Dalam
upaya meningkatkan efisiensi kegiatan operasional mereka,
khususnya supaya dapat memberikan customer service yang “ciamik”,
semakin banyak perusahaan yang saat ini sedang mengembangkan
penerapan e-Logistics. Bentuknya terpusat pada pengintegrasian
order entry dan sistem inventori mereka, baik ke hulu dengan
pihak-pihak pemasok, maupun ke hilir dengan pihak-pihak pelanggan
mereka. Integrasi hulu-hilir ini tidak lain maksudnya adalah
untuk mendukung pertukaran informasi secara realtime guna
kepentingan perampingan proses produksi, pengurangan inventori
dan optimalisasi efisiensi biaya.
Pernyataan di atas adalah inti dari konsep e-Logistics, sebuah
nama yang makin populer di blantika teknologi dan sistem informasi.
Beberapa istilah lain dengan makna yang nyaris serupa juga
seringkali ditemui, misalnya supply-chain management, supply-chain
integration, just-in-time inventory, dll. Penerapannya dapat
ditemui di berbagai industri, mulai dari berbagai jejaring
pemasaran ritel, automotive & industrial manufacturing,
produksi dan distribusi bahan kimia dan energi, dan sebagainya.
Walaupun menjanjikan, penerapan konsep ini bukannya tanpa
masalah. Mulai dari pengelolaan hubungan dengan perusahaan
lain yang akan menjadi bagian dari jejaring e-Logistics ini,
pemilihan teknologi informasi yang akan digunakan, integrasinya
ke dalam sistem masing-masing perusahaan sampai ke penerapan
dan uji-cobanya, semuanya memerlukan kerjasama yang tidak
sederhana.
Yang Ingin Dicapai
Tujuan pengembangan e-Logistics yang disebutkan di atas hanya
akan dapat dicapai, apabila dapat diterapkan solusi-solusi
yang:
• Menghubungkan karyawan, proses dan sumberdaya yang
tersebar dalam waktu yang relatip singkat sekali. Jadi bukannya
dalam waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, melainkan
dalam bilangan hari atau minggu.
• Sejauh mungkin tidak memaksa para karyawan bekerja
dengan cara berbeda sekali dibandingkan sebelumnya. Sedapatnya,
akan ideal sekali bila mereka dimungkinkan untuk tetap memanfaatkan
perangkat komputer, termasuk sistem aplikasinya, seperti yang
digunakan sebelumnya.
• Menjamin perlindungan atas data perusahaan yang sensitip
dan atas rancangan proses-proses bisnis yang digunakan.
• Memastikan bahwa informasi yang beredar di jejaring
adalah yang termutakhir dan lengkap, serta menjamin ketersediaannya
bagi pihak-pihak yang berkewenangan dan memerlukannya.
• Mendukung para karyawan mobile, yang karena tugas-tugasnya
beralih dari satu lokasi ke lokasi lainnya, dengan memungkinkan
akses melalui berbagai end-user devices, termasuk telepon
selular dan PDAs (Personal Digital Assistants)
Strategi Pengembangan e-Logistics
Mungkin komponen strategi yang paling hakiki disini adalah
menentukan sistem pasokan yang akan diotomatisasikan, dan
pihak-pihak mana saja di luar perusahaan kita yang akan masuk
ke dalam jejaring. Logikanya adalah e-Logistics relatip lebih
mudah dikembangkan ke hulu ketimbang ke hilir. Para penjual
pasokan akan lebih mudah diajak mengembangkan sistem ini ketimbang
para pembeli produk atau layanan kita, kecuali apabila perusahaan
kita memegang monopoli atau merupakan preferred supplier yang
sukar tersaingi.
Komponen kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah penentuan
mengenai besaran waktu, sumberdaya dan dana yang akan dimobilisasikan
untuk pengembangan ini. Ketiga besaran ini saling mempengaruhi.
Pengetatan waktu misalnya, akan meningkatkan kebutuhan akan
sumberdaya dan dana. Sebaliknya, pengetatan dana akan mengurangi
sumberdaya yang dapat dimobilisasikan dan kemungkinan besar
akan memperpanjang waktu penyelesaian.
Dalam hal ini, sumberdaya disini antara lain mencakup personil
serta teknologi dan segala kelengkapannya. Karena ketiga besaran
ini selalu terbatas, perusahaan perlu menentukan besaran yang
mana yang digunakan sebagai pembatas utama. Seperti laiknya
kegiatan penerapan dan pengembangan teknologi informasi yang
strategis sifatnya, umumnya dipilih waktu sebagai besaran
pembatas. Artinya, penerapan e-Logistics yang mematok waktu
penerapan dengan ketat dan mengatur kedua besaran lainnya,
umumnya berhasil memperoleh hasil yang paling optimal.
Beberapa Teknik e-Logistics
Sejak beberapa tahun yang lalu, paling tidak ada 3 teknik
yang kemudian berkembang dan menjadi mapan, masing-masing
unsecured email, plain integration dan yang terakhir: collaborative
web services. Teknik yang pertama, yang telah mulai dikembangkan
sejak email menjadi popular, sangat mudah dikembangkan namun
tidak aman. Bukan saja karena dapat dengan mudah bocor ke
pihak-pihak yang tidak berhak, juga karena sukar ditelusuri
dan di-audit apabila diperlukan.
Teknik yang kedua, plain integration, memerlukan waktu, dana
dan sumberdaya dalam jumlah yang relatip besar. Memadukan
sistem informasi dalam satu perusahaan saja sudah tidak mudah
dilakukan, apalagi mengintegrasikan komputerisasi proses bisnis
lintas-perusahaan. Teknik ini sudah tidak jamak ditemukan,
dan kalaupun ada, cenderung ditinggal di tengah jalan karena
tidak kunjung selesai.
Collaborative web services, teknik yang cukup populer akhir-akhir
ini, memang berbasis teknologi web, sehingga dapat diakses
oleh banyak pihak yang bekerja di berbagai lokasi dan melintasi
berbagai firewalls, namun cukup secure. Karena pola kolaborasi
ini dapat diterapkan dengan keterhubungan yang cukup “ketat”
dan dipadukan ke dalam aplikasi yang digunakan karyawan pada
sebuah perusahaan, teknik ini tidak memaksakan sebuah perubahan
yang traumatik pada pola kerja karyawan. Yang terpenting dari
teknik ini adalah bahwa para karyawan di perusahaan-perusahaan
yang terkait akan dapat bertukar informasi secara lebih langsung,
tanpa harus di-route melalui aplikasi-aplikasi di sebuah sentral.
Akibatnya, sistem terasa lebih “alami” dan lebih
mudah diterima oleh para karyawan.
Mungkin yang paling hakiki dalam penerapan sebuah sistem e-Logistics
bukanlah aspek teknisnya semata-mata, akan tetapi lebih pada
aspek mudah-pakai yang meringankan beban para karyawan yang
harus melampaui masa transisi dalam tahap penerapannya. Buy-in
di kalangan karyawan penting sekali, karena bukankah karyawan
kita jugalah yang menentukan sukses tidaknya penerapan sebuah
teknologi?
Kiat Percepatan Implementasi
e-Logistics
Sekali keputusan untuk menerapkan e-Logistics diambil, maka
sebaiknya pengembangan dan implementasinya dilakukan dalam
waktu sesingkat mungkin. Masalahnya, seperti laiknya sebuah
investasi teknologi informasi, otomatisasi rantai-pasok yang
berkepanjangan implementasinya akan sangat memperlambat realisasi
ROI (Return on Investment). Kerugian akan terjadi bukan saja
karena depresiasi yang kian menggerogoti nilai aset sistem
e-Logistics tersebut, melainkan antara lain juga karena lewatnya
kesempatan untuk memanfaatkan sistem tersebut untuk bersaing
dan mencetak laba.
Dalam kaitan ini, perlu disimak kumpulan gagasan percepatan
implementasi yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan
pemasok sistem supply chain management, seperti SAP dan Tecsys.
Yang disebut terakhir ini, melalui sebuah makalah yang ditulis
oleh Mary Bennet, seorang konsultan yang bekerja di sana,
menyebutkan tahap-tahap penerapan yang mencakup: Perencanaan,
Implementasi, Validasi, Go-Live, dan Pasca-Implementasi.•
Jos Luhukay •
Partner pada Ernst & Young Indonesia serta pengamat dan
praktisi ekonomi baru.
|