|
Bagaimana
sebenarnya peluang Indonesia di industri TI?
Melihatnya harus dari dua sudut, pertama TI sebagai industri.
Sama seperti industri perbankan dan manufakturing, maka sekarang
ada bagian dari industri manufakturing TI. Itu salah satu
single industry. Kalau bisa dipakai sebagai single industry,
maka bisa dilihat sebagai manufakturing hardware. Bisa juga
dilihat peluang dalam pusat pengembangan software. Yang terakhir
adalah pusat pengembangan brainware.
Industri TI kini tengah mengalami perubahan sangat cepat.
Untuk bisa berkiprah di industri hardware perlu modal besar.
Sangat tidak ekonomis bila industri ini terbatas pada pasar
suatu negara saja. Yang bisa dilakukan adalah join manufacturing,
lintas negara. Produk komputer perubahannya terjadi dalam
hitungan bulan. Untuk Indonesia, memiliki pabrik manufaktur
komputer merupakan sesuatu yang high risk. Kecuali bisa mengekspor
untuk perluasan pasarnya. Kalau hanya mengandalkan pasar domestik,
jelas tidak kompetitif.
Di masa datang, industri ini siklus hidup produknya akan kian
pendek dan kian murah harganya. At the end, orang berfikir
lebih baik impor daripada membangun industrinya di sini. Industri
software sebenarnya berpeluang lebih baik. Kami pernah mengusulkan
sekitar 6-7 tahun lalu, bahwa industri software inilah yang
seharusnya dikembangkan.
Kenapa begitu?
Pertama, tidak memerlukan investasi terlalu besar. Kedua,
ada niche market, karena tidak seperti hardware yang benar-benar
open. Kemajuan industri software Korea, lebih karena adanya
local content yang tinggi, misalnya karakter huruf yang berbeda.
Saya yakin di Indonesia pasti ada kebutuhan lokal, dan kita
bisa compete dalam industri ini. Hal yang sama berlaku dalam
brainware industry. Hardware dan softwarenya bisa diimpor.
Tapi, kalau sampai orang asing melakukan implementasinya,
maka total gain loss bagi negara. Sebenarnya, ini peluang
yang besar buat kita.
Kalau dilihat tahapannya, maka yang pertama adalah bidang
konsultasi TI. Itu yang terpenting dan tercepat dilakukan
saat ini. Porsi hardware antara 5-10%, software 30-40%, maka
sisanya adalah konsultasi. Orang sering terjebak karena melihat
dari segi fisiknya. Padahal, porsi terbesar dari investasinya
adalah software dan konsultasi. Kalau itu bisa ditangani pelaku
lokal, maka sebenarnya banyak peluang yang bisa digarap dan
ada penghematan devisa negara.
Bagaimana melakukannya?
Saya harus katakan HP berkepentingan pada dua hal di atas.
Kami telah lama memberikan bantuan pada sejumlah institusi
yang bergerak dalam pengembangan software. Mereka, kami encourage
untuk mengembangkan dan dibantu pemasarannya. Kami juga memfasilitasi
dari sisi aliansi dengan vendor software untuk pasar lokal.
Mereka juga tidak akan dibatasi bermain di kandang. Ada sejumlah
mitra yang kami bawa bermain di tingkat regional. Bahkan ada
yang baru saja mendapatkan kontrak di Vietnam sebagai system
integrator sebuah proyek
Kedua, bagaimana peran TI dalam bisnis lainnya. Ini peran
sebagai business enabler. Industri-industri nasional tidak
kompetitif dibandingkan industri serupa di luar, salah satu
faktornya adalah keterlambatan mengimplementasikan TI. Mereka
tidak menggunakan TI sebagai enabler, meningkatkan efisiensi,
dan optimalisasi kapasitasnya. Sekarang, berapa perusahaan
mulai mengimplementasikan. Untuk pemasaran, sudah diimplementasikan
web-based marketing dan diharapkan secara bertahap ada peningkatan
daya saingnya.
Secara nasional perlu juga dibuat ekosistem perekonomian nasional.
Kita belum memanfaatkan TI bagi peranan negara ini dalam konteks
lingkungan bagi ekonomi, sosial, politik dan budaya, sehingga
menjadi lebih efisien. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan
agar membuat negara ini benar-benar kompetitif. Contohnya,
ketika harga cabai meningkat drastis, sehingga petani ramai-ramai
beralih menanamnya, namun kemudian harganya anjlok. Jika ada
sistem informasi dalam bidang pertanian, maka itu tidak perlu
terjadi.
Jika di Malaysia ada kampanye “one home one PC”,
itu terlalu jauh untuk kondisi kita saat ini. Mungkin model
Klompencapir masih bisa diteruskan dengan membangun akses
terhadap internet di lokasi-lokasi tertentu, sehingga sangat
membantu kaum tani.
Itu
sudah dilakukan melalui Multimedia Community Center?
Saya dengar demikian dan itu langkah baik. Yang perlu dipikirkan
adalah contentnya. Konsep pembangunan kita dulu adalah membangun
sekedar untuk membangun secara fisik. Misalnya, membangun
jalan tol end-to-end tanpa memikirkan trafficnya. Setelah
jalan tol jadi, daerah di sekitarnya baru berkembang. ROI-nya
untuk jangka panjang. Kenapa tidak sebaliknya? Artinya bangun
content lebih dulu, baru trafficnya ada. Sehingga, bila jalan
tol dibangun, maka segera ROI-nya berjalan.
Dengan model semacam ini, bersamaan dengan pembangunan infrastruktur,
dibangun content-nya. Misalnya, departemen pertanian menyiapkan
komoditi pertanian untuk masyarakat di sekitar community center.
Saya tidak tahu apakah di community center masih menggunakan
tahapan edukasi untuk mengenalkan lebih dulu. Cara itu itu
tidak akan efektif dalam pengadopsiannya dan hasilnya pun
tidak optimal.
Agar tidak tertinggal jauh,
katakanlah dari Malaysia dan Singapura, apa yang mesti dilakukan?
Pertama, diperlukan arah yang jelas mengenai pembangunannya,
sekaligus bisa memobilisasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Misalnya di HP, ada kesadaran internal tentang peran nyata
terhadap peningkatan kemampuan masyarakat, meski skalanya
kecil. Dimulai dari lingkup dalam HP Indonesia, berkembang
ke komunitas TI, hingga ke komunitas pelanggan HP. Ini bisa
distruktur sebagai insiatif pembangunan nasional, mengingat
industri ini bisa menjadi kontributor terhadap penerimaan
negara.
Bandingkan Indonesia dengan India. Industri TI di India telah
menjadi salah satu motor pembangunan, terutama software dan
konsultasi. Sekitar 5-6 tahun lalu pemerintah India memberikan
modal pada UKM TI sebesar US$ 500.000. Targetnya, dalam 2
tahun modal itu bisa berkembang menjadi US$ 2 juta. Perusahaan
yang bisa mengenerate hal itu tidak perlu mengembalikannya.
Yang tidak bisa, harus mengembalikannya. Sekarang, beberapa
di antara perusahaan itu telah menjadi perusahaan besar dengan
jaringan pemasaran ke seluruh Asia.
Apa itu bisa jadi model untuk
pembangunan industri TI?
Mestinya bisa, mengingat pendidikan kita tidak berbeda banyak
dari India. Dari sisi infrastruktur komunikasi dan internet,
kita lebih bagus dari India. Dari sisi geografi, Indonesia
lebih dekat ke Singapura, yang merupakan hub untuk Asia Tenggara.
Andaikata kita bisa membangun infrastruktur seperti di Malaysia,
maka kita bisa menjadi pilihan berinvestasi. Sejumlah vendor
software besar sekarang pergi ke India, karena tersedia talented
people, sehingga bisa berpartisipasi dalam R&D mereka.
Indonesia kurang apa?
Sekarang ada Bali Camp yang lumayan besar, namun sangat spesifik.
Secara proaktif kita harus membangun software industry yang
beorientasi pada kebutuhan lokal baru ke region. Mereka membidik
niche market, misalnya perusahaan lokal yang hanya membuat
software untuk bandara. Berapa banyak bandara di sini? Tapi
mereka tetap fokus dan ingin dikenal sebagai spesialis di
bidang ini. Sekarang momentumnya bagus, karena rata-rata aplikasi
di bandara sangat tertinggal. •ew
foto-foto: Dahlan Rebo Paing |