Teknologi
dikembangkan untuk memudahkan manusia dalam menjalani berbagai
rutinitas kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut juga berlaku
didunia teknologi informasi (TI). Berbagai layanan TI benar-benar
membuat yang berhubungan dengan komunikasi bisa dilakukan
lebih mudah. Dulu komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan
melalui telepon ataupun surat. Tetapi, sekarang berbagai komunikasi
jarak jauh bisa dilakukan dengan cara yang gampang, cepat
dan murah.
Short Message Service atau yang biasa disebut SMS, misalnya,
kini menjadi salah satu tren cara berkomunikasi jarak jauh
melalui ponsel. Tahun lalu bisa dikatakan sebagai tahun boomingnya
SMS. Fenomena ini terjadi seiring dengan peningkatan pertumbuhan
pengguna ponsel (telepon seluler) yang cukup tinggi. Hingga
saat ini, tak kurang dari 8 juta orang telah menggunakan ponsel.
Karenanya, tidak heran jika pemakai ponsel lebih banyak menggunakan
fasilitas SMS dibandingkan komunikasi suara secara langsung.
Selain irit, komunikasi melalui SMS juga lebih bersifat personal
dan hampir tak ada kemungkinan pembicaraan didengar atau disadap
oleh orang lain. SMS telah membuat sebuah lompatan besar dalam
dunia telekomunikasi. Bahkan ada yang menyebut fenomena SMS
sebagai sebuah revolusi komunikasi.
Pada awalnya, pengiriman pesan via ponsel ini hanya bisa
dilakukan dalam satu operator yang sama. Namun, prospek yang
cerah di pasar SMS ini membuat para vendor dan operator buru-buru
berbenah membuat sistem yang memungkinkan pengiriman pesan
ini bisa dilakukan lintas operator. Sejak Mei tahun lalu,
impian tersebut tercapai sudah. Sistem telah memungkinkan
pengguna ponsel bisa saling berkirim pesan tak hanya dalam
satu operator, tetapi juga antar operator.
Sejak peluncuran SMS lintas operator, layanan ini bagaikan
magnet bagi pengguna ponsel berbasis GSM (Global System for
Mobile Communications). Pengguna ponsel tak menyia-nyiakan
teknologi ini dengan memaksimalkan penggunaan SMS dibandingkan
komunikasi secara langsung. Operator di Indonesia seperti
Telkomsel, Excelcomindo dan Satelindo mengaku tak terlalu
sulit dalam membuat SMS lintas operator ini. SMS center mereka
tetap diaktifkan, dan mereka tinggal membuka jaringan antar
operator saja.
Meski bagi operator income yang didapat dari penggunaan SMS
ini tidak terlalu besar, tetap saja kerjasama SMS lintas operator
ini sangat menguntungkan. Karena tak bisa disangkal bahwa
dengan SMS lintas operator ini, pengguna SMS melonjak. Dan
bisa dipastikan bahwa pendapatan operator pun turut terdongkrak.
Lonjakan ini diakui oleh Excelcomindo, sejak diluncurkannya
SMS lintas operator pengiriman pesan meningkat sebesar 50%.
Tahun ini jumlah pengguna SMS cukup bombastis. Excelcom misalnya
dalam sehari sudah bisa mengirim lebih dari 1,2 juta pesan.
Sedangkan Telkomsel, operator pemegang pasar terbesar, juga
punya catatan bahwa lebih dari 3 juta penggunanya aktif berkirim
pesan via ponsel. Sedangkan menurut data, kurang lebih 10
juta SMS terkirim setiap harinya. Tentu saja fenomena SMS
ini bagi operator merupakan peluang bisnis baru. Pasalnya
dari SMS ini berbagai layanan berbasis databisa dikembangkan.
Salah satu pemanfatan SMS adalah layanan mobile banking, yang
kini telah diaplikasikan, baik oleh Telkomsel maupun Excelcomindo.
Rupanya laju SMS tak berhenti sampai di situ. SMS yang hanya
memungkinkan pengiriman pesan berupa tulisan ini menggeliat
untuk terus berevolusi. Evolusi yang dimaksud adalah beralihnya
pengiriman pesan berupa tulisan menjadi digital image seperti,
gambar, grafik, foto, suara bahkan video klip sekalipun. Inilah
yang kemudian disebut sebagai MMS (Multimedia Messaging Service).
Kehadiran MMS ini sudah barang tentu menjadi perhatian utama
bagi vendor, content provider ataupun operator. Jika SMS saja
telah memberikan banyak keuntungan bagi operator telepon seluler,
mereka juga berharap bahwa MMS ini bakal memberikan keuntungan
lebih besar lagi. Demikian juga dengan content provider. Dengan
layanan gambar, suara, klip plus layar lebar mereka akan bisa
lebih menonjolkan perannya. Vendor pun yakin bahwa konsumen
bakal menerima kehadiran MMS dengan segala kelebihannya.
Sebagai permulaan, MMS akan keluar dengan basis GPRS (2,5G).
Selanjutnya, jika teknologi 3G atau generasi ketiga diluncurkan,
bisa dipastikan MMS akan lebih sempurna lagi. Meskipun SMS
dan MMS dikirimkan secara real time, tetapi interaksi MMS
dan SMS sangat berbeda. Pengiriman SMS adalah pesan dikirim
ke SMS Center dan kemudian diteruskan kepada nomor tujuan.
Sedangkan proses pengiriman MMS berbeda. Pengirim mengirimkan
MMS ke MMS Center. Setelah pesan sampai di MMS Center, si
pengirim akan menerima konfirmasi bahwa pesan telah terkirim.
Barulah MMS Center melanjutkan pesan ke penerima dengan pesan
bahwa ada pesan menunggu. Penerima bisa mendownload pesan
saat itu juga atau setelahnya. Jika pesan sudah didownload,
pengirim akan dikonfirmasi bahwa pesan telah tersampaikan.
Prediksi yang mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun emasnya
MMS, ternyata tidak benar. Pasalnya, MMS ini hanya bisa dilakukan
dengan basis teknologi GPRS (General Packet Radio Service/2,5G).
Sementara di Indonesia, baru satu operator yang mempunyai
basis teknologi GPRS ini yakni Indosat dengan produk kartu
IM3-nya. Bagi Indosat, MMS dilihat sebagai celah tersendiri
bagi operator termuda ini untuk merebut pasar.
Sebagai satu-satunya operator yang bisa melayani MMS, untuk
itu Indosat tak segan-segan mengucurkan dana sebagai investasi
sebesar US$ 170 juta, untuk memulai kiprahnya di bisnis ini.
Namun pelayanan MMS oleh Indosat boleh dikatakan belu optimal.
Gede Krishna Jaya, Mobile Data Development Manager IM3 mengakui,
sampai saat ini, MMS boleh dibilang masih dalam tahap coba-coba.
Untuk itu bagi pengguna layanan ini belum dikenai tarif tertentu.
Sebagai suatu layanan baru, benchmarking-pun masih sulit dilakukan.
Meskipun MMS belum sefenomenal SMS, tetapi beberapa vendor
tak mau telat dalam menyiapkan handset untuk MMS ini. Nokia
dan Ericsson telah membuat langkah untuk menyambut datangnya
MMS ini. Ericsson bahkan tak sungkan-sungkan untuk merger
dengan Sony demi menjawab tantangan evolusi komunikasi ini.
Mereka datang dengan ponsel seri T68i yang siap untuk mengaplikasikan
MMS. Nokia tak mau ketinggalan dengan mengeluarkan seri Nokia
7650. Kedua handset ini mempunyai kemampuan pengiriman 30
KB dan kapasitas penerimaan sebesar 50 KB.
Belum siapnya operator-operator besar seperti Telkomsel dan
Excelcomindo, tidak berarti bahwa nasib MMS tak akan secerah
SMS. Bagi mereka yang sudah siap menerima kehadiran MMS, mereka
jelas akan mendapatkan nilai lebih dengan layanan MMS ini.
Semoga MMS tak hanya bergaung bak busa sabun dan menjadi kelatahan
saja. Tetapi benar-benar dapat menjadi sebuah implementasi
nyata.•wi
foto-foto: LS Widiyanto
|