Columns Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Model Integrasi Perusahaan
 

oleh Dwi Suryanto

“You’ve Got Orders!” Kalimat yang sangat penting tiba-tiba mengetuk pintu bisnis Anda. Jerih payah Anda selama ini untuk mendapatkan order bisnis telah menghasilkan sesuatu yang amat Anda tunggu-tunggu.
Tapi,… Anda langsung lemas. Perusahaan mobil yang memesan barang Anda ini mengharuskan Anda sudah memiliki sistem EDI (Electronic Data Interchange). Mereka tahu bahwa perusahaan Anda sebagai produsen jok mobil yang bagus, dan telah masuk dalam kriteria seleksi pabrik mobil itu, dan Anda lulus. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang menggayut di pikiran Anda selaku pimpinan perusahaan penyedia jok mobil.

Tapi, apa itu EDI? Kenapa perusahaan saya harus ikut EDI? Apa manfaat EDI bagi perusahaan? Apa nggak bisa EDI diganti internet, bukankah di mana-mana sekarang sudah tersedia akses internet?

Konsep perdagangan tanpa kertas (paperless trading), adalah impian utopia yang ditawarkan oleh EDI. EDI sendiri digunakan terutama untuk mentransfer secara elektronik transaksi yang berulang-ulang (repetitive). Transaksi semacam itu, misalnya perintah pembelian (purchase order), faktur, persetujuan kredit, pemberitahuan pengiriman barang, konfirmasi suatu transaksi dsb.

Perusahaan-perusahaan yang amat giat untuk menerapkan EDI adalah perusahaan besar yang mempunyai banyak sekali pemasok. Mereka ingin mengotomasi proses transaksi, sehingga transaksi antara perusahaan besar ini dengan pemasok-pemasoknya berjalan dengan efisien, cepat, dan bebas kesalahan.
Efisiensi yang dicita-citakannya ternyata tidak terwujud. Pemasok-pemasok yang kecil, namun penting, kurang antusias untuk ikut dalam sistem EDI ini. Mengapa? Karena sebuah sistem untuk tergabung dalam EDI harus masuk / berlangganan kepada VAN (value added network) yang relatif mahal. Selain mahal, mereka harus juga menyediakan software yang khusus, serta harus ada SDM yang paham menangani sistem tersebut.

Sementara itu, manfaat bagi bisnis kecil tidak terlalu terlalu besar. Dengan model pembayaran pada tiap naskah dikirim, akan makin memberatkan bagi bisnis kecil. Semakin banyak anda mengirim naskah, maka semakin banyak pula Anda harus membayar kepada perusahaan penyedia VAN.

Sedikitnya pemasok yang mau menggunakan EDI, ternyata menjadi fenomena umum. Di perusahaan Boeing Commercial Airplane Group (Varney dan McCarthy, 1996), hanya terdapat 30 pemasok dari 500 pemasok yang memakai EDI. Kondisi ini berubah secara radikal dengan adanya internet atau internet-based EDI.

Contoh lain, Hewlett-Packard (HP), perusahaan komputer raksasa, melakukan jutaan transaksi berbasis internet-EDI (Turban dkk, 1999). Solusi EDI berbasis internet ini disediakan bagi perusahaan kecil yang tidak mampu untuk menanggung biaya serta kompleksitas EDI tradisional. Dengan memakai internet, formulir-formulir isian hanya berupa data entry biasa yang ditampilkan melalui web browser yang sudah ada di komputer pemasok kecil.

Dengan berbasiskan pada teknologi internet, teknologi ini memberikan peluang bagi perusahaan atau organisasi menengah untuk mewujudkan EDI dengan biaya, usaha, dan waktu yang lebih hemat. Satu perusahaan dapat membangun EDI, dengan memanfaatkan infrastruktur berupa XML-based (extensible markup language) yang terintegrasi dengan web server. Teknologi XML-based membantu dalam mendapatkan alat parser dan transformasi antar format data secara murah (XSLT), sedangkan scripting yg disediakan oleh web server mempermudah pengaturan interface yang lebih fleksibel.

Bagi perusahaan yang telah melakukan investasi EDI dan telah memanfaatkannya, infrastructure XML-based dapat digunakan untuk memberikan perpanjangan fungsi sistem yang sudah ada. Dengan perpanjangan fungsi tersebut, maka partner yang belum memiliki EDI dapat terbantu karena perusahaan menyediakan semacam jalur elektronik pertukaran data menggunakan web. Tentu saja dengan adanya koneksi internet yang handal dan ketersediaan koneksi tersebut, maka masa depan pertukaran data akan sangat fenomenal.

Tantangan yang sering muncul dalam memadukan EDI dan XML-based adalah pada pekerjaan linking, synchronization, dan adanya perbedaan standar diantara keduanya. Hal ini dapat diselesaikan berdasar EIM (Enterprise Integration Modeling), yaitu suatu pendekatan baru dalam arsitektur integrasi B2B yang dapat mengotomatiskan linking dan synchronizing antara XML dan EDI.

Pendekatan ini berupa model repository-based (hampir serupa dengan thesaurus) untuk secara otomatis mengenali keserupaan antara content (dokumen) dari para partner apakah dalam format EDI atau XML.

Bagi dunia bisnis di Indonesia, semestinya sudah mulai menerapkan EDI ini walau dalam tahapan awal dimana yang diotomatisasikan adalah transaksi yang berulang, membosankan jika dikerjakan oleh manusia, dan berpeluang besar terjadi salah entri. Langkah untuk menerapkan EDI sudah relatif mudah karena infrastruktur dasarnya, yaitu Internet, telah tersedia di mana-mana. Kesaling-terkaitan sistem bisnis kita dengan pemasok atau bahkan sistem pada pelanggan, bukanlah hal yang baru. Di masa datang, keterkaitan itu akan makin tinggi, bahkan juga dengan mitra kita yang ada di luar negeri. Jika kita siap mulai dari sekarang, maka pada masa Network Economy yang siap di depan pintu, kita tinggal memetik hasilnya.

Penutup
Tujuan utama mewujudkan EDI adalah untuk melakukan otomatisasi yang berakibat pada penghematan dan mengurangi kesalahan-kesalahan dalam transaksi. Perkembangan yang menuntut perubahan, biasanya muncul akibat terjadinya ekspansi dan peningkatan penjualan. Kemampuan kita untuk mengenali value jangka panjang dan potensi masa depan infrastructure e-business, akan menentukan kesuksesan kita di masa datang.•

Dwi Suryanto •Direktur Marketing, PT Bhakti Wasantara Net (W-net)

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved