Billy
Sumarto beranjak ke loket pendaftaran pasien. Pensiunan Pertamina
berusia 67 tahun itu harus berobat rutin ke Rumah Sakit Pertamina
Jaya (RSPJ) di Cempaka Putih, Jakarta Pusat untuk menyembuhkan
penyakit paru-paru yang diidapnya sejak beberapa tahun lalu.
Tak lama kemudian, ia sudah dipanggil oleh perawat untuk menjalani
pemeriksaan di Poli Paru-Paru. Seorang dokter paru sedang
menekan-nekan keyboard komputer. Beberapa detik kemudian,
history lengkap penyakit Billy muncul di layar.
Ini hanyalah sebagian kecil dari pemandangan yang setiap
hari terjadi di RSPJ, anak perusahaan Rumah Sakit Pertamina
Pusat (RSPP). Sejak RSPJ mengimplementasikan apa yang disebut
dengan Sistem Informasi Bisnis Layanan Kesehatan Terpadu (SIBLKT)
Juni 2001 lalu, pelayanan pasien menjadi lebih cepat dan efisien
karena sistemnya terintegrasi. Menurut Eko Budi Sulistiyanto,
Manager Sistem Informasi Manajemen (SIM) RSPJ, sistem ini
dikembangkan dari billing system yang sudah ada sebelumnya.
Pengembangan SIBLKT berasal dari pucuk pimpinan RSPJ waktu
itu, dokter Prabowo Soemarto, Sp. PA. Billing system yang
dibangun waktu itu memang sudah online, cuma sistem ini hanya
meng-cover keperluan bagian keuangan. Padahal, aktivitas rumah
sakit tidak cuma keuangan. “Ide awalnya adalah bagaimana
mampu melakukan monitoring terhadap semua kegiatan layanan
kesehatan di RSPJ dan antara satu bagian dengan bagian lain
bisa saling terkait,” kenang Prabowo. Prabowo menilai,
kunci utama kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah
adanya cacatan medis (medical record).
Dari gagasan itu, akhirnya medical record memang dijadikan
“roda gila”-nya (base on medical record) sistem
SIBLKT. Karena proses medical record bermuara dari aktivitas
dokter, maka pemicu roda gila SIBLKT adalah dokter. Logikanya,
kata Prabowo, ketika seorang dokter menginginkan pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan darah misalnya, maka bagian laboratorium
seharusnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Begitu
juga dengan bagian lainnya. Ketika roda ini berputar, bergeraklah
sistem di rumah sakit.
Pada tahap awal pengembangan itu, Juni 1999, baik Prabowo
maupun Eko Budi bersama timnya masih belum tahu apa kira-kira
keperluan yang harus disediakan dan dibangun di atas sistem
operasi apa. Billing system online yang ada sebelumnya dibangun
di atas sistem operasi Clipper. Dimulailah pengumpulan data
dari user dari masing-masing poli yang berjumlah 5 buah. Tujuannya
untuk menggali bagaimana sistem dan prosedur (sisdur) kerja
yang dilakukan selama ini. “Artinya, sistem yang dibangun
memang menempel persis dengan sisdur yang ada di RSPJ,”
kata Eko. Waktu itu Prabowo sendiri tidak tahu pasti apakah
perombakkan paradigma sistem secara drastis itu bisa terlaksana.
Bahkan, untuk menghindari ketidaktahuannya akan sistem yang
sedang dibangun, Prabowo harus mengikuti sampai proses penyusunan
DFD (data flow diagram).
Proses awal inilah yang memakan waktu lama: hampir dua tahunan
dan dibangun di atas sistem operasi Linux. Mengapa Linux?
Meskipun ada keraguan apakah Linux bisa powerful, pertanyaan
ini disingkirkan karena adanya pertimbangannya soal biaya
yang murah. Setelah selesai, per Februari 2001 sistem diimplementasikan
pertama kalinya selama sebulan. Selama sebulan itulah ditangkap
error-error yang terjadi. Karena ada banyak yang harus disempurnakan,
termasuk masukan dari para user agar di bagiannya ditambahkan
ini dan itu, sistem yang dibangun ditarik kembali pada bulan
Maret. Baru kemudian pada Juni 2001 diimplementasikan. Sistem
inilah yang running well di RSPJ sampai saat ini. “Ternyata
Linux bukan saja murah, tapi legal dan powerful,” kata
Eko.
Sistem TI (teknologi informasi) yang diimplementasikan di
RSPJ tergolong rumit dan kompleks. Maklum, meskipun tergolong
rumah sakit kecil, RSPJ harus melayani 60.000-an pasien yang
90 persennya adalah pegawai atau pensiunan Pertamina. Kunjungan
lima poli yang ada rata-rata mencapai 500-600 pasien per hari.
Dengan kompleksitas yang ada di RSPJ, ternyata Linux cukup
handal, berjalan baik dan mampu mengakomodasi sesuai yang
dibutuhkan. “Kalau kita pakai Windows NT, harga lisensi
dan perangkat keras pendukungnya berapa? Itu pun belum tentu
sistem tersebut mampu meng-handle aplikasi yang sama,”
kata Eko. Dan yang penting, jika CD Linux dikopi juga tetap
legal.
Diakui Eko, meskipun secara sistem sudah bagus, karena implementasi
SIBLKT bakal merombak paradigma secara total, resistensi dari
para dokter bermunculan. Ini terutama dari para dokter sepuh.
Maklum, dengan SIBLKT, jika semula untuk resep misalnya dokter
cukup menulis dengan tangan, kini mereka harus meng-input
di komputernya masing-masing. Bagi dokter yang muda yang sudah
terbiasa bersentuhan dengan komputer tidak jadi masalah, tapi
dokter sepuh memang akan gaptek (gagap teknologi).
Untuk mengatasi hal itu, SIM menggelar pelatihan kepada para
user. Pelatihan dibagi menjadi dua: pengenalan komputer dan
pengenalan aplikasi. Pelatihan jenis pertama, user dikenalkan
dengan hal-hal dasar pada komputer seperti monitor, keyboard
dan mouse. Setelah dokter mengerti hal-hal dasar, mereka dibiasakan
mengenali letak huruf-huruf yang ada di keyboard. Setelah
semua itu dikenali dengan baik, baru menginjak pada jenis
pelatihan kedua, yaitu pengenalan aplikasi. Pada tahap ini
mereka diajarkan bagaimana meng-input data dan dikenalkan
dengan aplikasi yang akan diterapkan di bagian masing-masing.
Pelatihan dalam tiga gelombang dan berjalan selama sebulan
itu mulus.
Bagaimana hasil dan sikap dokter sepuh? Lagi-lagi bagian
SIM amat terbantu oleh komitmen pucuk pimpinan ketika itu.
“Karena ini kebijakan rumah sakit, mereka mau tidak
mau harus mengikuti,” kata Eko. Karena jika para dokter
sepuh itu tidak meng-input data atau mengikuti sistem yang
ada, jasa mereka di RSPJ tidak akan di-charge. Bentuk resistensi
juga terjadi dalam bentuk respons time yang lama, bahkan lebih
lama dibandingkan dengan sistem pelayanan ketika masih manual.
Lagi-lagi sikap pucuk pimpinan amat menentukan. “Political
will pimpinan harus jelas,” kata Eko.
Secara teknis, SIBLKT amat berbeda dengan sistem komputerisasi
yang ada di rumah sakit selama ini. Menurut Eko, sejauh ini
implementasi TI di rumah sakit kebanyakan baru sebatas billing
system. RSPJ merupakan satu-satunya rumah sakit di Indonesia
yang sudah menerapkan sistem TI secara terpadu. Disebut terpadu
karena mulai dari pendaftaran pasien, penulisan resep, pemeriksaan
fisik, pemesanan obat, pembayaran di kasir dan aktivitas lainnya
dilakukan secara online dari titik satu ke titik lain. Basis
sistem ini banyak digerakkan dari poli. Di poli-poli inilah
input data banyak dilakukan.
Pertama kali pasien masuk ke RSPJ, di loket pendaftaran pasien,
mereka akan diminta untuk mengisi formulir yang disediakan.
Formulir ini akan langsung masuk ke data base RSPJ. Setelah
mendapatkan nomor urut pasien, secara otomatis pasien tersebut
masuk dalam antrean dokter yang dituju. Ketika pasien hendak
diperiksa, dokter tidak perlu lagi menunggu file (histori
medis pasien), karena dengan beberapa klik di komputer, histori
pasien saat di loket pendaftaran langsung bisa diakses si
dokter. Jika yang berobat pasien lama, histori selama berobat
di RSPJ juga tersedia di database. Data tersebut meliputi
histori penyakit, resep, biaya, pemeriksaan bahkan asuransi
yang meng-cover.
Berdasarkan histori dan keluhan pasien yang ada, dokter melakukan
diagnosa dan terapi dengan mengetikkan sejumlah obat ke dalam
form yang tersedia di komputer yang sama. Pada saat yang bersamaan,
resep tersebut dicetak, baik di poli tempat pasien berobat
maupun di apotek. Setelah resep ditandatangani oleh dokter
pemeriksa – sebagai bagian dari otorisasi, pasien bisa
menukarkan salinan resep dengan obat di apotek. Jadi, sebelum
pasien datang ke apotek, informasi obat apa yang mesti disiapkan
oleh 7 karyawan apotek sudah lebih dulu sampai di apotek.
Ini berbeda dengan sistem manual bahwa permintaan obat baru
diketahui pihak apotek ketika mereka menerima salinan resep
dari dokter. RSPJ begitu yakin obat akan diambil karena 90%
pasiennya adalah karyawan Pertamina.
Dengan sistem ini, jika seorang pasien perlu dirujuk ke dokter
spesialis, perlu ke kamar operasi atau perlu melakukan pemeriksaan
di laboratorium, dokter pemeriksa bisa langsung membuat aplikasi
di komputer. Jika seorang pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis
paru, dengan aplikasi dokter pemeriksa pertama, secara otomatis
pasien sudah masuk antrean dokter spesialias paru tanpa harus
daftar lagi. Jadi, kata Eko, dengan sistem ini ada sejumlah
keuntungan yang dipetik baik oleh pasien maupun rumah sakit.
Selain ada kecepatan dan efisiensi waktu, waktu kerja semakin
kecil. Untuk penulisan resep misalnya, pada sistem manual
input data dilakukan berkali-kali. Dengan SIBLKT input hanya
dilakukan sekali oleh pihak poli. Jadi, pasti terjadi efisiensi
tenaga dan biaya.
Untuk
internal RSPJ sendiri, hampir semua bagian kini sudah terhubung
satu dengan yang lain. Linux ternyata mampu memfasilitasi
tiap bagian yang ada, apakah itu di bagian inventory (pergudangan),
accounting (keuangan), HRD (sumberdaya manusia), maupun medical
record dan medical report (lihat gambar). Misalnya, ketika
ada permintaan barang (baca: obat) dari apotek ke bagian gudang,
dulu stok barang di gudang langsung terkurangi ketika barang
sudah dikirim. Tidak peduli barang tersebut sampai ke pemesan
atau tidak. Kini, up date stok barang, baik di gudang maupun
di apotek, baru akan terjadi ketika barang pesanan apotek
benar-benar diterima pemesan. Nah, untuk mengamankan benar-tidaknya
pesanan/kiriman, harus ada otorisasi dari pucuk pimpinan.
Dengan SIBLKT, tekor-nya pihak keuangan RSPJ karena klaim
ke RSPP tidak dibayar, juga semakin kecil. Klaim tidak dibayar
RSPP, misalnya, karena pasien RSPJ mendapatkan obat yang sama
dalam dua hari berturut-turut. Bukan rahasia lagi, karena
obat di RSPJ itu gratis, banyak pasien pensiunan yang nakal.
Mereka terus menerus berobat ke RSPJ, lalu obat yang didapat
dijual lagi ke toko obat. Pada sistem SIBLKT, karena ada warning
di database, seorang dokter akan berpikir dua kali untuk memberikan
obat yang sama dalam rentang waktu kurang dari dua minggu.
Tekor juga sering terjadi ketika RSPJ mengklaim ke perusahaan
asuransi. Maklum, dengan sistem manual dokter harus menghapalkan
kebijakan beragam asuransi pasien yang berbeda-beda. Tentu
malas dan sering keliru. Kini, hal itu tidak bakal terjadi
lagi.
Tentu, Eko cs pernah menemui kesulitan. Pernah ia mumet ketika
mencari informasi mengenai Compaq ML350 yang mendukung Linux.
Bahkan, MIS RSPJ sampai harus chatting ke Singapura, itu pun
tidak mereka dapatkan. Bagi Eko cs, kini hambatan terbesar
sudah berlalu. Support Linux pun kini sudah semakin banyak.
“Ya, kita tidak merasa sendiri lagi,” katanya.
Selain ada APLI (Asosiasi Pengguna Linux Indonesia), juga
ada majalah Info LINUX, bahkan lembaga-lembaga pelatihan Linux
pun berjamuran. Jika ada masalah, tinggal penyempurnaan-penyempurnaan
saja. Bahkan, manajemen kini hendak mengimplementasikan TI
di SDM dan keuangan.
Mayoritas aplikasi di RSPJ menggunakan Postgre. Jadi, semua
input dari poli/dokter akan langsung masuk database yang ada.
Untuk distribusi Linux, awalnya RSPJ memakai SuSE di dalam
server dan workstation-nya. Setelah melihat kinerjanya, SuSE
diganti dengan RedHat. Ditambah komputer berjumlah 115 buah,
sejak tahun 1999 sampai saat ini dana yang dikeluarkan RSPJ
baru mencapai Rp 0,5 juta. Ongkos ini jauh lebih rendah dengan
jasa yang ditawarkan konsultan dari Singapura, yaitu Rp 5
miliar.
Bagi rumah sakit yang mau membangun implementasi TI terpadu,
kata Eko, ada tahapan yang harus dilakukan. Pertama, haruslah
diinventarisir tata laksana atau sisdur rumah sakit seperti
apa. Sistem yang dibangun harus nempel dengan sisdur itu.
Baru kemudian bicara tahap kedua, hardware yang dipakai. Jika
lokasi rumah sakit memanjang/meluas, untuk integrasi harus
pakai kabel fiber optic. Jika lokasinya meninggi, cukup pakai
UTP. Lalu ketiga, sistem yang mau dibangun seperti apa? “Karena
sistem terpadu tidak harus seperti SIBLKT, billing system
pun bisa,” kata Eko. Salah satu kelemahan sistem SIBLKT
adalah banyaknya komputer, karena masing-masing user memakainya.
Kabarnya, RSPP sendiri sudah melirik SIBLKT RSPJ. Bagaimana
rumah sakit lain?•ki
foto-foto: LS Widiyanto
|