi salah satu faktor penting dalam kompetisi bisnis saat ini. Memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan, bahkan sebelum pelanggan itu meminta, menjadi sesuatu yang diidam-idamkan setiap perusahaan.

Dalam seminar Wireless Java Technology, 20 Agustus 2002 yang diadakan oleh Siemens, didemonstrasikan aplikasi simulasi investasi unit link yang bisa dijalankan di ponsel yang mendukung J2ME. Para investor Zurich Insurance kelak bisa men-download modul J2ME (midlet) ini, dan bisa memperkirakan keuntungan yang diperoleh dari investasi unit link mereka. Tanpa harus meminta dan menunggu, para investor bisa mendapatkan pelayanan seketika dan up-to-date.

Dalam sebuah kompetisi pembuatan aplikasi di Indonesia belum lama ini, Epicentrum Technologies mengajukan sebuah aplikasi CRM untuk dunia perbankan. Salah satu fasilitasnya memungkinkan para investor membuat sebuah skenario tentang investasi mereka. Misalnya, “jika nilai tukar 1 dollar AS mencapai Rp 10.000, maka tukarkan 50 persen tabungan saya menjadi rupiah, dan simpan dalam bentuk deposito”. Jika kondisi tersebut tercapai, sebuah peringatan akan dikirimkan via SMS (dan juga e-mail sebagai tembusan) ke investor tadi. Jika ia mengonfirmasi respons sesuai apa yang telah diprogram, maka secara otomatis skenario tadi akan dieksekusi. Nyaman sekali, rasanya.

Aplikasi-aplikasi lain tentu masih terbuka dikembangkan dari ketersediaan jaringan GPRS, tanpa harus terburu-buru masuk ke teknologi generasi ketiga (3G), bahkan 4G. Sudah barang tentu, masing-masing industri akan memiliki kekhasannya sendiri. Tapi, tujuan mereka tetap sama: memenangkan kompetisi. Baik dengan cara meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya maupun meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Tanpa perlu didorong-dorong dan direkayasa, rupanya era mobile business kini tengah memasuki dunia bisnis di Indonesia.•ki

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved