Asia Highlights Volume I Nomor 03 - Desember 2002 - Januari 2003
INDIA

India Produksi Massal Komputer Rakyat Kecil

Komputer rakyat karya inovatif para ilmuwan India, Simputer, akan segera membanjiri pasar India mulai akhir tahun ini. Indian Institute of Science (IISc) sebagai pemegang paten Simputer dan perusahaan sektor publik Bharat Electronics Limited (BEL) telah mengumumkan pembentukan aliansi untuk memroduksi 50.000 unit Simputer dalam tahun pertama produksinya.

Perangkat ini akan dipasarkan dengan merek BEL – PicoPeta Simputers melalui jaringan distribusi raksasa sektor publik. Produk komputer sederhana ini akan meliputi berbagai pilihan aplikasi dan harga.

“Kami akan memroduksi sekitar 1.000 unit Simputers pada bulan November dengan harga sekitar 13.000 rupee (sekitar 2,6 juta rupiah) per unit, termasuk pajak, dan akan langsung tersedia di pasaran,” ujar Nagarjun K., manajer pengembangan produk PicoPeta Simputers.

BEL, dengan fasilitas canggih miliknya di Kompleks Bangalore, sebelumnya telah memroduksi paling sedikit 400 unit Simputers untuk PicoPeta dalam fase pilot production dan telah menempatkan beberapa personilnya untuk menangani proyek pendidikan di wilayah pedesaan Chattisgarh.

BEL–PicoPeta Simputers merupakan penyempurnaan radikal dibandingkan prototipe Simputer sebelumnya dalam beberapa segi. “Sasaran kami adalah untuk mengurangi harga sampai 10.000 rupee segera setelah produksi berskala besar dimulai,” tambah Nagarjun.

Produksi pertama perangkat ini akan memiliki sejumlah aplikasi seperti notepad, spreadsheet, kalkulator ilmiah, buku alamat, image viewer, pemutar MP3, game, kuis, piranti pengubah text to speech, smart card, dan Malacca, sebuah antarmuka untuk membuat perangkat ini lebih bersahabat.

Namun demikian, beberapa jenis BEL-PicoPeta Simputer juga akan diproduksi. Varian high-end dengan beberapa inovasi pilihan dan kemampuan untuk mendukung opsi perangkat berkabel maupun nirkabel akan mulai tersedia Februari 2003 mendatang.

Simputer – yang merupakan singkatan dari Simple, Inexpensive, Multilingual Computer – adalah sebuah perangkat komputer berukuran kecil, namun fisiknya lebih menyerupai pocket PC dengan kemampuan plus, dengan sistem operasi GNU/Linux.

Simputer ditenagai prosesor 32-bit Strong Arm SA-1100 RISC CPU yang berjalan pada kecepatan 200MHz, 32MB DRAM dan 24MB flash untuk penyimpanan data, dan layar LCD 320x240 pixel. Pengguna Simputer pun dapat berselancar di Internet dengan mudah berkat browser IML (yang merupakan perkembangan dari XML) yang disertakan dalam Simputer.

Simputer dirancang dan dikembangkan oleh empat ilmuwan IISc, yaitu Vijay Chandru, V. Vinay, Ramesh Hariharan dan Swami Manohar, serta tiga orang dari perusahaan TI swasta, Encore Software, yang dipimpin oleh Vinay Deshpande.•

Penerapan TI Memperkuat UKM India

Konfederasi Industri India atau Confederation of Indian Industry (CII), awal bulan lalu merilis hasil survai yang memperlihatkan bahwa TI telah mengubah peruntungan segmen UKM di India.

Survai yang dilaporkan awal November lalu ini menyebutkan bahwa penggunaan TI di kalangan UKM India dan hadirnya website telah menghasilkan peningkatan pendapatan. Survai ini menunjukkan bahwa akuntansi dan pengelolaan inventaris (inventory management) merupakan dua wilayah kunci dimana e-Commerce di kalangan UKM India kini tengah diterapkan.

Survai ini melaporkan bahwa 78 persen dari responden telah mengindikasikan suatu peningkatan dalam pendapatannya akibat penggunaan TI. Sementara 12% dari responden melaporkan peningkatan pendapatan antara 5 sampai 25 persen, 8 % responden melaporkan peningkatan pendapatan 25-50 persen. Peningkatan pendapatan ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai keuntungan dari aplikasi TI oleh kalangan UKM.

Dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan dalam persentase responden yang menggunakan TI, dengan tingkat penggunaan TI yang bertambah baik secara bertahap. Tren aplikasi TI untuk berbagai fungsi relatif sama untuk tahun ini. Keuangan tetap menjadi bagian yang paling tinggi dalam penerapan TI dalam suatu perusahaan, diikuti dengan bagian penjualan dan pemasaran, penelitian dan pengembangan (R&D) dan masalah korporat, demikian menurut survai tersebut.

“Berkaitan dengan penggunaan Internet oleh kalangan UKM, ada peningkatan secara bertahap dalam persentase responden yang menggunakan Internet secara efektif dan efisien dibandingkan tahun sebelumnya,” berdasarkan survai tersebut.
Survey CII-SME ini juga melaporkan meningkatnya kepedulian di kalangan UKM untuk memiliki website atau homepage-nya sendiri.•

MALAYSIA

Tanda Tangan Digital Penduduk Malaysia

Tidak lama lagi masing-masing warga Malaysia akan memperoleh tanda tangan digital, dengan diperkenalkannya aplikasi public key infrastructure di dalam kartu pintar yang diterbitkan pemerintah negara itu.

Penyertaan suatu sertifikat digital ke dalam kartu pintar serba guna (MyKad) akan memungkinkan para pemiliknya melakukan transaksi bertanda tangan digital dan terotentifikasi melalui internet. Dengan begitu, pertumbuhan e-Commerce diperkirakan akan meningkat.
Sertifikat digital yang menempel ini memiliki fitur-fitur keamanan guna mencegah pemalsuan dan diterbitkan MSC Trustgate.com, salah satu otoritas sertifikasi Malaysia. Baru-baru ini, perusahaan tersebut menjalin kemitraan strategis dengan integrator proyek kartu pintar, Iris Corporation guna menyertakan sertifikat digital ke dalam MyKad.

CEO MSC Trustgate.com, Badrul Hisham mengatakan penyertaan sertifikat digital ini menandai tahap evolusi berikutnya dari MyKad. Pemerintah Malaysia bisa menyertakan aplikasi PKI dan sertifikat digital ini ke dalam MyKad setelah mereka memutuskan untuk mengubah kartu pintar 32KB yang sekarang ada ke kartu 64KB mulai bulan November dan seterusnya. Kartu 64KB ini akan memungkinkan lebih banyak lagi memuat fitur dan aplikasi, dimana versi terkini MyKad tidak dapat memuat lebih banyak aplikasi lagi.

Kartu pintar ini berisi aplikasi-aplikasi mulai dari kartu identitas, kartu izin mengemudi, paspor, catatan kesehatan pribadi, uang elektronik dan aplikasi Touch ‘n Go untuk pembayaran tol, parkir dan transportasi umum. Proyek kartu pintar, yang memakan biaya milyaran ringgit ini, pertama kali diperkenalkan tahun 2000 lalu di wilayah Klang Valley, Malaysia. Ditargetkan sampai akhir tahun sekitar 1,8 juta penduduk sudah memiliki kartu pintar ini.•

VIETNAM

Pertumbuhan Internet di Vietnam Lesu

Meski pernah dinilai sebagai negara dengan potensi TI yang cerah di kawasan Asia, Vietnam masih mengalami kesulitan untuk mendorong penetrasi penggunaan Internet di negara tersebut. Kalangan profesional TI di negara tersebut menyarankan pemerintah untuk lebih aktif mendorong tingkat penggunaan Internet yang tengah lesu sejak akses Internet pertama kali tersedia tahun 1997. Kini, hanya 1,3% dari 85 juta penduduk Vietnam yang memiliki akses Internet. Ini pun terbatas di daerah perkotaan saja. Hampir 80% pengguna Internet tersebut memanfaatkannya untuk chatting, 60% menggunakannya untuk e-mail.

Vietnam mengalami suatu tingkat pemakaian Internet yang tinggi ketika pintu Internet pertama kali dibuka. Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini pengguna Internet cenderung menurun.

Hal itu disebabkan sedikitnya situs-situs Web berbahasa Vietnam, akses lambat, dan bandwidth terbagi dengan pengguna yang menumpuk, ujar Hao Ha, managing director Cisco Systems Vietnam.

Ada sekitar 2.000 situs Web berbahasa Vietnam, tetapi hanya 50% dari jumlah itu yang sering di-update, jelas Hao. Dan meskipun akses Internet tersedia dengan harga cukup murah, sekitar 3.000 dong (Rp 2.000) per jam, bandwidth-nya berkisar dari 8 – 56Kbps, itu pun tidak terjamin benar-benar sebesar itu, tambahnya. Penggunaan Internet pun paling banyak pada badan-badan pemerintahan dan perusahaan-perusahaan multinasional seperti Intel, Hewlett-Packard, dan Cisco Systems.

Perusahaan-perusahaan masih memiliki pengetahuan yang rendah mengenai bagaimana Internet dapat dimanfaatkan, ujar Hao. Sekitar 90 persen dari pengguna Internet dari kalangan bisnis tidak tahu bagaimana memanfaatkan Internet. Hanya sekitar 3 persen yang tertarik untuk memanfaatkan Internet, dan 7 persen yang memiliki planning Internet.

Kalangan pemerintahan pun juga kurang kepeduliannya mengenai bagaimana memanfaatkan Internet. “e-Government masih dalam tahap amat dini,” ujar Hao sambil menjelaskan bahwa program Teknologi Informasi Nasional tidak berfungsi secara efektif, dan hanya ada beberapa portal milik pemerintah, dan beberapa situs Web yang tersebar.

Pemerintah perlu menjadi kunci pendorong untuk pengadopsian Internet di Vietnam, Hao menekankan. “Pemerintah harus yang pertama kali mendorong. Jika pemerintah tidak memiliki komitmen, tidak ada satu pun yang dapat mewujudkannya. Kami perlu mendidik para end-user mengenai keuntungan-keuntungan menerapkan Internet,” ujarnya.

Hao mengusulkan agar pemerintah dapat memberikan agenda TI yang jelas, memiliki akuntabilitas dan sistem pengukuran yang jelas, dan membangun kerangka kerja legal dan keuangan untuk e-Commerce.•

continue to page 2


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.