Columns Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Strategi Divide et Impera di United Parcel Service

 

oleh Agus Pracoyo

e-Commerce tidak hanya mengubah cara suatu barang dijual, tetapi juga bagaimana barang tersebut dikirim. Salah satu ciri e-commerce yang membuat logistik tradisional harus diubah adalah kebutuhan akan pengiriman lebih sulit diprediksi dan tidak stabil, karena bermacamnya tipe pelanggan yang berasal dari daerah yang tersebar.

Untuk menyiasatinya, kolaborasi dengan pihak lain menjadi kata kunci dalam menurunkan biaya pengiriman, tetapi dengan tetap menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan. Cara ini yang juga digunakan Silicon Graphics, Inc (SGI) untuk meningkatkan performansinya dengan menyerahkan urusan logistiknya pada DHL, sementara SGI memokuskan diri pada bisnis intinya. Alhasil SGI dapat menekan waktu engineering sebesar 10% dan investasi inventorinya sebesar 30%. Tetapi, kolaborasi merupakan pisau bermata dua, dimana sisi lainnya mengharuskan perusahaan untuk berbagi (share) informasi dengan pihak lain.

Divide et Impera

Tentunya hanya informasi yang dibutuhkan pelangan saja yang diberikan, setelah sebelumnya melewati proses ekstraksi dari database, pengolahan dan penyaringan oleh aplikasi back-office. Satu strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk memproteksi informasi dalam berkolaborasi adalah strategi divide et impera, strategi yang digunakan penjajah Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Inti strategi ini adalah pelajari alur informasi, identifikasi komponennya, pecah dan kuasai. Dalam alur informasi e-commerce, secara garis besar dapat dipecah menjadi beberapa komponen, yaitu pelanggan/mitra kerja, jalur komunikasi/ internet , aplikasi front-end, aplikasi back-office dan database, seperti terlihat pada diagram berikut.

Pelanggan/Mitra Kerja
Salah satu permasalahan utama pada komponen ini adalah verifikasi identitas pelanggan/mitra kerja. Menurut survei yang dilakukan oleh Experian, pencurian identitas mengambil porsi 43% dari keseluruhan kejahatan on-line. Autentikasi dengan mengandalkan User name dan Password dirasakan tidak cukup bagi beberapa perusahaan, sehingga mereka perlu menambahkan autentikasi tambahan seperti yang dilakukan oleh BCA dengan keyBCA-nya. Tetapi, cara ini hanya dapat diterapkan untuk model B2C (business to customer) dan agak susah diterapkan pada model B2B (business to business), karena pada B2B antar perusahaan sifatnya setara. Karenanya, akan sulit meminta suatu perusahaan untuk mengikuti cara yang ditetapkan oleh perusahaan lain.

Pilihan autentikasi lain dalam B2B adalah dengan menerapkan teknologi Public Key Infrastructure dan masing-masing public key perusahaan terdaftar dan disahkan oleh badan Certification Authority (dapat dianalogikan sebagai notaris dalam transaksi dunia nyata) yang dipercaya oleh keduanya.

Internet

Internet adalah media yang tidak dapat dikontrol, dalam arti suatu perusahaan tidak dapat mencegah orang untuk menangkap informasi yang dikirim. Satu cara untuk mengeliminir hal itu adalah dengan melakukan enkripsi untuk informasi yang sensitif, sehingga walaupun orang dapat menangkap informasi yang dikirim tetapi tidak dapat (mudah) dibaca.

Hal yang perlu diperhatikan dalam enkripsi ini adalah metode yang digunakan untuk melakukan enkripsi harus sama antara kedua belah pihak. Selain itu, beberapa negara mempunyai aturan khusus dalam masalah panjang kunci (key) yang diperbolehkan dalam melakukan enkripsi. Karena itu, sedapat mungkin sistem enkripsi yang diterapkan menggunakan protokol standar, seperti IPSec dan fleksibel dalam menerima ukuran key yang berbeda.

Media Internet juga rawan terhadap Denial of Service Attack (DOS), suatu serangan yang bertujuan agar sistem layanan perusahaan tidak tersedia untuk orang yang sebenarnya ingin menggunakan. Salah satu cara yang biasa dilakukan para hackers adalah dengan membuat jalur ke Internet menjadi penuh oleh paket-paket yang tidak berguna. Dua tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi serangan ini, pertama monitor sedini mungkin serangan DOS. Kedua, bekerjasama dengan Internet Service Provider (ISP) untuk memblok paket DOS tersebut sebelum membebani jaringan.

Front-End/Web
Aplikasi front-end, seperti aplikasi web, merupakan layanan yang diperuntukkan bagi pelanggan/mitra kerja untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Namun tidak bisa dihindari, bahwa web server ini juga dapat diakses oleh orang lain selain pelanggan, karena umumnya proses autentikasi dilakukan setelah pelanggan akses ke web server. Oleh karena itu, web server merupakan basis pertahanan pertama yang harus dijaga.

Proteksi yang perlu dilakukan terhadap web server adalah pertama, membatasi akses ke web server hanya untuk layanan yang disediakan; hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan Firewall. Kedua, melakukan pengamanan terhadap web server itu sendiri; umumnya vendor mempunyai tips dalam melakukan pengamanan produknya dan menyediakan security patch (modul untuk peningkatan keamanan) guna mengatasi persoalan/isu keaman tertentu.

Selain itu, langkah ketiga yang perlu dikerjakan adalah monitoring terhadap serangan (intrusion) dengan menerapkan sistem deteksi serangan (intrusion detection system/IDS). IDS akan sangat membantu untuk mempercepat identifikasi ganguan keamanan.

Aplikasi Back-Office
Aplikasi back-office merupakan cerminan proses bisnis suatu perusahaan. Untuk itu, web server perlu dipisahkan dari aplikasi back-office dan akses kontrol perlu diimplementasikan di antaranya. Tujuannya untuk mempersulit hackers akses langsung ke aplikasi back office seandainya web server dapat dipenetrasi. Disamping itu, langkah-langkah pengamanan seperti yang diterapkan pada web server perlu juga dilakukan terhadap aplikasi back-office.

Database
Komponen ini umumnya menempati urutan pertama dalam daftar risiko aset informasi. Ironisnya, berdasarkan pengalaman penulis, banyak perusahaan hanya memokuskan pada proteksi server webnya saja. Mereka merasa aman kalau tampilan webnya tidak dapat diubah hackers. Hacker yang bertujuan untuk mengubah tampilan web biasanya hacker dengan motif mencari popularitas, sedang hacker dengan motif finansial, akan menghilangkan jejaknya sehingga tidak mudah dideteksi.

Dengan strategi divide et impera ini, hacker akan lebih sulit menembus pertahanan database, karena mereka harus melewati beberapa lapisan di atasnya. Melalui penerapan strategi ini, berarti pula perlunya pengawasan ekstra dari perusahaan, terutama pada lapisan-lapisan yang lebih dalam. Dengan begitu, secara konsisten dan komprehensif semua lapisan akan menjadi ‘tameng’ bagi penjagaan keamanan database perusahaan, yang tidak mudah ditembus.•

Agus Pracoyo • channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved