Columns Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Model Jaringan untuk UKM

 

oleh Indra M. Utoyo

Kalau kita LIHAT sejarah, alam Indonesia yang kaya, terbukti menarik minat penjajah untuk masuk. Karenanya, sejak zaman VOC, hasil budidaya alam diangkut ke luar negeri dalam bentuk hasil pertanian dan rempah-rempah yang belum diolah.

Sementara, manfaat dan nilai tambah hasil alam yang kaya ini lebih banyak dinikmati oleh bangsa lain, ketimbang bangsa sendiri. Sampai hari ini, cerita terus berlanjut. Ironisnya, kalau pepatah lama mengatakan Indonesia ibarat permadani indah di katulistiwa, saat ini pepatah itu harus diubah menjadi hamparan permadani indah yang sudah dimakan tikus.

Krisis ekonomi menunjukkan pada kita bahwa struktur ekonomi kita rapuh, yaitu sekitar 35% adalah ekonomi konglomerasi yang hancur, 30% adalah BUMN (sebagian berkontribusi terhadap hutang negara), dan sisanya sekitar 30% adalah ekonomi UKM, yang justru terbukti tangguh. Bagi Indonesia, UKM mencakup 99,8% dari seluruh ijin usaha dan ‘critical mass’ karena menyerap 90% dari tenaga kerja. Oleh karenanya, struktur ekonomi Indonesia memasuki babak baru dimana UKM menjadi pilar utama kekuatan ekonomi.

Hampir di setiap inisiatif forum kerjasama ekonomi internasional, UKM selalu menjadi fokus utama pengembangan kerjasama bahkan di negara maju sekalipun. Faktor yang mendorong keberpihakan kepada UKM, antara lain adalah entrepreneurship yang lebih kuat dari para pelaku usaha UKM dan mereka tidak memiliki warisan masalah hutang korporasi.

Yang perlu didorong adalah bagaimana penciptaan nilai tambah ekonomi UKM bisa maksimal, dari sekedar menjual komoditas hasil alam, meningkat menjadi manufaktur, dan selanjutnya masuk ke industri jasa. Strateginya, melalui pembangunan ‘brand’ yang kokoh, sehingga kapabilitas industrinya tidak mudah dialihkan ke negara lain.

Di sisi lain, nilai tambah hanya akan diperoleh jika kita mampu menghubung-hubungkan atau menjalin simpul-simpul aktivitas ekonomi UKM yang tersebar dalam satu jalinan rantai nilai (value chain) bernilai tambah. Mulai dari hulu ke hilir yang menghimpun aktivitas penyediaan bahan baku, menjadi produk setengah jadi, produk jadi, pengemasan, hingga siap diekspor. Jalinan keterhubungan ini biasa disebut sebagai Ekonomi Jaringan atau sebut saja ‘Marketplace Domestik”.

Bagi Indonesia, dengan kondisi geografis yang luas dan potensi unggulan komoditi yang tersebar, serta jumlah SDM yang sedemikian besar, maka tidak ada cara lain untuk menghimpun kemampuan potensi jaringan ekonominya, kecuali melalui pemanfaatan kemajuan teknologi informasi (TI), khususnya internet. Network effect dari Internet mampu menekan secara drastis biaya transaksi dan meningkatkan kecepatan arus informasi antar pihak-pihak yang berinteraksi, serta membangun basis-data raksasa potensi ekonomi UKM yang tersebar.

Motivasi pembentukan “Marketplace Domestik” adalah bahwa perdagangan antar wilayah (intra-trading) perlu digalakkan untuk membangun kekuatan pasar domestik, sehingga mampu memberi posisi tawar dalam kancah ekonomi global. Kita harus menentukan apa yang baik untuk tumbuhnya ekonomi masyarakat Indonesia, misalnya dalam hal sistem pembayaran, dan standarisasi ‘packaging’ pada sistem logistik.

Saat ini, pembayaran kartu kredit dari Indonesia tidak dipercaya untuk penggunaan e-commerce, belum lagi transaksi perbankan antar negara belum memberi kepercayaan kepada perbankan nasional. Kita juga menyaksikan bahwa “missing link” dalam mata rantai industri UKM diperparah sejak ber-pindahnya kepemilikan beberapa perusahaan konglomerasi industri pangan dan agrobisnis hulu ke hilir ke pemegang saham asing. Hal ini yang justru memutuskan mata rantai pasokan UKM dan digantikan oleh pemasok asing dengan dalih kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih murah.

Mengamati kondisi di atas, kita tidak bisa menyalahkan IMF, atau pihak luar manapun. Namun, kemandirian dan pem-visi-an masa depan pembangunan kemakmuran bersama lebih ditentukan oleh kita sendiri. Melalui “Marketplace Domestik” kita harus mampu menggalang kekuatan dan bangkitnya kemampuan dan kualitas produk domestik agar bisa bersaing paling tidak dimulai dari pasar kita sendiri yang skalanya cukup besar dengan 220 juta penduduk.

Menghampiri, merangkul, dan tumbuh bersama
Gerakan pembentukan ekonomi jaringan ini harus merupakan upaya penggalangan secara nasional. Diharapkan pembangunannya merupakan sesuatu yang tumbuh secara bersama di antara para pelaku industri sejenis (klaster industri) secara serentak. Selanjutnya, industri yang terpadu ini mampu menghasilkan jasa atau produk akhir yang memenuhi kebutuhan pasar dan masyarakat pemakai secara tepat waktu, tepat pasar, kompetitif dan berkualitas. Fondasi kekuatan ekonomi jaringan ini terletak pada penggabungan kompetensi, kepercayaan (trust), saling berbagi pengetahuan (sharing knowlegde), dan kesamaan tujuan. Contoh keberhasilan penerapannya seperti terlihat di India, Taiwan, dan Cina.

Pemanfaatan TI dan e-commerce bukan menjadi subyek, tetapi suatu media bantu (enabler) yang seperti halnya hasil olah budidaya manusia bertujuan untuk memberikan peningkatan perbaikan taraf hidup manusia. Tanpa adanya jaminan hasil akhir tersebut, keberadaan dan penggelaran e-commerce tidak akan mendapat sambutan dan tidak memberi dorongan penggunaannya. Pengkayaan akan aktivitas para pelaku usaha sebagai subyek tanpa harus memaksakan akan menjadi kata kunci.

Bila dikaji, basis e-commerce dan Internet adalah pengolahan informasi yang lebih terkelola. Proses akulturasi dilakukan melalui perubahan kebiasaan sikap produktif secara gradual, namun “berakar” kokoh. Sosialisasi dengan jiwa yang sama pernah dilakukan waktu memasyarakatkan Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat terpadu.

Oleh karena itu, para pelaku UKM yang bersahaja perlu dihampiri, dirangkul dan didampingi pada tahap awal, khususnya melalui pendekatan tiga pilar utama, yaitu Pengembangan Usaha, Peningkatan Kualitas SDM, dan Akses Permodalan. Pendekatan tiga pilar ini dilakukan secara dinamis dalam pengembangan industri pada satu komunitas UKM dengan fokus pada peningkatan nilai tambah ekonominya, bukan produknya.•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved