oleh
Dwi Suryanto
Hujan sudah mulai mengguyur kota Jakarta, dan banjir sudah
mulai merambah di sebagian wilayah negara kita. Hujan, seperti
difirmankan oleh Tuhan dalam Kitab Sucinya, adalah penimbul
ketakutan dan harapan. Menimbulkan takut, karena sebelum hujan
didahului oleh guruh dan petir. Menggembirakan karena sebentar
lagi turun hujan. Jika pada waktu ada petir kita malah sengaja
berlari-lari di sawah, maka peluang tersambar petir akan besar.
Sebaliknya, hujan yang datang sangat disambut oleh petani
yang lama menunggu turunnya.
Inilah analogi yang bisa menggambarkan fenomena Internet dengan
segenap e-Business, dan e .. e ... lainnya. Internet adalah
gelombang perubahan yang besar. Orang banyak mendebatkan apakah
internet sebuah revolusi atau evolusi. Memprediksi internet
di masa datang, kata seorang pakar e-Business Amerika, adalah
seperti menebak apa yang akan dilakukan oleh Tuhan pada hari-hari
selanjutnya setelah Tuhan menciptakan dunia pada hari Senin.
Internet sebagai kabar gembira, jika kita pandai menunggang
gelombang yang ditimbulkannya. Sekarang ini, internet adalah
“pabrik milyuner”, yang sangat produktif. Orang
yang pandai menangkap peluang saham dotcom, menjadi kaya raya
berkat saham dotcom yang sangat tinggi naiknya. Orang yang
punya naluri tajam tentang peluang internet, dan mampu menangkap
peluang itu, akan menjadi kaya.
Petaka datang. Dotcom berguguran. Banyak orang histeris karena
saham dotcom yang dipegangnya menjadi kertas yang tidak berharga.
Perusahaan banyak yang ambruk dihantam badai internet. Yah,
itulah gelombang, dia naik dan turun. Seninya adalah bukan
hanya mengantisipasi kapan naik atau turun, tapi yang penting
adalah bagaimana “menunggang” gelombang itu.
Aksioma di Internet adalah sebagai berikut. Jika jasa/produk
Anda bisa diubah menjadi bit/digital, maka segera ubahlah.
Jika tidak, maka siap-siaplah bisnis Anda terancam oleh pesaing-pesaing
baru yang luar biasa. Contoh klasiknya adalah toko buku terbesar
di Amerika, Barnes & Nobles yang tiba-tiba mendapati pesaing
yang tangguh, yaitu Amazon.com. Demikian luar biasanya Amazon,
hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun, perusahaan itu mampu
menggeser toko buku raksasa pesaingnya yang sudah berusia
puluhan tahun dan memiliki ratusan outlet, sementara Amazon
“hanya” punya satu web.
Menyadari aksioma ini, pihak banklah yang amat jeli menangkap
aksioma itu menjadi aksi yang nyata. Internet banking, SMS
banking, Virtual banking dan lainnya merupakan wujud dari
sikap tanggap mereka.
Pada industri perposan, dimana banyak layanan yang dapat didigitalkan,
mengalami kedodoran. Menurut laporan dari Current Trends and
Directions in Parcel, Courier and Portal Industries –
April 2002, sebagian besar administrasi pos mengalami kerugian
atau penurunan pendapatan. Mulai dari USPS yang rugi US$ 1,7
Milyar hingga Correo Argentino yang terpaksa minta perlindungan
dari kebangkrutan.
Apa yang dilakukan oleh para administur pos itu? Membuat perubahan
total – Revitalisasi, Restrukturisasi, Reformasi, dan
Transformasi menjadi “buzzword” yang amat akrab
di telinga insan industri pos. Bagaimana dengan Pos Indonesia?
Pos Indonesia telah siap melaksanakan transformasi bisnisnya
yang dimulai tahun 2003 ini. Mari kita tunggu hasil pergulatan
BUMN ini dalam mengatasi gelombang Internet ini.
Dell Computer (www.dell.com) adalah perusahaan yang sukses
mengeksploitasi e-Logistics. Dengan jaringan “Value
Web” yang menghubungkan perusahaan dengan banyak pemasok
komponen komputer, perusahaan ini mampu menekan “inventory
time” hanya 6 jam sebelum komputer dikirim ke pelanggan.
Bandingkan dengan perusahaan lain yang harus menyimpan komputer
berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum dikirim ke pelanggan.
Masalah pergudangan, keamanan, administrasi, SDM dan lainnya
menjadi biaya yang tidak terhindarkan. Biaya ini akan mempengaruhi
harga jual. Jika Anda bisa memangkas biaya-biaya tersebut,
bisnis Anda akan menjadi sangat kompetitif. Dengan filosofi
dan praktek bisnis yang berdasar pada infrastruktur Internet,
Dell menjadi sangat perkasa.
Jika ada pesanan komputer untuk Asia Tenggara, proses inilah
yang terjadi. Komputer dirakit di Amerika, kemudian di “pick
up” oleh Fedex. Fedex mengambil monitor di Mexico dan
mengambil keyboard di Malaysia. Baik Mexico maupun Malaysia
tahu persis bahwa ada komputer yang siap dikirim, sehingga
mereka bisa menyiapkan perangkat pendukungnya lebih dahulu.
Kesemua proses berjalan dengan lancar, kita tinggal menerima
perangkat komputer yang lengkap dengan peripheralnya. Mengapa
hal itu bisa terjadi? “Information Flow” yang
mengalir melalui internetlah penyebabnya.
Demikian getolnya Dell Computer mengeksplorasi, mengeksploitasi
dan memanfaatkan Internet, sehingga membuat perusahaan itu
menjadi demikian berdaya. Tidak heran jika mereka berslogan
sebagai perusahaan yang “Know how e-Works”.
Bagaimana dengan kita di Indonesia? Sebelum melangkah, perhatikan
dahulu nasihat Deborah L Bayles CEO BridgeCommerce, Inc. tentang
penerapan e-Logistics di negara berkembang. Di negara berkembang,
e-Logistics belum bisa dilaksanakan secara meluas dan efektif
karena berbagai masalah yang menghambat penerapan e-Logistics.
Yah, saya setuju dengan Jeff Bezoz, CEO Amazon.com yang berkata,
“Di Internet, ide itu gampang, yang sulit adalah melaksanakannya”.
Karenanya, lakukanlah langkah-langkah secara bertahap. Bukankah
perjalanan 1000 mil harus dimulai dari langkah satu meter
pertama?•
Dwi Suryanto •Direktur
Marketing, PT Bhakti Wasantara Net (W-net)
|