Focus Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
Dengan meraih sertifikat pelatihan bersifat internasional, selain terbuka peluang kerja yang lebih luas, juga mendorong kepercayaan siap bersaing, meski di mancanegara.
 
RELATED ARTICLES

Sertifikasi: Tiket Bersaing di Mancanegara


Sertifikasi: Pilih Yang Mana?

Meraih Gengsi Dengan Sertifikat

 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Elda S. Tambara, Direktur Binus Center

Bina Nusantara (Binus), salah satu lembaga pendidikan komputer yang memiliki reputasi baik di Indonesia dewasa ini, juga secara teratur mampu menyalurkan tenaga kerja, khususnya pekerja TI (melalui Binus Career Center). Untuk lebih mendukung reputasinya, lembaga pendidikan ini juga menjalin lemitraan akademik dengan Cisco System dan Microsoft dalam pelatihan TI bersertifikasi internasional.

Seperti dituturkan Elda S. Tambara, S.Kom., M.Acc, Director Binus Center, kebutuhan terhadap pekerja TI yang memiliki sertifikasi internasional cukup banyak, seperti Cisco CCNA, Microsoft MCSA, MCSD dan sebagainya.

Ketika itu, jumlah pekerja TI yang memiliki sertifikat internasional masih sangat sedikit, kurang dari 100 orang, sehingga kebutuhan yang ada belum terpenuhi dan kalau dilihat dari segi gaji, relatif sangat mahal. Muncul kemudian inisiatif dari kalangan vendor TI untuk menyelenggarakan pendidikan bersertifikat itu, selain untuk memenuhi kebutuhan bisnisnya, juga meningkatkan jumlah pekerja TI yang memiliki keahlian tertentu. Binus sendiri baru memulai pendidikan bersertifikasi internasional ini sekitar tahun 1999 melalui kerjasamanya dengan vendor, antara lain Cisco dan Microsoft.

Vendor lain, Oracle misalnya, juga mengembangkan pelatihan bersertifikat internasional, yakni melalui OCP (Oracle Certified Professional). OCP juga dimaksudkan sebagai measurement sampai seberapa jauh tingkat seseorang agar bisa mengabstraksikan teknologi Oracle. Seperti diakui Mardjuki, Country Education Manager, Oracle University pada PT Oracle Indonesia, teknologi Oracle berkembang sangat pesat. Tak jarang para pelanggan Oracle mengeluh karena kurangnya pekerja TI yang ahli yang dapat mendukung pengoperasian perangkat dan sistem berteknologi tinggi yang mereka sediakan.

Lebih lanjut diungkapkan, karena kebutuhan itu, Oracle menyelenggarakan pendidikan bersetifikasi dan sekaligus untuk meyakinkan pelanggan bahwa mereka didukung oleh pekerja TI yang memiliki standar tertentu dalam mengoperasikan teknologi Oracle. Itu terjadi sejak 5 tahun yang lalu dan mulai besar sekitar tahun 2000.

Meski Orcale merupakan vendor, namun dalam pendidikan ini ia juga menjalin kerjasama dengan pihak lain, khususnya untuk menjalankan program OAEP (Oracle Approved Education Provider). Kemitraan itu dibangun dengan empat institusi, yakni Inixindo, Metrodata, Asaba dan Sisindosat (anak usaha Indosat). “Institusi ini kami tunjuk sebagai perpanjangan tangan Orcale untuk melakukan pendidikan teknologi Oracle dan sekaligus mendapatkan sertifikasi,” ujar Mardjuki.

Diakui, bahwa selain pendidikan ini membutuhkan biaya yang cukup besar, dalam kenyataannya untuk mendapatkan sertifikat juga tidak mudah. Artinya, harus melalui ujian. Di Oracle sendiri ada empat modul (bidang keahlian) yang harus dilalui untuk mendapatkan sertifikasi OCP.

Sejumlah kalangan menilai pendidikan sertifikasi internasional yang diselenggarakan Oracle lebih sulit dibandingkan dengan Cisco atau Microsoft. Contohnya, tingkat kelulusan peserta pelatihan di Inixindo juga berbeda beda, tergantung program yang diambilnya. Untuk Cisco dan Microsoft, misalnya tingkat kelulusannya lebih tinggi dibandingkan dengan Oracle. Menurut General Manager Inixindo, Didik Partono R, tingginya tingkat kelulusan untuk Microsoft dan Cisco disebabkan karena buku-buku tentang kedua software tersebut cukup banyak tersedia.

Selain itu, kebijakan vendor dalam hal sertifikasi ini, juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kelulusan. Cisco, misalnya, untuk mendapatkan sertifikasi, hanya diperlukan satu kali tes saja. Berbeda dengan Oracle, siswa harus lulus empat hingga lima jenis ujian. Demikian juga dengan Microsoft, untuk meraih sertifikat dari perusahaan software terbesar ini, peserta harus melalui setidaknya tujuh jenis ujian.

Bagaimana dengan biayanya? Menurut Elda, pendidikan bersertifikasi Cisco yang dilaksanakan Binus membutuhkan biaya tak kurang dari Rp. 7 juta untuk pendidikan selama satu tahun. Tahun 1999, ketika awal melaksanakannya, biayanya baru Rp. 5 juta. “Di Oracle, untuk meraih modul pertama, seorang peserta pendidikan dikenakan biaya sebesar 90 dollar AS (jika US$ 1 = Rp. 9.000, maka besarnya menjadi Rp. 810.000). Sedang tiga modul berikutnya sebesar 125 dollar AS. Bagi yang akan mengikuti ujian, biasanya akan mendapatkan potongan harga sebesar 40 sampai 60 persen,” ujar Mardjuki menjelaskan.

Untuk pendidikan di Binus, pembiayaan yang dibayarkan peserta sudah termasuk biaya koneksi internet selama belajar. Juga tersedia buku-buku yang dibutuhkan. Mereka juga mendapat kesempatan mengikuti tes internasional. “Dengan biaya sebesar itu, kita mengharuskan mereka untuk ikut ujian. Kita mau tahu hasil akhirnya, bahwa selama mengikuti perkuliahan, mereka benar tidak sih bisa lulus di ujian internasional? Karena ending-nya kan di situ,” ujar Elda menambahkan.

Dalam soal biaya ini, akan berbeda penggunaannya dan tergantung kebijakan dari vendor itu sendiri. Seperti diakui Elda, pendidikan sertifikasi internasional yang dilakukan di Binus merupakan kegiatan akademis, yang membekali mahasiswa dengan konsep-konsep dasarnya.

Sedang kalau di luar, bentuknya adalah semacam membahas soal-soal yang akan keluar di ujian dan waktunya lebih singkat. Pesertanya lebih banyak para praktisi. Kalau di luar biayanya hanya sekitar 4 juta – 5 juta itu pun dalam waktu kurang dari satu bulan, sedang di Binus dengan biaya yang ditetapkan waktu belajarnya selama satu tahun, termasuk kesempatan tes sertifikat internasional.

Beberapa kalangan menilai kebutuhan terhadap pekerta TI yang memiliki sertifikat internasional ini merupakan sesuatu yang sangat urgen bagi Indonesia. Banyak investor asing, yang langsung membawa sistem/software sendiri. Sementara, pada saat yang sama, ada tuntutan dari pemerintah setempat harus menggunakan pekerja TI lokal. Tetapi, pekerja TI yang dibutuhkan harus memiliki kualifikasi tertentu. Disitulah peran sertifikasi menjadi sangat penting. Sayangnya, belum banyak pekerja TI lokal yang telah mencapai taraf sertifikasi ini. “Makanya kita sering melakukan promosi dan kegiatan untuk menggairahkan orang untuk mengambil sertifikasi ini,” tambah Mardjuki.

Mardjuki, Country Education Manager, Oracle University, PT Oracle Indonesia

Namun seperti diakui Mardjuki, dalam pengembangannya di lapangan ada sejumlah kendala yang dihadapi. Pertama, sertifikasi ini tidak mudah. Artinya harus melalui ujian. Kedua, passing grade-nya juga cukup tinggi, sertifikasi Oracle 70 persen, jadi agak tinggi. Ketiga, kebanyakan orang lokal yang bersertifikasi justru berkarya di luar negeri.

Ironis. Kita ingin mereka bersertifikasi di sini dan berkarya di sini. Tetapi itu tuntutan pasar. Mereka mendapatkan kompensasi lebih besar di luar negeri, dan hal itu tidak bisa dicegah. “Dari sekian orang yang bersertifikasi Oracle, hampir 50 %-nya bekerja di luar negeri, antara lain AS, Inggris, Hong Kong dan Singapura. Mereka ikut sertifikasi, salah satu alasannya juga untuk mengejar kompensasi semacam itu,” ujar Mardjuki menambahkan.

Di Indonesia, diperkirakan tak kurang dari 200 orang yang telah berhasil meraih sertifikasi OCP, yakni mereka yang mampu menyelesaikan ujian untuk empat modul. Sedang kalau yang berhasil menyelesaikan modul 1 dan 2 jumlahnya ribuan.

Namun, belakangan ini ada sedikit perubahan. Kalau dulu lulus empat modul baru bisa meraih OCP, tetapi sekarang ini meski baru lulus dua modul, dia sudah berhak meraih OCA (Oracle Certificate Associate). Hal ini dimaksudkan agar lebih menggairahkan para peserta, paling tidak mereka yang telah lulus dua modul dapat dihargai dengan sertifikat.

Saat ini, seperti diungkapkan oleh Mardjuki, yang banyak dibutuhkan di luar negeri, misalnya, Amerika Serikat adalah yang terkategori software developer. Karena, di sana banyak sekali perusahaan software, yang mereka sendiri tak mampu memenuhinya. “Kebanyakan orang India, sebagian dari Indonesia. Di India, pemegang sertifikasi Oracle jumlahnya ribuan,” tambah Mardjuki.

Di bidang solusi vertikal, kita punya database administrator (DBA), application developer dan Java solution. Masing-masing ada modulnya. DBA empat modul, application developer ada empat, java ada lima. Lebih dari 50 persen yang bekerja di luar negeri umumnya memegang sertifikasi OCP Developer, karena mereka yang lebih banyak dicari. Sedang kalau di Indonesia, lebih banyak dibutuhkan DBA.

Kebanyakan perusahaan dari luar negeri, yang menanamkan investasinya di Indonesia, mereka membawa sistem mereka sendiri atau Oracle. Karenanya, yang mereka butuhkan adalah yang bisa mengoperasikan database, mereka membutuhkan administrator. Trendnya, untuk kebutuhan lokal Indonesia, memang DBA. Kalau di luar negeri yang dicari adalah developer. •insa/as

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved