Columns Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Bagaimana Dengan Kita di Indonesia?

 

oleh Dwi Suryanto

Hujan sudah mulai mengguyur kota Jakarta, dan banjir sudah mulai merambah di sebagian wilayah negara kita. Hujan, seperti difirmankan oleh Tuhan dalam Kitab Sucinya, adalah penimbul ketakutan dan harapan. Menimbulkan takut, karena sebelum hujan didahului oleh guruh dan petir. Menggembirakan karena sebentar lagi turun hujan. Jika pada waktu ada petir kita malah sengaja berlari-lari di sawah, maka peluang tersambar petir akan besar. Sebaliknya, hujan yang datang sangat disambut oleh petani yang lama menunggu turunnya.

Inilah analogi yang bisa menggambarkan fenomena Internet dengan segenap e-Business, dan e .. e ... lainnya. Internet adalah gelombang perubahan yang besar. Orang banyak mendebatkan apakah internet sebuah revolusi atau evolusi. Memprediksi internet di masa datang, kata seorang pakar e-Business Amerika, adalah seperti menebak apa yang akan dilakukan oleh Tuhan pada hari-hari selanjutnya setelah Tuhan menciptakan dunia pada hari Senin.

Internet sebagai kabar gembira, jika kita pandai menunggang gelombang yang ditimbulkannya. Sekarang ini, internet adalah “pabrik milyuner”, yang sangat produktif. Orang yang pandai menangkap peluang saham dotcom, menjadi kaya raya berkat saham dotcom yang sangat tinggi naiknya. Orang yang punya naluri tajam tentang peluang internet, dan mampu menangkap peluang itu, akan menjadi kaya.

Petaka datang. Dotcom berguguran. Banyak orang histeris karena saham dotcom yang dipegangnya menjadi kertas yang tidak berharga. Perusahaan banyak yang ambruk dihantam badai internet. Yah, itulah gelombang, dia naik dan turun. Seninya adalah bukan hanya mengantisipasi kapan naik atau turun, tapi yang penting adalah bagaimana “menunggang” gelombang itu.

Aksioma di Internet adalah sebagai berikut. Jika jasa/produk Anda bisa diubah menjadi bit/digital, maka segera ubahlah. Jika tidak, maka siap-siaplah bisnis Anda terancam oleh pesaing-pesaing baru yang luar biasa. Contoh klasiknya adalah toko buku terbesar di Amerika, Barnes & Nobles yang tiba-tiba mendapati pesaing yang tangguh, yaitu Amazon.com. Demikian luar biasanya Amazon, hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun, perusahaan itu mampu menggeser toko buku raksasa pesaingnya yang sudah berusia puluhan tahun dan memiliki ratusan outlet, sementara Amazon “hanya” punya satu web.

Menyadari aksioma ini, pihak banklah yang amat jeli menangkap aksioma itu menjadi aksi yang nyata. Internet banking, SMS banking, Virtual banking dan lainnya merupakan wujud dari sikap tanggap mereka.

Pada industri perposan, dimana banyak layanan yang dapat didigitalkan, mengalami kedodoran. Menurut laporan dari Current Trends and Directions in Parcel, Courier and Portal Industries – April 2002, sebagian besar administrasi pos mengalami kerugian atau penurunan pendapatan. Mulai dari USPS yang rugi US$ 1,7 Milyar hingga Correo Argentino yang terpaksa minta perlindungan dari kebangkrutan.

Apa yang dilakukan oleh para administur pos itu? Membuat perubahan total – Revitalisasi, Restrukturisasi, Reformasi, dan Transformasi menjadi “buzzword” yang amat akrab di telinga insan industri pos. Bagaimana dengan Pos Indonesia? Pos Indonesia telah siap melaksanakan transformasi bisnisnya yang dimulai tahun 2003 ini. Mari kita tunggu hasil pergulatan BUMN ini dalam mengatasi gelombang Internet ini.

Dell Computer (www.dell.com) adalah perusahaan yang sukses mengeksploitasi e-Logistics. Dengan jaringan “Value Web” yang menghubungkan perusahaan dengan banyak pemasok komponen komputer, perusahaan ini mampu menekan “inventory time” hanya 6 jam sebelum komputer dikirim ke pelanggan. Bandingkan dengan perusahaan lain yang harus menyimpan komputer berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum dikirim ke pelanggan.

Masalah pergudangan, keamanan, administrasi, SDM dan lainnya menjadi biaya yang tidak terhindarkan. Biaya ini akan mempengaruhi harga jual. Jika Anda bisa memangkas biaya-biaya tersebut, bisnis Anda akan menjadi sangat kompetitif. Dengan filosofi dan praktek bisnis yang berdasar pada infrastruktur Internet, Dell menjadi sangat perkasa.

Jika ada pesanan komputer untuk Asia Tenggara, proses inilah yang terjadi. Komputer dirakit di Amerika, kemudian di “pick up” oleh Fedex. Fedex mengambil monitor di Mexico dan mengambil keyboard di Malaysia. Baik Mexico maupun Malaysia tahu persis bahwa ada komputer yang siap dikirim, sehingga mereka bisa menyiapkan perangkat pendukungnya lebih dahulu. Kesemua proses berjalan dengan lancar, kita tinggal menerima perangkat komputer yang lengkap dengan peripheralnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? “Information Flow” yang mengalir melalui internetlah penyebabnya.

Demikian getolnya Dell Computer mengeksplorasi, mengeksploitasi dan memanfaatkan Internet, sehingga membuat perusahaan itu menjadi demikian berdaya. Tidak heran jika mereka berslogan sebagai perusahaan yang “Know how e-Works”.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Sebelum melangkah, perhatikan dahulu nasihat Deborah L Bayles CEO BridgeCommerce, Inc. tentang penerapan e-Logistics di negara berkembang. Di negara berkembang, e-Logistics belum bisa dilaksanakan secara meluas dan efektif karena berbagai masalah yang menghambat penerapan e-Logistics.

Yah, saya setuju dengan Jeff Bezoz, CEO Amazon.com yang berkata, “Di Internet, ide itu gampang, yang sulit adalah melaksanakannya”. Karenanya, lakukanlah langkah-langkah secara bertahap. Bukankah perjalanan 1000 mil harus dimulai dari langkah satu meter pertama?•

Dwi Suryanto •Direktur Marketing, PT Bhakti Wasantara Net (W-net)

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved