Snapshots
Volume I Nomor 02 - Nopember 2002


Berbicara dengan Piti Pramotedham, Managing Director, Computer Associates (CA) Southeast Asia, sangat menarik. Selain karena wawasan yang luas, intonasi suara yang tegas dan bahasa yang jelas, serta kerangka berfikir yang sistematis. Begitulah kesan eBizzAsia ketika berbincang-bincang dengan orang nomor satu CA di kawasan Asia tenggara ini.

Karir pria kelahiran Bangkok, Thailand dan telah menetap di Singapura selama lebih dari 20 tahun, ini beranjak naik dengan cepat. Dua tahun setelah bergabung dengan CA, Pramotedham langsung meraih posisi Country Manager untuk Singapura (1995). Baru kemudian tahun 1997, Pramotedham menjabat Managing Director CA untuk Malaysia. Pengalaman dan pengetahuannya mengenai teknologi informasi dan eBusiness yang luas membuatnya mampu menangani pelanggan-pelanggan besar CA di Malaysia, antara lain KL Stock Exchange, Petronas, Malayan Banking Berhad, MBf Finance, dan Telekom Malaysia.
Karirnya terus berkembang dan membawanya bertugas mengelola CA Hong Kong sejak dari tahun 1999 hingga 2000, dimana Pramotedham berhasil mencetak revenue penjualan sebesar 280 persen melalui kerjasamanya yang kuat dengan sejumlah mitra Unicenter CA.

Dan sejak November 2000, Pramotedham ditugaskan untuk mengelola bisnis CA di kawasan Asia Tenggara. Tanggungjawabnya terhadap seluruh operasional CA di kawasan ini difokuskan pada pertumbuhan CA, khususnya, dalam wilayah enterprise management dan eBusiness.

Di Indonesia, sebagai salah satu negara yang menjadi tanggungjawabnya, tampaknya Pramotedham juga akan terus meningkatkan pola kerjasamanya dengan mitra bisnis di sini. Pola kerjasama ini, dinilainya sangat menarik dan strategis bagi bisnis CA ke depan. “Kami baru mulai membangun kemitraan di Indonesia kira-kira 18 bulan yang lalu”, ujarnya. Kerjasama yang sudah kami lakukan, tambahnya, salah satunya dengan PT. Asaba, yang merupakan mitra utama kami di teknologi storage. Di bawah Asaba mungkin akan ada 10 hingga 15 resellers.

Terutama bagi CA, seperti diakui Pramotedham cara terbaik melayani pelanggan di Indonesia melalui kerjasama dengan mitra lokal dan pengalaman lokal. Karena, jelas mereka memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam menangani pelanggan di sini. Dan kami menanamkan investasi untuk membangun kemampuan itu di Indonesia.

Sejak April tahun ini CA juga telah melakukan sejumlah pelatihan, technology update dan kegiatan lainnya. Ditambahkan oleh Pramotedham, bahwa CA memiliki program sertifikasi dan setidaknya dengan program tersebut akan terjaring 20 orang ahli yang memiliki sertifikat CA hingga Desember 2002.

“Bisnis kami sesungguhnya bagaimana membuat eBusiness berjalan. Bahkan, sebelum perbincangan mengenai eBusiness mencuat seperti sekarang ini,” aku Pramotedham.

Para pelanggan tradisional kami, ujar Pramotedham, adalah mereka-mereka yang menggunakan komputer untuk menjalankan aplikasi mission critical, yakni aplikasi-aplikasi inti, yang bila aplikasi itu tidak berjalan, berarti bisnisnya juga akan terhenti, misalnya kegiatan inti di perbankan.

Pelanggan tradisional kami, tambahnya lagi, antara lain bank-bank besar, perusahaan asuransi dan kalangan pemerintahan. Baik di Malaysia maupun di Indonesia kami memiliki banyak pelanggan yang menggunakan platform komputer mainframe. Tetapi sejak sepuluh tahun lalu, mereka telah mulai beralih ke komputer client-server, dan sekarang ke teknologi web-based, dengan lingkungan yang lebih menyebar dan lebih rumit dibandingkan sebelumnya.

Satu hal yang juga menarik, menurut Pramotedham, orang tidak menginginkan untuk memback-up data. Apa yang mereka butuhkan adalah pemulihan kerusakan data (disaster recovery). Mungkin hanya satu dua bank besar yang membutuhkan penyimpanan data hingga tujuh tahun atau lebih. Tetapi yang sangat banyak dibutuhkan adalah bagaimana jika terjadi kesalahan atau kerusakan, proses pemulihan bisnis dapat berlangsung segera. Pemulihan dan keberlangsungan bisnis menjadi perhatian utama.

Bagi Pramotedham, kerjasama yang akan dibangun oleh CA untuk memperkuat bisnisnya di Indonesia dibagi dalam dua jenis. Yakni, kerjasama berbasis teknologi (technology-based) dan penghasilan (revenue-based). Mitra revenue-based adalah mereka yang dapat menjual teknologi CA dan itu biasa disebut reseller, integrator sistem atau yang lainnya. Sedang mitra technology-based adalah mereka yang menggunakan teknologi CA dan membangun produk. Misalnya, Unicenter.

Katakanlah ada perusahaan Indonesia yang membuat perangkat dan mereka ingin perangkat itu dikelola oleh Unicenter. Karenanya dibutuhkan orang yang membuat peranti lunak dengan menggunakan software development kit CA (SDK) untuk membangun mediator yang memungkinkan Unicenter mengelola perangkat tersebut bersama-sama dengan platform pendukung lainnya. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi CA bekerjasama dengan mereka yang mengembangkan teknologi, produk-produk berbasis teknologi CA. Dan kami akan memasarkan hal ini, baik di tingkat regional maupun global.

Saat ini, menurut Pramotedham, CA telah memiliki kemitraan semacam ini dengan 10 perusahaan di Singapura, 5 perusahaan di Malaysia. Sedang di Indonesia sendiri dalam 12 bulan ke depan kami berharap dapat membangun kemitraan yang sama, ujar Pramotedham menambahkan. Sedang, CA sendiri menghususkan diri dalam enam bidang kunci, antara lain: security; enterprise management; storage; application life cycle management; data management & application development; portal dan business intelligence.

Di sisi lain, ketika ditanyakan apakah CA juga mengembangkan aplikasi berbasis Linux, Pramotedham mengatakan bahwa Linux merupakan bagian dari empat tren utama CA menuju masa depan, yakni wireless, grid computing, web services dan keempat Linux.

Dalam bidang wireless, CA tak akan mengembangkan aplikasi bergerak (mobile), tetapi melihat perangkat-perangkat bergerak sebagai perluasan terhadap infrastruktur. Kalau orang lain mengembangkan aplikasi bergerak, misalnya aplikasi pengecekan inventori, pemasukan order dan sebagainya. Tetapi, jika penggunanya akan memperbaharui kontennya, misalnya daftar harga penjualan, bagaimana hal itu bisa dilakukan?

Yang justru dikembangkan CA adalah bagaimana menyiapkan teknologi kunci semacam itu, sehingga memudahkan mengelola perluasan infrastruktur TI tersebut.

Grid Computing. Daripada memiliki satu komputer besar, bukankah lebih baik memiliki banyak komputer kecil dan Anda bisa berbagi beban kerja. Yang menarik, beban kerja Anda dapat dibagi-bagi ke komputer yang lebih kecil dan Anda tidak harus memiliki sendiri komputer tersebut.

Grid Computing dan Web Service berjalan bersama-sama. Dengan kedua teknologi ini, kita dapat membuka informasi kita yang memungkinkan mitra kerja kita, pelanggan kita berinteraksi dengan kita tanpa harus menyediakan aplikasi khusus untuk itu, ujar Pramotedham, yang lulusan Teknik Sipil, Universitas Nasional Singapura, ini menambahkan.

Yang terakhir Linux. Kami melihat bahwa Linux akan semakin berkembang. Kami telah memiliki 56 produk yang telah berjalan di Linux. •TI/NhP

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.