Menurut
IT Head LGII, Suriyadi Hudaya, S. Kom., salah satu target implementasi
Teknologi Informasi (TI) yang dilakukannya adalah membuka peluang
untuk mengembangkan jaringan kerja secara global. “Going
global,” tuturnya ketika diwawancarai eBizzAsia.
Diharapkan dengan melihat situs, calon mitra bisnis LGII
akan mengetahui keseriusan korporasi dalam berbisnis. Tidak
heran bila sambutan yang datang juga mengarah pada penjajakan
perluasan jaringan dan pembangunan kerja sama. Sementara target
untuk pasar lokal masih terfokus pada upaya meningkatkan insurance
minded, yang sejalan dengan peningkatan web minded. Diakui
oleh Suriyadi bahwa sampai saat ini masyarakat kita masih
banyak yang ragu untuk melakukan pembelian polis secara online.
Itu sebabnya, ia menyebutkan bahwa pembelian polis online
di pasar lokal masih berada di bawah angka 10 persen dari
total nasabah.
Mengingat kecilnya angka tersebut, mau tidak mau jalur maskapai
asuransi lokal masih mengandalkan pada jalur pemasaran offline
atau konvensional. LGII, misalnya mengakui hingga hari ini
jumlah agennya mencapai kisaran angka 500. Bandingkan dengan
jumlah pegawainya di enam kantor cabang dan satu kantor pusat
yang mencapai hanya 200 orang.
Offline Masih Dominan
Umumnya, seperti diakui Direktur Teknik, Drs. Arizal, AIINZ,
AAI-K, umumnya agen masih terfokus pada penjualan produk-produk
ritel dalam asuransi kerugian. “Untuk pasar-pasar besar
masih dikuasai oleh para insurance broker,” ujarnya.
Para insurance broker inilah yang justru berperan dominan
dalam perolehan kue dengan porsi besar. Modalnya adalah kepercayaan
atau trust dengan korporasi calon nasabah yang diwakilinya.
Modal semacam inilah yang tidak dimiliki oleh maskapai asuransi,
dan karena posisi tawar-menawar insurance broker praktis lebih
kuat dibandingkan maskapai asuransi sendiri. Hanya saja fungsi
intermediasi ini tidak terkoordinasi dan terkesan menjadi
mata rantai yang hilang dalam bisnis asuransi.
Fungsi intermediasi tersebut diperkirakan akan lebih terkoordinasikan
dan menjadi lebih terintegrasi bila ada bursa asuransi seperti
yang dilontarkan oleh Jos Luhukay, Partner Ernst & Young.
Menurut Luhukay, yang juga pengamat TI, kehadiran bursa akan
bisa melibatkan maskapai asuransi, perantara asuransi dan
reasuransi secara lebih luas dalam proses tawar-menawar. Di
samping itu, akan membuatnya lebih transparan. Kini upaya
mendirikan bursa asuransi sedang dalam tahapan persiapan dengan
melibatkan sejumlah kalangan.
Sejalan dengan itu, Indra M. Utoyo, Project Director e-Business
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., mengutarakan bahwa pihaknya
sedang dalam persiapan pembangunan jaring kerja cyber insurance
atau e-insurance. Jaring kerja tersebut akan meletakkan maskapai
reasuransi sebagai center dari aktivitas tersebut.
Diperkirakan, pada tahap awalnya, jaringan kerja tersebut
akan melibatkan sekitar seratus maskapai asuransi dan reasuransi.
Namun, hingga kini, seperti diakui Indra, Telkom terpaksa
melakukan penundaan terhadap proyek ini karena memprioritaskan
pada pembangunan jaringan kerja perbankan yang diakuinya memang
lebih rumit.
Perlu
Waktu untuk Pengembangan
Sekalipun awalnya bertujuan going global, website LGII tak
hanya berisikan informasi korporasi yang berguna untuk para
calon mitra dan mitra kerjanya. Tapi juga berfungsi sebagai
saluran penjualan dan pemasaran online. Dengan saluran online,
para calon nasabah tidak hanya bisa melakukan transaksi pembelian
polis secara online. Melainkan cukup dengan mengisi formulir
yang sudah ada dan mengirim balik segara setelah diisi. Selanjutnya
akan diproses secara internal sebelum polis diterbitkan.
Namun, untuk menghindari masalah pertanggungan fiktif maka
diperlukan konfirmasi apakah obyek masih ada dan dimiliki
oleh tertanggung saat polis diserahkan. Jadi, unsur prudent
masih tetap disyaratkan dan diimplementasikan agar tidak terjadi
pertanggungan fiktif.
Ketika ditanyakan masalah pembayaran elektronik, Suriyadi
mengakui bahwa hal itu sulit dilakukan karena melibatkan pihak
ketiga yaitu perbankan. “Sulit sekali untuk meminta
koneksivitas dengan perbankan karena ada berbagai pertimbangan
tertentu,” ujarnya. Namun ia mengungkapkan bahwa pihaknya
sedang dalam persiapan untuk meningkatkan pelayanan online
ke pada para nasabahnya.
Hal serupa juga diakui oleh Arizal, melihat bahwa untuk melakukan
pembayaran online diperlukan sejumlah persiapan yang lebih
matang. Namun, hingga saat ini pihaknya tengah mempersiapkan
sistem yang akan bisa menampilkan pembayaran dalam jaring
kerja internal korporasi. “Kalau ada suatu transaksi
pembayaran maka semua kantor cabang dan kantor pusat akan
bisa melihatnya secara real time,” ujarnya.
Retail dan Life Lebih Berpeluang
Untuk penjualan dan pemasaran, Arizal melihat bawah produk
ritel seperti pertanggungan untuk rumah, kendaraan dan kesehatan
merupakan produk yang bisa dilakukan penjualan dan pemasarannya
melalui penggelaran Sistem Informasi. Menurutnya, agen-agen
yang menjual produk ini cukup dengan hanya memiliki perangkat
mobil atau statik yang telah diinstal software produk dan
bisa melayani calon nasabah. Secara real time pun mereka bisa
melakukan transaksi dan pembayaran yang sifatnya tunai.
Produk-produk ritel ini memiliki kesamaan dengan meniadakan
berbagai perbedaan individual melalui penerapan karakteristik
tertentu. Paling-paling yang membedakan, misalnya dalam kasus
asuransi kesehatan, adalah medical record dari masing-masing
calon nasabah. Sementara unsur risiko sudah dieliminir sedemikian
rupa sehingga muncul kesamaan-kesamaan. Itu sebabnya Arizal
melihat, penjualan online akan memunculkan produk-produk generik.
Artinya, satu produk akan kian menyerupai produk lainnya sekalipun
dikeluarkan dari maskapai asuransi kerugian umum yang berbeda.
Sebenarnya, yang paling diuntungkan dengan adanya e-insurance
ini adalah maskapai asuransi jiwa. Mengapa? Karena produk-produk
yang ditawarkan mirip dengan produk-produk ritel dari maskapai
asuransi kerugian umum. Bahkan, mereka cenderung lebih generik
lagi. Tidak heran bila agen penjualan dari sebuah maskapai
asuransi jiwa terkenal telah dilengkapi dengan mobile device
yang telah diinstal berbagai software produknya. Begitu proses
tawar-menawar dan registrasi online selesai dilakukan, nasabah
secara otomatis telah menjadi tertanggung. Tinggal menunggu
penerbitan proses yang memakan waktu sehari atau dua hari.
Produk-produk komersial atau korporasi, Arizal mengakui sulit
untuk melakukan penjualan secara online. Bukan saja masalah
kepercayaan yang biasanya digenggam oleh maskapai perantara
asuransi seperti yang dikemukan di atas. Tapi juga adanya
karakterisitik tertentu yang mengharuskan adanya proses-proses
pengecekan secara langsung di lapangan. Pertimbangan akan
moral hazard pun akan menjadi fokus perhatian yang besar dalam
melakukan penjualan secara online. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan
untuk bisa menerbitkan sebuah polis menjadi panjang.
Menurut Suriyadi, implementasi TI justru bisa mempersingkat
waktu proses secara internal. Hanya saja ia tidak bisa memperikarakan
secara pasti berapa banyak waktu yang bisa dipersingkat itu.
Itu sebabnya, untuk produk-produk komersial atau korporasi,
kebanyakan website lebih bersifat memuat informasi secara
panjang lebar.
Untuk penjualan online secara mobile, para agen kini sudah
bisa dilengkapi dengan software produk yang telah diinstalkan
pada mobile device yang dimilikinya sehingga bisa melakukan
penjualan dan registrasi online di mana pun dan kapan pun.
Tapi produk serupa bisa pula dikemas dalam paket khusus dan
dipasarkan secara eksklusif oleh sebuah perusahaan perantara
asuransi.
Berbeda dengan keduanya, PT. Asuransi Astra Buana yang bermarkas
di Cilandak, Jakarta Selatan, telah lama mengimplementasikan
pembayaran online dengan memanfaatkan jaring kerja transaksi
kartu kredit. Bukankah kartu kredit sesuatu yang kini kian
jamak dimiliki dan dipergunakan oleh kaum urban di Indonesia?
Bisa dikatakan pelayanan e-insurance AAB memiliki range yang
paling padat. Seorang calon nasabah tidak hanya bisa memperoleh
informasi mengenai produk dan layanan dalam websitenya. Tapi,
juga bisa melakukan simulasi perhitungan klaim yang harus
dibayarkan. Ini tentu akan memudahkan calon nasabah karena
sudah terintegrasi dengan pembayaran elektonik melalui penggunaan
kartu kredit.
Dengan mengimplementasikan TI, sebenarnya bukan hanya tujuan
going global bisa direngkuh. Tapi, memperlebar jangkaun pasar
sekaligus membangun citra perusahaan bisa dilakukan sekaligus.
Bayangkan bila tidak ada pembangunan saluran penjualan dan
pemasaran online, berapa banyak waktu dan biaya yang harus
terbuang guna mendirikan sebuah kantor cabang. Artinya, TI
telah menyediakan kantor cabang digital yang bisa diakses
calon-calon nasabah potensial dari berbagai pelosok. Suriyadi
melihat potensi e-insurance terutama dari sisi penjualan masih
besar. “Orang masih ragu–ragu ketika internet
banking dimulai, namun sekarang orang malahan kerajingan untuk
menggunakannya,” ujar Suriyadi. •ew
|