Budi Kusumah bersungut-sungut. Begitu keluar dari Kantor
Telkom setempat, raut mukanya ditekuk. Warga perumahan Parung
Indah, Jakarta itu pantas kesal karena setelah antre sekian
lama, ternyata maksud untuk menyambung sambungan telepon tidak
kesampaian. “Katanya jatah line-nya habis,” kata
Budi. Padahal, sebulan lalu, tetangga sebelah rumahnya masih
kebagian. Ia lantas mengumpat developer perumahan tempat tinggalnya.
Maklum, dulu ketika hendak membeli, dijanjikan pasti ada jaringan
telepon.
Konsumen telepon (tetap) rumahan yang senasib dengan Budi
sebenarnya banyak. Jumlahnya bukan hanya ratusan ribu, tapi
jutaan. Mereka tidak hanya tersebar di daerah-daerah terpencil
dan daerah terisolir atau pulau-pulau yang berserak, tapi
juga di daerah yang ramai seperti Jakarta. Hak konsumen untuk
mendapatkan akses telepon di negeri ini memang masih jauh
dari terlayani. Ini terjadi karena lambatnya penetrasi telepon
tetap (fixed telephone) yang pembangunannya diserahkan kepada
PT Telkom. Lebih dari 30-an tahun, BUMN telekomunikasi itu
baru mampu membangun 7 jutaan SST (satuan sambungan telepon)
alias cuma 3,4 persen dari 210 juta warga Indonesia. Penetrasi
ini masih jauh dari posisi negara tetangga di ASEAN, Malaysia
(20%) dan Thailand (7-8%).
Sebagai pemain tunggal, Telkom tidak terpacu dan terbiasa
untuk berkompetisi. Namun, alasan yang mengemuka selalu disebutkan
jika investasi jaringan amat mahal. Untuk membangun satu SST
(Satuan Sambungan Telepon), setidaknya Telkom harus membenamkan
duit senilai US$ 1.000. Selama ini, duit investasi sebesar
itu ditanggung Telkom sendiri, untuk kemudian dibebankan kepada
konsumen. Begitu duopoli dibuka per 1 Agustus 2002 lalu, Telkom
bukan lagi pemain tunggal dalam bisnis telepon tetap, tapi
harus berduet dengan saudara sepupu, yaitu PT Indosat. Konsumen
berharap banyak atas hadirnya Indosat.
Tapi, konsumen yang belum terlayani telepon harus kecewa untuk
kedua kalinya. Sebagai pesaing Telkom di bisnis fixed telephone,
Indosat sebenarnya diharapkan bakal memicu investasi baru
yang gede. Tapi, ternyata tidak. Meskipun manajemen Indosat
kini sudah bisa bernafas lega – setelah masa penantian
dan persiapan menjadi penyelenggara telepon tetap selama dua
tahun, tapi BUMN telekomunikasi ini cuma menargetkan pembangunan
700.000 SST selama lima tahun (2002-2007). Saat ini, Indosat
baru memiliki 20.000 SST di empat kota besar, yaitu Jakarta,
Surabaya, Medan dan Batam yang dibangun dengan investasi Rp170
miliar. Jumlah ini hanya 0,28% dari lebih tujuh juta saluran
milik Telkom. Tak salah jika diibaratkan David melawan Goliath.
Ini semua tidak terlepas dari betapa sulitnya menjadi penyelenggara
telepon tetap, jika dibandingkan dengan jenis layanan yang
lebih baru, yaitu telepon selular yang juga sudah lama ditekuni
oleh Indosat. Untuk pasar domestik, pertumbuhan pendapatan
rata-rata tahunan untuk layanan telepon tetap yang dimonopoli
Telkom dalam lima tahun terakhir cuma sebesar 17,5 persen.
Sedangkan bisnis selular, khususnya yang dikelola oleh Telkom,
mengalami pertumbuhan tahunan luar biasa, sebesar 71,3 persen.
Seretnya pertumbuhan di bisnis telepon tetap tentu akan berpengaruh
pada investasi berikutnya.
Toh manajemen Indosat tetap optimis. Meski pertumbuhan pendapatan
fixed line tidak setinggi selular, menurut Direktur Utama
Indosat Widya Purnama, bisnis ini masih prospektif bagi Indosat.
Widya menyodorkan data bahwa sekitar 70 persen pendapatan
Telkom berasal dari telepon tetap. Agar tidak terjebak dalam
kesulitan yang sama dengan Telkom, dalam berbisnis telepon
tetap, Indosat memilih pendekatan yang konservatif. “Bisnis
ini membutuhkan investasi yang besar. Padahal, pertumbuhan
pelanggannya agak lambat dengan ARPU (average revenue per
user) yang rendah,” kata Hasnul Suhaimi, Direktur Niaga
Indosat. Makanya, ke depan, pihaknya tidak lagi menanggung
sendiri investasinya, tetapi menerapkan pola bagi hasil (profit
sharing) dengan pihak ketiga.
Sebetulnya,
pemerintah mengharapkan Indosat segera membangun 1,4 juta
SST hingga 2005. Tujuannya, agar bisa meningkatkan penetrasi
telepon tetap di Tanah Air secara signifikan. Tetapi, karena
pendekatan yang konservatif tadi, hingga tahun 2010 Indosat
baru bisa membangun 450.000 SST tambahan melalui pola bagi
hasil. Itu pun, kata Hasnul, masih tergantung bagaimana penerimaan
pasar terhadap produk telepon Indosat. Bagi konsumen ritel
dan rumahan, kebijakan duopoli jelas belum berdampak luas.
Penetrasi tetap masih 3,4 persen, dan daerah miskin, daerah
terpencil serta daerah terisolir belum kunjung tersentuh.
Entah sampai kapan mereka harus bersabar menunggu.
Tapi, pendekatan konservatif tadi nampaknya tidak terlepas
dari masih adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah kepada
Indosat. Meskipun sudah siap, untuk tahap awal Indosat hanya
diperbolehkan mengoperasikan 13.000 SST, 8.000 SST di Jakarta
dan 5.000 SST di Surabaya. Oleh karena itu, kata Hasnul Suhaimi,
Indosat dituntut untuk jeli dalam mencari celah pasar. Sebagai
investasi yang padat modal dengan pengembalian sulit, mau
tidak mau Indosat akan mengutamakan pembangunan di daerah
“gemuk” dan segmen korporasi yang belum dilayani
oleh Telkom. Bagi konsumen kebanyakan, lagi-lagi, kebijakan
ini membuat mereka harus gigit jari dan kecewa.
Diskriminasi juga masih tampak dari belum bisa masuknya Indosat
ke mitra KSO (kerja sama operasi) Telkom. Meskipun sudah beroperasi
sejak Agustus, Indosat belum bisa masuk ke wilayah mitra KSO
Telkom, seperti Divre VII Indonesia Timur serta Divre IV Jawa
Tengah dan DIY, sebab mitra KSO memiliki eksklusivitas di
wilayah masing-masing. Kondisi ini seolah menjepit Indosat.
Soalnya, secara internal, BUMN ini berada dalam posisi agak
sulit. Pendapatan dari bisnis utamanya, yaitu sambungan langsung
internasional (SLI) 001 terus turun. Pada 1999, pendapatan
SLI Indosat sebesar Rp2,315 triliun, lalu turun pada 2000
menjadi Rp 2,184 triliun, dan Rp 2,193 triliun pada 2001.
Kecenderungan pendapatan yang menurun salah satunya disebabkan
munculnya layanan SLI murah lewat VoIP (voice over internet
protocol). Meskipun kini ada tambahan pendapatan SLI dari
Satelindo 008, namun kehadiran VoIP akan terus menggerogoti
bisnis Indosat. Tahun depan, bisnis SLI Indosat akan menghadapi
tantangan yang jauh lebih berat setelah Telkom diizinkan menyelenggarakan
SLI pada 1 Agustus 2003. Secara teoritis, pelanggan SLI Indosat
akan dengan mudah bermigrasi ke SLI Telkom, sebab Telkom masih
menjadi jawara dalam penyelenggaraan telepon lokal dan SLJJ
(sambungan langsung jarak jauh). Pelanggan Telkom tentu lebih
gampang menggunakan SLI Telkom dari pada SLI Indosat.
Posisi Indosat agak diuntungkan oleh bisnis selular yang dijalankan
oleh Satelindo dan Indosat Multi Media Mobile (IM3). Pelanggan
selular Indosat melalui Satelindo dan IM3 kini telah melampaui
2,3 juta nomor. Tahun lalu, selular Satelindo menyumbangkan
45,3 persen dari total pendapatan Indosat. Bisnis multimedia
Indosat juga tetap menunjukkan trend kenaikan hingga mencapai
Rp1 triliun pada tahun buku 2001. Terobosan yang patut diacungi
jempol adalah pembangunan jaringan fixed wireless lewat pola
bagi hasil menggunakan teknologi CDMA (code division multiple
access) 2000 1X dapat dilakukan dengan investasi US$200 per
SST, jauh lebih rendah dari pembangunan saat ini yang biayanya
hampir lima kali lipat. Artinya, masih ada peluang penetrasi
telepon tetap dipercepat. • ki
|