oleh
Indra M. Utoyo
Kalau
kita LIHAT sejarah, alam Indonesia yang kaya, terbukti menarik
minat penjajah untuk masuk. Karenanya, sejak zaman VOC, hasil
budidaya alam diangkut ke luar negeri dalam bentuk hasil pertanian
dan rempah-rempah yang belum diolah.
Sementara, manfaat dan nilai tambah hasil alam yang kaya ini
lebih banyak dinikmati oleh bangsa lain, ketimbang bangsa
sendiri. Sampai hari ini, cerita terus berlanjut. Ironisnya,
kalau pepatah lama mengatakan Indonesia ibarat permadani indah
di katulistiwa, saat ini pepatah itu harus diubah menjadi
hamparan permadani indah yang sudah dimakan tikus.
Krisis ekonomi menunjukkan pada kita bahwa struktur ekonomi
kita rapuh, yaitu sekitar 35% adalah ekonomi konglomerasi
yang hancur, 30% adalah BUMN (sebagian berkontribusi terhadap
hutang negara), dan sisanya sekitar 30% adalah ekonomi UKM,
yang justru terbukti tangguh. Bagi Indonesia, UKM mencakup
99,8% dari seluruh ijin usaha dan ‘critical mass’
karena menyerap 90% dari tenaga kerja. Oleh karenanya, struktur
ekonomi Indonesia memasuki babak baru dimana UKM menjadi pilar
utama kekuatan ekonomi.
Hampir di setiap inisiatif forum kerjasama ekonomi internasional,
UKM selalu menjadi fokus utama pengembangan kerjasama bahkan
di negara maju sekalipun. Faktor yang mendorong keberpihakan
kepada UKM, antara lain adalah entrepreneurship yang lebih
kuat dari para pelaku usaha UKM dan mereka tidak memiliki
warisan masalah hutang korporasi.
Yang perlu didorong adalah bagaimana penciptaan nilai tambah
ekonomi UKM bisa maksimal, dari sekedar menjual komoditas
hasil alam, meningkat menjadi manufaktur, dan selanjutnya
masuk ke industri jasa. Strateginya, melalui pembangunan ‘brand’
yang kokoh, sehingga kapabilitas industrinya tidak mudah dialihkan
ke negara lain.
Di sisi lain, nilai tambah hanya akan diperoleh jika kita
mampu menghubung-hubungkan atau menjalin simpul-simpul aktivitas
ekonomi UKM yang tersebar dalam satu jalinan rantai nilai
(value chain) bernilai tambah. Mulai dari hulu ke hilir yang
menghimpun aktivitas penyediaan bahan baku, menjadi produk
setengah jadi, produk jadi, pengemasan, hingga siap diekspor.
Jalinan keterhubungan ini biasa disebut sebagai Ekonomi Jaringan
atau sebut saja ‘Marketplace Domestik”.
Bagi Indonesia, dengan kondisi geografis yang luas dan potensi
unggulan komoditi yang tersebar, serta jumlah SDM yang sedemikian
besar, maka tidak ada cara lain untuk menghimpun kemampuan
potensi jaringan ekonominya, kecuali melalui pemanfaatan kemajuan
teknologi informasi (TI), khususnya internet. Network effect
dari Internet mampu menekan secara drastis biaya transaksi
dan meningkatkan kecepatan arus informasi antar pihak-pihak
yang berinteraksi, serta membangun basis-data raksasa potensi
ekonomi UKM yang tersebar.
Motivasi pembentukan “Marketplace Domestik” adalah
bahwa perdagangan antar wilayah (intra-trading) perlu digalakkan
untuk membangun kekuatan pasar domestik, sehingga mampu memberi
posisi tawar dalam kancah ekonomi global. Kita harus menentukan
apa yang baik untuk tumbuhnya ekonomi masyarakat Indonesia,
misalnya dalam hal sistem pembayaran, dan standarisasi ‘packaging’
pada sistem logistik.
Saat ini, pembayaran kartu kredit dari Indonesia tidak dipercaya
untuk penggunaan e-commerce, belum lagi transaksi perbankan
antar negara belum memberi kepercayaan kepada perbankan nasional.
Kita juga menyaksikan bahwa “missing link” dalam
mata rantai industri UKM diperparah sejak ber-pindahnya kepemilikan
beberapa perusahaan konglomerasi industri pangan dan agrobisnis
hulu ke hilir ke pemegang saham asing. Hal ini yang justru
memutuskan mata rantai pasokan UKM dan digantikan oleh pemasok
asing dengan dalih kualitas yang lebih baik dan harga yang
lebih murah.
Mengamati kondisi di atas, kita tidak bisa menyalahkan IMF,
atau pihak luar manapun. Namun, kemandirian dan pem-visi-an
masa depan pembangunan kemakmuran bersama lebih ditentukan
oleh kita sendiri. Melalui “Marketplace Domestik”
kita harus mampu menggalang kekuatan dan bangkitnya kemampuan
dan kualitas produk domestik agar bisa bersaing paling tidak
dimulai dari pasar kita sendiri yang skalanya cukup besar
dengan 220 juta penduduk.
Menghampiri, merangkul, dan
tumbuh bersama
Gerakan pembentukan ekonomi jaringan ini harus merupakan upaya
penggalangan secara nasional. Diharapkan pembangunannya merupakan
sesuatu yang tumbuh secara bersama di antara para pelaku industri
sejenis (klaster industri) secara serentak. Selanjutnya, industri
yang terpadu ini mampu menghasilkan jasa atau produk akhir
yang memenuhi kebutuhan pasar dan masyarakat pemakai secara
tepat waktu, tepat pasar, kompetitif dan berkualitas. Fondasi
kekuatan ekonomi jaringan ini terletak pada penggabungan kompetensi,
kepercayaan (trust), saling berbagi pengetahuan (sharing knowlegde),
dan kesamaan tujuan. Contoh keberhasilan penerapannya seperti
terlihat di India, Taiwan, dan Cina.
Pemanfaatan TI dan e-commerce bukan menjadi subyek, tetapi
suatu media bantu (enabler) yang seperti halnya hasil olah
budidaya manusia bertujuan untuk memberikan peningkatan perbaikan
taraf hidup manusia. Tanpa adanya jaminan hasil akhir tersebut,
keberadaan dan penggelaran e-commerce tidak akan mendapat
sambutan dan tidak memberi dorongan penggunaannya. Pengkayaan
akan aktivitas para pelaku usaha sebagai subyek tanpa harus
memaksakan akan menjadi kata kunci.
Bila dikaji, basis e-commerce dan Internet adalah pengolahan
informasi yang lebih terkelola. Proses akulturasi dilakukan
melalui perubahan kebiasaan sikap produktif secara gradual,
namun “berakar” kokoh. Sosialisasi dengan jiwa
yang sama pernah dilakukan waktu memasyarakatkan Puskesmas
sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat terpadu.
Oleh karena itu, para pelaku UKM yang bersahaja perlu dihampiri,
dirangkul dan didampingi pada tahap awal, khususnya melalui
pendekatan tiga pilar utama, yaitu Pengembangan Usaha, Peningkatan
Kualitas SDM, dan Akses Permodalan. Pendekatan tiga pilar
ini dilakukan secara dinamis dalam pengembangan industri pada
satu komunitas UKM dengan fokus pada peningkatan nilai tambah
ekonominya, bukan produknya.•
Indra M. Utoyo
• General Manager eBusiness, Divisi
Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
|