Keberhasilan
Bali Camp, menurut Technical Report Indonesia – Information
and Communication Technologies Assessment yang dikeluarkan
PEG-USAID Januari tahun 2001; telah menjadikannya sebagai
contoh dari pengembangan sebuah Software House menjadi Software
Center dan segera direplikasikan. Menurut laporan tersebut,
pada saat itu TobaCamp juga sudah dalam tahap perencanaan.
Sebelumnya Indonesia Software Exchange, DataOn, RisTI Telkom
dan Jatis telah lebih dahulu hadir dan beroperasi. Bahkan
dilaporkan sebuah perusahaan India, LCC Infotech juga tertarik
melihat peluang tersebut.
Keberhasilan Bali Camp mendorong didirikannya Salatiga Camp,
yang bisa dibilang sister company BaliCamp. Salatiga Camp
ini merupakan kerja sama antara Sigma Cipta Caraka, Universitas
Kristen Satya Wacana dan DEG Investment dari Jerman.
Keberhasilan itu tidak banyak mempengaruhi minat pemerintah.
Berbeda dengan pemerintah sebelumnya yang berminat, dan sempat
menelurkan kebijakan yang merangsang tumbuhnya software berbahasa
Indonesia. Pemerintah saat ini lebih terfokus pada masalah-masalah
di luar bidang itu. Akibatnya, banyak praktisi dan pengamat
yang mengeluh tentang kepedulian pemerintah.
Memang ada keraguan di benak sebagian kalangan pemerintah
terhadap kontribusi industri ini terhadap perekonomian. Menurut
Menteri Riset dan Teknologi, Hatta Radjasa, ekspor Software
Indonesia pada tahun 2000 tercatat sebesar US$70 juta. Prof.
Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo, Deputi Rektor Universitas Paramadina,
menyebutkan kontribusi sektor ini masih kecil. Namun, ia menunjuk
keberhasilan India yang dalam satu dekade berhasil menjadikan
sektor ini sebagai kontributor signifikan perolehan devisanya
(Lihat Industri TI India). Dalam kurun 1985 hingga 1995, India
berhasil menaikan ekspor Software dari US$24 juta menjadi
US$375 juta. Marsudi memperkirakan volume pasar dunia tahun
ini mencapai US$375 milyar.
 |
| Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo,
Deputi Rektor Universitas Paramadina |
Yang menjadi keprihatinan Marsudi adalah industri Software
lokal kian berkurang pangsanya sejak krisis terjadi. Salah
satu penggusurnya adalah bantuan Bank Dunia ke perbankan nasional
yang mensyaratkan penggunaan package software asal negara-negara
donor. Akibatnya, sejumlah piranti lokal yang dipergunakan
perbankan nasional tersingkir setelah pencairan bantuan. Ia
memperkirakan pangsa pasar Software lokal saat ini hanya 5
persen. Bahkan untuk perbankan dan perhotelan bisa jadi porsi
lokal lebih kecil dari angka itu.
Andrari Grahitandaru MSc., Head of Automation Systems Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memprihatinkan
berlakunya Undang-undang Hak Cipta. Pemberlakuan itu akan
menguras devisa besar-besaran. Laporan PEG-USAID mencatat
ada sekitar 1,9 juta Personal Computer di Indonesia pada tahun
1999 dengan penetrasi sebesar 0,9%. Laporan ISA yang diterbitkan
Kedutaan Besar Amerika di Jakarta memperkirakan sekitar 2
juta PC terpasang di 250.000 rumah di Indonesia pada tahun
2000. Dengan perkiraan 90% Software adalah hasil bajakan maka
untuk membayar operating system yang populer akan menghabiskan
devisa sebesar US$30 juta. Belum lagi penggunaan office suite
yang harga per lisensinya mencapai US$800.
Besarnya masalah memunculkan wacana untuk menggunakan Software
berbasiskan open sources. Menurut Marsudi, peralihan tersebut
mengeliminasi keterjebakan pada lisensi sekaligus memberdayakan
industri lokal. “Tahun 1996 lalu kerugian akibat pembajakan
telah mencapai US$197juta” katanya. Namun menurut Markus
A. Straub, Senior Technical Advisor dari www.merapi.co.id,
pengalihan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Ia melihat
begitu banyak masalah yang harus dibenahi, mulai dari kurang
populer dan familiarnya program-program berbasiskan open source
hingga masih kurang easy use-nya developer tools-nya. Ini
belum termasuk masalah paradigma software house dan persoalan
sumber daya manusia yang sedemikian peliknya.
Di sisi lain, saat ini daya serap pasar lokal terhadap produk-produk
IT justru sedang mengalami penuruan. “The name of the
game is survival,” ujar Dr. Bobby Nazief, Staf Pengajar
Fakultas Ilmu Komputer UI. Kelesuan ini bisa menjadi batu
sandungan bagi pengorbitan produk Software lokal, apalagi
pemerintah tidak memiliki kebijakan spesifik yang bisa mendorong
pertumbuhan industri ini dalam program-program pemerintah
sendiri. Sehingga akses ke pasar, menurut Bobby, masih menjadi
belenggu bagi sebagian besar pengembang Software lokal. Apa
boleh buat, seperti juga ramalan cuaca, industri Software
lokal sebagian memang cerah, tapi sebagian lagi berawan.•ew
|