Internet
bagi sebagian kalangan sudah menjadi kebutuhan pokok yang
nyaris sama pentingnya dengan makan. Tak heran jika pertumbuhan
penggunaan internet terus meningkat. Pernahkah terbayang kehidupan
Anda sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang?
Di negeri Paman Sam bayangan itu muncul lewat kartun yang
menggambarkan kehidupan seseorang, yang sangat tergantung
pada internet. Diceritakan seorang lelaki meninggal dunia,
dan ketika sang istri mendengar surat wasiat sang suami, betapa
terkejutnya takkala ia hanya diberi warisan berupa web space
di dunia maya. Digambarkan lewat kartun lainnya, seorang ibu
kebingungan memberi jawaban pada sang anak yang bertanya bagaimana
ia bisa berada di dunia ini, “Sebenarnya saya ini dilahirkan
atau didownload sih?”
Pengamat dan Praktisi Teknologi Informasi, KRMT Roy Suryo
Notodiprojo yang lebih dikenal dengan nama Roy M. Suryo, menyatakan
analogi kartun di atas bisa jadi benar adanya. Hal itu, menurut
dosen sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, ini adalah
sebuah refleksi betapa internet menjadi sama pentingnya dengan
sembako, atau yang lebih ekstrim internet sama pentingnya
dengan bernafas. “Pertumbuhan internet di dunia sangat
luar biasa. Rebutan domain menjadi salah satu indikasinya.
Karena itu, seiring pertumbuhan internet yang kian melaju
membuat lahirnya paradigma baru dalam kehidupan, terutama
e-Economy,” ujar Roy.
Menurut Roy, jika di tahun 1920-an sektor ekonomi pertanian
menjadi primadona, sepuluh tahun kemudian, ekonomi industri
mulai dilirik. Era berikutnya, orang berubah haluan dengan
membangun ekonomi service. Hingga 1980-an, masyarakat dunia
mulai bermain di ekonomi global. Sejak awal 1995-an hingga
sekarang, ekonomi digital menjadi paradigma baru dalam menjalankan
bisnis. Paradigma e-Economy pun akhirnya melahirkan uang digital.
“Saat ini, berbelanja atau melakukan transaksi bisnis
lewat internet bukanlah barang baru. Tidak hanya di negara
maju, di kawasan Asia pun sering dilakukan. Begitu juga di
Indonesia. Hebatnya, meski pengguna internet di Indonesia
belum sebanyak negara Asia lainnya, namun berdasarkan riset
yang dilakukan oleh badan riset independen AC. Nielsen, Indonesia
menempati urutan keempat terbesar dalam belanja lewat internet
di kawasan Asia. Sayangnya, prestasi itu bukanlah sesuatu
yang patut dibanggakan. Masalahnya, sebagian besar belanja
digital dilakukan secara ilegal,” tambah Roy.
Hasil riset juga menyebutkan, dari seluruh total pengguna
internet yang pernah berbelanja dan melakukan transaksi lewat
internet, tercatat kurang dari 10% yang menggunakan uang ataupun
kartu kredit milik sendiri. “Artinya, meski di urutan
keempat terbesar, tetapi yang belanja mayoritas adalah penjahat-penjahat,”
kata Roy sambil tersenyum.
Adanya lubang dalam sebuah kemajuan tentu dapat dimaklumi.
Bukankah hukum dibuat untuk dilanggar, begitu kalimat pelesetan
yang sering terdengar. Jadi wajar saja jika internet lahir,
maka penjahat di bidang ini pun bermunculan. “Yang sering
dilupakan, ketika membangun teknologi dan mengembangkan sistem
pengamanannya, orang hanya melihat dari satu sudut pandang
saja. Padahal dengan sistem security yang handal, bukan saja
akan mencegah terjadinya kejahatan tetapi juga mendongkrak
pendapatan sebuah perusahaan yang menggunakan teknologi tersebut,”
kata FX. Taro, Pengamat IT Security.
Menurut Taro, yang perlu diperhatikan dalam membangun sistem
keamanan di dunia virtual adalah segala aspek yang terkait
dengannya. “Bukan saja secara fisik, tetapi juga secara
logika. Ini yang sering dilupakan. Sistem security internet
membutuhkan perhatian dari berbagai bidang,” tambah
Taro.
Meski dianggap penting, sayangnya security system internet
di Indonesia kadangkala dianggap angin lalu. Yang sering terjadi
ketika sistem sudah dibobol, dengan tergopoh-gopoh sistem
keamanan dibangun dan ditingkatkan. Karena itu, walaupun internet
baru berkembang sepuluh tahun belakangan ini di Indonesia,
namun dalam catatan yang dibuat oleh Roy Suryo sejumlah kejahatan
digital telah menelan banyak korban.
“Yang paling banyak adalah carding, yaitu menggunakan
kartu kredit milik orang lain untuk berbelanja,” ujar
pria yang banyak membantu polisi dalam menangani kejahatan
internet ini.
Selain itu, Roy juga memberikan contoh kasus lainnya yang
pernah terjadi. Yaitu situs resmi yang berisi tentang jajak
pendapat di Timor Timur - ketika akan melepaskan diri dari
Indonesia - juga pernah dimasuki tamu tak diundang. Akibatnya,
banyak yang meragukan hasil perhitungan jajak pendapat yang
berbuntut kerusuhan besar di tanah bekas jajahan Portugis
tersebut. Cerita buram tentang pembobol internet juga datang
dari negera tetangga, Singapura. Saat itu, Wenas Agusetiawan,
bocah asal Indonesia yang memiliki otak encer membobol situs
di negeri seribu singa tersebut. Dan contoh kasus yang paling
kesohor adalah plesetan situs Klikbca.
Kasus terakhir yang sempat menghebohkan ini diakui oleh Aswin
Wirjadi, Deputy President Director BCA. “Untuk kasus
klikbca, tak sempat menduga akan terjadi. Pengalaman kami,
mulai dari dibuatnya ATM, kartu debit sampai dengan klikbca
yang kami bangun bagi nasabah memang kerap kali menemukan
kendala. Apapun kami lakukan, mulai dari merangkak, berjalan,
sampai berlari. Itu semua kami lakukan satu persatu sampai
dengan sekarang ini. Kami melakukan riset di berbagai negara,
khususnya Amerika untuk membangun internet banking ini,”
kata Aswin panjang lebar.
Menurut Sarjana Teknik Mesin jebolan Universitas Katolik
Atmajaya ini, yang perlu menjadi perhatian adalah ketika makin
canggih teknologi, maka makin canggih pula kejahatannya. Berdasarkan
pengalaman BCA menghadapi itu, ada lima kategori yang dapat
diklasifikasikan sebagai kejahatan internet banking.
Seperti yang dipaparkan oleh Aswin, kejahatan yang paling
banyak dan seringkali tidak diakui diakui oleh para korban
adalah situs palsu. Modusnya sangat sederhana, ada seseorang
memfotokopi tampilan klikbca yang seolah-olah milik BCA. Peristiwa
yang dilakukan oleh pria asal Bandung ini memang tidak bertujuan
membobol rekening para nasabah BCA yang terlanjur masuk dalam
situs palsu tersebut. Toh tetap saja, BCA sempat kebakaran
jenggot.
Modus lainnya yang juga menggunakan situs palsu adalah penipuan
lewat situs-situs tertentu. “Yang pernah terjadi adalah
sebuah situs porno Triple X membuat penawaran, jika ingin
masuk dan melihat gambar syur yang mampu menaikkan adrenalin
silahkan melakukan registrasi dan transfer biaya sebesar Rp.
10.000,- lewat BCA. Herannya banyak yang tanpa sadar melakukan
itu, ketika registrasi akhirnya sang korban akan memberikan
nomor pin BCA-nya. Akibatnya, dalam waktu sekejap rekeningnya
kosong tak bersisa,” terang Aswin.
Masih menurut Aswin, yang bergabung dengan BCA sejak tahun
1990, untuk modus seperti ini telah terjadi 37 kasus. Meskipun
BCA berhasil menuntaskan dan menangkap pelakunya, sayangnya
tak ada korban yang mau bersaksi karena malu. Padahal UU di
Indonesia menyebutkan minimal ada dua saksi yang mau memberi
kesaksian agar pelaku dapat masuk ke persidangan.
Jenis kejahatan kedua yang dialami BCA adalah pencurian user
ID dan PIN (Personal Identification Number) yang dilakukan
oleh seseorang lewat warung internet. PC di warnet juga telah
dipasang program untuk merekam user ID dan PIN pengguna yang
sedang melakukan transaksi internet banking BCA. Selain di
warnet, hal serupa juga pernah dilakukan di beberapa kantor
di Jakarta.
Jenis kejahatan berikutnya, biasanya, mengenai orang yang
awam internet, yaitu berupa penipuan registrasi. “Padahal
kami membuat registrasi begitu mudahnya. Seperti juga ATM,
setiap nasabah memiliki PIN. Artinya, setiap nasabah bisa
secure kartunya masing-masing. Begitu juga, dengan internet
banking sesungguhnya,” kata mantan Direktur di Indomobil
ini. Modusnya, selain menggunakan internet, si pelaku kejahatan
juga menggunakan SMS. Sebuah SMS yang berisi pesan tentang
penerimaan hadiah dan si penerima diwajibkan membayar pajak
hadiah lewat BCA.
Bentuk kejahatan lainnya adalah petugas BCA palsu, yang meminta
pendaftaran registrasi di internet banking. Terakhir, menurut
Aswin, sangat ironi. Karena korban yang berjatuhan adalah
kalangan intelektual yang sangat security minded dan berorientasi
pada penggunaan teknologi. Kelemahannya adalah, para korban
yang berasal dari satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia
terlalu sederhana membuat PIN dan user ID-nya.
Dalam dua tahun, sejak dibangunnya internet banking, 381
kejahatan telah dialami bank swasta terbesar nomor satu di
Indonesia ini. “Dari seluruh kejahatan tersebut, BCA
mengalami kerugian sebesar Rp. 670 juta. Kami anggap itu sebagai
uang hilang untuk biaya sekolah,” aku Aswin.
Belajar dari pengalaman, kini BCA melakukan langkah pengamanan
agar lembaran hitam tidak kembali terjadi. BCA mencoba menerapkan
beberapa langkah strategis agar tidak menjadi bulan-bulanan
kejahatan internet banking. “Langkah pertama, kami telah
memaksimalkan internet security system yang ada. Secara terus
menerus dan optimal kami memberikan pendidikan pada masyarakat
dan nasabah. Dan yang terakhir, kami membuat dan menyerahkan
sistem keamanan pribadi kepada para nasabah dengan membekali
perangkat security berupa key BCA,” ujar Aswin.
Aswin memaparkan, langkah yang dilakukan BCA dalam memaksimalkan
internet security system adalah dengan memblokir user ID jika
terjadi return email atau bounce email dengan alasan unknown
user, e-mail blocked ataupun tak memiliki alasan yang spesifik.
BCA juga akan melakukan pemblokiran jika terdapat satu alamat
e-mail yang digunakan oleh banyak user ID, yang masuk dalam
report fraud control.
Untuk langkah pengamanan lainnya, BCA juga melakukan pemblokiran
kepada user ID yang dormant atau tidak melakukan transaksi
lebih dari enam bulan lamanya. BCA juga akan menutup user
ID nasabah yang tidak melakukan first time log-in selama dua
minggu. Selain itu, sebagai langkah antisipasi BCA telah membeli
nama-nama domain yang mirip dengan Klikbca, meminta secara
resmi penutupan situs palsu dan juga menutup link banner Klikbca
yang terdapat pada situs lain.
Walaupun benteng pertahanan telah dibangun, Aswin mengakui
internet banking milik BCA bukan berarti aman 100%. “Karena
itu, kami terus menerus melakukan perbaikan internet security
system. Sehingga jika disimpulkan berdasarkan pengalaman yang
dialami BCA, ada tiga hal penting dalam mengimplementasikan
internet banking. Yaitu, kita harus kuat dalam membangun bisnis
yang ada, kuat dalam investasi dan mempertajam solusi keamanannya,
terutama dengan menggunakan sistem keamanan dinamik ,”
tutup Aswin.
Menilik apa yang dialami BCA, Roy Suryo menyarankan agar
bank tersebut harus memberikan perhatian ekstra untuk memperkuat
sistem keamanannya. “Karena, sebagian besar pelakunya
bermotif ekonomi, kecuali pelaku yang membuat situs plesetan
BCA. Karena sesungguhnya tidak semua kejahatan komputer dan
internet bertujuan akhir pada ekonomi,” katanya.
Roy membagi menjadi dua kategori besar jenis kejahatan komputer
dan internet. Pertama, fraud by computer manipulation, yaitu
si pelaku melakukan manipulasi atas jumlah saldo rekening,
jumlah jam kerja, jatah cuti, dan lain sebagainya. Selain
itu, jenis kejahatan lainnya adalah computer forgery, biasanya
berupa pemalsuan surat-surat penting, pengrusakan data dan
program komputer, penyusupan ke sistem komputer, pembajakan
program komputer dan masih banyak lagi.
“Untuk itu diperlukan prinsip desain security yang
baik. Desain keamanan itu dapat berupa desain yang terbuka,
dimana jika sistem memiliki source code, maka kode tersebut
harus dibuka sehingga akan meminimalkan kemungkinan terjadinya
backdoor. Selain itu, akses ke resource system harus tergantung
pada lebih dari satu persyaratan yang harus dipenuhi. Yang
lebih baik adalah menggunakan model sekuriti yang memisahkan
tingkat pengguna, karena akan memberikan hasil yang lebih
memuaskan. Yang juga harus dilakukan adalah user harus memisahkan
diri dengan sistem, dan yang terakhir secara psikologi, seseorang
harus mampu membuat sistem sekuriti yang mudah digunakan.
Sudah saatnya para desainer sistem keamanan memikirkan perilaku
penggunanya,” ujar Roy. menambahkan.•jl
|