Asia Highlights Volume I Nomor 05 - Maret 2003
MALAYSIA

MSC Diminati Perusahaan Multinasional

Ambisi Malaysia untuk menjadi hub Teknologi Iinformasi (TI) terkemuka di kawasan Asia tampaknya pelan-pelan mulai terwujud. Saat ini saja, jumlah perusahaan multinasional global yang melirik Multimedia Super Corridor (MSC) Malaysia sebagai basis regional atau global untuk layanan dukungan pelanggan dan operasional, termasuk data dan call center, semakin meningkat.

Kini MSC menampung sekitar 11 perusahaan multinasional yang mengoperasikan pusat data atau call center-nya, antara lain perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DHL, Shell dan British American Tobacco. Sebagian besar fasilitas ini berlokasi di Cyberjaya, “kota pintar” baru di selatan Kuala Lumpur, yang menjadi urat nadi MSC.

Besarnya minat perusahaan multinasional tersebut, menurut menteri Energi, Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Leo Moggie adalah berkat fasilitas infrastruktur dan insentif yang diberikan perusahaan-perusahaan berstatus MSC.
“Kami memberikan insentif paling atraktif di wilayah ini untuk menjamin daya saing Malaysia sebagai data center regional maupun global,” ujar Moggie.

Kehadiran perusahaan multinasional juga dipandang sebagai faktor kunci dalam menarik minat luar negeri. Lima perusahaan baru telah diberikan status MSC tahun ini untuk mendirikan data atau call center-nya sendiri, dan menyediakan layanan outsourcing untuk wilayah tersebut, ujar pejabat Multimedia Development Corporation, yang mengawasi pengembangan MSC.

Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain perusahaan pakan ternak terkemuka dunia, Cargill, yang berencana mengoperasikan pengembangan ERP (Enterprise Resource Planning) dan support center, sebuah hub telekomunikasi dan TI, serta pusat pemrosesan voucher. Selain itu, ada pula raksasa perbankan HSBC, yang akan mendirikan group service center yang melayani berbagai fungsi korporat, antara lain pemrosesan layanan finansial, sebuah call center dan sebuah pusat layanan darurat (contingency center).

Scicom, perusahaan penyedia dokumen digital dan aplikasi bisnis asal AS juga mengumumkan rencananya membuka fasilitas call center baru di Cyberjaya, sehingga kapasitasnya total call center-nya mencapai 1.500 seats, itu di Malaysia saja. Call center terakhir yang dibangun Scicom senilai 1,5 juta dolar kini menangani operasi dukungan pelanggan Nokia Careline untuk sembilan negara di wilayah Asia-Pacific, termasuk di antaranya Malaysia, Korsel dan Selandia Baru. Sementara Satyam, perusahaan TI India serta BMW dikabarkan juga mengikuti jejak langkah perusahaan-perusahaan di atas.
Menurut Moggie, industri outsourcing contact center ini diramalkan akan tumbuh dari 47,89 juta dolar tahun 2002 menjadi 59,78 juta dolar pada 2003.•

KOREA

Produk TI Korea Membanjiri Pasar Jepang


Kemajuan perusahaan piranti lunak Korea seperti ditunjukkan Samsung SDS yang berani terjun ke pasar ERP internasional dengan Bizentro ERP-nya rupanya mengilhami perusahaan-perusahaan TI menengah untuk berani terjun ke pasar internasional, paling tidak untuk wilayah Asia.

Sejak awal 2002, perusahaan-perusahaan teknologi informasi kelas menengah negeri ginseng ini telah memasuki pasar Jepang dengan agresif, sehingga bisnisnya semakin maju dan bahkan mengalahkan pesaing-pesaingnya dari Jepang.

NC Soft Corp, developer game Korea adalah contoh dari perusahaan jenis ini. Dengan mendirikan NC Japan KK, yang berbasis di Megura Ward, Tokyo, perusahaan Korea ini membawa game network terbesar dunia bernama “Lineage” ke Jepang. Game multiplayer ini dimainkan melalui PC dan sirkuit broadband dan sangat populer di Korea, dimana sekitar enam juta orang terdaftar sebagai anggota sejak game online ini diluncurkan tahun 1998.

Namun demikian, sebagian besar penyedia game di Jepang berpendapat bahwa mengandalkan layanan broadband untuk perumahan saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan network games. Bahkan, di Jepang hanya game “Phantasy Star On-line” (PSO) yang disediakan Sega Enterprise Ltd. saja yang bisa dikatakan berhasil.

Hal ini tidak mencegah NC Japan untuk menggarap pasar Jepang. Dengan cerdik, NC Japan mulai menggarap warung-warung internet yang dilengkapi sejumlah PC dengan koneksi broadband. Warung internet atau internet café yang ditunjuk NC Japan diminta untuk membayar sejumlah kecil biaya lisensi berdasarkan sistem pay-by-volume, namun para pemain yang mengunjungi warnet dapat menikmati permainan Lineage tanpa dipungut biaya.

Dengan cara ini, warnet-warnet tersebut diuntungkan dengan bertambahnya pelanggan, dengan pendapatan yang jauh melebihi biaya lisensinya. Dengan kata lain, NC Japan turut mendukung perkembangan pasar warnet Jepang dengan meningkatkan jumlah pelanggan yang mengunjungi warnet-warnet tersebut.

“Kini kami memiliki sekitar 270.000 anggota yang terdaftar dan sekitar 80.000 pengunjung tetap ke Lineage di Jepang,” ujar presiden NC Japan, Tsuguo Nobe. “Kami pun berharap dapat meningkatkan jumlah kafe internet resmi menjadi lebih 600 buah dan tambahan sekitar 30.000 orang pengguna tetap Lineage di warnet-warnet sampai September 2003 mendatang,” tambah Nobe dengan yakin.

NC Soft bukanlah satu-satunya perusahaan TI Korea yang aktif menggarap pasar Jepang. Ahnlab, Inc., perusahaan pembuat software anti-virus terkemuka terkemuka Korea adalah contoh perusahaan lain yang mencoba mengadu nasib di Jepang. Perusahaan ini sendiri menguasai 65 persen pasar Korea.

Dengan menggandeng Chiyoda Ward (milik grup Chiyoda Corp.), sebuah perusahaan trading yang mengkhususkan diri dalam fasilitas sistem informasi dan industri, Ahnlab mencoba merambah pasar software anti virus Jepang.

Menurut pihak Chiyoda, Ahnlab akan melempar ke pasar “V3 Virus Block,” sebuah software anti virus pada akhir November dan memulai layanan anti-virus untuk konsumen korporat yang dinamakan “VBS”. Untuk yang terakhir ini, Ahnlab menggandeng sekitar 50 perusahaan sebagai sales partner sebelum tahun ini berakhir.

Charles Ahn, presiden dan CEO Ahnlab yakin dapat meraup pangsa pasar yang cukup besar di Jepang. “Produk kami yang berkualitas tinggi, ditambah layanan yang baik dan tingkat kepercayaan yang dibangun oleh rekanan kami, Chiyoda akan melampaui para pesaing kami dari Jepang sendiri,” ujar Ahn.

Sebagian besar perusahaan TI Jepang, mulai dari yang kecil sampai besar kini tengah mengalami kesulitan, dan masih enggan untuk mengucurkan investasi yang besar. Namun sepanjang mereka masih mempertahankan sikap seperti itu, bisa jadi perusahaan AS atau Korea-lah yang bakal menguasai sebagian besar pasar Jepang.•

VIETNAM

Vietnam Luncurkan Layanan Nirkabel


Vietnam Post and Telecommunications (VNPT), penyedia jasa telekomunikasi terbesar milik pemerintah Januari lalu secara resmi meluncurkan layanan sistem nirkabel Personal Access System berbasis IP pertama di Vietnam.

VNPT sendiri telah mengaktifkan Cityphone Service berbasis platform iPAS yang dikembangkan UTStarcom di ibukota Vietnam Hanoi sejak Desember 2002 lalu. VNPT juga akan meluncurkan Cityphone Service akhir Januari lalu di Ho Chi Minh City. Nilai kontrak untuk mendirikan layanan iPAS di kedua kota ini sekitar 20 juta dolar. Setelah peluncuran ini, dikabarkan VNPT dan Kementrian Komunikasi Vietnam mulai bersiap-siap menerapkan iPAS di berbagai kota lainnya di Vietnam.

Layanan Cityphone itu sendiri terdiri dari dua aplikasi, telepon tetap nirkabel dan telepon bergerak nirkabel lokal, yang cocok untuk layanan lokal di wilayah dengan kepadatan penduduknya tinggi. Selain menyediakan layanan suara dan value-added voice services, seperti voice mail dan call forwarding, Cityphone tidak lama lagi akan menyertakan layanan suara dan data lainnya seperti SMS, MMS, download musik, dan bahkan akses Internet dengan kecepatan 64 kbps.

Menurut Tim Donovan, direktur pemasaran internasional UTStarcom, VNPT memilih iPAS karena solusi ini cocok dengan kondisi perkotaan Vietnam, dimana sebagian besar penduduknya tinggal dan bekerja di satu area, sehingga jarang membutuhkan kapabilitas roaming jarak-jauh. Namun demikian, mereka tetap menginginkan opsi mobilitas di dalam wilayah kota mereka (local loop) dan tidak ingin terpaku dengan telepon rumah mereka.

Biaya implementasi yang relatif jauh lebih murah dibandingkan sistem makro-seluler berbasis GSM atau CDMA juga menjadi alasan mengapa VNPT menggunakan sistem iPAS. “Tidak seperti sistem seluler berbasis GSM dan CDMA, iPAS menggunakan stasiun-stasiun mikro-seluler (CS) yang memberikan penghematan biaya yang besar dan memungkinkan kami menawarkan layanan bergerak berkualitas tinggi dengan harga jauh lebih rendah,” jelas Hoang Thanh Chung, deputi direktur VNPT untuk wilayah Hanoi. “Kini, kami sudah dapat memenuhi kebutuhan komunikasi para pelanggan yang tidak ingin membayar biaya bulanan yang tinggi untuk layanan roaming nasional, yang sebenarnya mereka tidak butuhkan.”•


Go to next page
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved