Columns Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Kisah Sukses Sebuah Call Center
 

Beberapa minggu lalu sambungan televisi-kabel di rumah kami terganggu. Tayangan di layar televisi sulit dikenali karena buram dan penuh bintik bergambar-semu, walau suaranya cukup baik. Karena tidak puas berlangganan televisi yang lebih mirip radio ini, saya menghubungi call center perusahaan yang cukup besar tersebut melalui telepon. Suara mesin di ujung sana memandu saya melalui menu pilihan yang cukup sederhana, namun ketika akhirnya disambung ke saluran operator, suara mesin tersebut menyatakan bahwa semua manusia di call center sedang sibuk. Sayapun disarankan untuk mengirimkan faksimil atau menghubungi sebuah nomor telepon lainnya. Karena tidak sabar, saya hubungi nomor yang diberikan. Ternyata nomor tersebut adalah nomor yang salah, sehingga saya terhubung dengan pihak lain, yang langsung saja marah-marah karena rupanya sudah banyak pelanggan televisi-kabel yang tersesat ke sana. Mencoba menelepon lagi call center itu tidak juga menolong, karena para operator terus saja sibuk. Pengalaman ini terjadi beberapa kali, terutama ketika saya mencoba menelepon di malam hari.

Beberapa hari kemudian, setelah sambungan televisi-kabel kami berfungsi kembali, gangguan kembali terjadi, kali ini pada saluran internet yang tersambung melalui jaringan yang sama. Kejadiannya lebih menarik lagi, karena saya harus berhubungan dengan dua buah call centers. Penyelenggara layanan Internet (ISP) yang bersangkutan, anak sebuah perusahaan telekomunikasi milik pemerintah, mengoperasikan sebuah call center yang paling tidak lebih manusiawi ketimbang perusahaan televisi-kabel yang saya langgan. Namun demikian, masalah saya tidak dapat tuntas dalam beberapa kali menelepon, karena saya diperlakukan seperti bola di antara kedua call centers tersebut. Setiap kali saya menelepon, keluhan dan masalahnya harus dijelaskan kembali. Tampaknya sang customer service representative (CSR) ingin memastikan kembali identitas dan masalah saya, atau mungkin karena fungsi call management mereka memang amburadul.

Setelah hampir seminggu masalahnya tidak terselesaikan, sayapun menelepon Direktur Utama perusahaan ISP termaksud, yang kebetulan saja saya kenal, untuk mohon bantuan. Mujizatpun terjadi, masalah saya tuntas-tas dalam kurang dari 24 jam.

Jadi, Masalahnya Apa?
Pengalaman buruk ini sebenarnya dapat diatasi bila call centers tersebut mengantisipasi dan mempunyai prosedur untuk mengatasi jenis dan volume kebutuhan pelanggan, sehingga tersusun proses kerja yang lebih baik. Seyogyanya, setiap call center dilengkapi dengan bioritme masing-masing, yang dijabarkan dari pola interaksi dengan pelanggannya. Setelah 2-3 minggu beroperasi, bioritme ini seharusnya sudah dapat mulai diplot. Kuncinya adalah pengelolaan beberapa masalah hakiki pada sebuah call center.

Call Management
Pelanggan yang menghubungi sebuah call center kemungkinan sedang marah, atau sekurangnya tidak sabar. Ia sebaiknya dihubungkan secepatnya dengan orang atau sistem yang dapat membantunya menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaannya. Hal ini akan sangat tergantung pada menu tanggapan yang didengar pemanggil, penyelesaian masalah antrian panggilan, serta pemindahan panggilan ke petugas atau sistem lainnya.

Pilihan bahasa yang digunakan, umumnya bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, serta ungkapan yang digunakan, haruslah diuji benar sehingga betul-betul tidak menimbulkan kesalah-pahaman. Penyebutan nomor telepon yang salah, dan penanganan antrian panggilan yang ditemui pada kasus di atas adalah beberapa contoh implementasi call management yang sangat buruk.

Pemanfaatan teknologi, mulai dari computer telephony integration (CTI), caller identification, interactive voice response (IVR) dan integrasi dari sistem dan workflow akan dapat banyak menolong. Pada call centers yang mutakhir, seorang CSR dapat langsung melihat pada layar monitornya berbagai informasi mengenai pemanggil. Antara lain: penayangan identitas pemanggil berdasarkan nomor telepon yang ditangkap secara otomatis atau apakah pemanggil telah mencoba menelepon tidak lama sebelumnya. Yang terakhir ini penting diketahui, karena mungkin pemanggil akan langsung berbicara dengan „nada tinggi” dan perlu ditangani secara lebih sabar.

Information Management
CSR yang meminta pemanggil mengulangi kembali masalahnya, seolah tidak tahu bahwa ada pending issue yang masih belum diselesaikan beberapa jam yang lalu jelas menunjukkan buruknya pengelolaan informasi sebuah call center. Pelanggan akan merasa kurang diperhatikan, dan sebagai akibatnya, menumbuhkan kemarahan yang sebenarnya tidak perlu.

“Sejarah” pertanyaan dan masalah seorang pemanggil seharusnya terekam dengan baik dan dapat diakses secara tepat dan cepat. Akhir-akhir ini, sistem pendukung dilengkapi dengan scripting yang membantu seorang CSR untuk berinteraksi dengan baik, case-based reasoning (CBR) untuk penyelesaian masalah, dan bahkan geographical information systems (GIS) yang canggih untuk menyelesaikan masalah-masalah di sebuah area geografis tertentu.

Process & Interaction Management
Penanganan masalah kompleks yang mencakup lebih dari satu organisasi mempersulit penanganannya. Kasus di atas, dimana proses penyelesaian masalahnya harus ditangani oleh perusahaan televisi-kabel dan ISP, menunjukkan pengelolaan proses dan interaksi yang seharusnya tidak terjadi. Pelanggan, yang seharusnya memperoleh kemudahan dengan adanya call centers malah disulitkan karena buruknya pengelolaan proses dan interaksi.

CSR Management
Bagaimanapun tingginya peringkat otomatisasi sebuah call center, masih juga akan diperlukan para CSR untuk menyelesaikan masalah-masalah yang lebih musykil. Menanyakan saldo rekening memang cukup dijawab dengan suara komputer yang menyebutkan sebuah angka, walaupun dengan agak terbata-bata. Semakin musykil pertanyaan pemanggil, semakin perlu pula layanan “manusia”, yang dalam hal ini dilaksanakan oleh para CSR.

Pada dasarnya, seorang CSR perlu mampu tidak hilang-sabar walaupun pelanggan mencacinya dengan ucapan-ucapan yang hampir pasti tidak terlalu karib sifatnya. Ia juga perlu tidak mudah lelah, selalu tanggap dan tidak hentinya berupaya membantu pemanggil menyelesaikan masalah mereka. Karenanya, mengelola para CSR dan menjaga agar mereka dapat terus menunjukkan kinerja yang baik memerlukan perhatian tersendiri.

Sentuhan Manusiawi: Dari Call Center ke Contact Center
Dalam bentuknya yang termutakhir, layanan call center telah berangsur menjadi contact center lebih lengkap ketimbang hanya melayani panggilan telepon saja. Modus yang semakin populer adalah kontak yang dilakukan oleh pelanggan melalui short message service (SMS) dan juga yang melalui layanan berbasis web di Internet.

Alasan mengapa sebuah call center, atau pada waktunya sebuah contact center, tetap saja memerlukan sentuhan manusia untuk dapat berfungsi secara paripurna, terutama disebabkan oleh peringkat kemusykilan proses layanan pelanggan yang akan diterapkan. Tambahan pula, bukankah pada dasarnya kita lebih menyukai kehangatan suara manusia yang dapat diajak beragumentasi – dan bila perlu dimarahi – dalam rangka menyelesaikan sebuah masalah?•

Jos Luhukay • Partner pada Ernst & Young Indonesia serta pengamat dan praktisi ekonomi baru.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved