Jargon
“pembeli adalah raja” tampaknya betul-betul dilaksanakan
oleh berbagai perusahaan, baik yang menyediakan produk ataupun
yang bergerak di bidang jasa. Berbagai pelayanan diberikan
agar para pembeli mendapatkan kemudahan yang akhirnya merasa
puas, sehingga diharapkan si pembeli dapat menjadi pelanggan
tetap perusahaan yang bersangkutan.
Tak terkecuali perusahaan penerbangan. Persaingan yang ketat
menyebabkan para pemain di bidang ini ramai-ramai memberikan
layanan yang diharapkan mampu memberi kepuasan lebih bagi
para pelanggannya. Lihat saja, betapa enaknya menjadi penumpang
pesawat terbang sekarang ini. Mulai dari melihat jadwal penerbangan
bahkan untuk memesan tiket, seseorang yang akan melakukan
penerbangan tinggal mengklik mouse komputernya. Itu belum
seberapa, untuk mengetahui setiap pengalihan, pembatalan,
ataupun penundaan penerbangan, hanya dengan menggunakan notiFLY,
si penumpang dapat segera mengetahuinya cukup melalui telepon
selularnya, e-mail atau SMS (Short Message Service).
Ada satu layanan lainnya yang telah dikembangkan oleh berbagai
maskapai penerbangan internasional. Meskipun tidak terbilang
baru, layanan ini belum dimiliki oleh seluruh perusahaan penerbangan
di dunia.
Layanan tersebut berupa cyber cabin. Sesuai dengan namanya,
cyber cabin merupakan fasilitas yang terdapat dalam kabin
penumpang sebuah pesawat terbang, dimana penumpang dapat berkomunikasi
melalui internet. Artinya, di atas udara sekalipun, ketika
seseorang membutuhkan data dan harus segera menjelajah situs
web ataupun sekedar mengirim berita lewat e-mail, kini semua
itu dapat dilakukan selama penerbangan berlangsung.
Beberapa maskapai penerbangan internasional telah memberikan
layanan ini kepada para penumpangnya. Salah satunya adalah
maskapai penerbangan Singapore Airlines (SIA). Untuk dapat
mewujudkan layanan tersebut, SIA telah mengeluarkan dana lebih
dari 700 juta dollar Singapura. Uang yang cukup besar tersebut
rencananya akan menjadi penyandang dana bagi pengembangan
e-business yang diberi batas akhir hingga tahun 2003 ini.
Khusus untuk fasilitas layanan e-mail dan surfing, SIA merogoh
dana sebesar 200 juta dollar Singapura. Meski terbilang besar,
toh layanan yang mengasyikkan itu sudah dapat dinikmati para
penumpang SIA sejak akhir tahun 2000 silam.
Maskapai penerbangan lain yang juga telah melengkapi fasilitas
layanan yang sama adalah maskapai penerbangan asal Jerman,
Lufthansa. Sudah tentu, walaupun layanan tersebut serupa,
namun tiap-tiap maskapai memiliki cara berpromosi sendiri-sendiri,
tentang keunggulan fasilitas layanan yang dimilikinya. Lufthansa
memang telah lebih dahulu melakukan uji coba fasilitas e-mail
selama penerbangan di bandingkan SIA. Meski fasilitas tersebut
cukup memuaskan, namun sayangnya untuk dapat melakukan penarikan
data atau download baru dapat dilakukan penumpang setelah
pesawat mendarat.
Amerika sebagai negara adidaya tentu tak mau ketinggalan.
Dua maskapai milik negara itu juga telah memberikan fasilitas
layanan e-mail dan surfing yakni United Airlines dan Delta
Airlines. Tentu saja layanan ini disambut baik oleh para pengguna
pesawat terbang, terutama pebisnis yang kerap membutukan jaringan
koneksi internet untuk dapat terus melakukan aktivitas bisnisnya.
Maskapai
penerbangan Cathay Pacific juga telah menerapkan fasilitas
layanan cyber cabin pada beberapa pesawat miliknya, satu Boeing
777-200, tujuh Airbus A330-300s, dan satu Airbus A340-300.
Di Cathay Pacific, para penumpang yang akan menggunakan fasilitas
layanan ini dapat menggunakan empat buah notebook yang telah
disediakan di dalam cyber cabin, yang masing-masing dihubungkan
melalui kartu jaringan. Para penumpang juga dapat menginstal
kartu jaringan tersebut dalam komputer laptop pribadi. Jadi,
jika penumpang yang akan menggunakan fasilitas tersebut lebih
dari empat orang, namun ia membawa notebook sendiri, ia masih
dapat menjelajah dunia maya di penerbangan tersebut.
Selain empat buah notebook, dalam cyber cabin milik maskapai
penerbangan Cathay Pacific, untuk dapat mengirim ataupun sekedar
membaca e-mail, para penumpang juga dapat melakukannya lewat
komputer desktop. Untuk komputer desktop, jaringan internet
yang disediakan adalah akses internet broadband.
Untuk proyek memanjakan pelanggan ini, Cathay tentu saja tak
dapat mewujudkannya sendiri tanpa bantuan mitra kerjanya.
Untuk itu, Cathay menggandeng dua perusahaan TI terkemuka
yaitu Tenzing Communication dan Promex Technologies. Tenzing
Communication kebagian tugas untuk menyediakan transmisi yang
diletakkan dalam pesawat. Selain itu, Tenzing Communication
juga harus menyiapkan tanda bukti e-mail, serta sebuah intranet
yang dilengkapi dengan web dan juga e-commerce. Sehingga dengan
begitu, kegiatan bisnis para penumpang tidak akan terbengkalai
karena ia harus melakukan perjalanan.
Meskipun saat ini terbilang cukup banyak, namun Tenzing Communication
adalah provider atau perusahaan penyedia pertama yang menyediakan
solusi konektivitas untuk para wisatawan bisnis yang sangat
sering melakukan perjalanan. Tenzing Communication mampu memberikan
berbagai macam layanan antara lain e-mail dalam pesawat, mengeset
komunikasi dalam pesawat dengan roaming global, memberikan
isi web yang ekstensif, mendesign bisnis dengan fokus web
Portal baik di darat maupun di udara. Dan yang terakhir, Tenzing
juga memberikan berbagai pelayanan yang bertarget pada e-commerce.
Sedangkan Primex Technologies bertugas menyiapkan instalasi
pelayanan e-mail dan in-seat power.
Sudah pasti, ratusan juta dollar harus dikeluarkan untuk membangun
fasilitas layanan ini. Tentu saja semua itu dimaksudkan agar
para pengguna pesawat terbang, khususnya para pelaku bisnis
dapat terus melakukan aktivitas bisnisnya ketika ia sedang
berada dalam perjalanan panjang yang biasanya kerap dilakukan
dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bukankah waktu itu
sangat berharga.•jl
|