
Jimmy Lamo, Presiden Direktur
PT Netwave Maju Abadi |
Telekomunikasi di Indonesia masih banyak
memiliki celah-celah yang dapat dibangun dan terus dikembangkan.
Namun, hanya dengan pemain-pemain yang ada sekarang ini, sektor
tersebut meskipun tumbuh dengan pesat namun masih sangat tertinggal
jauh dibandingkan dengan negara-negara lain, baik di Asia
apalagi jika dibandingkan dengan Eropa dan Amerika. Apalagi,
ketika krisis ekonomi menimpa negeri ini, investasi di bidang
telekomunikasi menjadi sangat mahal, untuk itu perlu dipikirkan
bagaimana mendatangkan teknologi telekomunikasi dengan harga
terjangkau namun tetap memiliki mutu yang baik.
Melihat kesempatan dan peluang tersebut, PT. Netwave Maju
Abadi mencoba menjadi pemain dan ikut serta meramaikan pembangunan
sektor telekomunikasi di Indonesia. Sebagai perusahaan, Netwave
memang masih terbilang muda usianya. Namun sepak terjang perusahaan
yang memiliki empat divisi ini, yaitu Teknologi Informasi,
Telekomunikasi, Sistem Security dan juga Problem Solver ternyata
telah banyak berkiprah dibidangnya.
Sudah lima bulan terakhir ini, Netwave berhasil merangkul
DTT (Datang Telecom Technology) sebuah BUMN (Badan Usaha Milik
Negara) asal negeri Cina yang saat ini sedang mengembangkan
proyek berbasis telekomunikasi bersama PT. Telekomunikasi
Indonesia. “Netwave memang menjadi sole agent Datang
Telecom Technology di Indonesia. Bersama dengan Datang, kami
dan juga vendor-vendor telekomunikasi akan turut serta dalam
pembangunan telekomunikasi di Indonesia,” kata Jimmy
Lamo, Presiden Direktur PT. Netwave Maju Abadi.
Keseriusan Netwave untuk berkiprah di bidang Telekomunikasi
memang tidak main-main. Apalagi DTT sebagai mitra kerja memiliki
reputasi internasional yang dapat diandalkan. Meski baru memasuki
pasar Indonesia, DTT telah memiliki jaringan kerja dan juga
pasar untuk produk-produknya di sejumlah negara, antara lain
Thailand, Myanmar, Irak, Iran, Nigeria dan beberapa negara
lainnya, yang seluruhnya mencapai 40 negara. Di Cina sendiri,
perusahaan ini telah memasuki tahun ke 30 bergelut di bidang
ini. Di negara asalnya, DTT termasuk dalam salah satu perusahaan
top di bidang perlengkapan telekomunikasi.
“Yang penting, kerjasama ini bukan sekedar jual beli
barang, investment ataupun finansial belaka seperti kebanyakan
kerjasama bisnis yang terjalin selama ini. Antara Netwave
dan DTT juga terjalin kesepakatan untuk melakukan transfer
knowledge guna mengembangkan teknologi telekomunikasi di Indonesia,”
terang pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini.
Sejatinya, Netwave juga mengepakkan sayap kerjasamanya dengan
vendor telekomunikasi lainnya yang berada di tanah air. Bukan
hanya PT. Telkom, kerjasama tersebut juga diulurkan baik kepada
Indosat, Satelindo maupun Telkomsel. Sejumlah teknologi telah
diujicobakan, termasuk juga modifikasi teknologi yang disesuaikan
dengan kebutuhan komunikasi di Indonesia untuk ditawarkan
kepada vendor-vendor tersebut. “Teknologi yang kita
bangun saat ini mengarah pada teknologi CDMA (Code Division
Multiple Access), optical transmission, microwave dan juga
broadband wireless. Itu semua adalah main fokus dari pengembangan
teknologi telekomunikasi yang Netwave garap,” ujar Jimmy.
Sejak kerjasama tersebut terjalin, sejumlah proyek pun akan
dibangun dan dilaksanakan di Indonesia. Saat ini, Netwave
dan DTT sedang mengembangkan jaringan optical transmission
yang sedianya akan diperuntukkan bagi pengembangan jaringan
milik PT. Telkom. Optical Transmission tersebut, menurut Jimmy,
diperuntukkan untuk membawa transmisi dalam jumlah yang sangat
besar melalui jaringan optik. Menurut lulusan San Diego State
University, jurusan Information Technology, teknologi optical
transmission akan sangat membantu sektor telekomunikasi, karena
dengan teknologi ini kabel-kabel yang selama ini banyak digunakan
akan dipangkas dan digunakan secukupnya.
Kebanggaan lain yang dimiliki Netwave ketika berhasil merangkul
DTT adalah keberhasilan perusahaan tersebut mengembangkan
teknologi mobile communication berbasis 3G (3rd Generation).
“Ini berarti, teknologi ini akan segera kami kembangkan
pula di Indonesia,” tambah Jimmy dengan optimis.
Teknologi mobile communication 3G yang dikembangkan DTT memiliki
kelebihan dibandingkan dengan teknologi sejenis yang dikembangkan
oleh negara-negara Eropa maupun Amerika. “Selama ini,
Cina seringkali dianggap follower untuk berbagai macam jenis
produk maupun teknologi. Namun untuk teknologi 3G ini, saya
pastikan bahwa perusahaan yang berasal dari Cina ini telah
berhasil mengembangkan teknologi yang lebih maju dibandingkan
dengan negara-negara lain di Eropa dan Amerika yang telah
lebih dahulu mengembangkan teknologi ini. Bahkan, teknologi
3G yang dikembangkan DTT telah berhasil mendapatkan pengakuan
internasional, karena teknologi tersebut dinilai dapat memenuhi
standar yang berlaku,” ujar Jimmy panjang lebar.
Kelebihan lain teknologi 3G buatan DTT adalah harganya yang
lebih murah dibandingkan produk sejenis. “ Seperti kebanyakan
produk-produk lain asal Cina, memang harganya jauh lebih murah.
Jika dibandingkan di pasar, teknologi 3G yang dikembangkan
DTT harganya 30% jauh lebih murah dibandingkan produk sejenis
yang ada saat ini. Meskipun lebih murah, mutu kualitas teknologinya
tetap memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Buktinya,
sejauh ini 40 negara telah ikut menikmati poduk-produk yang
diciptakannya,” jelas Jimmy.
Lalu, bagaimana kendala pengembangan teknologi tersebut di
tanah air? Apalagi basis mobile communication di Indonesia
masih menggunakan GSM. Menjawab itu, Jimmy dan juga DTT tetap
optimis. “Ini proyek jangka panjang yang masih terus
dikembangkan. Implementasinya memang tidak dilakukan pada
waktu dekat ini. Artinya, walaupun saat ini Indonesia masih
menggunakan GSM, tidak tertutup teknologi-teknologi lain akan
digunakan untuk masa-masa mendatang,” jawab Jimmy.
Besarkah keuntungan yang diperoleh Netwave dengan kerjasama
ini? Dengan diplomatis, pria yang masih lajang ini mengatakan
bahwa keuntungan tersebut sangat relatif. “Sayang saya
tidak bisa membeberkan angka di sini. Apalagi, proyek yang
kami garap cukup banyak. Ada proyek pendek yang dapat diselesaikan
dua atau tiga bulan ataupun proyek panjang yang saat ini masih
dalam tahap persiapan. Masing-masing proyek tersebut memiliki
nilai yang berbeda,” kata Jimmy sambil tersenyum.•jl
foto-foto: LS Widiyanto
|