Focus - eBizzAsia Vol I No 01 - Oktober 2002
 
Related Articles
Jangan Malu Belajar Dari Negara Lain

Sistem Informasi Nasional: I before E

Mirip Lagu Benci Tapi Rindu

Menggeliat dengan Sponsor Negara

Dunia Digital Yang Menjanjikan


Wawancara dengan Kristiono, Dirut PT TELKOM
 
 
Jangan Malu Belajar Dari Negara Lain
Indonesia, mungkin masih beruntung karena memiliki kesempatan untuk belajar dari kegagalan negara lain dalam pembangunan industri infokom (ICT- Information and Communication Technology).

Lihat saja Amerika, yang bermimpi bahwa industri internetnya diperkirakan akan tumbuh luar biasa, kemudian mendorong semua pelaku bisnis infokomnya membangun jaringan data yang juga luar biasa besarnya. Asumsinya terjadi konvergensi, dimana jaringan telekomunikasi suara akan menggunakan jaringan data. Hal itu, kemudian, diikuti dengan penggelaran jaringan serat optik yang juga secara besar-besaran.

Namun, traffic internet dan data yang dinanti-nanti tak kunjung tiba. Akibatnya, perusahaan-perusahaan yang terlibat banyak yang bangkrut. Contoh yang paling tragis mungkin kebangkrutan WorldCom, yang sebelumnya dinilai memiliki reputasi dan prestasi dunia. Capex-nya begitu besar, revenue-nya tidak muncul, traffic-nya juga tidak cukup. Karena over optimist, akibatnya over capacity, dan akibat lanjutannya over leverage. Debt equity-nya sama sekali tidak “nyambung” dengan cash flow-nya. Diperkirakan hampir dalam tahun 2001 saja kapitalisasi pasar yang hilang mencapai 7,2 triliun dolar. Dan yang paling dramatis sejumlah perusahaan top 20 Amerika bangkrut.

Eropa juga menghadapi masalah dengan pengembangan infokomnya karena kesandung masalah 3G (teknologi generasi ketiga yang mendukung aplikasi mutilmedia). Selain itu, dengan bisnis model yang berbeda, Jepang melalui NTT DoCoMo berhasil mengembangkan bisnis data dan wireless. DoCoMo memiliki 40.000 websites dimana NTT sendiri hanya menguasai 5 persen, sedangkan 95 persen sahamnya dibagi ke content provider. Selain itu, penetrasi internet cellular-nya tinggi, karena wireline internetnya masih mahal.

Di Asia, Cina dan India mungkin menjadi contoh yang menarik. Di Cina, pengembangan infokomnya sangat didukung oleh peran pemerintah melalui berbagai kebijakan, terutama pembangunan infrastrukturnya, yang sangat mendorong para pelaku bisnis, baik perusahaan-perusahaan pemerintah maupun kalangan swasta.

Sedang India, sejak awal telah menentukan titik keunggulannya akan unggul di software. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya negara ini membangun pusat software dunia, Bangalor. Selain itu, meski India masuk kategori negara dengan pendapatan perkapita rendah atau miskin, namun sejak 1987 telah mulai mengembangkan Techno Park, tempat pengembangan piranti lunak yang disponsori oleh pemerintah. India memang jitu, hanya dalam sepuluh tahun hingga 1997, sepuluh Techno park telah berdiri dan beroperasi di sejumlah daerah di India. Kalau pada 1987 tercatat hanya 6000 pekerja yang terlibat, pada 1997 seluruh pekerja Techno Park telah mencapai 6 juta orang. Sungguh sangat fantastis.

Bagaimana dengan Indonesia? Secara industri, dilihat dari kebijakan nasional, hingga saat ini Indonesia belum menentukan arah dan framework yang jelas, mau unggul di mana – software, hardware atau kedua-duanya. Akibatnya, pengembangan infokom di Indonesia, lebih spesifik lagi misalnya infrastruktur, saling tumpang tindih. Masing-masing sektor seolah ingin unggul dalam pengembangan infokom melalui penggelaran infrastruktur, meski secara lokasi bersifat duplikasi, terutama di pulau Jawa.

Akibatnya, optimalisasinya tidak tercapai, sementara investasi yang telah ditanamkan, yang nilainya sangat besar, pada saat yang sama, tidak mampu dimanfaatkan secara optimal. Sementara dalam pengembangan piranti lunak, meski sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, namun arah strategis pengembangannya juga tidak jelas. Masing-masing menentukan sendiri visinya dan sekaligus mengimplementasikannya, tak perduli hal itu justru menimbulkan duplikasi yang luar biasa.

Karenanya, seperti diungkapkan Kristiono, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., dalam wawancaranya dengan eBizzAsia, yang kita butuhkan adanya dorongan pemerintah yang kuat melalui berbagai kebijakan dan arahan yang jelas (central policy) dan sinergi antar pelaku bisnis. Dengan begitu, penggelaran infrastruktur yang besar ini dapat dioptimalkan pemanfaatannya menjadi suatu kapasitas yang mampu meningkatkan aksesibilitas masyarakat secara luas.

Kristiono juga melihat betapa pemerintah sangat diharapkan membuat suatu policy framework untuk membangun industri ini ke depan seperti apa. Kalau bisa pemerintah membuatnya tidak full liberized, karena sumber daya yang kita miliki terbatas, sehingga harus di-manage betul. Pemerintah punya kewenangan memberi lisensi, dan sebaiknya lisensi itu jangan diobral. Bukan persoalan open market atau apa, tapi dengan sumber daya terbatas itu, bagaimanapun harus dikelola. Dengan lisensi itu, sebenarnya pemerintah bisa memanage, berapa besar marketnya dan berapa jumlah pemain yang harus ada.

Gambaran tentang industri infokom Indonesia dan bagaimana sebenarnya Indonesia perlu menarik pelajaran dari negara-negara lain, khususnya negara tetangga dalam mengembangkannya ke depan itulah yang coba diketengahkan eBizzAsia dalam edisi perdananya ini.•


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.