|
| Elda S. Tambara, Direktur Binus
Center |
Bina Nusantara (Binus), salah satu lembaga pendidikan komputer
yang memiliki reputasi baik di Indonesia dewasa ini, juga
secara teratur mampu menyalurkan tenaga kerja, khususnya pekerja
TI (melalui Binus Career Center). Untuk lebih mendukung reputasinya,
lembaga pendidikan ini juga menjalin lemitraan akademik dengan
Cisco System dan Microsoft dalam pelatihan TI bersertifikasi
internasional.
Seperti dituturkan Elda S. Tambara, S.Kom., M.Acc, Director
Binus Center, kebutuhan terhadap pekerja TI yang memiliki
sertifikasi internasional cukup banyak, seperti Cisco CCNA,
Microsoft MCSA, MCSD dan sebagainya.
Ketika itu, jumlah pekerja TI yang memiliki sertifikat internasional
masih sangat sedikit, kurang dari 100 orang, sehingga kebutuhan
yang ada belum terpenuhi dan kalau dilihat dari segi gaji,
relatif sangat mahal. Muncul kemudian inisiatif dari kalangan
vendor TI untuk menyelenggarakan pendidikan bersertifikat
itu, selain untuk memenuhi kebutuhan bisnisnya, juga meningkatkan
jumlah pekerja TI yang memiliki keahlian tertentu. Binus sendiri
baru memulai pendidikan bersertifikasi internasional ini sekitar
tahun 1999 melalui kerjasamanya dengan vendor, antara lain
Cisco dan Microsoft.
Vendor lain, Oracle misalnya, juga mengembangkan pelatihan
bersertifikat internasional, yakni melalui OCP (Oracle Certified
Professional). OCP juga dimaksudkan sebagai measurement sampai
seberapa jauh tingkat seseorang agar bisa mengabstraksikan
teknologi Oracle. Seperti diakui Mardjuki, Country Education
Manager, Oracle University pada PT Oracle Indonesia, teknologi
Oracle berkembang sangat pesat. Tak jarang para pelanggan
Oracle mengeluh karena kurangnya pekerja TI yang ahli yang
dapat mendukung pengoperasian perangkat dan sistem berteknologi
tinggi yang mereka sediakan.
Lebih lanjut diungkapkan, karena kebutuhan itu, Oracle menyelenggarakan
pendidikan bersetifikasi dan sekaligus untuk meyakinkan pelanggan
bahwa mereka didukung oleh pekerja TI yang memiliki standar
tertentu dalam mengoperasikan teknologi Oracle. Itu terjadi
sejak 5 tahun yang lalu dan mulai besar sekitar tahun 2000.
Meski Orcale merupakan vendor, namun dalam pendidikan ini
ia juga menjalin kerjasama dengan pihak lain, khususnya untuk
menjalankan program OAEP (Oracle Approved Education Provider).
Kemitraan itu dibangun dengan empat institusi, yakni Inixindo,
Metrodata, Asaba dan Sisindosat (anak usaha Indosat). “Institusi
ini kami tunjuk sebagai perpanjangan tangan Orcale untuk melakukan
pendidikan teknologi Oracle dan sekaligus mendapatkan sertifikasi,”
ujar Mardjuki.
Diakui, bahwa selain pendidikan ini membutuhkan biaya yang
cukup besar, dalam kenyataannya untuk mendapatkan sertifikat
juga tidak mudah. Artinya, harus melalui ujian. Di Oracle
sendiri ada empat modul (bidang keahlian) yang harus dilalui
untuk mendapatkan sertifikasi OCP.
Sejumlah kalangan menilai pendidikan sertifikasi internasional
yang diselenggarakan Oracle lebih sulit dibandingkan dengan
Cisco atau Microsoft. Contohnya, tingkat kelulusan peserta
pelatihan di Inixindo juga berbeda beda, tergantung program
yang diambilnya. Untuk Cisco dan Microsoft, misalnya tingkat
kelulusannya lebih tinggi dibandingkan dengan Oracle. Menurut
General Manager Inixindo, Didik Partono R, tingginya tingkat
kelulusan untuk Microsoft dan Cisco disebabkan karena buku-buku
tentang kedua software tersebut cukup banyak tersedia.
Selain itu, kebijakan vendor dalam hal sertifikasi ini, juga
sangat berpengaruh terhadap tingkat kelulusan. Cisco, misalnya,
untuk mendapatkan sertifikasi, hanya diperlukan satu kali
tes saja. Berbeda dengan Oracle, siswa harus lulus empat hingga
lima jenis ujian. Demikian juga dengan Microsoft, untuk meraih
sertifikat dari perusahaan software terbesar ini, peserta
harus melalui setidaknya tujuh jenis ujian.
Bagaimana dengan biayanya? Menurut Elda, pendidikan bersertifikasi
Cisco yang dilaksanakan Binus membutuhkan biaya tak kurang
dari Rp. 7 juta untuk pendidikan selama satu tahun. Tahun
1999, ketika awal melaksanakannya, biayanya baru Rp. 5 juta.
“Di Oracle, untuk meraih modul pertama, seorang peserta
pendidikan dikenakan biaya sebesar 90 dollar AS (jika US$
1 = Rp. 9.000, maka besarnya menjadi Rp. 810.000). Sedang
tiga modul berikutnya sebesar 125 dollar AS. Bagi yang akan
mengikuti ujian, biasanya akan mendapatkan potongan harga
sebesar 40 sampai 60 persen,” ujar Mardjuki menjelaskan.
Untuk pendidikan di Binus, pembiayaan yang dibayarkan peserta
sudah termasuk biaya koneksi internet selama belajar. Juga
tersedia buku-buku yang dibutuhkan. Mereka juga mendapat kesempatan
mengikuti tes internasional. “Dengan biaya sebesar itu,
kita mengharuskan mereka untuk ikut ujian. Kita mau tahu hasil
akhirnya, bahwa selama mengikuti perkuliahan, mereka benar
tidak sih bisa lulus di ujian internasional? Karena ending-nya
kan di situ,” ujar Elda menambahkan.
Dalam soal biaya ini, akan berbeda penggunaannya dan tergantung
kebijakan dari vendor itu sendiri. Seperti diakui Elda, pendidikan
sertifikasi internasional yang dilakukan di Binus merupakan
kegiatan akademis, yang membekali mahasiswa dengan konsep-konsep
dasarnya.
Sedang kalau di luar, bentuknya adalah semacam membahas soal-soal
yang akan keluar di ujian dan waktunya lebih singkat. Pesertanya
lebih banyak para praktisi. Kalau di luar biayanya hanya sekitar
4 juta – 5 juta itu pun dalam waktu kurang dari satu
bulan, sedang di Binus dengan biaya yang ditetapkan waktu
belajarnya selama satu tahun, termasuk kesempatan tes sertifikat
internasional.
Beberapa kalangan menilai kebutuhan terhadap pekerta TI yang
memiliki sertifikat internasional ini merupakan sesuatu yang
sangat urgen bagi Indonesia. Banyak investor asing, yang langsung
membawa sistem/software sendiri. Sementara, pada saat yang
sama, ada tuntutan dari pemerintah setempat harus menggunakan
pekerja TI lokal. Tetapi, pekerja TI yang dibutuhkan harus
memiliki kualifikasi tertentu. Disitulah peran sertifikasi
menjadi sangat penting. Sayangnya, belum banyak pekerja TI
lokal yang telah mencapai taraf sertifikasi ini. “Makanya
kita sering melakukan promosi dan kegiatan untuk menggairahkan
orang untuk mengambil sertifikasi ini,” tambah Mardjuki.
|
| Mardjuki, Country Education Manager,
Oracle University, PT Oracle Indonesia |
Namun seperti diakui Mardjuki, dalam pengembangannya di lapangan
ada sejumlah kendala yang dihadapi. Pertama, sertifikasi ini
tidak mudah. Artinya harus melalui ujian. Kedua, passing grade-nya
juga cukup tinggi, sertifikasi Oracle 70 persen, jadi agak
tinggi. Ketiga, kebanyakan orang lokal yang bersertifikasi
justru berkarya di luar negeri.
Ironis. Kita ingin mereka bersertifikasi di sini dan berkarya
di sini. Tetapi itu tuntutan pasar. Mereka mendapatkan kompensasi
lebih besar di luar negeri, dan hal itu tidak bisa dicegah.
“Dari sekian orang yang bersertifikasi Oracle, hampir
50 %-nya bekerja di luar negeri, antara lain AS, Inggris,
Hong Kong dan Singapura. Mereka ikut sertifikasi, salah satu
alasannya juga untuk mengejar kompensasi semacam itu,”
ujar Mardjuki menambahkan.
Di Indonesia, diperkirakan tak kurang dari 200 orang yang
telah berhasil meraih sertifikasi OCP, yakni mereka yang mampu
menyelesaikan ujian untuk empat modul. Sedang kalau yang berhasil
menyelesaikan modul 1 dan 2 jumlahnya ribuan.
Namun, belakangan ini ada sedikit perubahan. Kalau dulu lulus
empat modul baru bisa meraih OCP, tetapi sekarang ini meski
baru lulus dua modul, dia sudah berhak meraih OCA (Oracle
Certificate Associate). Hal ini dimaksudkan agar lebih menggairahkan
para peserta, paling tidak mereka yang telah lulus dua modul
dapat dihargai dengan sertifikat.
Saat ini, seperti diungkapkan oleh Mardjuki, yang banyak dibutuhkan
di luar negeri, misalnya, Amerika Serikat adalah yang terkategori
software developer. Karena, di sana banyak sekali perusahaan
software, yang mereka sendiri tak mampu memenuhinya. “Kebanyakan
orang India, sebagian dari Indonesia. Di India, pemegang sertifikasi
Oracle jumlahnya ribuan,” tambah Mardjuki.
Di bidang solusi vertikal, kita punya database administrator
(DBA), application developer dan Java solution. Masing-masing
ada modulnya. DBA empat modul, application developer ada empat,
java ada lima. Lebih dari 50 persen yang bekerja di luar negeri
umumnya memegang sertifikasi OCP Developer, karena mereka
yang lebih banyak dicari. Sedang kalau di Indonesia, lebih
banyak dibutuhkan DBA.
Kebanyakan perusahaan dari luar negeri, yang menanamkan investasinya
di Indonesia, mereka membawa sistem mereka sendiri atau Oracle.
Karenanya, yang mereka butuhkan adalah yang bisa mengoperasikan
database, mereka membutuhkan administrator. Trendnya, untuk
kebutuhan lokal Indonesia, memang DBA. Kalau di luar negeri
yang dicari adalah developer. •insa/as |