IT & Communications Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
Serangan virus atau hacker tampaknya tak akan pernah berhenti. Apa saja yang perlu diperhatikan kalangan
perusahaan?
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Ifik Arifin, pengamat TI dan Presiden Direktur Inixindo

Masih ingat Kevin Mitnick? Kisahnya yang dijadikan film “Take Down” dan menjadi “hero” bagi kalangan hacker, kali ini justru menjadi korban serangan hacker. Website perusahaannya, Computer Security, di deface oleh hacker dan meninggalkan pesan “Welcome back to freedom, Mr. Kevin”. Beruntung, tidak ada informasi serius yang dicuri dari aksi tersebut.

Pembobolan website dengan cara men-deface atau melalui virus memang bukan hal baru. Hal ini kini menjadi kisah klasik yang menarik. Betapa tidak! Program anti virus selalu berinovasi dengan berbagai produknya, sementara virus baru muncul dengan beragam nama. Dari tahun ke tahun, pengguna komputer disuguhi kondisi diserang atau malah bertahan jika tidak takut terinfeksi.

Kondisi inilah yang tampaknya mengilhami Roger Thompson, pengasuh situs web WormWatch, yang juga pakar sistem keamanan, untuk memberikan warning bagi mereka yang bekerja di bidang teknologi informasi untuk siap-siap menghadapi penulis-penulis virus, worm dan program kuda Trojan secara lebih serius di tahun 2003.

Thompson, yang juga direktur teknik dalam penelitian kode-kode jahat di TruSecure, memperkirakan tahun 2003 akan menjadi tahun yang sulit dalam hal keamanan sistem dibanding tahun 2002. Gangguan keamanan itu tidak lagi melewati virus-virus yang menyebar lewat e-mail, tapi lebih cenderung berasal dari program-program yang mampu menyusup ke jaringan. “Kita akan menghadapi ancaman lebih serius di tahun 2003,” ramalnya seperti dikutip internetweek.com.

“Masa kejayaan worm yang dikirim lewat e-mail telah lewat,” ujar Thompson. Banyak perusahaan kini menyaring setiap e-mail yang masuk, dan, yang lebih penting, mereka juga menolak attachment-attachment yang dapat diaktifkan (executable), yang sering kali dipakai worm untuk mengaktifkan diri. “Hal itu membantu mengurangi potensi penyebaran worm e-mail lebih lanjut,” tambahnya.

Di awal 2003 ini, hasil pengamatan kalangan peneliti seperti dikutip Reuters, menemukan virus worm Slammer hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk membuat chaos pengguna internet. Dalam menit pertama penyebarannya, jumlah virus Slammer berlipat dua kali setiap 8,5 detik. Kecepatannya jauh di atas worm Code Red - yang menyebar 18 bulan lalu - yang berlipat dua setiap 37 menit.

Amerika Serikat dan Korea Selatan tercatat paling parah dihantam serangan virus Slammer. Dua negara sekutu militer itu masing-masing menyumbang 43 persen dan 12 persen dari total komputer yang terinfeksi Slammer di seluruh dunia. Karenanya, Thompson menyarankan agar perusahaan lebih memperhatikan keamanan jaringan internalnya daripada mengkhawatirkan ancaman yang datang lewat e-mail. “Mereka sebaiknya memperhatikan jaringan dan memperkuatnya sehingga kalau ada penyusup, ia tidak bisa menyebar,” sarannya.

Berdasarkan survey FBI bekerja sama dengan CSI (Computer Security Institute) bahwa rata-rata hampir semua perusahaan pernah mengalami kejahatan teknologi yang disebabkan oleh penyusupan (intrusion), program trojan, virus dan sebagainya. Sebanyak 75% itu setelah dilacak ternyata berasal dari internal penggunanya. Dengan kondisi ini, lantas apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian ini? Apakah dengan memasang berbagai teknologi security lantas jaringan kita sudah aman dari pembobolan?

Membangun Awarenes
Menurut Ifik Arifin, pengamat information security system, untuk menghindari ancaman baik dalam bentuk virus maupun hacker sebaiknya perusahaan memperbesar awarenes mulai dari top management hingga yang paling bawah. Memang biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, karena harus up to date dan selalu sigap menghadapi ancaman. “Inixindo memberikan konsultasi atau traning-traning ke arah awarenes. Karena awarenes itu salah satu kunci menghindari virus”, katanya.

Lebih lanjut Ifik mengatakan tantangan kita sekarang ini adalah “balapan” antara pembuat virus dengan anti virus, sementara kita yang menjadi korban. Artinya, setiap ada program anti virus keluar, terus ada virus baru lagi. Kita tidak mungkin melakukan hal seperti itu setiap hari, walaupun tetap saja kita mesti back up data. Jadi kita memang harus asumsikan bahwa sistem ini suatu saat akan terkena virus. Karenanya, kita  preventif dulu, kita siapkan firewall, segala macam kita siapkan. Tapi, semua itu tidak ada gunanya jika tidak ada awarenes. “Yang mesti di didik itu orangnya dulu. Bagaimana dia mengenal bahaya-bahayanya, cara-cara menghindarinya, Insya Allah jadi lebih sedikit ancamannya”, tutur Ifik Arifin yang juga President Director Inixindo Jakarta.

Defense atau prevention (pencegahan) merupakan tahap yang harus dibangun terlebih dahulu dalam suatu organisasi, di mana tahap ini harus eksis di perusahaan. Dalam tahap ini banyak yang harus dilakukan karena merupakan yang terpenting di antara semua tahap yang lain. Tahap awal ini mencakup perencanaan, risk assessment, cost-benefit analysis, threat identification dan implementasi. Dalam tahap ini ditentukan apa yang menjadi ancaman bagi perusahaan dan identifikasi risiko yang bisa terjadi, juga berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk implementasi tahap ini.

Yang paling penting adalah inisiatif tersebut perlu dukungan manajemen perusahaan dari tingkat paling atas sampai bawah dan adanya security policy efektif yang bisa dijadikan pedoman pelaksanaan. Karena policy ini juga berisi sanksi atau hukuman yang bisa dikenakan kepada para karyawan apabila tidak mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Bagi Ifik Arifin, langkah yang perlu ditempuh perusahaan adalah membuat security policy itu dalam bentuk kebijakan perusahaan. Security policy ini, misalnya, jika menerima pegawai baru, maka pegawai itu harus di didik tentang awarenes anti virus. Jika ingin membuka e-mail, harus discan dulu. Cara seperti itu masuk ke dalam security policy perusahaan.

Selain itu, jika ada pegawai yang keluar, akses ke database harus terhenti. Jika tidak, berarti tidak ada policy dan jika pun ada tidak dijalankan. Lantas, siapa yang bertanggung jawab? Karenanya, harus ada orang yang bertanggung jawab untuk masalah ini dan itu akan terlaksana jika ada security system-nya. “Umumnya, perusahaan di Indonesia security policy-nya tidak ada. Kalau pun ada implemenstasinya belum”, ujar Ifik seraya menambahkan bahwa perusahaan keuangan dan perbakan yang rentan terhadap ancaman ini.

Security Policy
Masih banyak perusahaan di Indonesia yang kurang menyadari security system-nya, kecuali perusahaan multinasional. Itupun lantaran headquarter merekalah yang mengharuskan menerapkan policy di perusahaan mereka di Indonesia.

Kasus yang sempat menjadi perbincangan menarik adalah ketika BCA meluncurkan salah satu produk barunya, yaitu Internet Banking yang bisa diakses melalui www.klikbca.com. Menurut Andre Sutisna, Chief Manager Information Technology Division, BCA, ketika meluncurkan Internet Banking, BCA sudah melakukan beberapa review dan meminta konsultan agar melakukan present test untuk mengetahui sejauhmana tingkat kemanannya. Hingga saat ini memang masih terbilang aman, walaupun tidak seratus persen. Soalnya, masih terbuka lubang baru karena para hacker selalu berlomba-lomba untuk mencari celah kosong. Karenanya, untuk mencegah celah kosong ini BCA juga menerapkan security policy yang berlaku untuk seluruh karyawan mulai top manager, staf, biro, bahkan melakukan sosialisasi security system ini hingga ke cabang-cabang di daerah.

Andre Sutisna, Chief Manager Information Technology Division, BCA

Dari beberapa basic policy-nya itu ada yang mengenai pengklasifikasian informasi. Semua karyawan harus mengetahui semua mulai dari informasi yang bersifat umum, rahasia, memo dan lainnya. Selain itu, ada user policy yang berkaitan dengan komputer. “Dari dasar itu untuk semua yang berkaitan dengan teknologi informasi, mesti mengacu ke security policy tersebut,” tambahnya.

Mengenai security policy di BCA, Andre mencontohkan jika ada karyawan baru, misalnya, dia harus memiliki ID. Dalam form ID itu terdapat policy tentang apa saja yang mesti dilakukan, dan konsekuensinya. “Kalau di satu unit ada yang keluar, seorang security administrator di unit itu harus melapor, karena dia yang bertanggung jawab untuk memelihara user ID dan sekaligus mematikannya,” jelasnya.

Namun, kendati sudah ada policy yang berkaitan dengan aplikasi penggunaan komputer di BCA, Andre mengkhawatirkan justru yang terserang itu adalah Internet Banking. Pasalnya, akses dapat dilakukan melalui peralatan yang bukan milik bank dan bisa dilakukan dimana saja. Karenanya, di BCA ada yang namanya hardening, di mana beberapa server yang tidak diperlukan diafkir. Di samping itu, BCA juga menggunakan jasa IT Security Company.

Kini, perhatian terhadap sistem keamanan informasi sudah mulai meningkat dipicu oleh munculnya sejumlah kasus yang mengakibatkan kerugian baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Dengan semakin banyaknya kasus-kasus kejahatan internet, perusahaan-perusahaan juga harus lebih aware terhadap sistem keamanan informasinya.

Sistem keamanan yang harus diperhatikan oleh kalangan korporasi ini mencakup aspek fisik, personel, teknik, data, jaringan, kebijakan, prosedur, serta kultur kerja perusahaan. Dalam hal ini layanan security yang perlu disediakan adalah proteksi data yang sensisif, informasi yang tidak berubah tanpa izin, jaminan keaslian data, kejelasan sumber, pengakses dan server, ketersediaan data, non repudiation, serta access control.•rf

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved