DI
lantai 12 di sebuah gedung di kawasan Sudirman Jakarta Pusat,
puluhan anak muda berkantor. Mereka nampak tekun mengotak-atik
keyboard komputer. Santai tapi serius. Itulah kantor PT Meitraco
Bahana Sejahtera (Trabas), salah satu pengembang software
(software house) lokal. Perusahaan yang didirikan oleh empat
sekawan, Rheza Sutedja, Perry Ismangil, Arie Dhiartanto dan
Antonius Blantaran deRozari, di Bandung pada Oktober 1995
itu sejak 1998 menahbiskan diri sebagai software house berbasis
Linux. Dengan modal Rp 13 juta hasil patungan, semula mereka
mengerjakan apa pun proyek yang ada. “Namun, kami terus
bermimpi punya produk sendiri,” kata Rheza Sutedja.
Managing Director Trabas itu mengakui jika sejak awal pihaknya
sudah kesengsem pada Linux. Mengapa? Tak lain karena Linux
–karena sifatnya open source—memberikan akses
sampai ke source-code-nya, sehingga mudah disesuaikan dengan
kebutuhan Trabas. Dengan modal “mimpi” itulah
akhirnya pada pertengahan tahun 1997 Trabas berhasil merampungkan
produk pertama Linux mereka, namanya X-Office. Saat itu, dunia
Linux sebetulnya masih sangat teknis. Tapi dengan sentuhan
ide dan tangan-tangan dingin, Trabas mengemasnya dalam bentuk
yang lebih mudah digunakan.
Tidak heran, jika di tahun-tahun awal itu, X-Office diminati
oleh perusahaan yang membutuhkan fungsi-fungsi yang tidak
dapat disediakan oleh software proprietary yang ada di pasar.
Yang paling menarik pasar, kata Rheza, karena tidak adanya
pembatasan pengguna dan sistem e-mail yang fleksibel, sebagaimana
pada software proprietary. Yang paling penting, interoperasinya
yang sangat baik dengan platform lain menyebabkan mudahnya
pengimplementasian X-Office di sistem yang telah ada. Bahkan
pada beberapa kasus, X-Office justru digunakan sebagai penghubung
antar sistem proprietary. “Ditambah dengan harga yang
rendah dibandingkan dengan software proprietary, orang punya
keberanian untuk mencoba produk yang sebetulnya belum dikenal,”
kata Rheza.
Kini, para pendiri Trabas boleh berbangga diri. Perusahaan
ini telah membuka kantor di Jakarta. Saat ini total karyawan
Trabas mencapai 30 orang. Semua itu tidak luput dari perkembangan
Linux yang semakin dikenal publik. Di usia-usia awal, Trabas
harus berhadapan dengan ketidaktahuan pasar tentang Linux.
Kesan yang muncul pun negatif: “murah berarti tidak
bermutu”. Kini, banyak perusahaan yang semakin terbuka
terhadap option Linux. “Bahkan, permintaan masuk sendiri
ke Trabas,” papar Rheza.
Trabas boleh dibilang sebagai salah satu generasi awal software
house lokal berbasis Linux. Perusahaan semacam ini, kata “bapak
Linux Indonesia” Made Wiryana, tumbuh seiring diadopsinya
Linux di Indonesia, yaitu sekitar tahun 1994-1995. Misalnya,
saat itu BPPT menggunakan Indointernet sebagai infrastrukturnya.
Bisa jadi saat itu belum ada software house yang berorientasi
bisnis, tapi semata-mata untuk keperluan sendiri. Ketika Linux
mulai populer di dunia, sekitar tahun 1998, software house
lokal berbasis Linux mulai marak. Tidak hanya Trabas, tapi
juga ada RAB (dengan aplikasi rumah sakit, Point of Sales),
Powernet (aplikasi web hosting), BKM (dengan beberapa aplikasi
e-commerce, termasuk aplikasi Public Key Infrastructrure),
Trustix (dengan aplikasi Xsentry Firewall, XPloy), eBdesk
(software corporate portal dan Content Management System/CMS).
Menurut Made, munculnya software house ini didorong oleh empat
faktor, yaitu ingin belajar, untuk memenuhi kebutuhan sendiri,
adanya permintaan pasar dan minimnya software tersebut di
dunia Linux. Hal terakhir ini dipandang sebagai kesempatan/peluang.
“Jadi, Linux terbentuk bukan karena market driven software,”
kata pria yang bermukim di Jerman itu. Rheza Sutedja pun berpendapat
senada. Menurutnya, pada tahap awal, software house-lah yang
kreatif menciptakan produk, baru dipasarkan. Tahap berikutnya,
produk yang mereka ciptakan lebih banyak didorong oleh permintaan
pengguna/pasar.
Bak gayung bersambut, kata Made, pasar sendiri cenderung menghindari
software closed source. Selain lisensinya mahal, software
closed source tidak mudah dikustomisasi. Di sisi lain, sistem
operasi (OS) Linux terbukti cukup handal, terutama untuk kelas
server. Untuk aplikasi dekstop, misalnya masalah virus, Linux
pun relatif aman. “Di masa depan, Linux akan memberikan
alternatif yang kuat, terutama di bidang sistem operasi,”
kata Sofyan, Managing Director RIMBALinux, software house
lokal berbasis Linux yang baru berdiri Agustus 2002 lalu.
Pers dan dukungan sejumlah vendor besar dunia terhadap Linux,
baik software maupun hardware, kata Rheza, juga punya andil
yang tidak kecil. Misalnya, boom Linux di Indonesia tahun
1999 didorong oleh publikasi Oracle, Compaq, IBM dan HP bahwa
produk-produk mereka bisa digunakan pada platform Linux.
 |
| Ridwan Prasetyarto, CEO eBdesk
Indonesia. |
Pendapat agak netral dikemukakan CEO eBdesk Indonesia Ridwan
Prasetyarto. Menurut Ridwan, sebenarnya tidak persis benar
pasar meminta Linux. Yang lebih pas, pasar cenderung selalu
meminta solusi yang lebih baik dengan harga semurah mungkin.
“Kebetulan sekali Linux memberikan sebagian jawaban
atas solusi yang lebih baik dan jelas murah harganya,”
katanya. Pergeseran ke arah Linux juga dipicu oleh strategi
dagang kompetitor Microsoft yang selalu mencari jalan untuk
mengalahkan perusahaan milik Bill Gates itu dengan cara apa
pun. Wujudnya, IBM, Sun, Oracle, dan hampir semua vendor hardware
memberikan dukungan teknis dan marketing ke Linux.
Tidak heran, jika software house lokal berbasis Linux kini
pun semakin marak, terutama untuk aplikasi web. Kian maraknya
penggunaan bahasa “PHP” juga membuat banyak aplikasi,
situs e-Government, sistem billing dan aplikasi untuk hotel
dikembangkan dengan berbasiskan Linux. Bahkan, menurut Made,
gateway WAP (wireless application protocol) dan SMS (short
message service) di Indonesia juga dibangun berbasiskan Linux.
Salah satu operator telekomunikasi, PT TELKOM, juga banyak
mengembangan aplikasi berbasiskan Linux, misalnya untuk aplikasi
real time menggunakan RT-Linux.
Trabas sendiri menawarkan solusi berbasiskan Linux yang cukup
lumayan. Ada Solusi Backoffice (meliputi aplikasi keuangan,
aplikasi inventory, aplikasi penggajian dan aplikasi sales
automation). Karena solusi Trabas Backoffice berbasiskan web,
ini akan membantu perusahaan yang memiliki banyak cabang di
berbagai lokasi, multi currency, bahkan multi company. Ada
juga Solusi Knowledge Management (aplikasi portal perusahaan,
aplikasi manajemen website, aplikasi perpustakaan), Solusi
khusus Trabas IP Billing (sistem manajemen pelanggan dan penagihan
untuk penyedia jasa internet dan jasa telekomunikasi lainnya)
dan Solusi Jaringan (software server untuk Internet/Intranet
dengan berbagai fungsinya dan jasa internetworking). Semua
produk Trabas, kata Rheza, dilengkapi dengan jasa konsultasi,
pelatihan dan support.
Beda lagi dengan eBdesk. Perusahaan yang berdiri tahun 1999
yang dibuat secara khusus untuk riset dan marketing product
software itu sejak awal tidak memosisikan diri sebagai Linux
developer. Produk pertama eBdesk corporate portal versi 3
memang berbasiskan Linux, tapi eBdesk sendiri lebih fokus
ke product development yang multiplatform. Contohnya, saat
ini ada eXpander corporate portal for Windows server, terus
eXpedition Workflow yang multiplatform, kemudian yang terbaru
Knowledge Management, juga multiplatform. Menurut Ridwan,
yang penting adalah solusi produk, bukan platformnya.
Sejauh ini, solusi Linux di Indonesia yang disediakan software
house lokal belum banyak macamnya. Rata-rata mereka memulai
dengan aplikasi network management dan security, dua sektor
yang memang populer di Linux. Namun, kata Rheza, kini juga
ada solusi dekstop, infrastruktur hingga solusi bisnis, seperti
keuangan atau sistem penagihan. Bahkan, menurut Made Wiryana,
solusi Linux sudah merambah ke router (warnet), firewall,
e-Government, e-Learning hingga Content Syndicate dan Content
Management System (CMS). Tapi masih banyak sektor yang belum
dimasuki. Selain karena belum ada permintaan, Linux sering
dipakai sebagai sistem yang mission critical. “Makanya,
perusahaan pengguna sangat hati-hati sebelum memakainya,”
kata Rheza.
Dibandingkan software closed source, menurut Ridwan, solusi
yang ditawarkan Linux masih belum ada apa-apanya. “Kalah
umur dan kalah penguasaan pasar,” katanya. Apalagi,
standar kini sudah dikuasai oleh Microsoft di OS (operating
system) dekstop dan sudah dibagi-bagi di server oleh Microsoft,
Sun dan IBM. Namun, bagi Rheza Sutedja, meskipun kalah dalam
jumlah dan penguasaan pasar, solusi Linux tidak kalah dalam
kehandalan. Ketertinggalan itu sendiri, kata Rheza, selain
start-nya belakangan, pasar sendiri sudah familiar dengan
sistem berbasis MS Windows. Mungkin itu sebabnya, meskipun
pasar Linux mulai bergairah, software house lokal berbasis
Linux di Jakarta cuma ada sekitar delapan buah. Ujung-ujungnya,
kapitalisasinya juga kecil.
Go to next page
|