Sadar
atau tidak, saat ini kita tengah menghadapi berbagai tantangan
perubahan yang sangat besar. Baik, terhadap kehidupan pribadi
dan keluarga dalam interaksinya dengan masyarakat di sekitar
maupun terhadap organisasi dan karyawan dalam konteks persaingan
bisnis.
Perubahan-perubahan itu dipicu oleh sejumlah “kekuatan
penggerak” dalam berbagai arah dan dimensi. Sebut saja,
perkembangan teknologi telekomunikasi telah “mengecilkan”
dunia, seolah tak lagi berjarak. Komunikasi, kini, dapat dilakukan
dengan berbagai perangkat, baik tetap (fixed devices) maupun
bergerak (mobile devices), dari mana dan kapan saja. Bahkan,
sambil tiduran pun kita dapat berhubungan dengan teman, saudara
atau siapa saja yang berada nun jauh di mancanegara.
Peningkatan keragaman pekerja juga telah membawa berbagai
rangkaian nilai yang berbeda, perspektif dan harapan di antara
mereka. Para manajer pun semakin dituntut untuk menyadari
perubahan-perubahan itu dan, lebih jauh, bagaimana dia mengelolanya
secara efektif.
Begitu juga, kesadaran terhadap lingkungan sosial semakin
tinggi sensitivitas dan tuntutannya terhadap organisasi, yang
mendorongnya untuk semakin responsif terhadap lingkungannya.
Dari isu-isu lingkungan, ekonomi dan sosial-politik hingga
komunikasi personal.
Lebih jauh dari itu, banyak negara-dunia ketiga telah bergabung
dengan global marketplace, yang kemudian semakin membuka peluang
bersaing di tingkat global dalam penjualan dan pelayanan.
Karenanya, organisasi tak lagi hanya bertanggungjawab terhadap
pemegang saham (stockholder), melainkan juga terhadap komunitas
yang lebih besar (stakeholder).
Akibatnya, muncul tuntutan bagi organisasi untuk mengadopsi
“paradigma baru”, yakni menjadi lebih sensitif,
fleksibel dan adaptable terhadap kebutuhan dan harapan stakeholder.
Banyak organisasi, dewasa ini, mulai menyadari hal itu, dan
kemudian mengambil langkah untuk tidak lagi menerapkan organisasi
tradisional yang bersifat top-down, kaku dan strukturnya sangat
hirarkis, tetapi lebih berbentuk “organik” dan
mencair.
Para manajer masa kini harus terkait dengan perubahan-perubahan
yang terus-menerus dan berjalan sangat cepat. Mereka yang
menghadapi pengambilan keputusan-keputusan besar dan penting
tak dapat lagi mengacu pada perencanaan pengembangan yang
telah dilakukan untuk memberi arah. Teknik manajemen harus
secara terus-menerus mengingatkan perubahan-perubahan dalam
lingkungan dan organisasi, menilai dan sekaligus mengelola
perubahan tersebut. Mengelola perubahan tidak berarti mengendalikannya,
tetapi lebih memahami, mengadopsi di mana dibutuhkan dan mengarahkannya
jika mungkin.
Konsekuensinya, karena para manajer tidak mengetahui semua
hal dan memahami semua situasi, maka ia harus lebih terbuka,
menghargai dan mau mendengar karyawannya. Tak heran, jika
kemudian muncul tipe organisasi baru, yang lebih berorientasi
ke karyawan: worker-centered, self-organizing, self-designing
teams dan lain sebagainya.
Marilyn Ferguson, dalam bukunya The New Paradigm: Emerging
Strategic for Leadership and Organizational Change (Michael
Ray and Alan Rinzler, Eds, 1993, New Consciousness Reader),
membeberkan suatu gambaran yang sangat tepat mengenai perbedaan
antara paradigma lama dan baru.
Kalau dahulu orang harus disesuaikan dengan pekerjaannya,
sekarang pekerjaan yang harus disesuaikan dengan orangnya.
Kalau dahulu bersifat agresi dan kompetisi, sekarang justru
kooperasi; berjuang untuk kestabilan menjadi sensitif terhadap
perubahan; manipulasi dan dominan menjadi bekerjasama dengan
alam; menetapkan tujuan dan pengambilan keputusan atas-bawah
menjadi mendorong otonomi dan partisipasi karyawan; kuantitatif
menjadi kuantitatif sekaligus kualitatif; melihat jangka pendek
menjadi secara ekologi sensitif; rasional menjadi rasional
dan sensitif; menekan solusi jangka-pendek menjadi mengenali
efisiensi jangka panjang sangat terkait dengan lingkungan
kerja yang harmonis; semata motif ekonomi menjadi nilai-nilai
spiritual akan mendorong keuntungan material; sentraliasi
menjadi desentralisasi jika dimungkin dan masih banyak lainnya.•
Tharsikin Insa
|