INDIA
India
Produksi Massal Komputer Rakyat Kecil
Komputer
rakyat karya inovatif para ilmuwan India, Simputer, akan segera
membanjiri pasar India mulai akhir tahun ini. Indian Institute
of Science (IISc) sebagai pemegang paten Simputer dan perusahaan
sektor publik Bharat Electronics Limited (BEL) telah mengumumkan
pembentukan aliansi untuk memroduksi 50.000 unit Simputer dalam
tahun pertama produksinya.
Perangkat ini akan dipasarkan dengan merek BEL – PicoPeta
Simputers melalui jaringan distribusi raksasa sektor publik.
Produk komputer sederhana ini akan meliputi berbagai pilihan
aplikasi dan harga. “Kami akan memroduksi sekitar
1.000 unit Simputers pada bulan November dengan harga sekitar
13.000 rupee (sekitar 2,6 juta rupiah) per unit, termasuk pajak,
dan akan langsung tersedia di pasaran,” ujar Nagarjun
K., manajer pengembangan produk PicoPeta Simputers.
BEL, dengan fasilitas canggih miliknya di Kompleks Bangalore,
sebelumnya telah memroduksi paling sedikit 400 unit Simputers
untuk PicoPeta dalam fase pilot production dan telah menempatkan
beberapa personilnya untuk menangani proyek pendidikan di wilayah
pedesaan Chattisgarh.
BEL–PicoPeta Simputers merupakan penyempurnaan radikal
dibandingkan prototipe Simputer sebelumnya dalam beberapa segi.
“Sasaran kami adalah untuk mengurangi harga sampai 10.000
rupee segera setelah produksi berskala besar dimulai,”
tambah Nagarjun.
Produksi pertama perangkat ini akan memiliki sejumlah aplikasi
seperti notepad, spreadsheet, kalkulator ilmiah, buku alamat,
image viewer, pemutar MP3, game, kuis, piranti pengubah text
to speech, smart card, dan Malacca, sebuah antarmuka untuk membuat
perangkat ini lebih bersahabat.
Namun demikian, beberapa jenis BEL-PicoPeta Simputer juga akan
diproduksi. Varian high-end dengan beberapa inovasi pilihan
dan kemampuan untuk mendukung opsi perangkat berkabel maupun
nirkabel akan mulai tersedia Februari 2003 mendatang.
Simputer – yang merupakan singkatan dari Simple, Inexpensive,
Multilingual Computer – adalah sebuah perangkat komputer
berukuran kecil, namun fisiknya lebih menyerupai pocket PC dengan
kemampuan plus, dengan sistem operasi GNU/Linux.
Simputer ditenagai prosesor 32-bit Strong Arm SA-1100 RISC CPU
yang berjalan pada kecepatan 200MHz, 32MB DRAM dan 24MB flash
untuk penyimpanan data, dan layar LCD 320x240 pixel. Pengguna
Simputer pun dapat berselancar di Internet dengan mudah berkat
browser IML (yang merupakan perkembangan dari XML) yang disertakan
dalam Simputer.
Simputer dirancang dan dikembangkan oleh empat ilmuwan IISc,
yaitu Vijay Chandru, V. Vinay, Ramesh Hariharan dan Swami Manohar,
serta tiga orang dari perusahaan TI swasta, Encore Software,
yang dipimpin oleh Vinay Deshpande.• Penerapan
TI Memperkuat UKM India
Konfederasi Industri India atau Confederation of Indian Industry
(CII), awal bulan lalu merilis hasil survai yang memperlihatkan
bahwa TI telah mengubah peruntungan segmen UKM di India.
Survai yang dilaporkan awal November lalu ini menyebutkan
bahwa penggunaan TI di kalangan UKM India dan hadirnya website
telah menghasilkan peningkatan pendapatan. Survai ini menunjukkan
bahwa akuntansi dan pengelolaan inventaris (inventory management)
merupakan dua wilayah kunci dimana e-Commerce di kalangan
UKM India kini tengah diterapkan.
Survai ini melaporkan bahwa 78 persen dari responden telah
mengindikasikan suatu peningkatan dalam pendapatannya akibat
penggunaan TI. Sementara 12% dari responden melaporkan peningkatan
pendapatan antara 5 sampai 25 persen, 8 % responden melaporkan
peningkatan pendapatan 25-50 persen. Peningkatan pendapatan
ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai keuntungan dari aplikasi
TI oleh kalangan UKM.
Dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan dalam persentase
responden yang menggunakan TI, dengan tingkat penggunaan TI
yang bertambah baik secara bertahap. Tren aplikasi TI untuk
berbagai fungsi relatif sama untuk tahun ini. Keuangan tetap
menjadi bagian yang paling tinggi dalam penerapan TI dalam
suatu perusahaan, diikuti dengan bagian penjualan dan pemasaran,
penelitian dan pengembangan (R&D) dan masalah korporat,
demikian menurut survai tersebut.
“Berkaitan dengan penggunaan Internet oleh kalangan
UKM, ada peningkatan secara bertahap dalam persentase responden
yang menggunakan Internet secara efektif dan efisien dibandingkan
tahun sebelumnya,” berdasarkan survai tersebut.
Survey CII-SME ini juga melaporkan meningkatnya kepedulian
di kalangan UKM untuk memiliki website atau homepage-nya sendiri.•
MALAYSIA
Tanda Tangan Digital Penduduk Malaysia
Tidak
lama lagi masing-masing warga Malaysia akan memperoleh tanda
tangan digital, dengan diperkenalkannya aplikasi public key
infrastructure di dalam kartu pintar yang diterbitkan pemerintah
negara itu.
Penyertaan suatu sertifikat digital ke dalam kartu pintar
serba guna (MyKad) akan memungkinkan para pemiliknya melakukan
transaksi bertanda tangan digital dan terotentifikasi melalui
internet. Dengan begitu, pertumbuhan e-Commerce diperkirakan
akan meningkat.
Sertifikat digital yang menempel ini memiliki fitur-fitur
keamanan guna mencegah pemalsuan dan diterbitkan MSC Trustgate.com,
salah satu otoritas sertifikasi Malaysia. Baru-baru ini, perusahaan
tersebut menjalin kemitraan strategis dengan integrator proyek
kartu pintar, Iris Corporation guna menyertakan sertifikat
digital ke dalam MyKad.
CEO MSC Trustgate.com, Badrul Hisham mengatakan penyertaan
sertifikat digital ini menandai tahap evolusi berikutnya dari
MyKad. Pemerintah Malaysia bisa menyertakan aplikasi PKI dan
sertifikat digital ini ke dalam MyKad setelah mereka memutuskan
untuk mengubah kartu pintar 32KB yang sekarang ada ke kartu
64KB mulai bulan November dan seterusnya. Kartu 64KB ini akan
memungkinkan lebih banyak lagi memuat fitur dan aplikasi,
dimana versi terkini MyKad tidak dapat memuat lebih banyak
aplikasi lagi.
Kartu pintar ini berisi aplikasi-aplikasi mulai dari kartu
identitas, kartu izin mengemudi, paspor, catatan kesehatan
pribadi, uang elektronik dan aplikasi Touch ‘n Go untuk
pembayaran tol, parkir dan transportasi umum. Proyek kartu
pintar, yang memakan biaya milyaran ringgit ini, pertama kali
diperkenalkan tahun 2000 lalu di wilayah Klang Valley, Malaysia.
Ditargetkan sampai akhir tahun sekitar 1,8 juta penduduk sudah
memiliki kartu pintar ini.•
VIETNAM
Pertumbuhan
Internet di Vietnam Lesu
Meski
pernah dinilai sebagai negara dengan potensi TI yang cerah
di kawasan Asia, Vietnam masih mengalami kesulitan untuk mendorong
penetrasi penggunaan Internet di negara tersebut. Kalangan
profesional TI di negara tersebut menyarankan pemerintah untuk
lebih aktif mendorong tingkat penggunaan Internet yang tengah
lesu sejak akses Internet pertama kali tersedia tahun 1997.
Kini, hanya 1,3% dari 85 juta penduduk Vietnam yang memiliki
akses Internet. Ini pun terbatas di daerah perkotaan saja.
Hampir 80% pengguna Internet tersebut memanfaatkannya untuk
chatting, 60% menggunakannya untuk e-mail.
Vietnam mengalami suatu tingkat pemakaian Internet yang tinggi
ketika pintu Internet pertama kali dibuka. Namun, dalam beberapa
tahun belakangan ini pengguna Internet cenderung menurun.
Hal itu disebabkan sedikitnya situs-situs Web berbahasa Vietnam,
akses lambat, dan bandwidth terbagi dengan pengguna yang menumpuk,
ujar Hao Ha, managing director Cisco Systems Vietnam.
Ada sekitar 2.000 situs Web berbahasa Vietnam, tetapi hanya
50% dari jumlah itu yang sering di-update, jelas Hao. Dan
meskipun akses Internet tersedia dengan harga cukup murah,
sekitar 3.000 dong (Rp 2.000) per jam, bandwidth-nya berkisar
dari 8 – 56Kbps, itu pun tidak terjamin benar-benar
sebesar itu, tambahnya. Penggunaan Internet pun paling banyak
pada badan-badan pemerintahan dan perusahaan-perusahaan multinasional
seperti Intel, Hewlett-Packard, dan Cisco Systems.
Perusahaan-perusahaan masih memiliki pengetahuan yang rendah
mengenai bagaimana Internet dapat dimanfaatkan, ujar Hao.
Sekitar 90 persen dari pengguna Internet dari kalangan bisnis
tidak tahu bagaimana memanfaatkan Internet. Hanya sekitar
3 persen yang tertarik untuk memanfaatkan Internet, dan 7
persen yang memiliki planning Internet.
Kalangan pemerintahan pun juga kurang kepeduliannya mengenai
bagaimana memanfaatkan Internet. “e-Government masih
dalam tahap amat dini,” ujar Hao sambil menjelaskan
bahwa program Teknologi Informasi Nasional tidak berfungsi
secara efektif, dan hanya ada beberapa portal milik pemerintah,
dan beberapa situs Web yang tersebar.
Pemerintah perlu menjadi kunci pendorong untuk pengadopsian
Internet di Vietnam, Hao menekankan. “Pemerintah harus
yang pertama kali mendorong. Jika pemerintah tidak memiliki
komitmen, tidak ada satu pun yang dapat mewujudkannya. Kami
perlu mendidik para end-user mengenai keuntungan-keuntungan
menerapkan Internet,” ujarnya.
Hao mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan agenda TI
yang jelas, memiliki akuntabilitas dan sistem pengukuran yang
jelas, dan membangun kerangka kerja legal dan keuangan untuk
e-Commerce.•
continue to page 2
|