S n a p s h o t Volume I Nomor 03 - Desember 2002 - Januari 2003
Memasuki tahun 2003, perlu rasanya kita melihat ulang ke dalam diri. Berkaitan dengan itu, eBizzAsia mencoba menggali pemikiran dan pandangan Elisa Lumbantoruan,
President Hewlett-Packard Indonesia, khususnya mengenai nilai kompetitif Indonesia di industri teknologi informasi (TI). El, menyinggung peluang Indonesia di industri software dan brainware. Ia juga membandingkannya dengan India yang telah berkibar di kedua industri tersebut, seraya bertanya balik “Indonesia ini kurang apa?” Berikut petikan wawancara eBizzAsia dengan Elisa Lumbantoruan.
 

Bagaimana sebenarnya peluang Indonesia di industri TI?
Melihatnya harus dari dua sudut, pertama TI sebagai industri. Sama seperti industri perbankan dan manufakturing, maka sekarang ada bagian dari industri manufakturing TI. Itu salah satu single industry. Kalau bisa dipakai sebagai single industry, maka bisa dilihat sebagai manufakturing hardware. Bisa juga dilihat peluang dalam pusat pengembangan software. Yang terakhir adalah pusat pengembangan brainware.

Industri TI kini tengah mengalami perubahan sangat cepat. Untuk bisa berkiprah di industri hardware perlu modal besar. Sangat tidak ekonomis bila industri ini terbatas pada pasar suatu negara saja. Yang bisa dilakukan adalah join manufacturing, lintas negara. Produk komputer perubahannya terjadi dalam hitungan bulan. Untuk Indonesia, memiliki pabrik manufaktur komputer merupakan sesuatu yang high risk. Kecuali bisa mengekspor untuk perluasan pasarnya. Kalau hanya mengandalkan pasar domestik, jelas tidak kompetitif.

Di masa datang, industri ini siklus hidup produknya akan kian pendek dan kian murah harganya. At the end, orang berfikir lebih baik impor daripada membangun industrinya di sini. Industri software sebenarnya berpeluang lebih baik. Kami pernah mengusulkan sekitar 6-7 tahun lalu, bahwa industri software inilah yang seharusnya dikembangkan.

Kenapa begitu?
Pertama, tidak memerlukan investasi terlalu besar. Kedua, ada niche market, karena tidak seperti hardware yang benar-benar open. Kemajuan industri software Korea, lebih karena adanya local content yang tinggi, misalnya karakter huruf yang berbeda. Saya yakin di Indonesia pasti ada kebutuhan lokal, dan kita bisa compete dalam industri ini. Hal yang sama berlaku dalam brainware industry. Hardware dan softwarenya bisa diimpor. Tapi, kalau sampai orang asing melakukan implementasinya, maka total gain loss bagi negara. Sebenarnya, ini peluang yang besar buat kita.

Kalau dilihat tahapannya, maka yang pertama adalah bidang konsultasi TI. Itu yang terpenting dan tercepat dilakukan saat ini. Porsi hardware antara 5-10%, software 30-40%, maka sisanya adalah konsultasi. Orang sering terjebak karena melihat dari segi fisiknya. Padahal, porsi terbesar dari investasinya adalah software dan konsultasi. Kalau itu bisa ditangani pelaku lokal, maka sebenarnya banyak peluang yang bisa digarap dan ada penghematan devisa negara.

Bagaimana melakukannya?
Saya harus katakan HP berkepentingan pada dua hal di atas. Kami telah lama memberikan bantuan pada sejumlah institusi yang bergerak dalam pengembangan software. Mereka, kami encourage untuk mengembangkan dan dibantu pemasarannya. Kami juga memfasilitasi dari sisi aliansi dengan vendor software untuk pasar lokal. Mereka juga tidak akan dibatasi bermain di kandang. Ada sejumlah mitra yang kami bawa bermain di tingkat regional. Bahkan ada yang baru saja mendapatkan kontrak di Vietnam sebagai system integrator sebuah proyek

Kedua, bagaimana peran TI dalam bisnis lainnya. Ini peran sebagai business enabler. Industri-industri nasional tidak kompetitif dibandingkan industri serupa di luar, salah satu faktornya adalah keterlambatan mengimplementasikan TI. Mereka tidak menggunakan TI sebagai enabler, meningkatkan efisiensi, dan optimalisasi kapasitasnya. Sekarang, berapa perusahaan mulai mengimplementasikan. Untuk pemasaran, sudah diimplementasikan web-based marketing dan diharapkan secara bertahap ada peningkatan daya saingnya.

Secara nasional perlu juga dibuat ekosistem perekonomian nasional. Kita belum memanfaatkan TI bagi peranan negara ini dalam konteks lingkungan bagi ekonomi, sosial, politik dan budaya, sehingga menjadi lebih efisien. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan agar membuat negara ini benar-benar kompetitif. Contohnya, ketika harga cabai meningkat drastis, sehingga petani ramai-ramai beralih menanamnya, namun kemudian harganya anjlok. Jika ada sistem informasi dalam bidang pertanian, maka itu tidak perlu terjadi.

Jika di Malaysia ada kampanye “one home one PC”, itu terlalu jauh untuk kondisi kita saat ini. Mungkin model Klompencapir masih bisa diteruskan dengan membangun akses terhadap internet di lokasi-lokasi tertentu, sehingga sangat membantu kaum tani.

Itu sudah dilakukan melalui Multimedia Community Center?
Saya dengar demikian dan itu langkah baik. Yang perlu dipikirkan adalah contentnya. Konsep pembangunan kita dulu adalah membangun sekedar untuk membangun secara fisik. Misalnya, membangun jalan tol end-to-end tanpa memikirkan trafficnya. Setelah jalan tol jadi, daerah di sekitarnya baru berkembang. ROI-nya untuk jangka panjang. Kenapa tidak sebaliknya? Artinya bangun content lebih dulu, baru trafficnya ada. Sehingga, bila jalan tol dibangun, maka segera ROI-nya berjalan.

Dengan model semacam ini, bersamaan dengan pembangunan infrastruktur, dibangun content-nya. Misalnya, departemen pertanian menyiapkan komoditi pertanian untuk masyarakat di sekitar community center. Saya tidak tahu apakah di community center masih menggunakan tahapan edukasi untuk mengenalkan lebih dulu. Cara itu itu tidak akan efektif dalam pengadopsiannya dan hasilnya pun tidak optimal.

Agar tidak tertinggal jauh, katakanlah dari Malaysia dan Singapura, apa yang mesti dilakukan?
Pertama, diperlukan arah yang jelas mengenai pembangunannya, sekaligus bisa memobilisasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Misalnya di HP, ada kesadaran internal tentang peran nyata terhadap peningkatan kemampuan masyarakat, meski skalanya kecil. Dimulai dari lingkup dalam HP Indonesia, berkembang ke komunitas TI, hingga ke komunitas pelanggan HP. Ini bisa distruktur sebagai insiatif pembangunan nasional, mengingat industri ini bisa menjadi kontributor terhadap penerimaan negara.

Bandingkan Indonesia dengan India. Industri TI di India telah menjadi salah satu motor pembangunan, terutama software dan konsultasi. Sekitar 5-6 tahun lalu pemerintah India memberikan modal pada UKM TI sebesar US$ 500.000. Targetnya, dalam 2 tahun modal itu bisa berkembang menjadi US$ 2 juta. Perusahaan yang bisa mengenerate hal itu tidak perlu mengembalikannya. Yang tidak bisa, harus mengembalikannya. Sekarang, beberapa di antara perusahaan itu telah menjadi perusahaan besar dengan jaringan pemasaran ke seluruh Asia.

Apa itu bisa jadi model untuk pembangunan industri TI?
Mestinya bisa, mengingat pendidikan kita tidak berbeda banyak dari India. Dari sisi infrastruktur komunikasi dan internet, kita lebih bagus dari India. Dari sisi geografi, Indonesia lebih dekat ke Singapura, yang merupakan hub untuk Asia Tenggara. Andaikata kita bisa membangun infrastruktur seperti di Malaysia, maka kita bisa menjadi pilihan berinvestasi. Sejumlah vendor software besar sekarang pergi ke India, karena tersedia talented people, sehingga bisa berpartisipasi dalam R&D mereka. Indonesia kurang apa?

Sekarang ada Bali Camp yang lumayan besar, namun sangat spesifik. Secara proaktif kita harus membangun software industry yang beorientasi pada kebutuhan lokal baru ke region. Mereka membidik niche market, misalnya perusahaan lokal yang hanya membuat software untuk bandara. Berapa banyak bandara di sini? Tapi mereka tetap fokus dan ingin dikenal sebagai spesialis di bidang ini. Sekarang momentumnya bagus, karena rata-rata aplikasi di bandara sangat tertinggal. •ew

foto-foto: Dahlan Rebo Paing

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved