e-Government Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
SMS telah ber-evolusi menjadi MMS dan berbagai kelebihan ditawarkan. Sayang beberapa operator belum siap.
 

Teknologi dikembangkan untuk memudahkan manusia dalam menjalani berbagai rutinitas kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut juga berlaku didunia teknologi informasi (TI). Berbagai layanan TI benar-benar membuat yang berhubungan dengan komunikasi bisa dilakukan lebih mudah. Dulu komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan melalui telepon ataupun surat. Tetapi, sekarang berbagai komunikasi jarak jauh bisa dilakukan dengan cara yang gampang, cepat dan murah.

Short Message Service atau yang biasa disebut SMS, misalnya, kini menjadi salah satu tren cara berkomunikasi jarak jauh melalui ponsel. Tahun lalu bisa dikatakan sebagai tahun boomingnya SMS. Fenomena ini terjadi seiring dengan peningkatan pertumbuhan pengguna ponsel (telepon seluler) yang cukup tinggi. Hingga saat ini, tak kurang dari 8 juta orang telah menggunakan ponsel.

Karenanya, tidak heran jika pemakai ponsel lebih banyak menggunakan fasilitas SMS dibandingkan komunikasi suara secara langsung. Selain irit, komunikasi melalui SMS juga lebih bersifat personal dan hampir tak ada kemungkinan pembicaraan didengar atau disadap oleh orang lain. SMS telah membuat sebuah lompatan besar dalam dunia telekomunikasi. Bahkan ada yang menyebut fenomena SMS sebagai sebuah revolusi komunikasi.

Pada awalnya, pengiriman pesan via ponsel ini hanya bisa dilakukan dalam satu operator yang sama. Namun, prospek yang cerah di pasar SMS ini membuat para vendor dan operator buru-buru berbenah membuat sistem yang memungkinkan pengiriman pesan ini bisa dilakukan lintas operator. Sejak Mei tahun lalu, impian tersebut tercapai sudah. Sistem telah memungkinkan pengguna ponsel bisa saling berkirim pesan tak hanya dalam satu operator, tetapi juga antar operator.

Sejak peluncuran SMS lintas operator, layanan ini bagaikan magnet bagi pengguna ponsel berbasis GSM (Global System for Mobile Communications). Pengguna ponsel tak menyia-nyiakan teknologi ini dengan memaksimalkan penggunaan SMS dibandingkan komunikasi secara langsung. Operator di Indonesia seperti Telkomsel, Excelcomindo dan Satelindo mengaku tak terlalu sulit dalam membuat SMS lintas operator ini. SMS center mereka tetap diaktifkan, dan mereka tinggal membuka jaringan antar operator saja.

Meski bagi operator income yang didapat dari penggunaan SMS ini tidak terlalu besar, tetap saja kerjasama SMS lintas operator ini sangat menguntungkan. Karena tak bisa disangkal bahwa dengan SMS lintas operator ini, pengguna SMS melonjak. Dan bisa dipastikan bahwa pendapatan operator pun turut terdongkrak. Lonjakan ini diakui oleh Excelcomindo, sejak diluncurkannya SMS lintas operator pengiriman pesan meningkat sebesar 50%.

Tahun ini jumlah pengguna SMS cukup bombastis. Excelcom misalnya dalam sehari sudah bisa mengirim lebih dari 1,2 juta pesan. Sedangkan Telkomsel, operator pemegang pasar terbesar, juga punya catatan bahwa lebih dari 3 juta penggunanya aktif berkirim pesan via ponsel. Sedangkan menurut data, kurang lebih 10 juta SMS terkirim setiap harinya. Tentu saja fenomena SMS ini bagi operator merupakan peluang bisnis baru. Pasalnya dari SMS ini berbagai layanan berbasis databisa dikembangkan. Salah satu pemanfatan SMS adalah layanan mobile banking, yang kini telah diaplikasikan, baik oleh Telkomsel maupun Excelcomindo.

Rupanya laju SMS tak berhenti sampai di situ. SMS yang hanya memungkinkan pengiriman pesan berupa tulisan ini menggeliat untuk terus berevolusi. Evolusi yang dimaksud adalah beralihnya pengiriman pesan berupa tulisan menjadi digital image seperti, gambar, grafik, foto, suara bahkan video klip sekalipun. Inilah yang kemudian disebut sebagai MMS (Multimedia Messaging Service).

Kehadiran MMS ini sudah barang tentu menjadi perhatian utama bagi vendor, content provider ataupun operator. Jika SMS saja telah memberikan banyak keuntungan bagi operator telepon seluler, mereka juga berharap bahwa MMS ini bakal memberikan keuntungan lebih besar lagi. Demikian juga dengan content provider. Dengan layanan gambar, suara, klip plus layar lebar mereka akan bisa lebih menonjolkan perannya. Vendor pun yakin bahwa konsumen bakal menerima kehadiran MMS dengan segala kelebihannya.

Sebagai permulaan, MMS akan keluar dengan basis GPRS (2,5G). Selanjutnya, jika teknologi 3G atau generasi ketiga diluncurkan, bisa dipastikan MMS akan lebih sempurna lagi. Meskipun SMS dan MMS dikirimkan secara real time, tetapi interaksi MMS dan SMS sangat berbeda. Pengiriman SMS adalah pesan dikirim ke SMS Center dan kemudian diteruskan kepada nomor tujuan. Sedangkan proses pengiriman MMS berbeda. Pengirim mengirimkan MMS ke MMS Center. Setelah pesan sampai di MMS Center, si pengirim akan menerima konfirmasi bahwa pesan telah terkirim. Barulah MMS Center melanjutkan pesan ke penerima dengan pesan bahwa ada pesan menunggu. Penerima bisa mendownload pesan saat itu juga atau setelahnya. Jika pesan sudah didownload, pengirim akan dikonfirmasi bahwa pesan telah tersampaikan.

Prediksi yang mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun emasnya MMS, ternyata tidak benar. Pasalnya, MMS ini hanya bisa dilakukan dengan basis teknologi GPRS (General Packet Radio Service/2,5G). Sementara di Indonesia, baru satu operator yang mempunyai basis teknologi GPRS ini yakni Indosat dengan produk kartu IM3-nya. Bagi Indosat, MMS dilihat sebagai celah tersendiri bagi operator termuda ini untuk merebut pasar.

Sebagai satu-satunya operator yang bisa melayani MMS, untuk itu Indosat tak segan-segan mengucurkan dana sebagai investasi sebesar US$ 170 juta, untuk memulai kiprahnya di bisnis ini. Namun pelayanan MMS oleh Indosat boleh dikatakan belu optimal. Gede Krishna Jaya, Mobile Data Development Manager IM3 mengakui, sampai saat ini, MMS boleh dibilang masih dalam tahap coba-coba. Untuk itu bagi pengguna layanan ini belum dikenai tarif tertentu. Sebagai suatu layanan baru, benchmarking-pun masih sulit dilakukan.

Meskipun MMS belum sefenomenal SMS, tetapi beberapa vendor tak mau telat dalam menyiapkan handset untuk MMS ini. Nokia dan Ericsson telah membuat langkah untuk menyambut datangnya MMS ini. Ericsson bahkan tak sungkan-sungkan untuk merger dengan Sony demi menjawab tantangan evolusi komunikasi ini. Mereka datang dengan ponsel seri T68i yang siap untuk mengaplikasikan MMS. Nokia tak mau ketinggalan dengan mengeluarkan seri Nokia 7650. Kedua handset ini mempunyai kemampuan pengiriman 30 KB dan kapasitas penerimaan sebesar 50 KB.

Belum siapnya operator-operator besar seperti Telkomsel dan Excelcomindo, tidak berarti bahwa nasib MMS tak akan secerah SMS. Bagi mereka yang sudah siap menerima kehadiran MMS, mereka jelas akan mendapatkan nilai lebih dengan layanan MMS ini. Semoga MMS tak hanya bergaung bak busa sabun dan menjadi kelatahan saja. Tetapi benar-benar dapat menjadi sebuah implementasi nyata.•wi

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved