e-Enterprise Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
Aplikasi eBusiness dan TI di lingkungan agen perjalanan semakin banyak dilakukan. Apa saja manfaatnya?
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Hal Rosenbluth, presiden dan CEO Rosenbluth Internasional, agen travel di Philadelphia, punya visi untuk travel di masa mendatang, yang disebut The Vacation Chamber. Visi ini ditujukan untuk dua pasar. Pertama, pelanggan yang punya uang tapi tidak punya waktu. Kedua, pelanggan yang punya waktu tapi tidak punya uang.

Menurut Rosenbluth, di masa mendatang, kedua kategori pelanggan itu masuk ke dalam suatu ruangan dan menikmati pemandangan, suara, dan suasana liburan di tujuan wisata, tanpa perlu uang dan waktu untuk pergi ke sana. Cukup dilakukan di depan komputer.

Rosenbluth tentu tidak tanpa alasan mengungkapkan visinya itu. Kini bekerja jarak jauh sudah menjadi trend. Ketika modem menghubungkan dengan dunia luar, semua kendala lenyap. Dinding pembatas tumbang ketika orang bekerja di rumah. Kantor tidak lagi menjadi tempat, tetapi sistem - namun ini baru permulaan.

Visi Rosenbluth itu bukan tidak mungkin terjadi. Namun, tidak dalam waktu dekat ini. Kini, berlibur masih ditujukan bagi mereka yang memiliki waktu dan uang. Namun, mereka tidak usah repot-repot untuk mengurusi reservasi dan akomodasinya. Cukup duduk di depan komputer dan membuka situs pelayanan pariwisata. Di situ sudah lengkap pelayanannya; mulai dari biro perjalanan, booking hotel, ticketing, hingga penyewaan mobil.

Berdasarkan data Forester Research, sektor travel memang memiliki kepentingan paling tinggi terhadap eksistensi Internet. Soalnya, selain lebih mudah, wisatawan juga lebih banyak memberikan pilihan peluang. Forester Research menghitung tak kurang dari 25 juta orang kini mencari informasi wisata melalui Internet. Sementara transaksi travel online sendiri pada 1999 mencapai US$ 3,5 miliar, jauh lebih besar ketimbang segmen peritel buku online, seperti amazon.com dan Barnes & Noble yang hanya senilai US$ 216 juta.

One Stop Service

Weny Hartati Anwari, E-biz Supervisor Vayatour.

Di Indonesia, kini hampir semua biro perjalanan (travel agent) melengkapi pelayanannya dengan website. Semua fasilitas sudah disediakan di Internet. One stop services, begitu istilah populernya. Vayatour, misalnya. Biro Perjalanan yang sudah 38 tahun berdiri ini melengkapi pelayanannya melalui internet. Website-nya menyediakan layanan booking online, dimana programnya sudah connect dengan salah satu Computer Reservation System (CRS) Ticketing, yaitu Galileo. Website-nya juga menampilakan semua produk yang ditawarkan, seperti tiket domestik, internasional, voucher hotel, tour, visa dan paspor. “Jadi kalau orang booking tiket, di website akan keluar harga-harga dari berbagai airline, dan akan mendapatkan kode booking yang di keluarkan langsung oleh Galileo”, kata Weny Hartati Anwari, E-biz Supervisor Vayatour.

Menurut Weny, dengan adanya website, costumer tidak perlu capek-capek menelepon atau bertanya tentang harga tiket, karena di website sudah ada menu yang menjelaskannya. Untuk pesan tiket, costumer juga sudah bisa melakukan jadwal pemesanan tanpa harus mengecek. “Tapi website ini masih ada personal touch-nya, yaitu masalah payment. Dalam waktu dekat kita akan online”, tambahnya.

Jalan Tour, biro perjalanan yang bermarkas di Jepang ini juga melengkapi pelayanannya dengan computer authorized system, yang bernama Abacus dan Galileo. Kedua computer authorized system ini memudahkan reservasi dan ticketing untuk pasar domestik dan internasional. Jalan Tour juga menambah fasilitasnya melalui www.jalansantai.com untuk keperluan marketing perusahaan. Bahkan untuk memudahkan retailer agen, Jalan Tour membuat www.jualanyuk.com. “Dengan adanya website ini membuat konsumen lebih efisien dan efektif. Hal ini sesuai dengan motto perusahaan kami, yaitu sopan, cepat, dan tepat”, ujar Daniel I. Surjadi, Vice President Jalan Tour.

Bagi travel agent, adanya fasilitas e-travel memang dapat memberikan informasi yang akurat tentang produk-produk yang ditawarkan kepada wisatawan. Dalam operasionalnya, pelayanan yang diberikan juga lebih cepat, murah, efektif dan efisien. Tidak itu saja. Fasilitas internet juga menampilkan suatu banner yang memungkinkan travel agent berkorespondensi bersama costumer via e-mail. Ambil contoh, www.indo.com, travel agent yang beroperasi di internet, dalam satu hari menerima sekitar 1.000 e-mail. Ini menunjukan bahwa internet telah menjadi komponen penting di dunia pariwisata.

Daniel I. Surjadi, Vice President Jalan Tour.

Karenanya, kini travel agent mulai gencar mengampanyekan pelayanannya melalui internet. Tidak tanggung-tanggung, investasi yang dikeluarkan untuk proyek ini mulai ratusan juta sampai milyaran rupiah. Menurut Weny dan Daniel, perusahaannya harus mengeluarkan dana ratusan juta untuk meluncurkan website-nya itu. Pasalnya, kedua agen travel itu menggunakan tenaga konsultan untuk membuat website yang sesuai dengan produk perusahaannya. Bahkan indo.com, sejak berdiri tahun 1995, telah mengeluarkan hingga milyaran rupiah untuk membuat aplikasi-aplikasi yang memudahkan pengunjungnya.

Namun dalam operasionalnya, travel agent sudah mulai mengelolanya sendiri. Di Vayatour ada dua bagian khusus yang menggarap fasilitas ini, IT Departement dan E-biz Departement. IT berperan sebagai technical network dari sistem, dan E-biz berfokus pada booking online yang ada di website.

Sedang Jalan Tour, memiliki bagian EDP (Electronic Data Processing) yang selalu memantau perkembangan teknologi. Jalan Tour juga menerima informasi dari konsultan untuk merevisi dan mengembangkan sistem-sistem yang ada. Bahkan dalam jangka panjang, perusahaan ini tetap menggunakan tenaga konsultan, karena sistem ini sangat profesional untuk ditangani. Selain website, Jalan Tour juga menggunakan tenaga konsultan untuk bidang-bidang lain seperti Advertisement, printing, perpajakan, corporate public accounting, packing, tour leader, dan agency. “Liability-nya memilih pihak ketiga karena lebih clear dalam pencapaian tanggung jawab. Jadi kita konsentrasi ke core bisnis”, tutur Daniel.

Menjual Informasi
Berbeda dengan Vayatour dan Jalan Tour yang memiliki cabang-cabang diberbagai kota, travel agent Indo.com justru sebaliknya. Perusahaan yang dikomandoi oleh Eka N. Ginting ini bisa dibilang merupakan perkawinan antara teknologi internet dengan industri pariwisata. Perusahaan yang berdiri tahun 1995 ini membuat portal wisata dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh wisatawan. Bahkan, indo.com tidak menjual produk yang dimiliki seperti Vayatour dan Jalan Tour, tapi menempatkan diri sebagai information gateway. Namun, informasi yang dimaksud adalah informasi dalam arti luas, seperti jenis kamar hotel dan pembayaran melalui kartu kredit.

Hingga kini, indo.com memiliki partner bisnis mulai dari airline, hotel yang jumlahnya sekitar 400-an dan dijual langsung oleh sistem, travel agent sampai rental car. Indo.com itu sendiri merupakan inbound travel yang ditujukan untuk wisatawan luar negeri yang datang ke Indonesia, terutama Bali. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, indo.com meluncurkan www.paketrupiah.com.

Kerja sama antara indo.com dengan hotel-hotel ini tentunya memudahkan wisatawan untuk mencari hotel mulai dari level Melati hingga Bintang Lima, plus harga-harga yang ditawarkan. Begitu wisatawan melakukan transaksi untuk found pembayaran melalui internet, konfirmasinya juga bisa diberikan secara online. Hanya dalam waktu satu sampai dua menit, wisatawan sudah langsung dapat kamar. Wisatawan juga tidak perlu khawatir. Transaksi melalui kartu kredit via indo.com sangat aman. Indo.com bekerjasama dengan perusahaan pembayaran online terkemuka, VeriSign.

Eka N. Ginting, CEO indo.com

Menurut Eka Namara Ginting, CEO indo.com, masalah keamanan transaksi dilihat dari dua sisi. Pertama, untuk industri pariwisata, kalau menjual kamar hotel, wisatawan yang booking untuk menikmati kamar hotel itukan harus datang sendiri ke hotelnya. Indo.com sudah menyiapkan bahwa setelah transaksi, voucher-nya itu harus sesuai dengan kartu kreditnya. Kedua, kalau melihat keamanan kartu kredit, kadang-kadang ini memang masalah persepsi, karena banyak kejadian fraud dengan menggunakan kartu kredit itu justru kartu kredit itu didapatkan dari non-internet. Misalnya, dilakukan oleh orang yang pernah bekerja di travel agent dibagian keuangan, dan dia punya akses-akses ke foto copy kartu kredit, foto copy pasword dan lain-lainnya.

Indo.com dengan bisnis informasinya via internet memang fenomenal. Di Indonesia, belum ada pesaing yang berarti dalam bisnis ini. “Baru Singapura dan Malaysia saja pesaing kita”, kata Eka seraya menambahkan bahwa strategi bisnis yang dikembangkannya adalah inovasi. Selama tiga tahun ini, indo.com selalu menyajikan aplikasi-aplikasi baru pada sistemnya. Bahkan, booking hotel via handphone pun baru saja diluncurkan pada September lalu.

Website-nya sendiri terdiri dari berbagai komponen yang memudahkan pelanggan. Disitu ada content management yang menyajikan informasi tentang agenda kegiatan, berita mengenai Bali, dan tujuan-tujuan wisata menarik lainnya. Content management ini merupakan sistem database untuk mengelola komunikasi antara wisman dengan customer services. Content management ini penting sekali untuk bisnis-bisnis yang menggunakan internet dan melakukan interaksi dengan pelanggannya. Disamping itu, ada juga campaign management yang digunakan untuk marketing perusahaan, seperti melalui newsletter dan Short Message Service (SMS).

Dalam 10 tahun ini, penjualan travel dan pariwisata telah mencapai lebih dari $7.9 milyar. Ini berkat teknologi baru yang mentrasformasikan setiap perusahaan di lapangan dan para wisatawan. Database multimedia memungkinkan mengubah produk pariwisata dan travel. Pengaplikasian teknologi meningkatkan dan mentransformasikan layanan, sehingga mengubah peran setiap orang yang terlibat. Banyak pemikir masa depan setuju dengan Rosenbluth dan mengatakan bahwa teknologi baru mampu memberi orang pengganti travel, bukan menjadi bagian dari proses. •rf

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved