IT & Communications Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Akhir Nopember lalu, PT Telkom meluncurkan Telkom-SMS yang memungkinkan pelanggan telepon-tetap mengirim SMS. Banyak manfaatnya bagi pebisnis dan industri. Bagaimana prospeknya ke depan?
 
SIDE BAR

Kue Yang Bikin Ngiler
 

JIKA TIDAK ADA ARAL MELINTANG, di akhir Nopember ini, akan ada terobosan baru lagi dalam dunia telekomunikasi Indonesia. Namanya Telkom-SMS. Sesuai namanya, jasa layanan baru yang dibidani oleh PT Telkom Tbk. ini merupakan fasilitas komunikasi berbasis teks berbentuk pesan singkat atau yang populer disebut SMS (short message service). Tapi jangan kaget, jika selama ini pengiriman SMS hanya bisa difasilitasi oleh para pemilik operator seluler (ponsel), Telkom-SMS memungkinkan pengguna telepon tetap (fixed telephone) menikmati layanan pesan singkat ini. Sebuah terobosan luar biasa.

Menurut Direktur Jaringan PT Telkom Ir Suryatin Setiawan, sejauh ini tidak ada hambatan serius dalam persiapan launching. Pihaknya kini sedang mempersiapkan perangkat server dan pengaturan tarif untuk segera meluncurkan layanan Telkom-SMS. “Jika semuanya lancar, rencananya fasilitas pengiriman SMS dengan menggunakan telepon tetap ini akan diluncurkan pada bulan Nopember ini,” tuturnya.

Di luar itu, menurut Sudibyo, Manager Signaling/Project Manager Telkom-SMS, pekerjaan teknis yang tersisa adalah soal standarisasi. Standarisasi perlu dilakukan karena teknologi yang ada di jaringan Telkom saat ini amat beragam. Misalnya, ada yang sudah mempunyai caller ID, tapi ada pula yang belum. Ada yang sudah menggunakan pesinyalan konvesnional R2, tapi ada pula yang memanfaatkan pesinyalan modern CCS7. Standarisasi yang dilakukan harus mengakomodasi seluruh teknologi jaringan yang ada. “Karena itu perlu waktu. Tapi akhir Oktober direncanakan selesai,” kata Sudibyo.

Terobosan yang mulai digagas sejak awal tahun 2001 itu didasari oleh keinginan Telkom sebagai salah satu penyelenggara telekomunikasi untuk menyediakan kenikmatan berkomunikasi kepada para pelanggannya. Waktu itu, gagasan dasarnya adalah untuk memberikan layanan pelanggan telepon tetap senikmat pelanggan seluler. Sebab, di Swiss, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Austria, Swedia dan Filipina, pemakai telepon tetap juga sudah bisa menikmati fasilitas SMS tersebut. Namun, fasilitas SMS yang dikembangkan Telkom sedikit berbeda dengan yang ada di luar negeri itu. Di luar negeri, hanya pelanggan ISDN (Integrated Services Digital Network) dan PSTN (Public Switch Telephone Network) yang memiliki fasilitas caller ID yang bisa menikmati fasilitas SMS, sementara yang dikembangkan Telkom semua pemakai telepon tetap bisa.

Menurut Suryatin Setiawan, Telkom-SMS ini dikembangkan oleh Divisi RisTI (Riset dan Teknologi), salah satu unit milik Telkom yang khusus memfokuskan pada kegiatan riset dan pengembangan teknologi informasi. Namun, dari Jawa Timur muncul “gugatan”. Menurut Kepala Divisi Regional (Divre) V PT Telkom, Sumilan, selain RisTI, Divre V yang berkedudukan di Jawa Timur juga mengembangkan produk serupa. Rintisan RisTI tidak jalan, sementara terobosan Divre V ternyata berhasil. RisTI tidak berhenti. Berkat keuletan sumberdaya yang dimiliki, pengembangan Telkom-SMS akhirnya sukses juga.

Namun, masalah mulai muncul, sebab banyak perbedaan dalam sistem berikut perangkat yang digunakan kedua “saudara seperguruan” itu. Maka, para petinggi Telkom memutuskan standarisasi, karena layanan ini akan diterapkan di seluruh Divre. Mungkin karena jauh dari “api”, Divre V mengalah. Namun, mereka nampaknya tidak sabar menunggu terus. Makanya, Sumilan bersikeras tidak akan mengeksekusi Telkom-SMS jika Jakarta tidak juga memberi lampu hijau berjalannya proyek ini. Alasan Sumilan masuk akal bahwa secanggih apa pun produk teknologi informasi, akan segera tergantikan oleh produk yang jauh lebih canggih dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Sumilan pantas gerah. Karena menurut kalkulasinya, dari sisi bisnis Telkom-SMS hanya menguntungkan sekitar waktu tiga tahun. Supaya bisa bertahan dan tidak ditinggalkan konsumen, Telkom-SMS butuh inovasi lanjutan. Jika Telkom-SMS saat ini hanya bisa mengirimkan kata-kata (tulisan), diharapkan pada tahun keempat mampu mengirim gambar statis. Berikutnya, pada saatnya kelak berubah menjadi fasilitas telekonferensi.

Tapi kegerahan Sumilan akan berakhir karena para petinggi Telkom sudah melansir ke publik jika Telkom-SMS akan diluncurkan Nopember ini. Bahkan, prototipe Telkom-SMS sudah dipamerkan dalam TPE Connectivity di Jakarta Convention Centre (JCC), awal Oktober 2002 lalu. “Yang akan di-launching nanti adalah produk Telkom, hasil pemikiran dan kerja seluruh divisi dan unit di kantor Telkom,” kata Sudibyo, mencoba menjernihkan masalah. Telkom-SMS yang dikembangkan RisTI saat ini meliputi sistem, standar sekaligus pengembangan perangkatnya yang dipesan ke PT Inti.

Berapa investasi yang dibenamkan Telkom dalam pengembangan jasa ini, tidak diketahui persis. Menurut Suryatin, tidak ada investasi besar untuk menggelar fasilitas ini. Tapi dalam kalkulasi Sumilan, khusus untuk Divre V investasi Telkom-SMS membutuhkan dana sekitar Rp 3 miliar untuk pembelian empat server yang akan dipasang di Kandatel Malang, Jember, Madiun dan Surabaya. Masing-masing server berkemampuan mengirim sekitar 15-20 ribu SMS dalam waktu bersamaan. Saat ini, kata Sumilan, sudah ada tujuh investor domestik yang berminat dan sedang dalam tahap uji teknis. Hasilnya baik.

Secara teknis, proses pengiriman pesan Telkom-SMS dipusatkan lewat SMSC (Short Message Service Centre). Untuk pelanggan pribadi, layanan ini memerlukan terminal bernama SMTE (Short Message Terminal Equipment), sementara pelanggan industri yang diperlukan adalah ESME (External Short Message Entity). Piranti yang fungsinya persis seperti pesawat telepon dan akan menggantikan pesawat telepon pelanggan itu, nantinya, bisa diperoleh di pasaran dengan harga antara Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta per unit, tergantung banyaknya fasilitas yang diinginkan. Pengiriman SMS ke jaringan tetap menggunakan teknologi FSK, sementara ke seluler menggunakan teknologi CCS7-MAP.

Survei pasar sudah pernah dilakukan. “Hasilnya baik. Pelanggan tertarik dengan layanan ini,” kata Sudibyo. Dalam proyeksi yang dibuatnya, sebagian besar penggunannya nanti adalah konsumen individual/keluarga. Tapi tidak tertutup kemungkinan kalangan bisnis dan korporasi. Dari sisi tarif, Telkom-SMS ini terbilang kompetitif. Meskipun belum diputuskan, Sudibyo memberi ancar-ancar tarifnya berkisar antara Rp 200 – 250 per pesan singkat, lebih murah dibandingkan tarif SMS seluler. Tidak berlebihan jika pihak Telkom menargetkan sebanyak 2 juta user pada tahun 2006. Sudibyo membantah jika layanan ini akan merebut pelanggan SMS seluler, termasuk pelanggan Telkomsel. Maklum, kue layanan SMS seluler cukup menggiurkan (baca: “Kue yang Bikin Ngiler”).

Bagi para pebisnis dan dunia industri, Telkom-SMS dipastikan bakal punya manfaat besar. “Pengusaha bisa mendapatkan informasi bisnis dari pusat informasi yang tersambung ke jaringan Telkom-SMS, dengan mudah dan murah,” kata Sudibyo. Saat ini, pengguna Telkom-SMS bisa menikmati fitur-fitur yang berisi informasi bisnis, seperti kurs mata uang, info saham, harga komoditas, jadual penerbangan dan jadual kereta api. Di luar itu, pelanggan juga bisa memanfaatkan fitur message scheduling (fitur untuk menentukan kapan pesan harus dikirim SMSC), retrieve message (untuk mengambil pesan dari SMSC), validity period (menentukan lama pesan bisa disimpan SMSC), status report (mendapatkan laporan hasil pengiriman pesan ke alamat nomor tujuan), bersenang-senang dengan bermain games atau mengirim dan membuka e-mail lewat SMS.

Sejauh ini, konten fitur-fitur tersebut masih dilayani oleh internal Telkom. Jika ada pihak luar yang bekerja sama dalam penyediaan konten, pihak Telkom tetap terbuka. Karena ke depan, fitur-fitur tersebut akan terus dikembangkan. “Arahnya ke variasi konten,” kata Sudibyo. Cuma, untuk operator seluler, saat ini pengguna Telkom-SMS hanya bisa mengirim SMS ke Telkomsel. Nantinya, akan dikembangkan ke semua operator seluler. Jika itu sudah terjadi, hit pengiriman SMS akan jauh lebih besar lagi, seperti pengiriman SMS pada operator seluler yang melonjak ketika kerja sama lintas operator terjadi.

Prosedur pengiriman SMS tidak berbeda dengan prosedur pada ponsel. Pertama, memasukkan pesan, lalu memasukkan nomor telepon yang dituju (fixed telephone atau seluler), baru kemudian dikirim. Jumlah huruf pesan singkat yang bisa dikirim/diterima besarnya 4 x 160 atau 640 karakter. Prosedur menerima SMS untuk pelanggan yang tidak memiliki fasilitas caller ID sedikit berbeda. Pada pelanggan yang punya caller ID, jika ada SMS masuk akan terdengar bunyi ring sekali dan muncul simbol sampul di terminal. Sementara pada pelanggan tanpa caller ID, jika terdengar ring, gagang telepon harus diangkat dulu. Jika panggilan tersebut berupa pesan singkat, di terminal akan muncul simbol sampul. Agar tidak dibaca bukan penerima pesan, ada sub-address yang bisa sampai 10 nomor yang cuma bisa dibuka dengan password. Jadi terjamin kerahasiaannya.

Yang paling enak, untuk bisa menikmati fasilitas Telkom-SMS, pelanggan tidak perlu mendaftarkan diri ke Telkom. Seperti fasilitas telkomnet@instan, ketika pelanggan merasa perlu, dengan mudah mereka bisa memanfaatkan fasilitas Telkom-SMS asal pesawat teleponnya diganti. Saat itu, pelanggan telepon tetap serasa memakai ponsel.•ki

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved