e-Government Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Perkembangan Sistem Informasi (SI) yang sedemikian pesat ternyata melahirkan berbagai permasalahan yang juga rumit. Rumitnya persoalan justru terasa dengan begitu banyak pulau-pulau SI yang dibikin oleh berbagai lembaga negara dan pemerintahan.
 

SEBENARNYA, kehadiran ribuan pulau tersebut sangat positif. Paling tidak, hal tersebut bisa dilihat sebagai upaya dari berbagai lembaga negara dan pemerintah untuk memanfaatkan atau mengutilisasi teknologi dalam menunjang penyebaran informasi. Ada dorongan dari dalam lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan demokratisasi informasi secara lebih luas dan terjangkau masyarakat. Sekalipun pada awalnya, kebutuhan lembaga-lembaga tersebut bukan ke arah itu.

Terlepas dari perbedaan misi tersebut, namun harus diakui kehadiran pulau-pulau SI yang dimiliki oleh berbagai lembaga pemerintah sudah cukup memprihatinkan. Masalahnya, pulau-pulau SI tersebut tidak memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Bahkan cenderung berdiri dan berjalan sendiri-sendiri. Tidak heran karena toh pada dasarnya negeri ini memang negeri kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau-pulau. Celaka kan?

Benar-benar Mandiri
Kepusingan bertambah lagi karena tidak adanya faktor integratif terhadap kehadiran ribuan pulau tersebut. Gambaran riil akan Indonesia sesungguhnya ternyata tercermin dalam alam digitalnya. Berbeda dengan kedua negara tetangganya, yaitu Malaysia dan Singapura, keduanya telah memiliki aturan main yang jelas mengenai masalah ini. Sementara Indonesia masih harus beradaptasi dengan migrain akan ribuan pulau tersebut. Tidak heran bila, pada saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mau tidak mau atau suka tidak suka harus bekerja keras untuk bisa mengintegrasikan pulau-pulau SI tersebut.

Menurut Cahyana Ahmadjayadi, Deputi Bidang Jaringan Komunikasi dan Informasi, Kementerian Kominfo, hingga saat ini yang terasa mendesak adalah terjadinya duplikasi dan redudansi akibat konsep disusun sesuai dengan kepentingan setiap instansi pemerintah atau lembaga negara yang menjadi usernya. Ini diperparah dengan beragamnya sistem yang dimiliki masing-masing, sehingga saat ini bisa dikatakan telah tercipta system Chaos. Keberagaman sistem yang dimiliki oleh instansi pemerintah dan lembaga negara telah mengakibatkan struktur data yang sama, namun dengan infrastruktur informasi atau content yang berbeda-beda.

Bisa jadi untuk data inflasi perekonomian saja, terdapat keberagaman informasi yang disajikan oleh, misalnya Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Departemen Keuangan. “Ini bukan hanya inefisiensi dalam pengelolaan SI pemerintah,” kata Cahyana. Tapi juga menambah ruwet penentuan validasi informasi akibat perbedaan informasi yang disajikan. Tidak heran bila lembaga internasional justru enggan menggunakan informasi-informasi tersebut akibat masalah kesahihannya.

Masalah lain yang juga perlu dicermati adalah banyak pengembangan SI yang mengalami kegagalan. Celakanya, sistem yang telah dibangun dengan dana yang cukup besar itu tidak bisa diimplementasikan dengan berbagai alasan. Jelas, bukan hanya dana negara yang terkuras tapi juga persitiwa tersebut menurut Cahyana menjadi preseden buruk bagi pengembangan SI di masa datang. Anggaran belanja negara masih dibebeni lagi oleh biaya pengembangan sistem yang jauh melebihi batas normal. “Ini bisa dibuktikan dengan sejumlah pembuatan situs instansi pemerintah yang biayanya sangat fantastik,” jelas Cahyana.

Dari Kekacauan ke Acuan Standar
Menurut Cahyana, salah satu fenomena yang berkembang saat ini adalah pengembangan konsep e-Government dan e-Business. Fenomena ini mendorong sejumlah instansi dan lembaga di pusat atau daerah untuk mengembangkan SI-nya untuk bisa diimplementasikan dalam konsep e-Government. Hanya saja, kata Cahyana, pada realitasnya konsep e-Government justru melenceng dan mendangkal dengan anggapan bahwa “web + e-mail = e-Government”. Sementara biaya pengembangan yang dikeluarkan untuk proyek tersebut jutsru berada di luar batas kewajaran.

Ada juga yang lebih konyol lagi, keterlibatan banyak konsultan dalam berbagai proyek e-Government justru berubah menjadi arena dagang sapi. Hal tersebut bisa terjadi karena dalam pembahasannya, konsultan sudah mengarahkan kliennya untuk menggunakan produk-produk yang diageninya daripada memberikan penjelasan dan opsi pilihan bagi kliennya. Hal ini diperkuat oleh pandangan Andrari G. Tangkilisan, M.Sc., Head of Automation System Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang menyebutkan bahwa ada pemerintah daerah yang terpaksa berhutang jutaan rupiah akibat mengimplementasikan SI.

Sebenarnya semua hal tersebut berpangkal pada ketidakadaan acuan pengembangan SI yang bersifat nasional. Diakui oleh Cahyana, memang telah berapa kali diupayakan membangun bahan acuan tersebut. Namun hingga kini belum ada yang berhasil diwujudkan ke dalam bentuk acuan standar yang mengarahkan pengembangan seluruh SI pemerintah ke dalam suatu cetak biru yang komprehensif.

Itu sebabnya, Kementerian Kominfo kini bekerja keras untuk menyusun acauan standar nasional yang dikenal dengan nama Sistem Informasi Nasional (Sisfonas). Sisfonas tersebut bertindak sebagai tulang punggung penerapan e-Government. Diharapkan dengan hadirnya Sisfonas, kekacauan sistem, replikasi dan redudansi, inefisiensi anggaran dan kecenderungan konsultan berdagang bisa teratasi.

Penyusunan Sisfonas dilandasi oleh pemikiran perlu adanya ketepatan pengambilan keputusan sehingga menjadi hal strategis dalam rangka pengelolaan negara. Untuk itu diperlukan layanan informasi pemerintahan yang yang diperlukan secara cepat, tepat, akurat dan handal dalam kerangka pengambilan keputusan. Setiap fungsi manajemen pemerintah, seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, dan pengendalian; tentu memerlukan informasi yang sesuai dengan fungsi yang diemban setiap instansi atau lembaga.

Untuk menciptakan SI yang handal maka harus tercipta suatu sistem yang terintegrasi dari semua bidang pemerintahan, dan merupakan hasil analisis yang bersifat ikhtisaran dari data yang berasal dari sumber yang terpadu. Keterpaduan sistem akan mengarah pada suatu struktur data yang sifatnya universal dan dapat digunakan secara kolektif oleh seluruh bidang pemerintahan yang terkait. Ini akan menjamin validitas informasi yang dihasilkan oleh SI tersebut.

Untuk bisa melangkah lebih lanjut, sebaiknya pemerintah mengantisipasi persoalan lembaga yang memberikan validasi terhadap informasi yang disajikan. Misalnya, kembali ke masalah inflasi perekonomian, pemerintah telah menguasakan kepada, entah itu BPS, BI, Bappenas, dan Depkeu; atau koordinasi antara keempat lembaga tersebut. Sehingga tidak terjadi kesimpang-siuran yang membingungkan bagi pengguna informasinya. Tanpa mengatasi kesimpang-siuran tersebut, niscaya usaha pemerintah tidak akan bisa memberikan hasil optimal.

Cahyana melihat bahwa hingga hari ini kondisi yang ada kurang mendukung tersedianya layanan informasi yang handal dan bersifat terpadu. Ini disebabkan tidak terbangunnya SI pemerintaham di setiap tingkat dalam kerangka pengembangan SI yang terintegrasi secara utuh. Yang ada, menurutnya, masih bersifat sporadis dan tidak terkoordinasi, sehingga terbentuk ribuan pulau SI yang berdiri sendiri-sendiri di tiap instansi pemerintah dan lembaga negara. Ini berakibat terputusnya mata rantai pengelolaan data dan informasi dalam arus informasi pemerintahan. Sehingga informasi yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan.

Untuk itu diperlukan upaya mengintegrasikan seluruh SI pemerintahan di tingkat pusat dan daerah dalam kerangka pengembangan Sisfonas. Cahyana melihat diperlukannya waktu panjang atau sekitar delapan tahun guna bisa menyajikannya secara utuh. Jika tidak ada aral melintang, Sisfonas akan dibangun mulai tahun ini hingga tahun 2010 mendatang.

Tahap Pertama atau Insisasi, antara tahun 2002-2003, berfokuskan konsepsi Sisfonas, Penataan domain websites dan mapping aplikasi sistem administrasi satu atap (Simtap) seperti di Kutai Timur, Sidoarjo dan Takalar. Tahap Kedua yang merupakan Integrasi, antara 2003-2004, berintikan pada pembangunan infrastruktur atau simpul jaringan Wide Area Network (WAN) pada tujuh tingkat pemerintahan di pusat dan daerah, pembuatan cetak biru topologi jaringan termasuk VPN & ENUM, integrasi aplikasi sistem informasi pemerintahan di pusat dan sebagian propinsi, serta integrasi Sistem Informasi Satu Atap (Simtap).

Tahap Ketiga merupakan Replikasi, antara 2004-2005, berfokuskan pada pengembangan infrastruktur Sisfonas di pusat dan sebagian propinsi, serta integrasi sistem aplikasi sistem informasi dan sebagian propinsi. Tahap terakhir atau keempat yang merupakan tahapan ekstensifikasi, antara 2006-2010, berintikan pada perluasan penerapan dan pemanfaatan sistem yang telah ada dan pengembangan sistem yang telah ada. Dengan kerangka semacam ini, Cahyana dan Kominfo nampaknya optimis bahwa Sisfonas akan bisa diwujudkan tanpa menimbulkan masalah di kemudian hari. •ew

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved