IMPLEMENTASI
TI di perbankan memang menuntut pengambilan keputusan
berdasarkan data real time yang cepat dan akurat. Disamping,
memang kalangan perbankan dituntut oleh nasabahnya untuk membangun
jaringan layanan yang kian mendekati lokasi nasabahnya.
Bisnis asuransi juga membutuhkan kecepatan penyajian data
real time, sekalipun tidak seekstrim kalangan perbankan. Namun
akurasi dan kecepatan menjadi sangat penting, terutama untuk
bisa meningkatkan kecepatan pelayanan dan kepuasan pelanggan.
Tidak pelak juga bila dikatakan bisnis asuransi harus bisa
melakukan pengolahan datanya secara cepat dan akurat, terutama
untuk memberikan keputusan dalam menerima permohonan pertanggungan
dari calon nasabahnya.
Itu sebabnya bisa dibayangkan bila user menjerit akibat kelambanan
proses pengolahan datanya. Tidak heran bila Suriyadi menyebutkan
pilihan antara spend dengan invest sebenarnya tipis. Untuk
bisa melakukan investasi terutama dalam mengimplementasikan
TI, sebuah organisasi dituntut untuk berani melakukan spending.
Targetnya bukan efisiensi, tapi justru pada yang seharusnya
menjadi target awalnya, yaitu efektivitas.
Dengan perangkat yang prima dan performa tinggi, efektivitas
bisa dicapai secara optimal. Ia memperlihatkan, misalnya,
dengan implementasi TI saja komunikasi antar kantor cabang
dan pusat serta antar kantor cabang menjadi lebih efektif.
Tak hanya itu, karena dalam kenyataannya maskapai asuransi
juga berhubungan dengan mitra kerja, seperti agen, insurance
broker dan maskapai reasuransi.
Teddy melihat bahwa dengan implementasi TI, insurance broker
misalnya, dapat memainkan peranannya sebagai lembaga intermediasi
dengan lebih baik lagi. Insurance broker dapat mengakses berbagai
informasi dari konsumen dan maskapai asuransi, serta dapat
melakukan negosiasi secara online.
Semua pemrosesan yang dilakukan secara internal dilakukan
secara elektronik dalam waktu relatif singkat, dan bisa dikomunikasikan
secara cepat. “Cukup dengan send, maka semua data yang
diperlukan sudah berpindah ke tujuan pengiriman,” ujarnya.
Itupun tidak perlu terjadi antrean pengiriman akibat overloadnya
dokumen yang harus difotokopi dan dikirim melalui faksimili.
Melalui internet, antrean panjang semacam itu bukan lagi menjadi
masalah. Tidak perlu terjadi pengulangan pengiriman dokumen
atau data akibat terjadinya gangguan dalam proses transmisinya.
Pengalaman seperti yang dikemukakan Arizal, seperti menyalin
data yang diperlukan guna proses internal ke dalam bentuk
softcopy di media disket, dan baru mengirim disket dengan
tenaga kurir tidak perlu dilakukan lagi pada saat ini. Demikian
pula pengiriman data yang dalam bentuk hardcopy yang jumlahnya
mencapai puluhan lembar dan dikirimkan melalui saluran faksimili
tidak lagi harus dilakukan. Semuanya kini tinggal menjadi
bagian dari masa lalu. Dengan implementasi TI, semua data
manual tinggal dipindahkan menjadi data digital, dan selanjutnya
TI menjadi perangkat multifungsi yang memperlancar proses
kerja.
Tingkat efektivitas juga harus sangat tinggi, terutama bila
sistem yang ada harus bisa menyajikan data real time untuk
proses pengambilan keputusan secara cepat. Untuk bisa menerima
permintaan akan penutupan pertanggungan sebuah rumah, maka
diperlukan data mengenai rumah-rumah dalam kawasan yang sama,
yang sudah dipertanggungkan pada sebuah maskapai asuransi.
