Tidak
seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Siti Jamilah nampak
bersuka-cita. Sambil menahan senyum, pelajar sebuah SMU di
Jakarta Selatan itu berjingkrak-jingkrak kegirangan. “Akhirnya,
ku dapat kau,” katanya berkali-kali. Maklumlah, setelah
mengaduk-aduk sejumlah perpustakaan di berbagai lembaga, referensi
soal United Kingdom yang dicari-cari Jamilah selama hampir
sepekan ternyata ditemukan di British Council. Tidak saja
lengkap, tapi melimpah. Itu pun Jamilah tidak perlu susah-susah,
cukup browsing di depan komputer dan mengakses alamat www.britishcouncil.or.id.
Kemudahan yang dinikmati Jamilah tidak terlepas dari fasilitas
yang diberikan oleh British Council. Dengan implementasi teknologi
informasi (TI) di perpustakaan, lembaga nirlaba itu tidak
saja melayani peminjaman secara konvensional, tapi anggota
bisa meminjam buku lewat internet dan kemudahan akses untuk
mencari informasi yang lebih bermutu. Di British Council,
setidaknya tersedia koleksi buku sebanyak 19.000, 5.000 buah
AV (video dan kaset), dengan langganan majalah dan koran sekitar
80-an judul.
Dibandingkan dengan lembaga-lembaga penting di negeri ini,
implementasi TI di perpustakaan British Council terbilang
sudah maju. Makanya, institusi ini pada satu atau dua tahun
ke depan akan mengubah perpustakaannya menjadi KLC (Knowledge
and Learning Center). Dengan perubahan ini, semua layanan
British Council akan terpusat di KLC. Nantinya akan disediakan
informasi tentang United Kingdom, sekolah di Inggris, termasuk
sekolah-sekolah yang memberikan beasiswa, peminjaman buku,
video dan layanan yang lain. “Konsepnya semacam one
stop shopping,” kata Hendro Wicaksono, pustakawan asal
British Council. Koleksinya akan lebih banyak berbentuk elektronik.
Nantinya, British Council akan berlangganan akses ke database
full text.
Jika itu terwujud, akan banyak kemudahan yang bisa dinikmati
oleh anggotanya. Mereka akan dengan begitu mudah mengakses
dan mendapatkan informasi-informasi penting. Tidak ada lagi
cerita tidak menemukan referensi yang memadai. Kondisi ini
berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan yang ada
di Tanah Air. Tengoklah betapa memprihatinkannya perpustakaan
di sekolah-sekolah umum dan sekolah khusus. Selain penataannya
semrawut dan serba manual, koleksinya hanya itu-itu saja.
Bahkan, banyak sekali koleksi buku yang obsolete. “Bagaimana
mungkin kita bisa membangun sumberdaya manusia yang handal
jika aset sumber pengetahuan dan ilmu itu tidak dibangun,”
kata Badollahi Mustafa, Kepala Perpustakaan Institut Pertanian
Bogor (IPB).
Perpustakaan yang agak memadai rata-rata terdapat di perguruan
tinggi. Menurut Mustafa, perpustakaan Universitas Petra Surabaya,
Universitas Sumatera Utara Medan, Universitas Solo, Institut
Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, beberapa universitas
swasta di Jakarta dan Bandung, sudah lumayan. Selain terpadu,
fungsi-fungsi yang diotomatisasi sudah lebih lengkap. “Kalau
IPB, lumayanlah,” kata Mustafa merendah. Sementara untuk
perpustakaan umum, menurut Hendro, baru British Council yang
impelemntasi TI-nya sudah lumayan. Untuk institusi swasta,
perpustakaan di perusahaan konsultan Price Waterhouse Coopers
(PWC) juga sudah lumayan canggih.

Hendro Wicaksono, pustakawan British Council |
Dari sisi demografis, kata Hendro Wicaksono, kebanyakan perpustakaan
yg sudah implementasi TI (skala kecil atau besar) adalah perpustakaan
yang terdapat di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya.
Implementasi TI di perpustakaan memang banyak ditemukan di
kota-kota besar. Dan itu ditemukan di perpustakaan di mana
institusi induknya memang sudah menggunakan TI dalam kerja
sehari-hari, seperti law firm dan konsultan bisnis. Sedangkan
di lembaga yang belum banyak tersentuh TI, rata-rata bangunan
perpustakaannya asal-asalan dan belum diotomatisasi dengan
TI.
Jika dibandingkan dengan implementasi TI di perpustakaan di
negara-negara maju, Indonesia begitu tertinggal. “Kita
ketinggalan sekitar 10-15 tahun,” kata Mustafa. Sebab,
implementasi TI di perpustakaan di negara-negara maju, seperti
di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, juga di negara-negara
Asia seperti Filipina, India, Malaysia, Singapura dan Thailand,
rata-rata sudah terpadu dan lengkap. Di negara-negara tersebut,
perpustakaan menjadi kiblat sumber informasi. “Bila
seseorang membutuhkan informasi apa saja, mereka pasti pergi
ke perpustakaan,” kata Edwin Markin, pustakawan Bank
Mandiri. Ketika mencari angka kematian/kelahiran di suatu
tempat, mencari biodata seseorang dan mencari pemilik kendaraan
bermotor, mereka pasti ke perpustakaan.
Pengalaman Hendro melihat implementasi TI di perpustakaan
di London dan Manchester (Inggris) serta di Bielefeld (Jerman)
menarik disimak. Di sana, kata Hendro, orang dengan mudah
melakukan peminjaman antar perpustakaan, men-donwload artikel
fulltext antar unit, memperpanjang peminjaman lewat internet,
menikmati fasilitas multimedia, dan e-learning. Di dua negara
tersebut, kultur antar perpustakaan perguruan tinggi memang
sudah terbiasa untuk resource sharing dan kurikulum pendidikan
yang baik, sehingga implementasi TI mudah dilakukan. Di sana,
lanjut Hendro, terasa betul “The power of library networking”.
“Trust sangat terasa peranannya dalam membangun jaringan
perpustakaan berbasiskan teknologi,” kata Hendro Wicaksono.
Mengapa implementasi TI di perpustakaan di Indonesia rata-rata
baru sebatas menyediakan software untuk pengolahan dan penelusuran
serta sirkulasi bahan pustaka, layanannya pun masih sepotong-potong,
belum terintegrasi dan hanya bisa dimanfaatkan oleh anggota
perpustakaan? Menurut Edwin Markin, ini disebabkan karena
untuk mengimplementasikan TI di diperpustakaan membutuhkan
investasi yang tidak kecil dan sumber daya manusia yang memadai.
“Yang terpenting adalah masih kecilnya perhatian pimpinan
lembaga/pemilik perusahaan/pemilik modal tentang manfaat perpustakaan,”
Edwin memberi alasan. Seringkali keberhasilan implementasi
TI di sebuah institusi memang amat ditentukan oleh sikap dan
visi dari pucuk pimpinannya.
Sebab, dari sisi teknologi, Indonesia jelas tidak kalah dengan
negara lain. Yang jadi masalah, ketika implementasi, seringkali
sistem tidak bisa berjalan dengan baik karena adanya masalah
kultur. “Jadi, negara lain lebih maju bukan dari sisi
teknologi, tapi dari sisi kultur,” kata Hendro. Implementasi
TI di manapun, termasuk di perpustakaan, aspek sosial, yaitu
manusia yang akan memakai teknologi tersebut, menempati posisi
penting. Teknologi secanggih apa pun tak akan ada gunanya
jika pemakainya menolak. Dari sisi kultur berbagi dan berkembang
bersama, kiblat yang bisa dicontoh adalah Jerman.
Benarkah implementasi TI di perpustakaan ongkosnya mahal?
Cap ini tidaklah benar. Mahal dan tidak itu relatif. Untuk
perusahaan bank sekelas Bank Mandiri, jelas dana yang diinvestasikan
tidak gede. Dengan koleksi buku sebanyak 9.197 judul (lebih
dari 11.000 eksemplar), langganan 11 koran dalam dan luar
negeri, langganan 17 majalah dalam dan luar negeri dan langganan
11 jurnal/terbitan berkala, pengeluaran bulanannya paling-paling
berjumlah puluhan juta rupiah. Pembelian software NCI Bookman
versi 2.30 yang diproduksi PT NCI di Bandung pun cuma berkisar
Rp 40-50 juta. Itu sudah termasuk hardware, yaitu 3 unit komputer
(masing-masing untuk penelusuran, input data dan server),
printer, barcode reader dan kertas print barcode). Di luar
itu, masih ada tiga komputer lagi, yaitu 1 unit komputer input
data dan 2 PC (personal computer) biasa.
Bisa pula lebih murah. Menurut Hendro Wicaksono, saat ini
banyak sekali aplikasi yang bagus, mudah di-download di internet
dan gratis. Misalnya, aplikasi LAMP (Linux Apache MySQL PHP)
atau WAMP (Windows Apache MySQL PHP). LAMP/WAMP amat mudah
diimplementasikan, bahkan oleh kalangan pemula sekali pun.
Yang diperlukan hanyalah membaca langkah-langkah dalam manual.
Jika menemui kesulitan, kata pakar security asal ITB Budi
Rahardjo, ada banyak sekali website atau mailing list aktif
yang bisa membantu. Untuk mengimplementasikan aplikasi berbasis
open source ini, kata Budi, tidaklah sepenuhnya gratis. Tetap
ada hidden cost, seperti belajar dengan men-download materi
di internet dan kehilangan waktu untuk bejalar.
