Columns Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Studi Kasus Service Desk Schlumberger
 

oleh Agus Pracoyo

Stanley Rifkin
tercatat sebagai orang dalam Guiness Book of World Records untuk kategori “biggest computer fraud”. Anak muda ini telah menguras dana lebih dari USD 10 juta dari Security Pacific National Bank di Los Angeles pada tahun 1978. Anehnya walau dikategorikan sebagai “biggest computer fraud” Stanley tidak menggunakan komputer sama sekali untuk melakukan kejahatannya, tetapi hanya mempergunakan telepon dan berpura-pura sebagai nasabah yang sah.

Masalah identifikasi dan autentikasi terhadap si penelepon menjadi masalah sekuriti yang paling besar yang dihadapi call center. Walaupun call center telah mempunyai prosedur untuk melakukan identifikasi dan autentikasi dengan menanyakan sederet pertanyaan seperti tanggal lahir, nama ibu kandung dan sebagainya tetap saja beberapa kasus untuk mengelabui identitas banyak dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dengan istilah social engineering.

Social Engineering
Social Engineering adalah istilah yang digunakan terhadap cara-cara untuk mendapatkan informasi (seperti password, ID) dari seseorang tanpa melakukan penetrasi terhadap sistem komputer. Umumnya cara yang dilakukan tidak langsung menanyakan informasi yang diinginkan tetapi dengan cara mengumpulkan kepingan informasi yang jika sendiri-sendiri kelihatannya tidak bersifat rahasia. Modal yang digunakan bukan teknologi yang canggih tetapi penampilan yang menarik, suara yang bersahabat, pujian, atau bisa juga dengan cara melakukan tekanan agar lawan bicara menjadi panik dan menjadi irasional atau lupa terhadap prosedur yang seharusnya dijalankan.

Berikut ini contoh social engineering yang dilakukan dua orang, katakanlah namanya Benny dan Lisa, untuk mendapatkan informasi PhoneID yang digunakan untuk verifikasi transaksi perbankan melalui telephone.

Suatu hari, Benny dan Lisa sedang berada di suatu Bank XYZ, mengamati nasabah yang akan mengajukan aplikasi layanan transaksi perbankan via telephone. Setelah melihat ada seseorang yang akan mengajukan aplikasi tersebut, Beny turut mengantri di belakang lelaki tersebut. Pada saat gilirannya, Benny mulai melancarkan aksinya dengan pertama-tama memberikan sanjungan atas bros yang dipakai petugas bank tersebut dan sekaligus mengingat nama yang tertulis dilencananya.

Selanjutnya Benny mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

Benny: Rasa-rasanya orang yang mengantri tadi adalah teman saya waktu di SMA .. tapi saya ragu untuk menegur duluan, takut salah. Boleh tahu mbak, nama bapak tadi.
Lilis (petugas bank) : Oh ... tadi pak Darwin Sudarta.
Benny : Ah benar kan .. dia itu ketua OSIS, dulu teman baik saya .. kumisnya membuat pangling. Sayang saya tidak menegur, padahal saya coba cari alamatnya ke teman-teman yang lain tapi tidak ada yang tahu.
Benny : Mmm ... apakah si Darwin ada nomor handphonenya mbak ?
(Benny sengaja menggunakan kata si Darwin bukan pak Darwin supaya kelihatan memang teman dekatnya).
Lilis : HPnya 0832 xxx
(Dengan berpura pura Benny menekan nomor handphonenya dan seolah olah berbicara dengan Darwin didepan Lilis sambil menunggu aplikasinya selesai diperiksa.)
Sesaat kemudian dari telepon umum Lisa (teman Benny) menelpon Pak Darwin.
Lisa : Selamat siang Pak Darwin, saya Lilis petugas Bank XYZ yang menangani aplikasi bapak tadi. Kelihatannya Bapak salah mengisikan tanggal lahir karena yang tercantum disini adalah tanggal hari ini, dan saya juga mohon maaf karena tidak melakukan verifikasi sebelumnya.
Darwin : Oh ya ? Ok tanggal lahir saya 17 Agustus 1965.
Lisa : Saya juga ingin memverifikasi data lainnya supaya tidak salah entry; nama bapak, Darwin Sidarta ?
(Lisa sengaja mengatakan Sidarta bukan Sudarta).
Darwin : Bukan Sidarta tapi Sudarta; Siera Uniform ...
Lisa : Oh maaf pak .. boleh tolong dieja juga nama ibu kandung Bapak.
Darwin : Tanggo India ...

Sampai tahap ini, Benny dan Lisa sudah dapat informasi yang cukup, hanya satu yang kurang yaitu PhoneID. Tapi hal ini bukan kesulitan bagi mereka berdua, ke esokan harinya Benny menelpon call center Bank XYZ berpura-pura sebagai Pak Darwin.
Petugas Bank (PB): Hallo Bank XYZ, ada yang dapat dibantu ?
Benny : Saya Darwin Sudarta, ada sedikit kesulitan untuk melakukan transaksi via telephone karena lupa PhoneID dan kertas catatan PhoneID saya ada di laci kantor yang terkunci sedangkan sekarang saya sedang di luar kota. Bisa minta tolong sebutkan nomor PhoneID saya mbak ?
PB: Bisa, tetapi bapak harus datang ke kantor kami, atau dapat dikirim via pos ke alamat yang tertulis pada lembar aplikasi.
Benny : Wah repot dong .. padahal saya akan seminggu di Banyuwangi dan perlu transaksi sekarang. Tahu begini saya tidak menggunakan Bank XYZ karena Bank lain prosedurnya gampang. Ngomong-ngomong saya bicara dengan siapa ?
(Sengaja Benny membandingkan dengan bank lain dan menanyakan nama petugas bank dengan nada sedikit tinggi).
PB : Mmm baik pak, apakah Bapak dapat memberikan informasi tanggal lahir dan nama Ibu kandung Bapak ?
Benny : tanggal lahir saya ..
PB: PhoneID Bapak ..
Dengan cara sederhana seperti ini Benny dapat berpura-pura sebagai Pak Darwin untuk melakukan transaksi.
Hal serupa juga dapat dilakukan terhadap call center untuk user internal (helpdesk). Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan akses ke dalam jaringan. Dengan berpura-pura sebagai manager misalnya, Social Engineer akan menelpon helpdesk untuk menanyakan informasi sensitif seperti password. Karena Helpdesk umumnya adalah staff biasa, akan sedikit sungkan bagi mereka untuk melakukan verifikasi kepada orang yang tingkatannya lebih tinggi.

Solusi
Bagaimana solusi untuk mencegah serangan social engineering terhadap call center ? Apakah teknologi seperti “Speaker Verification” dapat mencegah social engineering.

Kenyataannya, tidak ada satupun teknologi di dunia ini yang dapat mencegah serangan social engineering. Beberapa perusahaan yang memberikan jasa penetration test mengatakan bahwa usaha penetrasi menggunakan cara-cara social engineering umumnya 100% berhasil. Karena itu, cara yang efektif untuk menekan serangan social engineering ini adalah kombinasi dari teknologi, security policy yang menetapkan aturan bagaimana karyawan harus bersikap dalam masalah sekuriti, dan juga program pelatihan serta awareness yang memadai bagi seluruh karyawan (lihat studi kasus ServiceDesk Schlumberger)•

Agus Pracoyo •channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved