Focus Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
Jumlah software house lokal berbasis Linux berikut solusinya belumlah banyak. Selain terkendala sikap pemerintah yang setengah hati, juga maraknya bajakan dan resistensi perguruan tinggi dalam mengajarkan materi Linux.
 
RELATED ARTICLES

Peluang Besar, Ancaman Juga Besar

Menyoal piranti lunak di balik industri software

Ayo Indonesia Kamu Bisa!


Industri TI India: Software Meredup BPO Jadi Primadona
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

DI lantai 12 di sebuah gedung di kawasan Sudirman Jakarta Pusat, puluhan anak muda berkantor. Mereka nampak tekun mengotak-atik keyboard komputer. Santai tapi serius. Itulah kantor PT Meitraco Bahana Sejahtera (Trabas), salah satu pengembang software (software house) lokal. Perusahaan yang didirikan oleh empat sekawan, Rheza Sutedja, Perry Ismangil, Arie Dhiartanto dan Antonius Blantaran deRozari, di Bandung pada Oktober 1995 itu sejak 1998 menahbiskan diri sebagai software house berbasis Linux. Dengan modal Rp 13 juta hasil patungan, semula mereka mengerjakan apa pun proyek yang ada. “Namun, kami terus bermimpi punya produk sendiri,” kata Rheza Sutedja.

Managing Director Trabas itu mengakui jika sejak awal pihaknya sudah kesengsem pada Linux. Mengapa? Tak lain karena Linux –karena sifatnya open source—memberikan akses sampai ke source-code-nya, sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan Trabas. Dengan modal “mimpi” itulah akhirnya pada pertengahan tahun 1997 Trabas berhasil merampungkan produk pertama Linux mereka, namanya X-Office. Saat itu, dunia Linux sebetulnya masih sangat teknis. Tapi dengan sentuhan ide dan tangan-tangan dingin, Trabas mengemasnya dalam bentuk yang lebih mudah digunakan.

Tidak heran, jika di tahun-tahun awal itu, X-Office diminati oleh perusahaan yang membutuhkan fungsi-fungsi yang tidak dapat disediakan oleh software proprietary yang ada di pasar. Yang paling menarik pasar, kata Rheza, karena tidak adanya pembatasan pengguna dan sistem e-mail yang fleksibel, sebagaimana pada software proprietary. Yang paling penting, interoperasinya yang sangat baik dengan platform lain menyebabkan mudahnya pengimplementasian X-Office di sistem yang telah ada. Bahkan pada beberapa kasus, X-Office justru digunakan sebagai penghubung antar sistem proprietary. “Ditambah dengan harga yang rendah dibandingkan dengan software proprietary, orang punya keberanian untuk mencoba produk yang sebetulnya belum dikenal,” kata Rheza.

Kini, para pendiri Trabas boleh berbangga diri. Perusahaan ini telah membuka kantor di Jakarta. Saat ini total karyawan Trabas mencapai 30 orang. Semua itu tidak luput dari perkembangan Linux yang semakin dikenal publik. Di usia-usia awal, Trabas harus berhadapan dengan ketidaktahuan pasar tentang Linux. Kesan yang muncul pun negatif: “murah berarti tidak bermutu”. Kini, banyak perusahaan yang semakin terbuka terhadap option Linux. “Bahkan, permintaan masuk sendiri ke Trabas,” papar Rheza.

Trabas boleh dibilang sebagai salah satu generasi awal software house lokal berbasis Linux. Perusahaan semacam ini, kata “bapak Linux Indonesia” Made Wiryana, tumbuh seiring diadopsinya Linux di Indonesia, yaitu sekitar tahun 1994-1995. Misalnya, saat itu BPPT menggunakan Indointernet sebagai infrastrukturnya. Bisa jadi saat itu belum ada software house yang berorientasi bisnis, tapi semata-mata untuk keperluan sendiri. Ketika Linux mulai populer di dunia, sekitar tahun 1998, software house lokal berbasis Linux mulai marak. Tidak hanya Trabas, tapi juga ada RAB (dengan aplikasi rumah sakit, Point of Sales), Powernet (aplikasi web hosting), BKM (dengan beberapa aplikasi e-commerce, termasuk aplikasi Public Key Infrastructrure), Trustix (dengan aplikasi Xsentry Firewall, XPloy), eBdesk (software corporate portal dan Content Management System/CMS).

Menurut Made, munculnya software house ini didorong oleh empat faktor, yaitu ingin belajar, untuk memenuhi kebutuhan sendiri, adanya permintaan pasar dan minimnya software tersebut di dunia Linux. Hal terakhir ini dipandang sebagai kesempatan/peluang. “Jadi, Linux terbentuk bukan karena market driven software,” kata pria yang bermukim di Jerman itu. Rheza Sutedja pun berpendapat senada. Menurutnya, pada tahap awal, software house-lah yang kreatif menciptakan produk, baru dipasarkan. Tahap berikutnya, produk yang mereka ciptakan lebih banyak didorong oleh permintaan pengguna/pasar.
Bak gayung bersambut, kata Made, pasar sendiri cenderung menghindari software closed source. Selain lisensinya mahal, software closed source tidak mudah dikustomisasi. Di sisi lain, sistem operasi (OS) Linux terbukti cukup handal, terutama untuk kelas server. Untuk aplikasi dekstop, misalnya masalah virus, Linux pun relatif aman. “Di masa depan, Linux akan memberikan alternatif yang kuat, terutama di bidang sistem operasi,” kata Sofyan, Managing Director RIMBALinux, software house lokal berbasis Linux yang baru berdiri Agustus 2002 lalu. Pers dan dukungan sejumlah vendor besar dunia terhadap Linux, baik software maupun hardware, kata Rheza, juga punya andil yang tidak kecil. Misalnya, boom Linux di Indonesia tahun 1999 didorong oleh publikasi Oracle, Compaq, IBM dan HP bahwa produk-produk mereka bisa digunakan pada platform Linux.

Ridwan Prasetyarto, CEO eBdesk Indonesia.

Pendapat agak netral dikemukakan CEO eBdesk Indonesia Ridwan Prasetyarto. Menurut Ridwan, sebenarnya tidak persis benar pasar meminta Linux. Yang lebih pas, pasar cenderung selalu meminta solusi yang lebih baik dengan harga semurah mungkin. “Kebetulan sekali Linux memberikan sebagian jawaban atas solusi yang lebih baik dan jelas murah harganya,” katanya. Pergeseran ke arah Linux juga dipicu oleh strategi dagang kompetitor Microsoft yang selalu mencari jalan untuk mengalahkan perusahaan milik Bill Gates itu dengan cara apa pun. Wujudnya, IBM, Sun, Oracle, dan hampir semua vendor hardware memberikan dukungan teknis dan marketing ke Linux.

Tidak heran, jika software house lokal berbasis Linux kini pun semakin marak, terutama untuk aplikasi web. Kian maraknya penggunaan bahasa “PHP” juga membuat banyak aplikasi, situs e-Government, sistem billing dan aplikasi untuk hotel dikembangkan dengan berbasiskan Linux. Bahkan, menurut Made, gateway WAP (wireless application protocol) dan SMS (short message service) di Indonesia juga dibangun berbasiskan Linux. Salah satu operator telekomunikasi, PT TELKOM, juga banyak mengembangan aplikasi berbasiskan Linux, misalnya untuk aplikasi real time menggunakan RT-Linux.

Trabas sendiri menawarkan solusi berbasiskan Linux yang cukup lumayan. Ada Solusi Backoffice (meliputi aplikasi keuangan, aplikasi inventory, aplikasi penggajian dan aplikasi sales automation). Karena solusi Trabas Backoffice berbasiskan web, ini akan membantu perusahaan yang memiliki banyak cabang di berbagai lokasi, multi currency, bahkan multi company. Ada juga Solusi Knowledge Management (aplikasi portal perusahaan, aplikasi manajemen website, aplikasi perpustakaan), Solusi khusus Trabas IP Billing (sistem manajemen pelanggan dan penagihan untuk penyedia jasa internet dan jasa telekomunikasi lainnya) dan Solusi Jaringan (software server untuk Internet/Intranet dengan berbagai fungsinya dan jasa internetworking). Semua produk Trabas, kata Rheza, dilengkapi dengan jasa konsultasi, pelatihan dan support.

Beda lagi dengan eBdesk. Perusahaan yang berdiri tahun 1999 yang dibuat secara khusus untuk riset dan marketing product software itu sejak awal tidak memosisikan diri sebagai Linux developer. Produk pertama eBdesk corporate portal versi 3 memang berbasiskan Linux, tapi eBdesk sendiri lebih fokus ke product development yang multiplatform. Contohnya, saat ini ada eXpander corporate portal for Windows server, terus eXpedition Workflow yang multiplatform, kemudian yang terbaru Knowledge Management, juga multiplatform. Menurut Ridwan, yang penting adalah solusi produk, bukan platformnya.

Sejauh ini, solusi Linux di Indonesia yang disediakan software house lokal belum banyak macamnya. Rata-rata mereka memulai dengan aplikasi network management dan security, dua sektor yang memang populer di Linux. Namun, kata Rheza, kini juga ada solusi dekstop, infrastruktur hingga solusi bisnis, seperti keuangan atau sistem penagihan. Bahkan, menurut Made Wiryana, solusi Linux sudah merambah ke router (warnet), firewall, e-Government, e-Learning hingga Content Syndicate dan Content Management System (CMS). Tapi masih banyak sektor yang belum dimasuki. Selain karena belum ada permintaan, Linux sering dipakai sebagai sistem yang mission critical. “Makanya, perusahaan pengguna sangat hati-hati sebelum memakainya,” kata Rheza.

Dibandingkan software closed source, menurut Ridwan, solusi yang ditawarkan Linux masih belum ada apa-apanya. “Kalah umur dan kalah penguasaan pasar,” katanya. Apalagi, standar kini sudah dikuasai oleh Microsoft di OS (operating system) dekstop dan sudah dibagi-bagi di server oleh Microsoft, Sun dan IBM. Namun, bagi Rheza Sutedja, meskipun kalah dalam jumlah dan penguasaan pasar, solusi Linux tidak kalah dalam kehandalan. Ketertinggalan itu sendiri, kata Rheza, selain start-nya belakangan, pasar sendiri sudah familiar dengan sistem berbasis MS Windows. Mungkin itu sebabnya, meskipun pasar Linux mulai bergairah, software house lokal berbasis Linux di Jakarta cuma ada sekitar delapan buah. Ujung-ujungnya, kapitalisasinya juga kecil.

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved