Seorang
wanita cantik, eksekutif muda, terlihat sibuk memutar telepon
di kantornya menghubungi Blue Bird untuk memesan taksi yang
akan mengantarkannya ketemu partner bisnis. Sembari menunggu
taksi datang, dia mengisi waktu dengan mempersiapkan segala
sesuatu yang harus dibawa untuk keperluan bisnisnya. Tak sampai
10 menit kemudian, ada telepon dari receptionist bahwa taksi
yang dipesannya sudah datang. Winda, begitu panggilan wanita
tersebut agak kaget, “Lho kok cepat banget ya,”
ungkapnya dalam hati. Bergegas dia keluar ruangan dan masuk
ke dalam taksi yang ditumpanginya menuju suatu tempat yang
telah ditentukan.
Winda tak sadar bahwa kecepatan pelayanan yang diberikan
oleh Silver Bird merupakan hasil aplikasi sistem GPS (Global
Positioning system), yang diterapkan Blue Bird untuk armada
Silvernya. Pasalnya, dengan GPS, taksi yang akan mengambil
order yang diberikan dari call center di pusat hanya bisa
diambil oleh taksi yang tengah berada di lokasi terdekat tamu
pengorder taksi.
Meningkatkan pelayanan kepada tamu, itulah tujuan diterapkannya
sistem GPS ini di Blue Bird. “Kita sudah merasa bahwa
kita harus melakukan improvement. Apalagi, sistem radio ini
sangat memungkinkan kita untuk menggunakan sistem GPS,”
ungkap Sigit P. Djokosoetono, General Manager Operational
Blue Bird Group kepada eBizzAsia. Awalnya, dengan adanya sistem
radio, Blue Bird menggunakan bidding system dalam menanggapi
datangnya order. Namun dalam sistem ini, receiver hanya bisa
mengetahui nomor taksi, dan tidak mengetahui posisi taksi
yang merespon penawaran tersebut.
Nomor ini diketahui karena pengemudi, saat merespon adanya
penawaran, menjawabnya melalui suara dan mereka menyebutkan
nomor taksi yang dikemudikan. Semakin banyak order akhirnya
membuat Blue Bird terketuk untuk mengimplementasikan GPS sekitar
dua tahun lalu, khususnya pada mobil jenis Silver Bird. Perangkat
yang masih mahal membuat manajemen Blue Bird hanya mengimplementasikan
di Silver Bird saja. Total perangkat GPS ini dipasang pada
armada Blue Bird mencapai 640 unit mobil.
“Memang, jika dilihat secara sepintas, aplikasi GPS
di Blue Bird ini cukup sederhana atau hanya merupakan enhancement
dari sistem bidding yang lama, yakni pada awalnya hanya muncul
nomor, sekarang bisa tahu jarak dan posisinya. Sebenarnya,
untuk menghasilkan taksi seperti itu diperlukan proses yang
sangat panjang” tutur Sigit. Proses yang panjang itu
antara lain pemindahan dari pemakaian sistem analog menjadi
sistem digital. Begitu masuk pada GPS berarti banyak data
yang harus ditransmit seperti posisi dan bujur lintang dll,
sehingga sistem analog sudah tak memungkinkan untuk digunakan.
Karenanya, mau tak mau harus menggunakn sistem digital.
Untuk mengubah dari sistem analog ke sistem digital, harus
dilakukan perubahan total dalam sistem reservasi secara menyeluruh.
“Maka dari itu, pada tahun 2000 kami mengganti sistem
reservasi dari sistem yang lama ke sistem yang baru untuk
siap ke langkah berikutnya. Ketika sistem ini sudah diaplikasikan,
kami tinggal menambah aplikasi yang diinginkan dengan basis
GPS atau istilahnya berjalan diatas sistem GPS,” tambah
Sigit. Misalnya, kami bisa memandu seorang pengemudi memilih
jalan untuk menuju suatu lokasi tertentu.
Pada tahap awal aplikasi GPS, kendala nyata yang langsung
dihadapi adalah pembuatan peta secara digital. “Saat
itu kita masih sulit mencari peta digital, berbagai jalan
dicoba dan akhirnya Blue Bird memutuskan untuk membuat peta
sendiri” tambah Sigit. Dan karena peta itu buatan sendiri,
maka sangat spesifik terhadap wilayah yang kita miliki. Dengan
dibantu konsultan komunikasi, kita membuat peta digital itu
sendiri. Ternyata, setelah dipelajari tak mudah membuat sebuah
peta. Apalagi posisi ketinggian sangat berpengaruh terhadap
implementasi GPS ini.
Kendala lain yang juga harus dipecahkan dalam penerapan GPS
ini antara lain sulitnya memadukan pengiriman data dan suara
secara bersamaan dalam satu kanal radio. Akhirnya data dan
suara dikirim secara bergantian. Disinilah dijumpai kendala
teknologi yang cukup kompleks. Meskipun suara terkadang harus
delay beberapa detik, namun kami sekarang tetap merasa bangga
karena pengiriman data dan gambar bisa dilakukan secara lancar.
Kalau tidak, kami harus menggunakan dua jalur yang berbeda
untuk pengiriman data dan suara. Nah, kalau itu terjadi, kendala
yang akan dialami adalah kesulitan pada kantor pusat untuk
menggabungkan dua hal tersebut. Ujungnya, di kendaraan pun
membutuhkan dua alat yang berbeda.
Untuk mengoperasikan aplikasi ini, Blue Bird menggunakan
frekuensi radio dengan kapasitas 9600 kpps, namun kenyataannya
kami bisa running pada 2400 kpps. Justru jika menggunakan
9600 kpps koreksi terhadap errornya cukup tinggi.
Pemasangan aplikasi GPS ini memakan waktu kurang lebih selama
setahun. Proyek yang dimulai pada 2000 ini selesai implementasi
totalnya pada 2001. Hasil yang diperoleh dari sistem GPS ini,
antara lain service bisa dilakukan secara lebih cepat. Dengan
sistem lama, secara otomatis taksi yang nge-bid lebih dahulu
yang akan mendapatkan order tersebut, padahal bisa jadi lokasi
mobil tersebut jauh dari lokasi tamu yang akan dijemput. “Nah
dengan GPS, keberadaan taksi yang nge-bid akan diketahui,
jadi belum tentu taksi yang nge-bid duluan akan mendapatkan
order. Yang diutamatakan adalah taksi yang berada pada jarak
paling dekat dengan tamu jemputan” kata Sigit.
Dengan GPS ini respon terhadap order akan lebih cepat. Jika
dulu respon terhadap order memakan waktu sekitar 25 menit,
kini dalam waktu 10 hingga 15 menit saja taksi sudah berada
di depan tamu pemesan. Dulu dari 10 order setidaknya ada 5
yang tidak on time. Sekarang paling tidak hanya 2 dari 10
order saja yang tidak bisa dilayani secara on time. Beberapa
factor, seperti kemacetan dan lokasi yang sulit dijangkau
membuat sistem ini tak bisa menjamin semua order bisa diakomodir
secara baik.
Tampilan yang muncul di kantor pusat atau receiver adalah
lokasi tamu yang minta dijemput dan lokasi mobil yang nge-bid.
Begitu tamu menelepon, secara otomatis mereka menyebutkan
data seperti nomor telepon dan alamat secara lengkap. Begitu
data tersebut di-entry di sistem, data tersebut langsung diolah
dan dihitung posisi bujur dan lintangnya, sehingga posisi
rumah tamu langsung bisa dipetakan oleh sistem. Pada saat
order dibacakan, gambar posisi tamu itu dipetakan di komputer.
Kemudian, ketika pengemudi nge-bid, komputer langsung melakukan
kalkulasi berapa jarak lurus dari titik tamu terhadap transmisi
yang dikirim oleh mobil yang nge-bid tersebut. Operator akan
menunjuk mobil yang mempunyai jarak terdekat dengan lokasi
tamu untuk mengambil order tersebut.
Sedang
alat yang dipasang pada armada kendaraan berupa sebuah kotak
yang terdiri dari beberapa tombol. Tombol tersebut, antara
lain tombol roger, query dan tombol perekam. Jika pengemudi
ingin merespon order tinggal menekan tombol roger dan dari
tombol inilah akan terkirim sinyal. Dari sinyal inilah akan
diketahui keberadaan kendaraan. Sedang query ini akan ditekan
jika pengemudi membutuhkan bantuan. Tombol rekam digunakan
untuk secara otomatis merekam order yang dibacakan operator.
Jadi, pengemudi tak perlu mencatat alamat tamu yang akan dijemput.
Jika tombol ini dijemput maka secara otomatis penyebutan alamat
tamu yang minta dijemput akan diulang.
Biaya investasi untuk aplikasi sistem ini memang cukup mahal.
Alat yang dipasang untuk setiap satu unit kendaraan seharga
450 dollar Amerika. “Jika dihitung-hitung investasi
alat pada mobil yang memakan biaya besar. Untuk investasi
di kantor pusat bisa dikatakan relatif murah. Karena dengan
investasi sebesar itu sangat memungkinkan untuk mendevelop
dengan aplikasi lain yang lebih canggih,” jelas Sigit.
Boleh dibilang GPS di Blue Bird yang sudah berjalan tak kurang
dari satu tahun ini cukup memberi hasil yang menggembirakan.
Kesuksesan ini membuat Blue Bird tergerak untuk menjalankan
aplikasi lain. “Dua atau tiga bulan mendatang kita akan
aplikasikan sistem MDT (Mobile Data Terminal) untuk taksi
Pusaka Group,” kata Sigit. Dengan MDT ini, penawaran
order kepada pengemudi tidak lagi menggunakan suara, tetapi
mengandalkan data.
Order yang dilempar oleh operator di kantor pusat, tak lagi
berupa suara melainkan tulisan. Pengemudi tinggal membaca
pesan tertulis yang dikirim oleh operator pusat. Ketika dia
ingin mengambil order, seperti sistem terdahulu, pengemudi
tinggal meresponnya dengan menekan tombol yang ada pada perangkat
taksinya. Manfaat yang bisa dipetik dengan sistem MDT ini
antara lain mengurangi tingkat antrean order. Karena, dengan
sistem ini setiap order yang masuk langsung bisa dikirim secara
otomatis ke kendaraan yang mempunyai jarak terdekat dengan
tamu yang minta dijemput.
Selain itu, dengan MDT satu order bisa dikirim langsung ke
beberapa kendaraan secara berbarengan dalam waktu yang singkat.
Sedangkan dengan sistem GPS, order harus antre karena dikirim
oleh pusat ke kendaraan melalui suara. Bagi penumpang, MDT
tentu juga mempunyai manfaat. Penumpang, kini, tak lagi terganggu
dengan suara order yang dilelang.
Untuk penerapan MDT ini, perusahaan taksi berawak 5800 unit
ini harus mengeluarkan investasi sekitar 900 dollar untuk
setiap mobil. Yang pasti, kini, perusahaan taksi terkemuka
itu akan semakin lancar dalam merespon order tamu yang setiap
hari bisa mencapai 7000-an. •wi
foto-foto: LS Widiyanto
|