Dalam
beberapa dasawarsa belakangan ini, pemanfaatan teknologi oleh
entitas bisnis terus meningkat. Teknologi manufaktur, seperti
computer-aided design and manufacture (CAD/CAM), flexible
manufacturing system (FMS), computer numerically controlled
machines (CNC), computer integrated manufacture (CIM) dan
sistem robotisasi banyak diterapkan.
Begitu juga, sistem electronic data interchange (EDI) yang
menghubungkan entitas bisnis dengan pemasok dan pelanggan,
serta komputerisasi sistem pergudangan dan logistik juga mulai
intensif diadopsi oleh perusahaan.
Di sektor layanan/jasa, teknologi komputer sangat penting
perannya. Implementasi sistem pemrosesan komputer kecepatan
tinggi dan software-software inovatif secara dramatis telah
mengubah sistem dan proses kerja internal, termasuk mekanisme
hubungan bisnis dengan pelanggan internal (misalnya, mekanisme
hubungan antara Departemen SDM dengan departemen lini dan
unit bisnis sebagai pelanggan internalnya) dan eksternal.
Pemanfaatan teknologi merupakan prasyarat menuju “best
practice” dalam pengelolaan organisasi. Dalam hal ini,
ada dua faktor enabler yang saling terkait. Pertama, inovasi
produk, dimana proses merupakan hal krusial dalam menciptakan
competitive advantage. Kedua, teknologi dan reorganisasi;
keduanya adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan; teknologi
tidak dapat diterapkan tanpa reorganisasi, dan reorganisasi
tidak akan efektif tanpa penerapan teknologi.
Pada satu titik tertentu, inovasi teknologi mempengaruhi
tidak hanya kompetensi teknis SDM, tetapi juga merangsang
“architectural knowledge” SDM dalam organisasi
- dalam bentuk asumsi dasar dan pola pandang SDM terhadap
proses internal dan hubungan antar unit organisasi.
Kemajuan teknologi informasi (TI) dan penerapannya pada fungsi
pengelolaan SDM telah menciptakan warna sendiri bagi kehidupan
organisasi dan SDM. Penerapan TI dalam organisasi akan meningkatkan
daya saing organisasi. TI akan menjadi salah satu sumber keunggulan
kompetitif, jika pemilihannya benar-benar memperhatikan unsur
tepat guna dan mampu menyatu dengan semua aspek organisasi.
Dengan begitu, investasi TI merupakan kebutuhan bagi suatu
organisasi. Investasi dan penerapan TI akan berdampak perubahan
pada beberapa bidang kehidupan organisasi, seperti sistem
dan struktur organisasi atau model pengelolaan SDM.
Untuk optimalisasi pengelolaan SDM diperlukan banyak informasi.
Peningkatan arus/volume informasi SDM mendorong kebutuhan
pengembangan TI dalam pengelolaan database SDM. Sistem informasi
berbasiskan teknologi komputer memungkinkan organisasi mengintegrasikan
informasi kepegawaian dalam suatu sistem database, yang disebut
SIM (Sistem Informasi Manajemen) SDM.
Tiga keuntungan SIM SDM
Setidaknya, SIM SDM dapat memberikan tiga keuntungan.
Pertama, sistem TI memungkinkan departemen SDM berperan
aktif dalam perencanaan strategis perusahaan.
Kedua, TI mengintegrasikan dan menyimpan semua informasi
SDM dalam suatu database nasional, yang sebelumnya tersimpan
di beberapa lokasi fisik yang terpisah. Oleh karena itu, dalam
proses perencanaan, departemen SDM dapat mengambil perspektif
global terhadap persediaan dan kebutuhan pengembangan SDM
untuk selanjutnya diinterpretasikan dengan cara yang lebih
efektif.
Ketiga, SIM SDM memfasilitasi penyimpanan dan akses
ke catatan kepegawaian yang vital bagi perusahaan. Sebagai
tambahan terhadap data internal, dengan fasilitas internet,
departemen SDM dapat mengambil manfaat dari akses langsung
ke sumber data eksternal yang berisi informasi penting bagi
penyusunan strategi SDM, seperti literatur, data kependudukan,
informasi praktek-praktek SDM yang dilakukan perusahaan lain,
dan aturan-aturan ketenagakerjaan.
Ada satu paradoks. TI disadari bermanfaat dalam hal meningkatkan
produktivitas SDM. Namun, di sisi lain, telah menimbulkan
kekhawatiran di lingkungan karyawan karena munculnya wacana
lay off, yang terkait dengan peningkatan produktivitas dan
efisiensi proses kerja SDM itu sendiri.
Bagi Perencana SDM, isu-isu mendasar yang perlu diperhatikan
adalah dampak TI terhadap jumlah (kuantitas) dan keahlian
(kualitas) SDM, serta perkembangan pola karirnya. Hal ini,
tentu saja, akan berbeda antara masing-masing organisasi.
Namun, perencanaan SDM yang komprehensif mutlak diperlukan
untuk mengakomodasi desain/redesain jabatan/pekerjaan, restrukturisasi
organisasi, dan program manajemen karir ke depan. Di banyak
entitas bisnis, proses ini terkadang membutuhkan negosiasi
berkepanjangan dengan Serikat Pekerja.
Dalam aplikasinya, jika diimplementasikan dengan tepat TI
akan memberikan manfaat optimal dalam pengelolaan fungsi SDM.
Sebagai contoh: dalam proses rekrutasi, seleksi, dan penempatan
SDM yang membutuhkan banyak informasi, TI dapat meningkatkan
kemampuan Departemen SDM dalam mengoordinasikan penjadualan,
administrasi, dan evaluasi prediktor keberhasilan kandidat
dengan berbagai cara. Validasi data dapat segera dilakukan
dengan mengorelasikan data kinerja posisi saat ini dengan
beberapa prediktor yang tersimpan dalam SIM SDM. Data aplikan,
berupa kompetensi, potensi, dan minat individu dalam karir
dicocokkan dengan jenjang/pola karir dan kesempatan pelatihan
yang tersedia dengan menciptakan sistem coding sederhana,
yang secara otomatis akan mengidentifikasi calon potensial.
Posisi dan data kepegawaian bersama-sama dengan data analisis
jabatan selanjutnya dapat digunakan untuk lebih meningkatkan
efektivitas seleksi internal dan keputusan penempatan dan
pengembangan karir yang bermanfaat bagi karyawan dan organisasi
(Executive Information System).
Dalam analisis jabatan, proses membangun rumpun jabatan dan
mengup-date uraian/persyaratan jabatan, serta menentukan nilai
suatu posisi yang sebanding dengan nilai remunerasi, sangat
terbantu dengan pemanfaatan teknologi yang memadai. Dalam
konteks ini proses analisis jabatan biasanya digunakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan terhadap kompetensi SDM dalam melaksanakan
pekerjaannya.
Di bidang pelatihan/training, pengembangan media teknologi
komunikasi dan multimedia dan semakin banyaknya metode pendidikan
elektronik dan virtual university yang sangat mengutamakan
aspek pengembangan teknologi baru dalam mengoptimalkan kualitas
pembelajaran, telah meningkatkan kecanggihan sistem pelatihan.
Salah satu fitur penting dalam mendesain program pelatihan
atas dasar training need assessment adalah memastikan bahwa
stakeholders pelatihan dapat mengoperasikan sistem pelatihan
modern tersebut dan karyawan yang dilatih akhirnya mampu mengoperasikan
sistem TI dalam bidang tugasnya.
Kecepatan perubahan TI dan aplikasinya pada sistem dan proses
internal SDM menjadi terhambat jika SDM tidak memiliki ketrampilan
yang cukup untuk mengoperasikan teknologi dan sistemnya. SDM
membutuhkan pelatihan dan pengembangan.
Saat ini, dirasakan kurangnya skill SDM sebagai implikasi
perkembangan TI. Pengembangan TI membutuhkan SDM yang mampu
beradaptasi dengan perubahan, bersedia dilatih terus menerus
melalui program pelatihan intensif, dalam formulasi yang sesuai
dengan tahapan implementasi sistem TI tersebut. Nantinya,
diharapkan mereka mampu ditugaskan di berbagai bidang penugasan
yang membutuhkan kompetensi TI.•
|