Menurut Suriyadi, hal ini diperlukan untuk melihat ambang
batas atas beban risiko yang bisa ditanggung sebuah maskapai
asuransi. Ini didasarkan pada asumsi bila terjadi kebakaran
di semua rumah yang dipertanggungkan dalam sebuah wilayah,
maka risiko tersebut masih bisa dicover oleh maskapai yang
bersangkutan. “Ini sudah tidak bisa lagi dilakukan dengan
cara manual atau konvesional,” lanjutnya. Bila ambang
batas risiko sudah terlampaui, maka dengan perangkat TI yang
prima permintaan pertanggungan tersebut bisa ditawarkan pada
maskapai asuransi lainnya.
Tingkat keefektifan juga harus tinggi untuk bisa membangun
client database yang perform secara optimal. Client Database
juga bisa digunakan untuk membangun dan mengembangkan produk
dan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar yang
sangat dinamis.
Di Kawasan Amerika Utara, peluang untuk mengembangkan produk-produk
berbasiskan internet telah lama dilakukan. Peluang ini didorong
baik oleh kapabilitas konsultatif TI atau kemampaun finansial
konsumen dalam melakukan transaksi online. Produk yang tercakup
tidak hanya untuk life insurance, tapi juga telah berkembang
hingga ke produk untuk korporasi.
Efisien itu dampak
Bila efektivitas sudah tercapai, tentunya bukan dengan at
all cost maka baru roda efisiensi bergulir dengan sendirinya.
Suriyadi mengakui bahwa efisiensi yang paling nyata dan bisa
terukur secara matematis adalah penghematan biaya telekomunikasi
dan paper cost. Efisiensi dalam persoalan penghematan waktu
akibat efektivitas yang meningkat juga bisa menaikan tingkat
produktivitas kerja. “Kira-kira bisa mencapai 20%,”
Suriyadi.
Itu sebabnya Arizal melihat bahwa implementasi tersebut akan
bisa memberikan dua kelebihan, yaitu efisiensi akan sejalan
dengan perbaikan layanan. Dalam kasus efisiensi operasional,
implementasi IT memungkinkan entri data aplikasi menghindarkan
terjadinya kesalahan pencatatan data dan mengeliminir duplikasi
entri. Sedangkan pada unit underwriting, akan dimungkinkan
terjadinya pengurangan waktu dan biaya dalam proses pengambilan
keputusan serta dimungkinan pengambilan keputusan secara otomatis.
Pennyampaian keputusan juga dapat ditingkatkan pelayanannya
dengan melengkapi kelengkapan dan penyampaian kebijakan kepada
pelanggan. Untuk hubungannya dengan pelanggan dan agen, implementasi
TI dapat memberikan informasi account, memfasilitasi perubahan
kebijakan secara online, dan menawarkan potensi diseminasi
informasi lebih cepat.
Efisiensi dari implementasi TI, menurut Arizal juga bisa
tampak dari pemanfaatan sumber daya manusia yang akan terlibat
dalam sebuah organisasi bisnis asuransi. Tidak heran bila
bisa dikatakan bahwa implementasi TI, yang tentu mengarah
pada penerapan e-Business bisa berdampak pada kian rampingnya
mata rantai perusahaan secara vertikal. Sehingga, jalur komunikasi
internal yang ada juga kian pendek dan kian memadat.
Dampak berikutnya adalah kian rampingnya organisasi bisnis
yang ada. Bisa jadi organisasi yang kini ada segera harus
melakukan perampingan secara ketat dalam jangka waktu singkat.
Ini bisa dilihat dari pengalaman LG Insurance yang hanya memiliki
200 karyawan untuk enam kantor cabang dan kantor pusat, namun
memiliki agen hingga 500 orang.
Bisa dibayangkan bila masyarakat Indonesia di masa depan
sudah mulai insurance minded dan web minded. Maka, mungkin
saja terjadi perubahan radikal dalam internal maskapai asuransi
secara radikal pula. Itu sebabnya peluang efisiensi masih
terkuak.
Namun di sisi lain, berdasarkan pengalaman bisnis asuransi
di Amerika Utara, peluang untuk meraih pasar dengan menyajikan
produk dan layanan kian terbuka luas. Karena seperti yang
dikatakan Arizal, semuanya bergantung pada upaya-upaya pemasaran
yang terus-menerus dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu.
•ew
foto-foto: LS Widiyanto |