|


Setelah saya membaca majalah
eBizzAsia Volume I No.02 November 2001, ada yang ingin saya
tahu lebih jauh yaitu mengenai SCM. Sebenarnya komponen apa
(bidang apa) yang membentuk suatu Supply Chain? Bagaimana
membangunnya menjadi berbasis elektronik atau digital? Pertimbangan-pertimbangan
apa yang seharusnya dilakukan untuk menerapkan eSCM?
Irwan Andiputra, Swasta Giralida,
PT, Jakarta
Supply Chain (rantai pengadaan) adalah suatu sistem jejaring
dimana berbagai organisasi saling bekerja sama membentuk sebuah
mekanisme penyaluran barang produksi dan jasanya kepada para
pelanggannya. Kata penyaluran di sini mungkin kurang tepat,
karena dalam istilah supply termasuk juga proses perubahan
barang tersebut jadi, misalnya dari bahan mentah menjadi barang
jadi. Konsep supply chain adalah juga konsep baru dalam melihat
persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik lebih sebagai
persoalan intern masing-masing perusahaan dan pemecahannya
dititik beratkan pada pemecahan secara intern di perusahaan
masing-masing. Dalam konsep baru ini, masalah logistik dilihat
sebagai masalah yang lebih luas, yang terbentang sangat panjang
sejak dari bahan dasar sampai barang jadi, yang dipakai konsumen
akhir yang merupakan mata rantai penyediaan barang. Dalam
definisi yang diajukan oleh David Simchi-Levi terlihat secara
jelas komponen/bidang apa saja yang membentuk sebuah supply
chain, yaitu:
‘Supply chain management is a set of approaches
utilized to efficiently integrate suppliers, manufacturers,
warehouses, and stores, so that merchandise is produced and
distributed at the right quantities, to the right locations,
at the right time, in order to minimize systemwide costs while
satisfying service level requirement’
Dalam mengelola sebuah supply chain ada tiga aliran entiti
yang harus diperhatikan, yaitu masing-masing:
• The flow of products/services (aliran barang/jasa);
• The flow of money (aliran uang); dan
• The flow of document/information (aliran dokumen/informasi)
Pada prinsipnya, dengan memanfaatkan teknologi informasi,
yang berpindah pada dua aliran terakhir (uang dan dokumen/terakhir)
adalah data dalam format digital, tidak lagi dalam bentuk
fisik. Sementara pada aliran barang/jasa, sebagian produk
dan proses telah dapat didigitalisasikan. Disinilah titik
awalnya para praktisi bisnis mulai mempertimbangkan untuk
menggunakan teknologi digital karena sifatnya yang lebih cepat,
lebih baik, dan lebih murah. Untuk menerapkan eSCM ini, pertimbangan
yang harus dilakukan menyangkut tiga langkah utama:
• Gambarkan proses detail dari ketiga aliran yang terjadi
di masing-masing perusahaan yang membentuk supply chain;
• Analisalah di proses-proses mana saja sejumlah sumber
daya dan prosedur dapat diubah dari bentuknya yang fisik menjadi
berbasis digital; dan
• Berdasarkan pemetaan tersebut, lakukanlah proses perubahan
dari mekanisme manual menjadi berbasis digital secara menyeluruh.
Agar sukses menerapkan eSCM ini perusahaan harus siap untuk
berubah, karena konsep ini membutuhkan perubahan paradigma
yang cukup mendasar, fundamental, dan radikal.•
Komponen
Penting Apa Sajakah Pembentuk eBusiness?
Pak Eko, saya sangat tertarik dengan rubrik Q&A yang Bapak
Asuh ini. Bisakah rubriknya diperluas? Selain itu, kalau berbicara
eBusiness, apa saja komponen-komponen penting yang membentuk
eBusiness tersebut? Apakah penerapan IT dan Internet di suatu
perusahaan sudah menjamin penerapan eBusiness? Hal apa yang
sangat penting?
Jelatik Pambayun, Manager,
PT RikaMatra Adiwara, Jakarta
Senang sekali rubrik ini dapat berguna bagi Anda. Kami akan
mempertimbangkan untuk memperluasnya sesuai dengan kebutuhan
para pembaca setia majalah ini.
Ada banyak teori mengenai komponen-komponen pembentuk eBusiness.
Teori yang konvensional, namun masih relevan untuk diterapkan,
adalah yang diperkenalkan oleh Zachman (berdasarkan arsitektur
sistem informasi), yaitu: data, proses, teknologi, manusia,
dan motivasi. Sementara teori yang terkini adalah yang diperkenalkan
oleh Mohan Shawney dalam bukunya yang terkenal ”Seven
Steps to Nirvana”, dimana yang bersangkutan beranggapan
bahwa untuk dapat sukses menerapkan eBusiness, sebuah perusahaan
harus memahami tujuh aspek utama, masing-masing adalah: e-vision,
e-volution, e-strategy, e-synchronization, e-infrastructure,
e-capitalization, dan e-organization.
Berdasarkan kerangka tersebut, terlihat secara jelas bahwa
TI (teknologi informasi) dan internet merupakan salah satu
dari komponen pembentuk eBusiness (komponen teknologi dalam
konsep Zachman dan e-infrastructure dalam konsep Mohan Shawney),
yang tentu saja tidak akan lengkap dan/atau dapat bekerja
sendiri tanpa adanya komponen-komponen yang lain (karena eBusiness
sebenarnya merupakan sebuah sistem).
Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dapat dipandang
dari dua segi, kebutuhan eksternal dan internal. Kebutuhan
eksternal adalah value yang diharapkan diperoleh pelanggan
dan mitra bisnis terhadap organisasi atau perusahaan, seperti
pelayanan yang cepat, harga yang murah, kualitas produk yang
baik, akses yang fleksibel, dan lain sebagainya. Kebutuhan
eksternal inilah yang akan men-drive kebutuhan internal, yaitu
perancangan proses bekerja yang lebih cepat, pembentukan struktur
organisasi yang lebih ramping, penguasaan SDM terhadap teknologi
informasi, perbaikan pelayanan yang berbasis pelanggan, dan
lain sebagainya.•
Penerapan
Teknologi Informasi Tergantung Visi Pimpinan?
Pak Eko saya ada pertanyaan. Apakah penerapan TI di suatu
perusahaan juga sangat tergantung visi pimpinan, sebagaimana
penerapan ISO 9000? Apakah dimungkinkan diusulkan oleh kami
dari EDP?
Arman, Manajer EDP,
PT Tigalingga Sekawan, Bandung
Benar, karena dalam penerapan TI yang efektif
diperlukan leadership yang memadai dari pimpinan tertinggi
untuk dapat melakukan hal-hal semacam: memahami peranan strategis
TI bagi perusahaan, mensosialisasikan pentingnya TI kepada
seluruh jajaran manajemen dan staf, ”memaksa”
para SDM untuk belajar dan menggunakan TI guna membantu aktivitasnya
sehari-hari, memperjuangkan alokasi dana pengembangan TI,
menjalin kerjasama kondusif dengan berbagai mitra, dan lain
sebagainya.
Sehubungan dengan penerapan ISO 9000, leadership ini merupakan
salah satu kunci sukses yang diperlukan untuk organisasi yang
ingin memperoleh sertifikasi ISO 9000, lebih tepatnya lagi
terletak pada “komitmen dari pimpinan”. Mengapa
leadership dikatakan sebagai salah satu komponen adalah semata-mata
karena yang ingin dibangun oleh ISO 9000 adalah sebuah ”sistem
manajemen mutu”, dimana di dalamnya terdapat sejumlah
komponen (sub-sistem) yang saling terkait dan berinteraksi.
EDP dalam hal ini dapat saja mengusulkannya, namun saran kami
adalah bahwa ”bahasa” yang digunakan adalah mengacu
pada keinginan bersama seluruh jajaran perusahaan untuk menuju
suatu ”mutu” atau ”kualitas” tertentu,
dimana unsur TI merupakan salah satu aspek/komponen penting
yang harus dijaga dan diusahakan kualitasnya.
Pengalaman kami juga memperlihatkan bahwa mudah tidaknya sebuah
organisasi berorientasi (siap mengimplementasikan) berbagai
hal terkait dengan pengembangan TI dapat terlihat pada struktur
organisasi tertinggi fungsi TI di perusahaan. Perusahaan yang
telah memiliki CIO (Chief Information Officer), Vice President
of IS/IT, Direktur Sistem dan Teknologi Informasi, Manajer
Senior Teknologi Informasi, dan jabatan eksekutif TI lainnya
biasanya paham betul akan peranan strategis TI di perusahaan.
Sebaliknya, yang masih menempatkan TI pada level 4 ke bawah
biasanya kerap mengalami kesulitan dalam ”memperjuangkan”
implementasi TI yang holistik. Namun, kami menganggap semua
ini merupakan suatu evolusi. Masih segar dalam ingatan kita
bagaimana dahulu sulit sekali menemukan seorang Direktur SDM,
karena ”manusia” belum dianggap memiliki fungsi
strategis, sehingga keberadaannya masih ditangani oleh Manajer
Personalia. Sekarang dapat dilihat bahwa hampir semua perusahaan
memiliki Direktur SDM.•
|