Lelaki
tua berkacamata itu duduk termenung dengan dahi berkerut,
seperti tengah memikirkan sesuatu yang amat berat. Orang-orang
di negeri ini mengenalnya sebagai salah satu konglomerat yang
masih bertahan. Usianya tujuh puluhan tahun dengan rambut
putih keperakan.
Kerajaan bisnisnya diwarisi dari usaha kecil yang dirintis
ayahnya, yang kemudian bersama adiknya membangunnya menjadi
perusahaan yang kuat dan besar. Sampai kemudian tongkat komando
diserahkan kepada anak-anak dan keponakannya yang lulusan
luar negeri. Namun, berkat kebijaksanaannya, anak-anak mendudukkannya
sebagai penasihat perusahaan.
Kesedihan muncul setelah mendengar sebuah proyek besar yang
dikerjakan perusahaannya kemungkinan besar gagal. Proyek bernilai
jutaan dolar itu diharapkan mampu memodernisasi perusahaannya
menjadi sebuah perusahaan yang siap bersaing secara global
dengan efisiensi tinggi.
Anak-anaknya sedang menerapkan sistem komputer yang mampu
memroses bisnis secara cepat dan akurasi tinggi. Juga kemampuan
beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang terus berubah cepat;
kemampuan mengetahui total penjualan dan jumlah stok barang
secara instan, meski 30 cabang perusahaannya tersebar di seluruh
Indonesia dan mancanegara. Sesuatu yang muskil dipikirkan
pada zamannya dahulu.
Dengan sistem itu, perusahaannya akan menjadi perusahaan
yang “waskita” bahkan dengan modul demand planning
atau forecasting yang diterapkan akan mampu membawa perusahaannya
menjadi “weruh sakdurunge winarah” – tahu
sebelum kejadian. Sehingga dengan mudah dapat mengantisipasi
kebutuhan barang, kas dan kapasitas mesin di masa depan.
Kini, kerut di dahinya semakin dalam mengingat kesulitan
yang dihadapi perusahaannya. Perusahaan yang telah menghidupi
ribuan pegawai berikut keluarganya. Sungguh sangat disesalkan
jika sampai gagal melalui ujian proyek yang dia sendiri tahu
seharusnya bisa meningkatkan kinerja perusahaannya. Dengan
semangat dibukanya kembali dokumen-dokumen proyek dan laporan
terakhir kemajuan proyek itu.
Proyek ERP? Pertanyaan ini yang pertama kali muncul ketika
membaca dokumen-dokumen proyek itu. Apa itu ERP? Bagaimana
cara kerjanya? Apa saja yang dibutuhkan agar proyek ERP tersebut
sukses? Alternatif apa saja yang tersedia untuk menyukseskannya?
Apa itu ERP?
ERP (Enterprise Resource Planning) sebuah akronim yang memang
belum menggambarkan makna yang sebenarnnya. Agar mudah memahaminya,
abaikan kata Planning dan Resource, tapi perhatikan kata Enterprise.
Di kata Enterprise itulah letak makna ERP yang sebenarnya.
ERP merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen
dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer
yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, baik dari
departemen penjualan, HRD, produksi atau keuangan. Meski kebutuhannya
berbeda, ERP harus mampu memenuhinya. Satu syarat yang tidak
boleh ditawar-tawar lagi adalah terintegrasi, yang menggabungkan
berbagai kebutuhan pada satu software dalam satu logical database,
sehingga memudahkan semua departemen berbagi informasi dan
berkomunikasi.
Sebagai contoh, order penjualan yang dicatat di departemen
penjualan akan secara otomatis diketahui kapan harus dikirim
oleh bagian gudang. Begitu juga, bagian keuangan akan mengetahui
kapan kas akan masuk dari pelanggan. Berkurangnya jumlah barang
di gudang secara otomatis akan diketahui pula oleh bagian
perencanaan produksi. Jika jumlah barang mencapai kondisi
tertentu, sistem akan membuat permintaan produksi. Saat itu,
informasi mengenai bahan baku yang dibutuhkan telah pula disajikan
oleh sistem.
Setelah bagian perencanaan produksi me-review informasi dan
menyetujuinya, secara otomatis informasi akan mengalir ke
bagian pembelian, yang memungkinkannya menghubungi pemasok
untuk negosiasi harga dan pengiriman. Saat itu, bagian pembelian
juga mendapatkan berbagai informasi berharga mengenai kinerja
para pemasoknya.
Setelah kesepakatan diperoleh, order pembelian dibuat dengan
menekan satu tombol dan informasi rencana kedatangan barang
telah sampai di bagian penerimaan barang. Sementara itu, bagian
keuangan akan memperoleh informasi berapa jumlah uang yang
harus disiapkan untuk order pembelian. Demikian seterusnya,
sehingga keseluruhan alur proses bisnis di perusahaan tersebut
menjadi sangat efisien. Perubahan-perubahan yang terjadi di
satu bagian dapat diantisipasi dengan baik oleh bagian terkait
lainnya.
Meski banyak analis dan vendor perangkat lunak mendefinisikan
berbeda-beda, namun maknanya relatif sama. Ada yang menyebutnya
ERP, karena merupakan evolusi dari MRP – Material Requirement
Planning menjadi MRP II – Manufacturing Resource Planning,
yang kemudian menjadi ERP – Enterprise Resource Planning.
Ada juga yang menyebut ERM – Enterprise Resource Management,
sekedar mendekatkan makna dan akronimnya. Suatu sistem yang
mengelola seluruh sumberdaya perusahaan.
ERM ini yang kemudian mendorong munculnya jargon baru TI,
seperti CRM (Customer Relationship Management), SCM (Supply
Chain Management), PLM (Product Lifecycle Management) dan
SRM (Supplier Relationship Management). Jargon-jargon baru
itu, pada intinya, adalah pemanfaatan lebih lanjut suatu sistem
yang fokus utamanya adalah customer untuk CRM, rantai pergerakan
barang untuk SCM, daur hidup produk untuk PLM serta supplier
untuk SRM. Posisi ERM ada di tengah-tengah dan dikelilingi
oleh CRM, SCM, PLM dan SRM.
Pentingnya integrasi
Integrasi bukan lagi keinginan, melainkan keharusan. Inilah
kesimpulan sang CEO setelah rapat yang melelahkan malam itu.
Sang CEO, yang merupakan anak tertua, sampai pada kesimpulan
itu setelah rapat koordinasi dengan para manajernya, yang
memakan waktu lama dan berdebat di angka-angka yang tidak
pernah klop. Belum lagi akibat sampingnya, seperti timbulnya
kesalahpahaman dan pemborosan sumberdaya perusahaan.
Masalah yang sama akan terulang lagi pada rapat koordinasi
berikutnya. Data yang ditunjukkan oleh manajer keuangannya
akan berbeda dengan manajer penjualan. Demikian juga, antara
satu manajer dengan manajer lainnya. Jangan berharap bahwa
laporan tersebut merupakan laporan bulan ini, untuk laporan
bulan lalupun masih terjadi perbedaan.
Kini, meski dibayang-bayangi kegagalan proyek tersebut, dia
tetap yakin pada kesimpulan bahwa arah jalan yang ditempuh
anaknya sudah benar. Integrasi adalah keharusan dan proyek
ERP adalah alatnya. Di dalam hati ia telah bertekad untuk
membantu agar proyek yang telah dicanangkan tersebut berhasil.
Sesuaikah ERP yang dibeli?
Pertanyaan itu menyeruak begitu saja di kepalanya. Lalu diambilnya
pinsil dan ditulisnya besar-besar di atas secarik kertas.
Dihampirinya notebook pemberian anaknya, yang telah terhubung
dengan internet, di meja kerjanya. Sungguh dia bersyukur dengan
kemajuan TI saat ini. Sambil minum kopi kesukaannya mulailah
dia menjelajah dunia maya untuk mencari sisik melik ERP.
Ketika matahari mulai terbenam terkumpul informasi mengenai
ERP, 10 besar vendor ERP di dunia dan perusahaan konsultan
jasa implementasi ERP. Dia sedikit lega, karena software ERP
yang dipilih perusahaannya termasuk salah satu dari 10 besar
vendor ERP dunia.
Berbekal riset kecilnya, dia menghubungi kolega dan teman-teman
bisnisnya untuk mendapatkan gambaran pengalaman mereka dalam
menangani proyek ERP.
Menganalisa dan Menyimpulkan
Di hari kelima, proses “ngupingnya” kepada kawan-kawannya,
dianggapnya cukup. Esoknya, dibantu sekretarisnya dia mulai
mengelompokkan dan membuat kompilasi. Hasilnya sungguh mengejutkan.
Lebih dari 50% teman-temannya menyatakan mengalami kesulitan
menangani proyek ERP. Dari sedikit yang sukses, sebagian besar
mengeluhkan waktu yang panjang dan melelahkan melebihi anggaran
yang ditetapkan. Juga diketahui bahwa software yang ada membutuhkan
perubahan. “Mas, tidak ada software ERP di dunia ini
yang bisa langsung diterapkan di perusahaan kita di Indonesia
ini tanpa perubahan”, ujar temannya.
Sebut saja mengenai perpajakan, terutama jika kita melakukan
kegiatan ekspor-impor. Kurs valas pajak yang harus dibayar
ditentukan oleh direktorat pajak. Belum lagi, sistem penjualan
yang kompleks. Misalnya, diskon bertingkat ditambah hadiah
barang langsung, lalu dihubungkan dengan undian. Bila membeli
sepuluh produk, pelanggan dapat memilih hadiah barang A, B
atau C. Kalau membeli 20 produk pelanggan bisa memilih hadiah
barang X, Y atau Z.
Akhir-akhir ini penjualan dengan cara kredit yang lebih banyak.
Padahal kita kan lebih repot? Belum lagi kalau kreditnya ditanggung
pihak ketiga. Ingin sebenarnya mengubah sistem penjualan dengan
cara yang lebih sederhana, seperti yang disarankan konsultan-konsultan
itu. Tapi sistem penjualan begini ini yang disenangi masyarakat
kita. Apakah kita mesti mengambil risiko bisnis?
“Rata-rata butuh waktu sekitar satu sampai dua bulan
untuk mengerjakan perubahan yang diminta. Diperlukan tim internal
yang kuat staminanya untuk melayani tim konsultan yang membuat
perubahan tersebut. Mulai dari proses analisa, pemrograman,
testing sampai validasi dengan data yang mirip kenyataan.
Juga dibutuhkan komitmen support dari tim konsultan selama
proses implementasi, terutama jika muncul bugs dari hasil
perubahan tersebut.”
“Pengalaman yang paling sulit adalah mendidik dan melatih
karyawan dalam menggunakan dan memanfaatkan sistem. Karena
terintegrasi, kesalahan yang terjadi juga terintegrasi. Begitu
salah memasukkan data di bagian penerimaan barang, salah juga
jumlah hutangnya. Ujung-ujungnya, salah juga hasil pembukuannya.”
Dengan begitu, memasukkan data yang benar menjadi sangat
penting. Dari pengalaman terlihat bahwa pendidikan dan pelatihan
juga tak kalah pentingnya. Pendidikan akan meningkatkan accountability
dan responsibility dari pengguna sistem. Karena, setiap departemen
bertanggung jawab terhadap ketepatan waktu dan akurasi dari
informasi yang diolahnya.
Dari riset kecil yang dilakukannya ditambah pengalaman teman-teman
bisnisnya dia mulai paham mengenai ERP. Dia sadar, pertama,
tidak ada satupun software ERP yang langsung bisa jalan begitu
saja tanpa ada perubahan-perubahan. Perubahannya bisa di software
atau proses bisnis perusahaan atau kedua-duanya. Kedua, kondisi
struktur data yang saat ini ada di perusahaan perlu diubah
dengan membuat peng-kode-an dan penamaan yang bisa dihunakan
oleh semua departemen. Kode dan nama mencakup semuanya mulai
dari barang, supplier, pelanggan, mesin, pegawai, dan sebagainya.
Faktor penting lainnya adalah akurasi data yang masuk ke
dalam sistem. Namun penekanan utamanya adalah pembenahan human
resources perusahaan. Bukan hanya training yang dibutuhkan,
tetapi pendidikan yang berkesinambungan.
*Uun Widhi Untoro,
Managing Director, PT. IFS Indonesia beralamatkan www.ifs.co.id
atau e-mail: uun@ifas.co.id
|