Features Volume I Nomor 03 - Desember 2002 - Januari 2003
Gelombang revolusi informasi sedang berjalan. Tetapi, bukan ini yang diharapkan oleh para pakar informasi, ekse-kutif informasi dan industri informasi.
Gelombang kali ini tidak terjadi pada
teknologi, perang-kat keras, teknis,
perangkat lunak atau kecepatan-nya. Ini revolusi KONSEP.


Peter F. Drucker
 

Selama limapuluh tahun, revolusi informasi terfokus pada persoalan data, pengumpulan, penyimpanan, transmisi, analisis dan presentasinya. Semua pada unsur ‘T’ dalam Teknologi Informasi (TI). Gelombang revolusi informasi selanjutnya akan mempertanyakan apa yang dimaksud dengan informasi? Apa yang akan dituju? Pertanyaan semacam ini dengan cepat meredefinisikan tugas yang akan dilakukan dengan bantuan informasi, sekaligus akan meredefinisikan institusi-institusi yang menjalankannya.

Gelombang revolusi itu akan melibatkan institusi-institusi utama di dalam masyarakat modern saat ini. Ini sebenarnya telah dimulai, dan justru telah berjalan jauh dalam organisasi-organisasi bisnis yang telah memperoleh dampaknya secara mendalam. Hal tersebut mendorong re-definisi organisasi bisnis secara aktual dan seharusnya. Ini terlihat pada definisi baru tentang fungsi organisasi bisnis sebagai “pencipta nilai dan kemakmuran” (Creation of Value and Wealth).

Hal itu memicu debat tentang “pemerintahan korporasi”, yang menggambarkan organisasi bisnis sebagai institusi pencipta nilai dan kemakmuran. Sekalipun penting dan berdampak luas, gelombang revolusi ini, hingga sekarang, masih diabaikan sebagian besarnya karena masih disibukkan dengan upaya memantapkan informasi. Untuk bisa mulai memasukkan sebuah unsur ke dalam sistem informasi dibutuhkan waktu panjang. Akuntansi, misalnya, sekalipun terkesan kuno, namun saat ini masih digunakan secara meluas. Malahan justru selalu direndahkan oleh komunitas TI.

Kira-kira tahun 1950-an, opini yang bergema adalah pasar mesin ajaib (komputer) ini adalah militer dan sains yang membutuhkan kalkulasi nan rumit, seperti astronomi. Hanya sedikit dari kami, bahkan mungkin lebih sedikit lagi jumlahnya yang berani mengatakan jika pasar terbesarnya jutru nantinya pada sektor bisnis, dan akan berdampak mendalam.

Kalangan yang jumlahnya kecil ini melawan arus, walaupun IBM sedang naik daun saat itu. Kalangan tersebut melihat justru di bisnis, fungsi komputer meluas dari semula hanya sebagai alat kalkulasi cepat untuk hitungan gaji, pajak dan tagihan rekening. Kami memang bersilang pendapat, terutama, dengan kalangan non-konformis, seperti Russell Ackoff, John Diebold dan J.W. Forrester. Namun semuanya menyetujui satu hal: bahwa dalam jangka pendek, dampak penggunaan komputer dalam merevolusi kerja manajemen puncak akan terlihat dalam bentuk kebijakan, strategi dan keputusan-keputusan bisnis.

Yang tidak bisa diprediksikan adalah dampaknya terhadap sisi operasional sebuah organisasi bisnis. Tidak satupun bisa membayangkan, sebagai contoh, revolusi piranti lunak untuk para arsitek. Piranti itu bisa membantu kerja mendesain bagi para arsitek hingga ke detil, seperti aliran pasokan air dan pemipaan dalam perencanaan pembangunan sebuah gedung bertingkat; sistem pencahayaan, pemanasan dan penyejuk ruangan; dan spesifikasi elevator serta penempatannya. Pekerjaan yang berapa tahun lalu menyerap dua pertiga waktu dan biaya adalah desain gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit atau penjara.

Kami juga tidak membayangkan ketersediaan piranti lunak untuk pasien inap bedah. Ini memungkinan untuk melakukan operasi bedah virtual, termasuk kemungkinan “membunuh” pasien bila salah melakukan tindakan. Padahal, hingga sekarang, para pasien inap jarang melihat bedah sesungguhnya, kecuali menjelang akhir pendidikannya.

Setengah abad yang lampau, tak akan ada orang yang berani membayangkan revolusi piranti lunak memungkinkan produsen manufaktur alat berat semacam Caterpillar bisa mengorganisasikan kegiatan operasinya, termasuk proses manufaktur yang menjangkau seluruh dunia, mengantisipasi layanan dan pergantian suku cadang pelanggannya. Hal yang sama juga terjadi pada operasional perbankan. Boleh dibilang perbankan mungkin telah menjadi industri yang paling tinggi tingkat komputerisasinya (the most computerized).

Komputer dan TI hingga sekarang belumlah berdampak hingga tingkat kepraktisan, terutama, untuk pengambilan keputusan, seperti akan dibangun atau tidak gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit, atau penjara baru. Juga keputusan akan difungsikan dan, selayaknya difungsikan, untuk apa sebuah bangunan didirikan. Ini serupa dengan keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan operasi bedah bagi pasien yang kondisinya amat kritis. Atau prosedur tindakan seperti yang harus dilakukan pada sebuah operasi pembedahan.

Komputer juga tidak berdampak atas kepraktisan pengambilan keputusan bisnis, misal, tentang pasar mana yang sebaiknya dimasuki oleh sebuah produsen alat berat. Atau, produk-produk alat berat mana saja yang sebaiknya dijajakan dalam sebuah pasar. Dampak praktis Komputer dan TI juga tidak menjangkau opsi pilihan pengambilan keputusan, misal dalam akusisi sebuah bank atas bank lainnya. Untuk manajemen puncak, TI lebih merupakan produser data daripada menjadi produser informasi itu sendiri. Itu pun masih menimbulkan berbagai pertanyaan dan strategi baru dan berbeda.

Menanggapi hal-hal tersebut, komunitas MIS (Management Information System) dan TI cenderung membela diri dan selalu menyalahkan kegagalan pada yang disebutnya sebagai reaksi para eksekutif, yang berasal dari “old school”. Ini merupakan penjelasan yang salah.

Manajemen puncak tidak menggunakan teknologi baru itu karena tidak dilengkapi dengan informasi-informasi yang dibutuhkannya dalam bertugas. Data yang tersedia sebagian besar masih berdasarkan teorema-teorema lama. Teorema yang muncul di abad sembilan belas yang mengupayakan biaya rendah akan mendiferensiasikan bisnis dan meraih kesuksesan.

Celakanya, MIS mengambil data yang masih menggunakan teorema-teorema tersebut dan mengomputerisasikannya. Contohnya: data dari sistem akuntansi tradisional. Sistem yang diciptakan 500 tahun silam itu bertujuan menyediakan kebutuhan perusahaan untuk menjaga aset-asetnya, dan juga sistem distribusi jika usaha tersebut ditutup. Salah satu pertambahan besar dalam akuntansi itu adalah akuntansi biaya yang lahir pada 1920-an.

Akuntansi biaya bertujuan mengangkat sistem akuntasi lama ke perekonomian abad sembilan belas, dan melengkapinya dengan informasi biaya guna keperluan pengawasan. Langkah yang sama juga terjadi dalam revisi akuntansi biaya yang popular dengan sebutan: Total Quality Management (TQM).

continue to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved