 |
| Budi Wahyu Jati, Country Manager
Intel Indonesia Corp |
Awalnya hampir semua pihak menanggapi pemunculan situs itu
sebagai hal positif. Namun, dalam perjalanannya situs itu
bisa jadi kontra produktif terhadap tujuan semula. Banyak
pihak yang mensinyalir sebagian dari situs itu lebih didorong
oleh keinginan (want), bukan kebutuhan (need). Artinya, keinginan
menjadi faktor utama dari penggelaran situs, bukan sebaliknya
kebutuhan. “Kalau enggak punya situs nanti pimpinan
daerah itu dianggap ketinggalan jaman oleh rekan-rekannya
dalam asosiasi,” ujar Budi Wahyu Jati, Country Manager
Intel Indonesia Corp.
Akibatnya, jelas pemunculan banyak situs daerah disinyalir
hanya sekedar reaksi, bukan didasarkan pada kebutuhan dan
perencanaan yang jelas. Karena bersifat reaktif tentu tanpa
ada perencanaan yang komprehensif akan manfaat dari penggelarannya.
Website daerah otonom merupakan langkah awal, biasanya bersamaan
dengan disetupnya sistem email dan jejaring kerja internal.
Ketidakadaan perencaan dan pemahaman secara utuh itu menumbuhkan
kegelian, misalnya penggunaan akhir .com dalam sejumlah situs
daerah otonom. “Semestinya ‘kan .go.id,”
ujar sumber di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Sumber yang sama juga menunjukkan ada daerah otonom yang terpaksa
mencicil pembayaran dalam jumlah yang cukup membebani hanya
karena implementasi e-Government itu di tahap awal. Ini saja
sudah berbeda dengan potensi manfaat kapabilitas informasi
dan komunikasi baru untuk pelayanan oleh institusi pemerintahan,
yaitu kian rendahnya biaya administrasi yang harus dibayar
masyarakat.
Ini lebih karena ICT (Information and Communication Technology)
memungkinkan tereduksinya biaya secara signifikan. Beban biaya
itu, tentu, dan sudah bisa dipastikan akan menjadi tanggungan
masyarakat pengguna jasa layanan tersebut. Artinya, untuk
layanan yang sama, masyarakat harus membayar lebih mahal.
Jika tidak ingin terlalu mahal, maka biaya harus ditanggung
rentengkan ke seluruh masyarakat di daerah itu.
e-Government
bukan sekedar
teknologisasi pemerintahan.
e-Government membutuhkan pemikiran ulang dan penemuan
kembali atas pemerintahan itu sendiri. |
Belajar dari Negeri Seberang
Sudah pasti jika globalisasi dan optimalisasi
pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi adalah faktor
utama dari keberadaan e-Government saat ini. Georg Aichholzer
(www.itas.fzk.de) melihat ide untuk menggelar e-Government
di Eropa diperkuat oleh tekanan publik atas budget, sehingga
menstimulir peningkatan efisiensi dan kinerja institusi pemerintahan.
Faktor kedua adalah restrukturisasi fungsi-fungsi sektor publik
dan pelayanan bersamaan dengan meluasnya kecenderungan privatisasi
dan outsourcing (‘reinventing government’). Ketiga,
pemahaman manajemen publik baru yang diejawantahkan dalam
perubahan filosofi manajemen dan aplikasinya dalam aktivitas
di sektor publik. Keempat, bersamaan dengan meluasnya internet
muncul tuntutan peningkatan pelayanan publik ke seluruh sektor
kehidupan. Kelima, munculnya tuntutan akan transparansi pemerintahan,
partisipasi demokratis dan legitimasi. Ini termasuk kebutuhan
untuk menumbuhkan keyakinan publik akan keputusan-keputusan
dan proyek politik, serupa dengan kebutuhan untuk menjustifikasi
prosedur-prosedur administratif.
Aichholzer menekankan bahwa konsep e-Government bisa diartikan
berbagai macam, namun secara mendasar konsep ini merujuk pada
moda komprehensif dan baru dalam penggunaan ICT oleh institusi
negara (Lihat Tabel 1).
Arun Mahizhnan dan Narayanan Andiappan (www.infitt.org) melihat
bahwa e-Government bukan sekedar teknologisasi pemerintahan.
Ini juga bukan sekedar otomatisasi sejumlah proses manual
atau introduksi sederhana atas teknologi yang belum pernah
ada sebelumnya. e-Government membutuhkan pemikiran ulang dan
penemuan kembali atas pemerintahan itu sendiri.
 |
 |
Birokrasi merupakan penemuan abad ke-19, sementara e-Government
merupakan penemuan abad ke-21. Karena itu, keduanya menganjurkan
perlunya pengkajian ulang dasar-dasar organisasi pemerintahan
dan birokrasi, pendefinisian ulang tujuan dan pelayanan pemerintahan,
dan penyebaran ulang atas sumber-sumber daya yang ada. Dalam
proses penemuan ulang tersebut, tujuan mendasar adalah perbaikan
ulang atas yang lama sekaligus pengintrodusiran yang baru.
Jika kita menegok pengalaman Singapura, terlihat jelas bahwa
e-Government merupakan bagian integral dari strategi nasional
untuk mentransformasi negara pulau menjadi pulau intelijen.
e-Economy merupakan bagian inti perencanaan pembangunan perekonomian,
dan e-Society akan menjadi komunitas inklusif masyarakat dan
warganegara yang menikmati standar hidup tinggi.
e-Government Singapura harus dilihat sebagai kekuatan pembangunan
yang strategis dan terintegrasi dalam pelayanan publiknya.
Upaya ini bermula pada tahun 1981 dengan diluncurkannya The
Civil Service Computerization Programme (CSCP). Tujuannya
adalah penghematan tenaga kerja, peningkatan efisiensi operasional,
dukungan informasi dalam pengambilan keputusan yang lebih
baik, dan perintisan layanan publik. Secara alamiah program
ini terarah pada otomatisasi fungsi-fungsi pekerjaan tradisional
dan pengurangan paperwork.•ew
|