JIKA
TIDAK ADA ARAL MELINTANG, di akhir Nopember ini,
akan ada terobosan baru lagi dalam dunia telekomunikasi Indonesia.
Namanya Telkom-SMS. Sesuai namanya, jasa layanan baru yang
dibidani oleh PT Telkom Tbk. ini merupakan fasilitas komunikasi
berbasis teks berbentuk pesan singkat atau yang populer disebut
SMS (short message service). Tapi jangan kaget, jika selama
ini pengiriman SMS hanya bisa difasilitasi oleh para pemilik
operator seluler (ponsel), Telkom-SMS memungkinkan pengguna
telepon tetap (fixed telephone) menikmati layanan pesan singkat
ini. Sebuah terobosan luar biasa.
Menurut Direktur Jaringan PT Telkom Ir Suryatin Setiawan,
sejauh ini tidak ada hambatan serius dalam persiapan launching.
Pihaknya kini sedang mempersiapkan perangkat server dan pengaturan
tarif untuk segera meluncurkan layanan Telkom-SMS. “Jika
semuanya lancar, rencananya fasilitas pengiriman SMS dengan
menggunakan telepon tetap ini akan diluncurkan pada bulan
Nopember ini,” tuturnya.
Di luar itu, menurut Sudibyo, Manager Signaling/Project Manager
Telkom-SMS, pekerjaan teknis yang tersisa adalah soal standarisasi.
Standarisasi perlu dilakukan karena teknologi yang ada di
jaringan Telkom saat ini amat beragam. Misalnya, ada yang
sudah mempunyai caller ID, tapi ada pula yang belum. Ada yang
sudah menggunakan pesinyalan konvesnional R2, tapi ada pula
yang memanfaatkan pesinyalan modern CCS7. Standarisasi yang
dilakukan harus mengakomodasi seluruh teknologi jaringan yang
ada. “Karena itu perlu waktu. Tapi akhir Oktober direncanakan
selesai,” kata Sudibyo.
Terobosan yang mulai digagas sejak awal tahun 2001 itu didasari
oleh keinginan Telkom sebagai salah satu penyelenggara telekomunikasi
untuk menyediakan kenikmatan berkomunikasi kepada para pelanggannya.
Waktu itu, gagasan dasarnya adalah untuk memberikan layanan
pelanggan telepon tetap senikmat pelanggan seluler. Sebab,
di Swiss, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Austria, Swedia
dan Filipina, pemakai telepon tetap juga sudah bisa menikmati
fasilitas SMS tersebut. Namun, fasilitas SMS yang dikembangkan
Telkom sedikit berbeda dengan yang ada di luar negeri itu.
Di luar negeri, hanya pelanggan ISDN (Integrated Services
Digital Network) dan PSTN (Public Switch Telephone Network)
yang memiliki fasilitas caller ID yang bisa menikmati fasilitas
SMS, sementara yang dikembangkan Telkom semua pemakai telepon
tetap bisa.
Menurut Suryatin Setiawan, Telkom-SMS ini dikembangkan oleh
Divisi RisTI (Riset dan Teknologi), salah satu unit milik
Telkom yang khusus memfokuskan pada kegiatan riset dan pengembangan
teknologi informasi. Namun, dari Jawa Timur muncul “gugatan”.
Menurut Kepala Divisi Regional (Divre) V PT Telkom, Sumilan,
selain RisTI, Divre V yang berkedudukan di Jawa Timur juga
mengembangkan produk serupa. Rintisan RisTI tidak jalan, sementara
terobosan Divre V ternyata berhasil. RisTI tidak berhenti.
Berkat keuletan sumberdaya yang dimiliki, pengembangan Telkom-SMS
akhirnya sukses juga.
Namun, masalah mulai muncul, sebab banyak perbedaan dalam
sistem berikut perangkat yang digunakan kedua “saudara
seperguruan” itu. Maka, para petinggi Telkom memutuskan
standarisasi, karena layanan ini akan diterapkan di seluruh
Divre. Mungkin karena jauh dari “api”, Divre V
mengalah. Namun, mereka nampaknya tidak sabar menunggu terus.
Makanya, Sumilan bersikeras tidak akan mengeksekusi Telkom-SMS
jika Jakarta tidak juga memberi lampu hijau berjalannya proyek
ini. Alasan Sumilan masuk akal bahwa secanggih apa pun produk
teknologi informasi, akan segera tergantikan oleh produk yang
jauh lebih canggih dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Sumilan pantas gerah. Karena menurut kalkulasinya, dari sisi
bisnis Telkom-SMS hanya menguntungkan sekitar waktu tiga tahun.
Supaya bisa bertahan dan tidak ditinggalkan konsumen, Telkom-SMS
butuh inovasi lanjutan. Jika Telkom-SMS saat ini hanya bisa
mengirimkan kata-kata (tulisan), diharapkan pada tahun keempat
mampu mengirim gambar statis. Berikutnya, pada saatnya kelak
berubah menjadi fasilitas telekonferensi.
Tapi kegerahan Sumilan akan berakhir karena para petinggi
Telkom sudah melansir ke publik jika Telkom-SMS akan diluncurkan
Nopember ini. Bahkan, prototipe Telkom-SMS sudah dipamerkan
dalam TPE Connectivity di Jakarta Convention Centre (JCC),
awal Oktober 2002 lalu. “Yang akan di-launching nanti
adalah produk Telkom, hasil pemikiran dan kerja seluruh divisi
dan unit di kantor Telkom,” kata Sudibyo, mencoba menjernihkan
masalah. Telkom-SMS yang dikembangkan RisTI saat ini meliputi
sistem, standar sekaligus pengembangan perangkatnya yang dipesan
ke PT Inti.
Berapa investasi yang dibenamkan Telkom dalam pengembangan
jasa ini, tidak diketahui persis. Menurut Suryatin, tidak
ada investasi besar untuk menggelar fasilitas ini. Tapi dalam
kalkulasi Sumilan, khusus untuk Divre V investasi Telkom-SMS
membutuhkan dana sekitar Rp 3 miliar untuk pembelian empat
server yang akan dipasang di Kandatel Malang, Jember, Madiun
dan Surabaya. Masing-masing server berkemampuan mengirim sekitar
15-20 ribu SMS dalam waktu bersamaan. Saat ini, kata Sumilan,
sudah ada tujuh investor domestik yang berminat dan sedang
dalam tahap uji teknis. Hasilnya baik.
Secara teknis, proses pengiriman pesan Telkom-SMS dipusatkan
lewat SMSC (Short Message Service Centre). Untuk pelanggan
pribadi, layanan ini memerlukan terminal bernama SMTE (Short
Message Terminal Equipment), sementara pelanggan industri
yang diperlukan adalah ESME (External Short Message Entity).
Piranti yang fungsinya persis seperti pesawat telepon dan
akan menggantikan pesawat telepon pelanggan itu, nantinya,
bisa diperoleh di pasaran dengan harga antara Rp 200 ribu
hingga Rp 2 juta per unit, tergantung banyaknya fasilitas
yang diinginkan. Pengiriman SMS ke jaringan tetap menggunakan
teknologi FSK, sementara ke seluler menggunakan teknologi
CCS7-MAP.
Survei pasar sudah pernah dilakukan. “Hasilnya baik.
Pelanggan tertarik dengan layanan ini,” kata Sudibyo.
Dalam proyeksi yang dibuatnya, sebagian besar penggunannya
nanti adalah konsumen individual/keluarga. Tapi tidak tertutup
kemungkinan kalangan bisnis dan korporasi. Dari sisi tarif,
Telkom-SMS ini terbilang kompetitif. Meskipun belum diputuskan,
Sudibyo memberi ancar-ancar tarifnya berkisar antara Rp 200
– 250 per pesan singkat, lebih murah dibandingkan tarif
SMS seluler. Tidak berlebihan jika pihak Telkom menargetkan
sebanyak 2 juta user pada tahun 2006. Sudibyo membantah jika
layanan ini akan merebut pelanggan SMS seluler, termasuk pelanggan
Telkomsel. Maklum, kue layanan SMS seluler cukup menggiurkan
(baca: “Kue yang Bikin Ngiler”).
Bagi para pebisnis dan dunia industri, Telkom-SMS dipastikan
bakal punya manfaat besar. “Pengusaha bisa mendapatkan
informasi bisnis dari pusat informasi yang tersambung ke jaringan
Telkom-SMS, dengan mudah dan murah,” kata Sudibyo. Saat
ini, pengguna Telkom-SMS bisa menikmati fitur-fitur yang berisi
informasi bisnis, seperti kurs mata uang, info saham, harga
komoditas, jadual penerbangan dan jadual kereta api. Di luar
itu, pelanggan juga bisa memanfaatkan fitur message scheduling
(fitur untuk menentukan kapan pesan harus dikirim SMSC), retrieve
message (untuk mengambil pesan dari SMSC), validity period
(menentukan lama pesan bisa disimpan SMSC), status report
(mendapatkan laporan hasil pengiriman pesan ke alamat nomor
tujuan), bersenang-senang dengan bermain games atau mengirim
dan membuka e-mail lewat SMS.
Sejauh ini, konten fitur-fitur tersebut masih dilayani oleh
internal Telkom. Jika ada pihak luar yang bekerja sama dalam
penyediaan konten, pihak Telkom tetap terbuka. Karena ke depan,
fitur-fitur tersebut akan terus dikembangkan. “Arahnya
ke variasi konten,” kata Sudibyo. Cuma, untuk operator
seluler, saat ini pengguna Telkom-SMS hanya bisa mengirim
SMS ke Telkomsel. Nantinya, akan dikembangkan ke semua operator
seluler. Jika itu sudah terjadi, hit pengiriman SMS akan jauh
lebih besar lagi, seperti pengiriman SMS pada operator seluler
yang melonjak ketika kerja sama lintas operator terjadi.
Prosedur pengiriman SMS tidak berbeda dengan prosedur pada
ponsel. Pertama, memasukkan pesan, lalu memasukkan nomor telepon
yang dituju (fixed telephone atau seluler), baru kemudian
dikirim. Jumlah huruf pesan singkat yang bisa dikirim/diterima
besarnya 4 x 160 atau 640 karakter. Prosedur menerima SMS
untuk pelanggan yang tidak memiliki fasilitas caller ID sedikit
berbeda. Pada pelanggan yang punya caller ID, jika ada SMS
masuk akan terdengar bunyi ring sekali dan muncul simbol sampul
di terminal. Sementara pada pelanggan tanpa caller ID, jika
terdengar ring, gagang telepon harus diangkat dulu. Jika panggilan
tersebut berupa pesan singkat, di terminal akan muncul simbol
sampul. Agar tidak dibaca bukan penerima pesan, ada sub-address
yang bisa sampai 10 nomor yang cuma bisa dibuka dengan password.
Jadi terjamin kerahasiaannya.
Yang paling enak, untuk bisa menikmati fasilitas Telkom-SMS,
pelanggan tidak perlu mendaftarkan diri ke Telkom. Seperti
fasilitas telkomnet@instan, ketika pelanggan merasa perlu,
dengan mudah mereka bisa memanfaatkan fasilitas Telkom-SMS
asal pesawat teleponnya diganti. Saat itu, pelanggan telepon
tetap serasa memakai ponsel.•ki
foto-foto: LS Widiyanto
|