e-Enterprise Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Linux terbukti bisa dijadikan sistem operasi yang handal di Rumah Sakit Pertamina Jaya. Keuntungannya banyak, tapi biayanya murah. Siapa mau menyusul?
 
SIDE BAR

Sekilas Mengenai Linux
 

Billy Sumarto beranjak ke loket pendaftaran pasien. Pensiunan Pertamina berusia 67 tahun itu harus berobat rutin ke Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) di Cempaka Putih, Jakarta Pusat untuk menyembuhkan penyakit paru-paru yang diidapnya sejak beberapa tahun lalu. Tak lama kemudian, ia sudah dipanggil oleh perawat untuk menjalani pemeriksaan di Poli Paru-Paru. Seorang dokter paru sedang menekan-nekan keyboard komputer. Beberapa detik kemudian, history lengkap penyakit Billy muncul di layar.

Ini hanyalah sebagian kecil dari pemandangan yang setiap hari terjadi di RSPJ, anak perusahaan Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Sejak RSPJ mengimplementasikan apa yang disebut dengan Sistem Informasi Bisnis Layanan Kesehatan Terpadu (SIBLKT) Juni 2001 lalu, pelayanan pasien menjadi lebih cepat dan efisien karena sistemnya terintegrasi. Menurut Eko Budi Sulistiyanto, Manager Sistem Informasi Manajemen (SIM) RSPJ, sistem ini dikembangkan dari billing system yang sudah ada sebelumnya.

Pengembangan SIBLKT berasal dari pucuk pimpinan RSPJ waktu itu, dokter Prabowo Soemarto, Sp. PA. Billing system yang dibangun waktu itu memang sudah online, cuma sistem ini hanya meng-cover keperluan bagian keuangan. Padahal, aktivitas rumah sakit tidak cuma keuangan. “Ide awalnya adalah bagaimana mampu melakukan monitoring terhadap semua kegiatan layanan kesehatan di RSPJ dan antara satu bagian dengan bagian lain bisa saling terkait,” kenang Prabowo. Prabowo menilai, kunci utama kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah adanya cacatan medis (medical record).

Dari gagasan itu, akhirnya medical record memang dijadikan “roda gila”-nya (base on medical record) sistem SIBLKT. Karena proses medical record bermuara dari aktivitas dokter, maka pemicu roda gila SIBLKT adalah dokter. Logikanya, kata Prabowo, ketika seorang dokter menginginkan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan darah misalnya, maka bagian laboratorium seharusnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Begitu juga dengan bagian lainnya. Ketika roda ini berputar, bergeraklah sistem di rumah sakit.

Pada tahap awal pengembangan itu, Juni 1999, baik Prabowo maupun Eko Budi bersama timnya masih belum tahu apa kira-kira keperluan yang harus disediakan dan dibangun di atas sistem operasi apa. Billing system online yang ada sebelumnya dibangun di atas sistem operasi Clipper. Dimulailah pengumpulan data dari user dari masing-masing poli yang berjumlah 5 buah. Tujuannya untuk menggali bagaimana sistem dan prosedur (sisdur) kerja yang dilakukan selama ini. “Artinya, sistem yang dibangun memang menempel persis dengan sisdur yang ada di RSPJ,” kata Eko. Waktu itu Prabowo sendiri tidak tahu pasti apakah perombakkan paradigma sistem secara drastis itu bisa terlaksana. Bahkan, untuk menghindari ketidaktahuannya akan sistem yang sedang dibangun, Prabowo harus mengikuti sampai proses penyusunan DFD (data flow diagram).

Proses awal inilah yang memakan waktu lama: hampir dua tahunan dan dibangun di atas sistem operasi Linux. Mengapa Linux? Meskipun ada keraguan apakah Linux bisa powerful, pertanyaan ini disingkirkan karena adanya pertimbangannya soal biaya yang murah. Setelah selesai, per Februari 2001 sistem diimplementasikan pertama kalinya selama sebulan. Selama sebulan itulah ditangkap error-error yang terjadi. Karena ada banyak yang harus disempurnakan, termasuk masukan dari para user agar di bagiannya ditambahkan ini dan itu, sistem yang dibangun ditarik kembali pada bulan Maret. Baru kemudian pada Juni 2001 diimplementasikan. Sistem inilah yang running well di RSPJ sampai saat ini. “Ternyata Linux bukan saja murah, tapi legal dan powerful,” kata Eko.

Sistem TI (teknologi informasi) yang diimplementasikan di RSPJ tergolong rumit dan kompleks. Maklum, meskipun tergolong rumah sakit kecil, RSPJ harus melayani 60.000-an pasien yang 90 persennya adalah pegawai atau pensiunan Pertamina. Kunjungan lima poli yang ada rata-rata mencapai 500-600 pasien per hari. Dengan kompleksitas yang ada di RSPJ, ternyata Linux cukup handal, berjalan baik dan mampu mengakomodasi sesuai yang dibutuhkan. “Kalau kita pakai Windows NT, harga lisensi dan perangkat keras pendukungnya berapa? Itu pun belum tentu sistem tersebut mampu meng-handle aplikasi yang sama,” kata Eko. Dan yang penting, jika CD Linux dikopi juga tetap legal.

Diakui Eko, meskipun secara sistem sudah bagus, karena implementasi SIBLKT bakal merombak paradigma secara total, resistensi dari para dokter bermunculan. Ini terutama dari para dokter sepuh. Maklum, dengan SIBLKT, jika semula untuk resep misalnya dokter cukup menulis dengan tangan, kini mereka harus meng-input di komputernya masing-masing. Bagi dokter yang muda yang sudah terbiasa bersentuhan dengan komputer tidak jadi masalah, tapi dokter sepuh memang akan gaptek (gagap teknologi).

Untuk mengatasi hal itu, SIM menggelar pelatihan kepada para user. Pelatihan dibagi menjadi dua: pengenalan komputer dan pengenalan aplikasi. Pelatihan jenis pertama, user dikenalkan dengan hal-hal dasar pada komputer seperti monitor, keyboard dan mouse. Setelah dokter mengerti hal-hal dasar, mereka dibiasakan mengenali letak huruf-huruf yang ada di keyboard. Setelah semua itu dikenali dengan baik, baru menginjak pada jenis pelatihan kedua, yaitu pengenalan aplikasi. Pada tahap ini mereka diajarkan bagaimana meng-input data dan dikenalkan dengan aplikasi yang akan diterapkan di bagian masing-masing. Pelatihan dalam tiga gelombang dan berjalan selama sebulan itu mulus.

Bagaimana hasil dan sikap dokter sepuh? Lagi-lagi bagian SIM amat terbantu oleh komitmen pucuk pimpinan ketika itu. “Karena ini kebijakan rumah sakit, mereka mau tidak mau harus mengikuti,” kata Eko. Karena jika para dokter sepuh itu tidak meng-input data atau mengikuti sistem yang ada, jasa mereka di RSPJ tidak akan di-charge. Bentuk resistensi juga terjadi dalam bentuk respons time yang lama, bahkan lebih lama dibandingkan dengan sistem pelayanan ketika masih manual. Lagi-lagi sikap pucuk pimpinan amat menentukan. “Political will pimpinan harus jelas,” kata Eko.

Secara teknis, SIBLKT amat berbeda dengan sistem komputerisasi yang ada di rumah sakit selama ini. Menurut Eko, sejauh ini implementasi TI di rumah sakit kebanyakan baru sebatas billing system. RSPJ merupakan satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang sudah menerapkan sistem TI secara terpadu. Disebut terpadu karena mulai dari pendaftaran pasien, penulisan resep, pemeriksaan fisik, pemesanan obat, pembayaran di kasir dan aktivitas lainnya dilakukan secara online dari titik satu ke titik lain. Basis sistem ini banyak digerakkan dari poli. Di poli-poli inilah input data banyak dilakukan.

Pertama kali pasien masuk ke RSPJ, di loket pendaftaran pasien, mereka akan diminta untuk mengisi formulir yang disediakan. Formulir ini akan langsung masuk ke data base RSPJ. Setelah mendapatkan nomor urut pasien, secara otomatis pasien tersebut masuk dalam antrean dokter yang dituju. Ketika pasien hendak diperiksa, dokter tidak perlu lagi menunggu file (histori medis pasien), karena dengan beberapa klik di komputer, histori pasien saat di loket pendaftaran langsung bisa diakses si dokter. Jika yang berobat pasien lama, histori selama berobat di RSPJ juga tersedia di database. Data tersebut meliputi histori penyakit, resep, biaya, pemeriksaan bahkan asuransi yang meng-cover.

Berdasarkan histori dan keluhan pasien yang ada, dokter melakukan diagnosa dan terapi dengan mengetikkan sejumlah obat ke dalam form yang tersedia di komputer yang sama. Pada saat yang bersamaan, resep tersebut dicetak, baik di poli tempat pasien berobat maupun di apotek. Setelah resep ditandatangani oleh dokter pemeriksa – sebagai bagian dari otorisasi, pasien bisa menukarkan salinan resep dengan obat di apotek. Jadi, sebelum pasien datang ke apotek, informasi obat apa yang mesti disiapkan oleh 7 karyawan apotek sudah lebih dulu sampai di apotek. Ini berbeda dengan sistem manual bahwa permintaan obat baru diketahui pihak apotek ketika mereka menerima salinan resep dari dokter. RSPJ begitu yakin obat akan diambil karena 90% pasiennya adalah karyawan Pertamina.

Dengan sistem ini, jika seorang pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis, perlu ke kamar operasi atau perlu melakukan pemeriksaan di laboratorium, dokter pemeriksa bisa langsung membuat aplikasi di komputer. Jika seorang pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis paru, dengan aplikasi dokter pemeriksa pertama, secara otomatis pasien sudah masuk antrean dokter spesialias paru tanpa harus daftar lagi. Jadi, kata Eko, dengan sistem ini ada sejumlah keuntungan yang dipetik baik oleh pasien maupun rumah sakit. Selain ada kecepatan dan efisiensi waktu, waktu kerja semakin kecil. Untuk penulisan resep misalnya, pada sistem manual input data dilakukan berkali-kali. Dengan SIBLKT input hanya dilakukan sekali oleh pihak poli. Jadi, pasti terjadi efisiensi tenaga dan biaya.

Untuk internal RSPJ sendiri, hampir semua bagian kini sudah terhubung satu dengan yang lain. Linux ternyata mampu memfasilitasi tiap bagian yang ada, apakah itu di bagian inventory (pergudangan), accounting (keuangan), HRD (sumberdaya manusia), maupun medical record dan medical report (lihat gambar). Misalnya, ketika ada permintaan barang (baca: obat) dari apotek ke bagian gudang, dulu stok barang di gudang langsung terkurangi ketika barang sudah dikirim. Tidak peduli barang tersebut sampai ke pemesan atau tidak. Kini, up date stok barang, baik di gudang maupun di apotek, baru akan terjadi ketika barang pesanan apotek benar-benar diterima pemesan. Nah, untuk mengamankan benar-tidaknya pesanan/kiriman, harus ada otorisasi dari pucuk pimpinan.

Dengan SIBLKT, tekor-nya pihak keuangan RSPJ karena klaim ke RSPP tidak dibayar, juga semakin kecil. Klaim tidak dibayar RSPP, misalnya, karena pasien RSPJ mendapatkan obat yang sama dalam dua hari berturut-turut. Bukan rahasia lagi, karena obat di RSPJ itu gratis, banyak pasien pensiunan yang nakal. Mereka terus menerus berobat ke RSPJ, lalu obat yang didapat dijual lagi ke toko obat. Pada sistem SIBLKT, karena ada warning di database, seorang dokter akan berpikir dua kali untuk memberikan obat yang sama dalam rentang waktu kurang dari dua minggu. Tekor juga sering terjadi ketika RSPJ mengklaim ke perusahaan asuransi. Maklum, dengan sistem manual dokter harus menghapalkan kebijakan beragam asuransi pasien yang berbeda-beda. Tentu malas dan sering keliru. Kini, hal itu tidak bakal terjadi lagi.

Tentu, Eko cs pernah menemui kesulitan. Pernah ia mumet ketika mencari informasi mengenai Compaq ML350 yang mendukung Linux. Bahkan, MIS RSPJ sampai harus chatting ke Singapura, itu pun tidak mereka dapatkan. Bagi Eko cs, kini hambatan terbesar sudah berlalu. Support Linux pun kini sudah semakin banyak. “Ya, kita tidak merasa sendiri lagi,” katanya. Selain ada APLI (Asosiasi Pengguna Linux Indonesia), juga ada majalah Info LINUX, bahkan lembaga-lembaga pelatihan Linux pun berjamuran. Jika ada masalah, tinggal penyempurnaan-penyempurnaan saja. Bahkan, manajemen kini hendak mengimplementasikan TI di SDM dan keuangan.

Mayoritas aplikasi di RSPJ menggunakan Postgre. Jadi, semua input dari poli/dokter akan langsung masuk database yang ada. Untuk distribusi Linux, awalnya RSPJ memakai SuSE di dalam server dan workstation-nya. Setelah melihat kinerjanya, SuSE diganti dengan RedHat. Ditambah komputer berjumlah 115 buah, sejak tahun 1999 sampai saat ini dana yang dikeluarkan RSPJ baru mencapai Rp 0,5 juta. Ongkos ini jauh lebih rendah dengan jasa yang ditawarkan konsultan dari Singapura, yaitu Rp 5 miliar.

Bagi rumah sakit yang mau membangun implementasi TI terpadu, kata Eko, ada tahapan yang harus dilakukan. Pertama, haruslah diinventarisir tata laksana atau sisdur rumah sakit seperti apa. Sistem yang dibangun harus nempel dengan sisdur itu. Baru kemudian bicara tahap kedua, hardware yang dipakai. Jika lokasi rumah sakit memanjang/meluas, untuk integrasi harus pakai kabel fiber optic. Jika lokasinya meninggi, cukup pakai UTP. Lalu ketiga, sistem yang mau dibangun seperti apa? “Karena sistem terpadu tidak harus seperti SIBLKT, billing system pun bisa,” kata Eko. Salah satu kelemahan sistem SIBLKT adalah banyaknya komputer, karena masing-masing user memakainya. Kabarnya, RSPP sendiri sudah melirik SIBLKT RSPJ. Bagaimana rumah sakit lain?•ki

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved