

Berbicara dengan Piti Pramotedham, Managing Director, Computer
Associates (CA) Southeast Asia, sangat menarik. Selain karena
wawasan yang luas, intonasi suara yang tegas dan bahasa yang
jelas, serta kerangka berfikir yang sistematis. Begitulah kesan
eBizzAsia ketika berbincang-bincang dengan orang nomor satu
CA di kawasan Asia tenggara ini.
Karir pria kelahiran Bangkok, Thailand dan telah menetap
di Singapura selama lebih dari 20 tahun, ini beranjak naik
dengan cepat. Dua tahun setelah bergabung dengan CA, Pramotedham
langsung meraih posisi Country Manager untuk Singapura (1995).
Baru kemudian tahun 1997, Pramotedham menjabat Managing Director
CA untuk Malaysia. Pengalaman dan pengetahuannya mengenai
teknologi informasi dan eBusiness yang luas membuatnya mampu
menangani pelanggan-pelanggan besar CA di Malaysia, antara
lain KL Stock Exchange, Petronas, Malayan Banking Berhad,
MBf Finance, dan Telekom Malaysia.
Karirnya terus berkembang dan membawanya bertugas mengelola
CA Hong Kong sejak dari tahun 1999 hingga 2000, dimana Pramotedham
berhasil mencetak revenue penjualan sebesar 280 persen melalui
kerjasamanya yang kuat dengan sejumlah mitra Unicenter CA.
Dan sejak November 2000, Pramotedham ditugaskan untuk mengelola
bisnis CA di kawasan Asia Tenggara. Tanggungjawabnya terhadap
seluruh operasional CA di kawasan ini difokuskan pada pertumbuhan
CA, khususnya, dalam wilayah enterprise management dan eBusiness.
Di Indonesia, sebagai salah satu negara yang menjadi tanggungjawabnya,
tampaknya Pramotedham juga akan terus meningkatkan pola kerjasamanya
dengan mitra bisnis di sini. Pola kerjasama ini, dinilainya
sangat menarik dan strategis bagi bisnis CA ke depan. “Kami
baru mulai membangun kemitraan di Indonesia kira-kira 18 bulan
yang lalu”, ujarnya. Kerjasama yang sudah kami lakukan,
tambahnya, salah satunya dengan PT. Asaba, yang merupakan
mitra utama kami di teknologi storage. Di bawah Asaba mungkin
akan ada 10 hingga 15 resellers.
Terutama bagi CA, seperti diakui Pramotedham cara terbaik
melayani pelanggan di Indonesia melalui kerjasama dengan mitra
lokal dan pengalaman lokal. Karena, jelas mereka memiliki
pengetahuan yang lebih baik dalam menangani pelanggan di sini.
Dan kami menanamkan investasi untuk membangun kemampuan itu
di Indonesia.
Sejak April tahun ini CA juga telah melakukan sejumlah pelatihan,
technology update dan kegiatan lainnya. Ditambahkan oleh Pramotedham,
bahwa CA memiliki program sertifikasi dan setidaknya dengan
program tersebut akan terjaring 20 orang ahli yang memiliki
sertifikat CA hingga Desember 2002.
“Bisnis kami sesungguhnya bagaimana membuat eBusiness
berjalan. Bahkan, sebelum perbincangan mengenai eBusiness
mencuat seperti sekarang ini,” aku Pramotedham.
Para pelanggan tradisional kami, ujar Pramotedham, adalah
mereka-mereka yang menggunakan komputer untuk menjalankan
aplikasi mission critical, yakni aplikasi-aplikasi inti, yang
bila aplikasi itu tidak berjalan, berarti bisnisnya juga akan
terhenti, misalnya kegiatan inti di perbankan.
Pelanggan tradisional kami, tambahnya lagi, antara lain bank-bank
besar, perusahaan asuransi dan kalangan pemerintahan. Baik
di Malaysia maupun di Indonesia kami memiliki banyak pelanggan
yang menggunakan platform komputer mainframe. Tetapi sejak
sepuluh tahun lalu, mereka telah mulai beralih ke komputer
client-server, dan sekarang ke teknologi web-based, dengan
lingkungan yang lebih menyebar dan lebih rumit dibandingkan
sebelumnya.
Satu hal yang juga menarik, menurut Pramotedham, orang tidak
menginginkan untuk memback-up data. Apa yang mereka butuhkan
adalah pemulihan kerusakan data (disaster recovery). Mungkin
hanya satu dua bank besar yang membutuhkan penyimpanan data
hingga tujuh tahun atau lebih. Tetapi yang sangat banyak dibutuhkan
adalah bagaimana jika terjadi kesalahan atau kerusakan, proses
pemulihan bisnis dapat berlangsung segera. Pemulihan dan keberlangsungan
bisnis menjadi perhatian utama.
Bagi Pramotedham, kerjasama yang akan dibangun oleh CA untuk
memperkuat bisnisnya di Indonesia dibagi dalam dua jenis.
Yakni, kerjasama berbasis teknologi (technology-based) dan
penghasilan (revenue-based). Mitra revenue-based adalah mereka
yang dapat menjual teknologi CA dan itu biasa disebut reseller,
integrator sistem atau yang lainnya. Sedang mitra technology-based
adalah mereka yang menggunakan teknologi CA dan membangun
produk. Misalnya, Unicenter.
Katakanlah ada perusahaan Indonesia yang membuat perangkat
dan mereka ingin perangkat itu dikelola oleh Unicenter. Karenanya
dibutuhkan orang yang membuat peranti lunak dengan menggunakan
software development kit CA (SDK) untuk membangun mediator
yang memungkinkan Unicenter mengelola perangkat tersebut bersama-sama
dengan platform pendukung lainnya. Hal ini sekaligus membuka
peluang bagi CA bekerjasama dengan mereka yang mengembangkan
teknologi, produk-produk berbasis teknologi CA. Dan kami akan
memasarkan hal ini, baik di tingkat regional maupun global.
Saat ini, menurut Pramotedham, CA telah memiliki kemitraan
semacam ini dengan 10 perusahaan di Singapura, 5 perusahaan
di Malaysia. Sedang di Indonesia sendiri dalam 12 bulan ke
depan kami berharap dapat membangun kemitraan yang sama, ujar
Pramotedham menambahkan. Sedang, CA sendiri menghususkan diri
dalam enam bidang kunci, antara lain: security; enterprise
management; storage; application life cycle management; data
management & application development; portal dan business
intelligence.
Di sisi lain, ketika ditanyakan apakah CA juga mengembangkan
aplikasi berbasis Linux, Pramotedham mengatakan bahwa Linux
merupakan bagian dari empat tren utama CA menuju masa depan,
yakni wireless, grid computing, web services dan keempat Linux.
Dalam bidang wireless, CA tak akan mengembangkan aplikasi
bergerak (mobile), tetapi melihat perangkat-perangkat bergerak
sebagai perluasan terhadap infrastruktur. Kalau orang lain
mengembangkan aplikasi bergerak, misalnya aplikasi pengecekan
inventori, pemasukan order dan sebagainya. Tetapi, jika penggunanya
akan memperbaharui kontennya, misalnya daftar harga penjualan,
bagaimana hal itu bisa dilakukan?
Yang justru dikembangkan CA adalah bagaimana menyiapkan teknologi
kunci semacam itu, sehingga memudahkan mengelola perluasan
infrastruktur TI tersebut.
Grid Computing. Daripada memiliki satu komputer besar, bukankah
lebih baik memiliki banyak komputer kecil dan Anda bisa berbagi
beban kerja. Yang menarik, beban kerja Anda dapat dibagi-bagi
ke komputer yang lebih kecil dan Anda tidak harus memiliki
sendiri komputer tersebut.
Grid Computing dan Web Service berjalan bersama-sama. Dengan
kedua teknologi ini, kita dapat membuka informasi kita yang
memungkinkan mitra kerja kita, pelanggan kita berinteraksi
dengan kita tanpa harus menyediakan aplikasi khusus untuk
itu, ujar Pramotedham, yang lulusan Teknik Sipil, Universitas
Nasional Singapura, ini menambahkan.
Yang terakhir Linux. Kami melihat bahwa Linux akan semakin
berkembang. Kami telah memiliki 56 produk yang telah berjalan
di Linux. •TI/NhP
|