| Untuk
mengetahui lebih jauh mengenai visi infokom, khususnya yang
dibangun Telkom dan juga posisinya dalam pengembangan industri
infokom nasional, Tim eBizzAsia mewawancarai Direktur Utama
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., Kristiono, di kantornya
yang nyaman , di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Berikut
petikannya:
eBizzAsia : Bagaimana visi Telkom dalam pengembangan
infokom?
Kristiono: Kalau bicara visi infokom, mestinya tidak bisa
melihat Telkom sebagai satu business entity, sebagai satu
pemain saja, tetapi justru harus berangkat dari konteks makro.
Kalau bicara dari macro level, seharusnya industri ini di-setting
sebagai apa, supaya paling tidak memberikan nilai tambah maksimum
pada negara. Juga para pemain yang ada dalam industri ini,
supaya mereka survive.
Sebenarnya, industri ini di-setting seperti apa? Mestinya
kita harus banyak belajar bagaimana negara-negara lain melakukan
itu. Kalau bicara industri TI, apalagi infokom, sebenarnya
sekarang ini kan ceritanya cerita buruk, karena industrinya
colapse, baik di wireless, wireline, industri equipment maupun
media. Saya rasa hampir dalam tahun 2001 saja kapitalisasi
pasarnya loss sampai 7,2 triliun dolar. Saya kira yang paling
dramatis ada sekitar top 20 yang bangkrut, seperti WorldCom,
GlobalCrossing, Level Three, dsb. Tidak hanya masalah bagaimana
mereka melakukan itu, persoalannya ada skandal keuangan juga.
Kalau dilihat kecenderungannya, di wireless, Eropa colapse
umumnya karena lisensi 3G. Sementara market-nya tidak ada.
Kalau di wireline, Amerika colapse, karena masalahnya mereka
sangat optimis. Intinya ada tiga, satu karena terlalu optimis,
maka mereka excessive di capacity, akhirnya excessive juga
di leverage. Contohnya Amerika, bagaimana mereka bermimpi
industri internet akan tumbuh luar biasa. Akibatnya, semua
pemain membangun jaringan data yang luar biasa. Asumsinya
akan terjadi konvergensi, jaringan voice menggunakan jaringan
data. Investasi di fibre optic juga luar biasa. Ternyata traffic
internet dan data tidak sebesar itu, akibatnya bangkrut semua.
Capex-nya begitu besar, revenue-nya tidak muncul, traffic-nya
tidak cukup. Karena over optimist, akibatnya over capacity,
kemudian over leverage. Jadi debt equity-nya sama sekali tidak
“nyambung” dengan cash flow-nya. Kalau wireline
di Amerika, sedang wireless di Eropa.
Semua dulu berpikir bahwa everything becoming online, semua
akan menjadi e-Business. Seolah-olah infrastruktur itu jalan,
kemudian tiba-tiba secara overnight menjadi online. Nyatanya
tidak . Traffic juga tidak ada. Jadi, yang digembar-gemborkan
itu jauh dari realita. Akibatnya kebangkrutan di media, dotcom,
dan lainnya.
Tentunya tidak sama di semua negara?
Kalau dilihat peta per negara, memang agak beda. Itu penting
bagi kita untuk belajar agar jangan sampai mengulangi jebakan-jebakan
yang sama. Misalnya Amerika, sekarang yang survive itu yang
punya customer dan itu di wireline.
Wireline internet mereka sudah sangat murah. Cuma wireline
operators itu under pressure dari cables. Kenapa cables jadi
threat baru, karena cables itu dulu dipakai untuk pay TV,
terus kemudian dipakai untuk high speed internet pada cables
yang sama. Tapi sekarang justru muncul triple bundle, dimana
VoIP (Voice over Internet Protocol) sekarang termasuk di situ.
Itu, jadi ancaman baru di Amerika. Jadi wireline operator,
seperti Telkom, kena ancaman dari cable data. Sedangkan di
wireless, growth-nya tidak terlalu bagus karena standarisasinya
tidak seragam. Sebaliknya, di Eropa, wireline yang lebih superior,
karena cable belum terlalu besar, dan wireless mereka kena
masalah dengan 3G.
Lain lagi dengan Jepang, mereka sukses di bisnis data dan
wireless. Bisnis model yang paling baik itu Jepang dengan
NTT DoCoMo-nya. DoCoMo punya 40.000 websites karena business
model-nya very simple, dimana dia hanya menguasai 5 persen,
sedangkan 95 persennya dibagi ke content provider. Selain
itu, mengapa internet cellular tinggi, karena – meskipun
penetrasinya tinggi - wireline internetnya masih mahal.
Cina, peran policy government dalam pembangunan infrastruktur
itu luar biasa. Jadi driver-nya bukan private, tetapi government.
Dalam transfer teknologi, pemerintah punya policy membangun
industri lokal. Karena market-nya besar, semua vendor masuk
- meskipun marjinnya kecil - tapi dia harus menyerahkan teknologinya.
Selain peran pemerintah, siapa pemain utamanya?
Pemerintah hanya sebagai regulator dan policy maker saja.
Pemainnya sebagian state owned companies yang kecenderungannya
akan diprivatisasi juga. Bagusnya Cina punya kebijakan infrastrukur
itu nomor satu. Yang kedua, semua vendor harus menyerahkan
teknologinya untuk memperkuat industri lokal. Makanya semua
industri lokal di sana scaling up-nya cepat sekali, karena
teknologinya harus diserahkan. Jadi dalam 3-4 tahun set up
industrinya cepat dan grasp market-nya juga cepat. Semua teknologinya
di-copy habis. Kalau melihat switching-nya Huawei misalnya,
itu tidak bisa dibedakan dengan buatan Lucent. Router-nya,
tidak bisa dibedakan dengan Cisco.
Apakah di Korea juga relatif sama pola pengembangannya?
Korea, driver awalnya adalah internet café atau warnet.
Di warnet itu selain akses internet, ada gaming-nya, dan juga
e-learning. Itu menjadi bagian media yang mengedukasi. Di
sana penetrasi internet itu bagus sekali dan aksesnya juga
murah, bahkan dulu kalau perlu disubsidi. Setelah penetrasinya
tinggi, baru dikompetisikan, jadi sekarang tidak boleh disubsidi
lagi.
Dari typical banyak negara, kita bisa belajar bahwa Indonesia
itu resources-nya tidak banyak, jadi harus dimanfaatkan semaksimal
mungkin. Basis industrinya memang tidak ada, yang ada hanya
trading. Local access di kita itu bukannya mahal, tapi karena
akses internet di-blending dengan local access, akhirnya jadi
mahal. Sebenarnya tarif lokal kita ini masih disubsidi 30
persen. Sedangkan sekarang, orang ke ISP masih harus bayar
local access plus service. Seharusnya tidak begitu, ISP dengan
Telkom mem-bundling-nya, sehingga pelanggan dibebani untuk
satu paket saja. Mungkin kita bisa belajar dari Korea dengan
internet café sebagai suatu community access. Di sini
penetrasi PC masih rendah, serta individual access masih mahal,
jadi mungkin community access-nya yang harus ditinggikan.
Bisakah hal itu dijembatani Telkom?
Bisa. Mereka bisa diasumsikan sebagai reseller, bukan retail
customer. Justru ini yang penetrasinya harus tinggi, sebagai
learning media, dimana orang yang tidak punya PC bisa belajar.
Dari Jepang kita bisa belajar bahwa perlu adanya business
model, supaya industri content itu tumbuh. Industri content
itu tumbuh bilamana “pipanya” tidak banyak, sehingga
lebih efisien dan bisa memberi benefit kepada industri content.
Colapse-nya di Amerika itu karena overcapacity. Karena Indonesia
resources-nya tidak banyak, kita harus berpikir efisien. Contohnya
backbone. Persoalan backbone itu sebenarnya tidak hanya Telkom.
Telkom punya, Indosat mau buat, Excelcom punya, PN Gas punya,
PLN punya. Kenapa sekarang masing-masing berpikir menjadi
pemain sendiri-sendiri? Kenapa tidak disatukan? Karena invest
sendiri-sendiri akan terjadi duplikasi, padahal sumber daya
kita terbatas. Backbone itu investasinya sangat tinggi, jangka
panjang dan risikonya juga tinggi.
Berarti ada duplikasi lokasi, dong?
Ya, lokasi. Sekarang coba lihat Jawa, Indosat punya, Telkom
punya, Excelcomindo punya, Gas punya fibre optic, PLN punya.
Terus semua berlomba-lomba investasi, untuk apa? Kalau ini
disinergikan, backbonenya satu saja, kemudian sumber daya
yang ada bisa diinvestasikan untuk penetrasi di akses. Sekarang
PLN punya PLC, Telkom juga investasi, Indosat juga , di seluler
juga banyak.
Apa alasan utamanya?
Ya, karena tidak ada central policy. Ini kan keangkuhan sektoral.
Contohnya, kenapa sekarang operator selular membangun tower
sendiri-sendiri. Kenapa tidak belajar dari Eropa? Setelah
bangkrut, mereka melakukan outsourcing total. Jadi mereka
melakukan cost restructuring dengan cara outsourcing. Sampai
2010, enam puluh persen cost adalah untuk outsourcing. Dengan
outsourcing benefit cost savingnya, kira-kira 10 persen .
Optimum kira-kira 30 persen.
Ada suatu perusahaan di Eropa yang ketika bangkrut memiliki
sekitar 14.000 tower. Setelah bangkrut, mereka melakukan restrukturisasi
dengan meng-outsource operasionalnya. Jadi tower-tower seluruhnya
di-outsource, bahkan sampai operasi core competence-nya juga
di-outsource ke para vendor. Lalu kenapa di Indonesia semua
masih membuat tower sendiri. Kenapa tidak di-outsource saja?
Jadi ada satu atau beberapa perusahaan yang menyediakan tower,
yang bisa dipakai bersama. Dengan begitu cellular operators
bisa saving investment berapa besar. Bayangkan, membangun
satu tower itu bisa 500 juta. Misalnya, Telkomsel, ada sekitar
3.000 sites, dikali 500 juta sudah berapa? Belum lagi Satelindo,
IM3, Excelcomindo. Memangnya mau balapan tower. Kalau satu
tower digunakan bersama, tentu lebih efisien.
Maksud saya, apakah Indonesia harus menunggu colapse dulu
baru berpikir ke situ? Eropa sudah jelas, Amerika juga, bahkan
yang diuntungkan kan Asia, baik di wireline maupun di wireless.
Asia yang kapitalisasinya paling bagus atau stabil. Karena
apa? Karena Asia tidak terlalu over exposure.
Infrastruktur itu sangat penting?
Ya, jadi kalau orang bicara I before e, I (infrastructure)
itulah yang investasinya paling besar. Itulah yang harus dihemat
betul. Bagaimana caranya semua potensi itu disinergikan untuk
mendapatkan infrastruktur yang kapasitasnya besar, merata
dan mempunyai akses kemana-mana. Karena kalau pipanya semakin
luas, kapasitasnya semakin besar, ini menjadi kunci bagaimana
industri ikutannya jalan. Bagaimana memberikan akses yang
lebih murah karena investment-nya efisien, dengan lebih murah
traffic akan digenerasi, kemudian industri content dan lain-lain
akan ikut tumbuh.•
|