IT & Communications Volume I Nomor 03 - Desember 2002 - Januari 2003
Masuknya Indosat sebagai operator telepon tetap masih belum mengubah peta penetrasi telepon nasional.
 

Budi Kusumah bersungut-sungut. Begitu keluar dari Kantor Telkom setempat, raut mukanya ditekuk. Warga perumahan Parung Indah, Jakarta itu pantas kesal karena setelah antre sekian lama, ternyata maksud untuk menyambung sambungan telepon tidak kesampaian. “Katanya jatah line-nya habis,” kata Budi. Padahal, sebulan lalu, tetangga sebelah rumahnya masih kebagian. Ia lantas mengumpat developer perumahan tempat tinggalnya. Maklum, dulu ketika hendak membeli, dijanjikan pasti ada jaringan telepon. 

Konsumen telepon (tetap) rumahan yang senasib dengan Budi sebenarnya banyak. Jumlahnya bukan hanya ratusan ribu, tapi jutaan. Mereka tidak hanya tersebar di daerah-daerah terpencil dan daerah terisolir atau pulau-pulau yang berserak, tapi juga di daerah yang ramai seperti Jakarta. Hak konsumen untuk mendapatkan akses telepon di negeri ini memang masih jauh dari terlayani. Ini terjadi karena lambatnya penetrasi telepon tetap (fixed telephone) yang pembangunannya diserahkan kepada PT Telkom. Lebih dari 30-an tahun, BUMN telekomunikasi itu baru mampu membangun 7 jutaan SST (satuan sambungan telepon) alias cuma 3,4 persen dari 210 juta warga Indonesia. Penetrasi ini masih jauh dari posisi negara tetangga di ASEAN, Malaysia (20%) dan Thailand (7-8%). 

Sebagai pemain tunggal, Telkom tidak terpacu dan terbiasa untuk berkompetisi. Namun, alasan yang mengemuka selalu disebutkan jika investasi jaringan amat mahal. Untuk membangun satu SST (Satuan Sambungan Telepon), setidaknya Telkom harus membenamkan duit senilai US$ 1.000. Selama ini, duit investasi sebesar itu ditanggung Telkom sendiri, untuk kemudian dibebankan kepada konsumen. Begitu duopoli dibuka per 1 Agustus 2002 lalu, Telkom bukan lagi pemain tunggal dalam bisnis telepon tetap, tapi harus berduet dengan saudara sepupu, yaitu PT Indosat. Konsumen berharap banyak atas hadirnya Indosat. 

Tapi, konsumen yang belum terlayani telepon harus kecewa untuk kedua kalinya. Sebagai pesaing Telkom di bisnis fixed telephone, Indosat sebenarnya diharapkan bakal memicu investasi baru yang gede. Tapi, ternyata tidak. Meskipun manajemen Indosat kini sudah bisa bernafas lega – setelah masa penantian dan persiapan menjadi penyelenggara telepon tetap selama dua tahun, tapi BUMN telekomunikasi ini cuma menargetkan pembangunan 700.000 SST selama lima tahun (2002-2007). Saat ini, Indosat baru memiliki 20.000 SST di empat kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Batam yang dibangun dengan investasi Rp170 miliar. Jumlah ini hanya 0,28% dari lebih tujuh juta saluran milik Telkom. Tak salah jika diibaratkan David melawan Goliath. 

Ini semua tidak terlepas dari betapa sulitnya menjadi penyelenggara telepon tetap, jika dibandingkan dengan jenis layanan yang lebih baru, yaitu telepon selular yang juga sudah lama ditekuni oleh Indosat. Untuk pasar domestik, pertumbuhan pendapatan rata-rata tahunan untuk layanan telepon tetap yang dimonopoli Telkom dalam lima tahun terakhir cuma sebesar 17,5 persen. Sedangkan bisnis selular, khususnya yang dikelola oleh Telkom, mengalami pertumbuhan tahunan luar biasa, sebesar 71,3 persen. Seretnya pertumbuhan di bisnis telepon tetap tentu akan berpengaruh pada investasi berikutnya. 

Toh manajemen Indosat tetap optimis. Meski pertumbuhan pendapatan fixed line tidak setinggi selular, menurut Direktur Utama Indosat Widya Purnama, bisnis ini masih prospektif bagi Indosat. Widya menyodorkan data bahwa sekitar 70 persen pendapatan Telkom berasal dari telepon tetap. Agar tidak terjebak dalam kesulitan yang sama dengan Telkom, dalam berbisnis telepon tetap, Indosat memilih pendekatan yang konservatif. “Bisnis ini membutuhkan investasi yang besar. Padahal, pertumbuhan pelanggannya agak lambat dengan ARPU (average revenue per user) yang rendah,” kata Hasnul Suhaimi, Direktur Niaga Indosat. Makanya, ke depan, pihaknya tidak lagi menanggung sendiri investasinya, tetapi menerapkan pola bagi hasil (profit sharing) dengan pihak ketiga. 