Hebatnya lagi, aplikasi-aplikasi tersebut rata-rata bersifat
multiplatform, learn once dan use anywhere. Misalnya, LAMP/WAMP
selain bisa digunakan di Linux, juga familiar dipakai di Windows.
Masing-masing aplikasi biasanya bersifat sepesifik. Aplikasi
Post Nuke atau PHP Nuke misalnya, cocok untuk content management
system. Sementara aplikasi Open Biblio lebih cocok untuk otomatisasi
perpustakaan. Sejauh ini, kata Hendro, ia tidak menemui masalah
serius menggunakan aplikasi-aplikasi gratis tersebut. “Dan
yang terpenting, kebutuhan saya bisa terpenuhi,” kata
Hendro menambahkan.
Implementasi TI di perpustakaan memang memberikan banyak keuntungan.
Ketika masih serba manual, perpustakaan IPB memerlukan tenaga
6 orang untuk melayani sirkulasi sepanjang waktu layanan.
Kini cukup hanya dilayani satu orang. Ketika masih manual,
layanan juga lambat, kurang akurat, boros bahan dan perlu
membuat kartu katalog. Dengan pemanfaatan TI, masalah ini
tidak ada lagi. Bahkan, dengan TI bisa menambahkan layanan
baru, yaitu akses informasi lewat internet.
Untuk melayani pengunjung 60-70 orang per hari, perpustakaan
Bank Mandiri malah hanya dilayani empat orang. Tapi dengan
NCI Bookman, pustakawan amat terbantu dalam kegiatan sirkulasi/simpan
pinjam karena menggunakan sistem barcode, baik barcode buku
maupun nomor barcode anggota. Sehingga proses sirkulasi dapat
lebih efisien. Tidak heran jika NCI Bookman kini dipakai di
lebih 70 perpustakaan, salah satunya perpustakaan Bank BNI.
Kekurangannya, kata Edwin Markin, PT NCI berada di Bandung,
sehingga kalau ada masalah pihaknya harus menghubungi ke Bandung,
atau menunggu orang dari Bandung. Selain itu, tidak seperti
versi terbarunya, NCI Bookman versi 2.30 masih belum bisa
digunakan untuk mengakses lewat internet.
Mengapa Bank Mandiri perlu membangun perpustakaan segala?
Menurut Edwin, perpustakaan Bank Mandiri yang berada di bawah
economic financial research group dimaksudkan untuk menyediakan
bahan pustaka/informasi bagi seluruh karyawan yang membutuhkannya
bagi kelancaran tugas-tugasnya. Sebagai gudang informasi,
perpustakaan adalah sarana untuk mendongkrak kualitas sumberdaya
manusia Bank Mandiri. Ini pada gilirannya diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang nyata bagi Bank Mandiri, yakni
peningkatan laba perusahaan.
Edwin tidak mengelak bahwa keberadaan perpustakaan di Bank
Mandiri memang dimaksudkan untuk pengelolaan pengetahuan (knowledge
management). Sebab, kata Edwin, perusahaan yakin informasi
akan sangat mempengaruhi kemajuan suatu bisnis atau perusahaan.
“Manajemen perusahaan yang baik sangat memerlukan perolehan,
pengolahan dan pengaturan informasi yang tertata rapi,”
kata Edwin. Hakekat tugas perpustakaan adalah mengelola dan
mengatur informasi yang ada dalam bentuk bahan pustaka (baik
book material maupun non book material), sehingga mudah dimanfaatkan
pemakai/karyawan. Mungkin lantaran ini, Bank Mandiri, bank
hasil merger empat bank pelat merah, hanya dalam tempo tiga
tahun prestasinya sudah melesat jauh ke depan. Padahal, merger
bank seringkali gagal karena perbedaan kultur dan adanya resistensi.
Jika sebuah institusi hendak mengimplementasikan TI di perpustakaannya,
agar tidak gagal, faktor sosial (manusia pemakainya) harus
dipersiapkan masak-masak. Kualitas sumberdaya manusia pengelolanya
juga tidak kalah penting. Dari sisi teknologi, sepanjang ada
dana, semua lembaga punya akses yang sama. Cuma, kata Badollahi
Mustafa, teknologi seperti apa yang hendak diimplementasikan
amat tergantung pada perpustakaan yang hendak dibangun, berikut
dana yang tersedia. Dengan pertimbangan-pertimbangan ini,
sebuah institusi bisa membangun perpustakaan sesuai kebutuhan
dan sesuai pula dengan isi kantongnya. Jadi, tidak ada lagi
alasan TI itu mahal. •ki
foto-foto: Dahlan Rebo Paing
|