Sebetulnya, pemerintah mengharapkan Indosat segera membangun 1,4 juta SST hingga 2005. Tujuannya, agar bisa meningkatkan penetrasi telepon tetap di Tanah Air secara signifikan. Tetapi, karena pendekatan yang konservatif tadi, hingga tahun 2010 Indosat baru bisa membangun 450.000 SST tambahan melalui pola bagi hasil. Itu pun, kata Hasnul, masih tergantung bagaimana penerimaan pasar terhadap produk telepon Indosat. Bagi konsumen ritel dan rumahan, kebijakan duopoli jelas belum berdampak luas. Penetrasi tetap masih 3,4 persen, dan daerah miskin, daerah terpencil serta daerah terisolir belum kunjung tersentuh. Entah sampai kapan mereka harus bersabar menunggu.

Tapi, pendekatan konservatif tadi nampaknya tidak terlepas dari masih adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah kepada Indosat. Meskipun sudah siap, untuk tahap awal Indosat hanya diperbolehkan mengoperasikan 13.000 SST, 8.000 SST di Jakarta dan 5.000 SST di Surabaya. Oleh karena itu, kata Hasnul Suhaimi, Indosat dituntut untuk jeli dalam mencari celah pasar. Sebagai investasi yang padat modal dengan pengembalian sulit, mau tidak mau Indosat akan mengutamakan pembangunan di daerah “gemuk” dan segmen korporasi yang belum dilayani oleh Telkom. Bagi konsumen kebanyakan, lagi-lagi, kebijakan ini membuat mereka harus gigit jari dan kecewa.

Diskriminasi juga masih tampak dari belum bisa masuknya Indosat ke mitra KSO (kerja sama operasi) Telkom. Meskipun sudah beroperasi sejak Agustus, Indosat belum bisa masuk ke wilayah mitra KSO Telkom, seperti Divre VII Indonesia Timur serta Divre IV Jawa Tengah dan DIY, sebab mitra KSO memiliki eksklusivitas di wilayah masing-masing. Kondisi ini seolah menjepit Indosat. Soalnya, secara internal, BUMN ini berada dalam posisi agak sulit. Pendapatan dari bisnis utamanya, yaitu sambungan langsung internasional (SLI) 001 terus turun. Pada 1999, pendapatan SLI Indosat sebesar Rp2,315 triliun, lalu turun pada 2000 menjadi Rp 2,184 triliun, dan Rp 2,193 triliun pada 2001.

Kecenderungan pendapatan yang menurun salah satunya disebabkan munculnya layanan SLI murah lewat VoIP (voice over internet protocol). Meskipun kini ada tambahan pendapatan SLI dari Satelindo 008, namun kehadiran VoIP akan terus menggerogoti bisnis Indosat. Tahun depan, bisnis SLI Indosat akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat setelah Telkom diizinkan menyelenggarakan SLI pada 1 Agustus 2003. Secara teoritis, pelanggan SLI Indosat akan dengan mudah bermigrasi ke SLI Telkom, sebab Telkom masih menjadi jawara dalam penyelenggaraan telepon lokal dan SLJJ (sambungan langsung jarak jauh). Pelanggan Telkom tentu lebih gampang menggunakan SLI Telkom dari pada SLI Indosat.

Posisi Indosat agak diuntungkan oleh bisnis selular yang dijalankan oleh Satelindo dan Indosat Multi Media Mobile (IM3). Pelanggan selular Indosat melalui Satelindo dan IM3 kini telah melampaui 2,3 juta nomor. Tahun lalu, selular Satelindo menyumbangkan 45,3 persen dari total pendapatan Indosat. Bisnis multimedia Indosat juga tetap menunjukkan trend kenaikan hingga mencapai Rp1 triliun pada tahun buku 2001. Terobosan yang patut diacungi jempol adalah pembangunan jaringan fixed wireless lewat pola bagi hasil menggunakan teknologi CDMA (code division multiple access) 2000 1X dapat dilakukan dengan investasi US$200 per SST, jauh lebih rendah dari pembangunan saat ini yang biayanya hampir lima kali lipat. Artinya, masih ada peluang penetrasi telepon tetap dipercepat. • ki

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved